Suara dari Kamar Nomor 10

Kamar nomor 1 dihuni induk semang. Di bagian bawah pintu terdapat pintu mini seukuran monitor 14 inci–kau bahkan bisa menyelipkan kepala atau isi perutmu di sana–yang berfungsi untuk menyelipkan uang, dan non-uang, untuk memperpanjang masa sewa. Apa yang kaumasukkan di sana tentu sesuai kesepakatan awal.
 
Kamar nomor 2 ditempati Si Pelacur, kesenangan yang kau dapat tergantung harga. Tidak seperti harga runcit rokok yang merangkak pelan, harga yang ditetapkan Si Pelacur selalu stabil. Tidak ada mesin gesek di dalam, jadi pastikan kaubawa uang tunai, atau benda lain yang sepadan. Sepasang ginjal, misalnya.
 
Penghuni kamar nomor 3 selalu berapi-api. Elan vital. Jangan sekali-sekali kau mencuri api mereka. Orang terakhir yang kepergok mencuri api yang kita tahu dihukum dengan cara diikat di batu dan harus merelakan rongga perutnya dikoyak elang. Bukan hukuman yang menyenangkan, kukira.
 
Kamar nomor 4 cukup longgar, ia dihuni oleh keluarga hantu yang kurang akur. Semasa hidup mereka amat yakin program Keluarga Berencana sanggup menghindari mereka dari kemiskinan, tapi kenyataan selalu menyimpan kejutan.
 
Di kamar nomor 6 kau tidak akan mendapat tempat. Di sana tinggal keluarga besar, lebih besar dari daya tampung kamar, yang berencana menguasai dunia atau minimal separuhnya.
 
Kamar nomor 7 kabarnya dihuni seorang lelaki penyendiri. Ia tidak pernah keluar kamar dan tak seorang pun ingin tahu kabarnya, sehingga tak ada yang bisa memastikan apakah ia masih atau sudah tidak ada di sana; kamar ini dihuni sekaligus tidak dihuni.
 
Kamar nomor 8 ditempati tuhan lama, kau tahulah reputasinya: Menenggelamkan tetanggamu yang membelot, mengirim belalang dan nyamuk malaria, punya ketertarikan khusus terhadap amfibi dan lalat pikat, dan kadang memakan anak-anak sulung.
 
Kamar nomor 9 dihuni olehmu. Aman dan nyaman dan cukup, dan kau tidak bisa keluar dari sana.

Menjelang Tidur

Oleh: Felisberto Hernández

Sering kali, sesaat menjelang tidur, aku mengingat keluargaku seakan-akan sedang mengintip pekarangan rumahku melalui lubang kecil dan sesekali berkedip untuk memperjelas apa yang kulihat. Saat itu tengah hari dan aku baru kembali dari kota dan mereka belum bertemu denganku. Mereka berkumpul di meja makan, di bawah pepohonan, bisa kulihat juga cahaya dan bayangan jatuh seperti sekeping koin di atas taplak meja, dan menumpuk tiap kali dedaunan tertiup angin. Larut dalam kegembiraan pesta kecil, mereka kelihatannya melupakanku. Suatu malam kenangan itu mengulang dirinya sendiri, serupa baling-baling kipas angin: mereka berkumpul di meja dan melupakanku, berputar dan berputar. Tetapi mendadak listrik mati, dan teranglah bahwa di dalam tiap kepala mereka tersimpan gambar diriku dan membawa gambar ini ke mana pun dengan cara yang barangkali amat berbeda dengan caramu membawa foto orang mati. Aku belajar bagaimana mereka merasakan ketidakhadiranku dan seperti apa rupa mereka saat mengenangku. Namun aku juga belajar hal lain: sekalipun aku membuka pintu diam-diam dan mengintip mereka dari balik alang-alang, aku tetap akan melihat mereka sebagai sebuah kenangan, dan aku tahu kenangan itu akan selalu mengikutiku. Dan aku memutuskan jika suatu hari aku harus mempertahankan mereka, beginilah caranya, dari agak jauh dan dalam sunyi. Beberapa kali, saat kenangan itu menyergapku malam-malam, suasana pesta kecil itu tak ubahnya kartu pos biasa, meski begitu senyum mereka tidak berubah.

 

[Cerita ini terdapat dalam kumcer Piano Stories, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Luis Harss]

Gang

Sebuah gang beraspal. Di sisi kirinya tong sampah mengepulkan asap, udara malam yang dingin memerangkap asap, ia tak naik tetapi juga mustahil menembus belangkin. Asap itu hanya mengapung sebisanya, seperti arwah murung. Seorang lelaki berselonjor, punggungnya bersandar pada tong. Kaki kirinya, yang tidak memakai alas, bergoyang-goyang. Gerak kaki itu menyiratkan bahwa pemiliknya sudah berada di ambang tidur dan terjaga. Tiap kali sebuah sepeda motor dari arah depan menyorotkan lampu ke wajah si lelaki, kakinya bergoyang lebih cepat. Dua bangunan yang mengapit jalan sempit itu tampak kumuh dan cacat dan kegelapan dan asap berhasil mengaburkannya, meski hanya sedikit, tetapi cukup. Wangi benda sintetis terbakar bonus belaka.

Tiga orang melewati jalan itu: dua laki-laki dan satu perempuan, dua berpegangan dan yang satu membuntuti seperti anjing peliharaan.

“Kita bisa memanggil angin dengan cara bersiul,” kata si anjing peliharaan, “Ibuku yang mengajari.”

Ia terpejam sebentar. Mengingat-ingat nadanya, dan sebelum ia berhasil, laki-laki di depannya berkata, “Kalau kau merasa pedih, tutup saja matamu.”

“Bercanda kau,” seru si perempuan, terkekeh. Tetapi laki-laki itu betul-betul memejamkan matanya dan ia menginjak kaki lelaki yang berselonjor. Ia meminta maaf, berkata bahwa ia tak melihatnya. Lelaki yang berselonjor hanya berdeham.

“Aku ingat,” si anjing peliharaan menyiulkan sebuah nada.

“Sialan, itu kan lagu Chrisye!” Si perempuan tertawa lagi.

“Benarkah? Sialan,” si anjing peliharaan mengutuk, “Kalau begitu selama ini aku ditipu ibuku.”

Ketiganya tertawa.

“Tapi, aku rasa bukan yang itu, deh…”

Gumaman yang dengan mudah dilupakan. Si perempuan memulai obrolan lain, “Menurut kalian, kapan asap ini akan pergi?”

“Ya tentu saja segera setelah udara menghangat,” jawab laki-laki yang memegang tangannya, yang tampaknya punya berbagai jawaban ringkas atas masalah apa pun.

Wajah si anjing peliharaan semakin kusut, ia bersusah payah mengingat sesuatu, sesekali menyanggah pikirannya sendiri, menyepakatinya, lalu menyanggah lagi hingga ia kehilangan ritme berjalan dan tanpa sengaja menendang laki-laki di depannya. Ia meminta maaf dan membenahi ritmenya lagi, sambil tetap berpikir. Kelihatannya ia sudah tak peduli apakah siulan ajaran ibunya bisa mengundang angin atau tentara Jepang, ia hanya penasaran. Lalu telinganya menangkap siul samar. Udara malam yang dingin memerangkap siulan itu, ia tak naik tetapi juga mustahil menembus belangkin. Siulan itu hanya mengapung sebisanya, seperti nyanyian arwah murung.

Si anjing peliharaan menoleh ke belakang, ia segera tahu dari mana sumbernya, tetapi ia tak bisa lagi melihat lelaki yang berselonjor. Ia berhenti dan memaksa otot matanya bekerja ekstra.

Decit rem kereta di suatu tempat. Ledakan kecil dari arah tong, barangkali komponen elektronik atau bola lampu yang terbakar. Wanginya sampai ke hidung si anjing penjaga, seperti pisang goreng hangus, pikirnya. Saat ia melihat ke depan, kedua temannya sudah tak kelihatan.

Wboebwobvononwv

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Ia keluar dengan membawa kunci. Gagak itu hinggap di antena, lima atau enam detik, sebelum akhirnya terbang dan tak terlihat lagi.

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Ia keluar membawa tutup kaleng berwarna merah. Gagak itu hinggap di antena, lima atau enam detik, sebelum akhirnya terbang dan tak terlihat lagi.

Gagak itu delapan kali kembali ke kamar dan membawa pergi sesuatu. Selama itu terjadi, seorang duda berkemeja biru, usianya sekitar lima puluhan, memperhatikannya di depan pagar rumah. Ia menghitung berapa kali gagak itu kembali dan barang apa saja yang ia bawa.

“Aduh. Mengapa ia belum juga membawa keluar benda itu,” gumamnya, membakar ujung honcoe. “Padahal tidak ada binatang yang lebih pintar dari gagak.”

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Saat terbang ia memberaki kepala si Duda. O, hidup manusia memang rapuh, ia dibangun di atas pasir. Gagak tidak tertarik membuat sarang dari surat yang berisi kemalangan orang lain, ia tidak akan pernah berguru kepada hewan yang lebih bodoh.

Madesu

Dua hari lalu Pak Darusman, guru matematikaku, berkata begini di depan kelas. “Madesu*. Jangan tiru Yanti, ya.”

Sebelumnya ia menuduh aku mengobrol saat ia sedang menjelaskan cara menentukan modus dari suatu data. Aku memang mengajak bicara teman sebangku, memintanya sedikit menjelaskan hal yang kulewatkan karena aku tidak terlalu menangkap penjelasan Pak Darusman sementara ia terus melanjutkan pembahasan tanpa mempedulikan tanganku yang terangkat. Pak Darusman menulis sesuatu di papan tulis dan aku diminta ‘mengajarkan’ kepada teman-teman yang lain, menurutnya karena aku mengobrol saat ia menerangkan artinya aku sudah menguasai materi. “Kamu, kan, lebih pintar dari saya,” tambahnya.

Aku menjawab jujur bahwa aku belum mengerti. Ia memotong alasanku, dan tetap memaksaku untuk mengerjakan soal. Sambil menatapku yang berdiri seperti orang  bodoh, ia berdecak lalu berkata bahwa masa depanku suram. Maksudnya mungkin bercanda, sebab ia bicara begitu sambil tertawa, dan satu kelas ikut tertawa. Ia memintaku keluar.

Sebelum sampai kantin aku berbelok ke kiri, ke ruang multimedia. Aku hendak mengirim sesuatu ke Pak Darusman melalui email.

Kepada
Bapak Darusman
Di tempat

Sulit mengutarakannya secara langsung, karena itu saya memutuskan
untuk mengirim email ini. Bahwa mulai detik ini, apapun yang Bapak
katakan, akan saya balas dengan...

974888883741444455555722777722377777444333311112244222222227777777
866666555566624366663079466697281736662876619766333666933666666669
066386626683466066326616602866212667776606660666866527664411669178
166666496631766866876616639166212666666686636366266666661144662224
466286656624166466076616687466212665556696633366766777665277667827
266666392766673966663749066622233662226626688866766322663374663447
+78978918791418984547987451871445197184545987181543243212145575789987=
166556699966639166226622266633066256691166698722222223334123275879
266436606600066266226636692766266036636679366078266452366198789543
066666676666666066666636666666366666616666666076622660266191782345
166756616674266866226636673166466816606600066376644336677438794521
166226646610966766226676699966566776676633366078008887887998752437

Aduh, bahkan di email saya kesulitan mengungkapkannya.
Semoga Bapak Mengerti.

Salam,
Yanti IX IPS 4

Satu jam yang lalu, di mata pelajaran Matematika, Pak Darusman memanggilku ke depan. Ia menceramahiku dan yang lain soal betapa pentingnya Matematika, dan ia berkata iagalak karena ia menyayangi kami. Ia memaafkanku, dan ia memperlihatkan email-ku yang sudah ia cetak. Ada lingkaran merah besar di deretan angka yang kutulis. Kemudian, dengan senyum penuh kemenangan, ia menyarankanku untuk belajar Matematika dasar lagi karena hasil hitunganku salah.

“Kamu mau membalas dengan apa?” tanya Pak Darusman.

Aku memberinya senyuman.

Saat menulis ini, aku sedang menghabiskan jus stroberi sambil tertawa sampai mau mati.

 

 

 

Mau tahu di mana letak lucunya?

1. Ctrl + F

2. Ketik angka ‘6’

3. Lihat pola di badan email Yanti

4. Hehe~
 
5. Alternatif: Telusuri tiap angka ‘6’

 

 

 

*Madesu: Masa depan suram.

Survei

 

Tangkap layar salah satu fragmen di film Ruang Rak Noi Nid Mahasan (Last Life in the Universe) [2003]
Tangkap layar salah satu fragmen di film Ruang Rak Noi Nid Mahasan (Last Life in the Universe) [2003]

Bagaimana cara anda menghibur diri?

A. Nonton ulang ‘Bedknobs and Broomsticks’ sambil mengupas kentang dan minum teh Tong Tji plus sedikit garam dan perasan limau nipis
B. Membuka empat tab youtube dengan lagu berbeda-beda dan volume maksimal
C. Menyegarkan laman berita sampai isinya berubah sesuai dengan yang anda mau
D. Memandangi foto aktor/aktris kesukaan anda sambil memainkan alat kelamin
E. Membalas SMS provider yang sehari sekali menyapa anda dengan promo-promo yang sama sekali tidak menarik dengan mengirim puisi-puisi Nizar Qabbani sepanjang tiga halaman

Judul lagu mana yang menurut anda layak menempati ruang antara trek Eleanor Rigby dan I’m Only Sleeping di album Revolver?
A. Inane Love Ballad for One-Sided Love
B. Horrid Nursery Rhyme Sung by Dipshit
C. Song Your Drunk Mom Sings at Karaoke
D. Eat, Pray, Love, Kickflip, Backflip, Shark Attack, Papa, Alfa, Charlie, Alfa, Romeo, Execute, Operation Mongoose
E. They Scream Like People

Apa yang anda katakan untuk membuat pacar anda senang?
A. Obrolan kita selevel, My Love
B. Aku ingin makan bola matamu supaya kamu bisa melihat isi hatiku, My Love
C. Aku ingin ikut program kloning, menggandakan diri sebanyak 50 juta, sehingga aku bisa mencintaimu sebanyak itu, My Love
D. Kalau kamu lem, aku jadi pipa: kita sama-sama bikinan pabrik, My Love
E. Bahkan kematian harus melangkahi kepalaku dulu sebelum mematikanmu, My Love

Mengapa anda tidur?
A. Mengikuti aturan yang berlaku di masyarakat
B. Enak
C. Sudah menjadi kebiasaan
D. Tidur hanya mitos pabrik bantal dan tukang bikin ranjang dan sofa supaya kita beli produknya
E. Karena tidur menghindari kita dari berbuat maksiat dan juga menghindari kita dari makan dan minum dan masalah-masalah duniawi

Menurut anda, jika anda digigit anak berdandanan gotik, apakah anda akan menjadi vampir?
A. Iya
B. Tidak
C. Tidak, karena aku ingin jadi drakula
D. Tidak, kecuali yang menggigitku Nick Cave atau, yah, minimal Robert Smith
E. Aku memang vampir

Terima kasih telah berpartisipasi.

Salam,
Alfred Kurniawan

Sebelum Masuk Ia Mengetuk Pintu Dulu

But there’s one thing I know,
the blues they send to meet me won’t defeat me.

-B.J. Thomas

Semua orang terlahir untuk menjadi keparat dan siapapun yang berkata sebaliknya pastilah delusif atau kalau tidak, ya, pendusta kelas berat. Orang-orang hanya nampak menyenangkan saat kau mengingatnya sebagai masa lalu, atau membayangkannya sebagai masa depan, atau memikirkan seseorang yang sama sekali di luar jangkauanmu sambil tidur-tiduran, dan kembali mengulek wajahmu saat kau terpaksa bangkit dari ranjang, mengintip si Pengetuk melalui jendela kamar, dan itulah dia: Buntelan daging bipedal. Seharusnya manusia tidak perlu sampai pada tahap di mana mereka bisa mengetuk pintu dengan begitu manusia lain tidak perlu sampai pada tahap di mana mereka bisa membuka pintu, mengasah kemampuan berbasa-basi, jadi tidak perlulah kau merasakan kekesalan dan merancang niat buruk tiap ada kesempatan. Tapi , yah, terlambat. Evolusi melangkah terlalu jauh. Setelah membaca buku-buku sejarah aku selalu merindukan masa di mana kucing-kucing raksasa bertaring pedang menyeret prahomo-sapiens ke sudut tergelap suatu gua atau ketika agama masih soal cerita tuhan-tuhan antropomorfis atau sewaktu kita masih mengorbankan nyawa orang lain untuk mengatasi perkara cuaca atau zaman di mana matematikawan bergumul dengan persoalan mistis sampai-sampai tak keluar kamar selama berminggu-minggu dan memaksa bininya mengetuk pintu dan ia mesti kembali menghadapi buntelan daging bipedal yang diberkahi kemampuan merajuk. Kau membuka pintu, anjing, ini akar dari segala masalah. Membuka pintu. Kau melihat Honda Astrea terparkir di tepi jalan, tetapi kau tahu, kan? Kita tidak pernah benar-benar melihat sesuatu dengan benar. Kita cuma melihat apa yang ditampilkan pikiran kita dan ia bisa berbentuk apa saja. Bebas. Dan bebas artinya bebas. Mungkin yang kaulihat adalah Honda Astrea hitam dengan putaran gas berwarna biru metalik, tetapi bagiku yang kulihat adalah tahi kuda super-besar yang menutupi puncak Jaya. Mungkin yang kaulihat adalah seorang gadis dengan paras kejepangan dilengkapi payudara sebesar enam pisin yang ditumpuk dan punya kebiasaan membersihkan sudut matanya tiap lima atau enam menit, tetapi yang kulihat adalah okapi setinggi 168 sentimeter yang mulutnya bergerak-gerak meniru cara manusia bicara meski begitu yang keluar dari mulutnya adalah Bahasa Okapi. Aku tidak pernah kursus Bahasa Okapi, sayangnya. Jadi kubiarkan ia bicara sampai liurnya yang muncrat dan mendarat di kausku mengering sambil membayangkan minuman apa yang ditenggak kuda jantan yang menghamili seekor zebra: Absinthe atau tujuh galon Guinness? Kukira sebotol Absinthe sama dengan tujuh galon stout. Kuda itu harus sangat mabuk, kalau tidak, ya, tidak akan ada okapi. Persetan ilmuwan yang bilang zebra dan okapi tidak berkerabat, persetan Pak Wahyu, guru biologiku yang mengutip ilmuwan bahwa kuda dan okapi tidak berkerabat. Beberapa darimu pasti sulit mempercayai ini tetapi seluruh makhluk di muka bumi, dari gajah hingga pohon beringin, adalah sepupu jauh. Ini benar. Cicak yang mati terjepit pintu kulkasmu adalah sepupu dari sepupu pangkat enam miliarmu. Bangsat yang sembunyi di lipatan kasur dan kadang iseng masuk ke celana dalam dan menggigit pelirmu adalah sepupu dari sepupu pangkat enam belas miliarmu. Pacarmu adalah sepupu dari sepupu pangkat tiga ratus jutamu. Dan kau menghamilinya dan anakmu menghamili anak dari sepupu dari sepupu pangkat dua ratus sembilan puluh sembilanmu dan kau punya cucu dan cucumu dihamili cucu dari sepupu pangkat sekian ratus jutamu dan seterusnya kemudian suatu hari, beberapa abad dari tahun kematianmu, sepupu-sepupu jauh itu akan menjadi setoples acar. Kalau kau tidak percaya dengan teori ini, cobalah tempatkan buah semangka dan biri-biri dalam satu ruangan. Tetapi kalau ada burung finch, khusunya burung finch berparuh panjang, aku lebih merekomendasikannya sebagai bahan percobaan. Darwin pernah mencobanya dan berhasil, ia berhasil karena meneliti di alam terbuka, di alam terbuka tidak ada yang mengetuk pintu. Liur di kausku sudah mengering dan okapi yang berusaha terlihat seperti manusia di hadapanku nampaknya sudah bosan bicara. Aku suka okapi yang bosan bicara, ia lebih nampak seperti manusia sungguhan. Jadi aku tergerak untuk bercerita tentang sebuah klub yang tidak akan membiarkan satu pun anggotanya keluar hidup-hidup ketika ia sudah resmi menjadi anggota, tak mengizinkan anggota baru masuk begitu saja, dan klub itu hanya menyisakan beberapa tipe anggota yang sanggup bertahan. Aku tak tahu apakah si okapi mengerti cara manusia berkomunikasi, tetapi tatapannya mengisyaratkan kebencian mendalam. Kuceritakan pula kepadanya bahwa ada masa di mana apa yang manusia sebut cinta dan empati memiliki wujud, bisa dipegang, dan ditendang-tendang, lalu suatu hari banjir besar menghanyutkan keduanya. Apa yang kita pahami hari ini tentang kedua benda itu hanya legenda yang setengah mati dihidupkan dalam tiap percakapan. Itulah mengapa aku benci kau mengetuk pintuku.

Masalah Besar

“Burit manusia memang elastis, mungkin ia bisa dimasukkan bola golf atau bola kasti. Tapi hanya karena fakta itu bukan berarti orang boleh seenaknya bilang lambung manusia bisa memproduksi telur angsa,” Kamu melepas tangan kiri dari stir lalu menunjuk paragraf pertama cerita pendek di koran Minggu yang sedang dipegang Abulhayat dengan ujung rokoknya. “Kalau aku cuma punya tiga ribu batu bata merah untuk membangun rumah kecil di tanah warisan bapakku, akan kusisakan satu untuk menggetok kepala redaktur koran ini sekalipun sebagai gantinya satu sisi rumahku bolong.”

“Tapi itu bisa saja terjadi, kan? Maksudku, kau tahulah, bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin.” Abulhayat membuka laci asbak yang segera ditutup Kamu saat batang rokoknya setengah masuk sehingga rokoknya terjepit di sana, “Selama laci ini tertutup kita nggak tahu apakah rokokmu patah atau hanya bengkok. Aku tak masalah kau punya secuil atau seperiuk iman, tapi selama kau tak membuka percakapan soal itu aku tak akan takut dekat-dekat denganmu.”

“Patah atau bengkok, terserahlah.” Abulhayat mengeluarkan kotak rokok dari saku jinsnya, menarik sebatang rokok, dan melempar kotaknya ke dasbor. “Tuhan memang bisa melakukan apa saja, kan?”

“Sekarang aku akan menyisakan dua batu bata merah.”

“Iya, kan? Ayolah, kau tidak bisa menjelaskan bagaimana buah semangka bisa berdaun sirih, seperti di lagu Rinto.”

Kamu menepikan mobil di trotoar, keluar dari mobil dan bersiap memanjat pohon.

Ngapain kau?”

“Spanduk itu,” ia mendongak, “cukup besar untuk menutup lubang di dinding rumahku kelak, kalau kau terus bicara.”

“Oke, aku bantu.”

Kamu dan Abulhayat masing-masing memanjat pohon akasia tempat sebuah spanduk kampanye dibentangkan. Keduanya membakar tali yang mengikat spanduk dengan korek gas, lantas turun setelah pekerjaannya selesai. Empat orang, tiga wanita dewasa dan satu bayi, lewat depan pohon selagi proses penurunan spanduk, kecuali bayi, sisanya memandang dua orang di atas pohon dengan pikiran masing-masing. Di trotoar keduanya melakukan gerakkan seperti paskibra melipat bendera. Seorang kakek yang melewati mereka berhenti dan bertanya macam-macam. Kamu menjawab ia dan temannya adalah petugas Satpol PP dan si kakek menepuk pundaknya sambil berkata begitulah seharusnya penampilan Satpol PP, mengenakan kaus bergambar ikan marlin, celana jins, dan sandal jepit.

“Menurutmu kakek tadi benar-benar percaya kita petugas Satpol PP?” tanya Abulhayat setelah menyuruh Kamu membuka bagasi belakang Corolla ’94-nya. Kamu mengingatkan bahwa bagasi belakang penuh, dan seolah baru ingat sesuatu Abulhayat berjalan santai ke pintu belakang dan melempar lipatan spanduk, kemudian ia duduk di kursi depan, memasang sabuk pengaman, dan bertanya ulang.

“Aku tak mendengar nada sindiran. Lagipula kakek tadi sudah terlalu tua, usianya barangkali menginjak kepala tujuh atau delapan, maksudku, ia pastilah sudah terbiasa dengan perubahan-perubahan ekstrim.”

“Ya. Termasuk melihat buah semangka berdaun sirih.”

“Tentu, tentu saja. Juga melihat Godzilla menginjak atap rumah makan Padang, mengambil sepinggan rendang, dan meninggalkan dua lembar seratus ribu di meja kasir.”

“Itu mustahil. Godzilla, kan, nggak ada.”

“Tapi reputasinya terkenal.”

“Meski reputasinya terkenal.”

“Sepertinya kita perlu spanduk yang lebih besar.”

“Eh, sebentar. Bisa kau pelankan laju mobilmu? Rasanya aku mendengar sesuatu di belakang.” Abulhayat menoleh ke kursi belakang. Dua bungkus ketoprak yang belum dimakan, sekaleng Mañana*, seplastik kembang gula mentol yang berguncang-guncang, buntalan kaus bekas pakai, dan spanduk biru yang menampilkan gigi petahana yang tidak rata.

“Tenang saja, kau tidak mendengar wahyu atau firman, kok. Paling kompresor AC-ku aus.”

“Aku memang nggak bisa menyetir, tapi aku tahu kompresor AC mobil sedan ada di depan.”

“Kalau begitu suara yang kau dengar berasal dari depan.”

Mobil mereka mengantre di perempatan. Lampu lalu lintas mati. Seorang polisi lalu lintas bergerak sistemis bak dakocan yang kena teluh dan sekumpulan pengendara tolol yang tetap membunyikan klakson dan barisan anak SD di zebra cross dengan minuman aneka warna di tangan mereka, dan Kamu terus memainkan jemarinya di atas kemudi sambil sesekali melihat gerak tangan polisi.

“Menurutku, dari bau keringatmu, kau makan gulai kambing sehari sekali selama seminggu terakhir.” ujar Abulhayat.

“Kau makan pepes anjing Pug,” jawab Kamu, mengendus-endus ketiaknya.

Abulhayat gantian mengendus-endus ketiaknya, “Bau anjing Pug tidak menyenangkan seperti ini.”

“Jadi menurutmu bau kambing menyenangkan?”

“Bukan begitu, baunya tajam seperti daging kambing tapi yang ini terasa manis. Mungkin kambing yang kau makan dicekoki setangki sirup coco pandan sebelum disembelih.”

“Terakhir kali aku makan daging kambing lebaran haji tahun lalu dan kau sendiri yang pernah heran mengapa aku tidak bau badan meski tidak pakai parfum atau deodoran. Kalau ini bukan bau badanmu, atau parfum yang kau pakai, paling-paling kaleng Mañana di belakang terbuka karena terus terguncang-guncang.”

Abulhayat memandangi Kamu sesaat, yang dilirik fokus ke gerak tangan polisi. Mata polisi lalu lintas melirik mobil mereka sebelum akhirnya bergerak-gerak lagi. “Jalan Raya Pemda ini baru diperbaiki bulan lalu, aspalnya mulus.”

“Tadi, kan, kita melewati dua atau tiga polisi tidur.”

“Kalau bukan Tuhan yang membuka kaleng Mañana itu, maka desainer kaleng Mañana dalam masalah besar.”

“Kalau begitu desainer kaleng Mañana memang dalam masalah besar.”

*Mañana: Minuman jus buah bersoda yang diproduksi di Surabaya sejak 2002, berbau seperti kloroform.

Pengalaman Menonton Film Bajakan

Berkas berformat .srt ini saya buka dengan aplikasi notepad dan disalin-rekat ke blog. Saya mengunduhnya satu paket dengan film berjudul “Shit People Can Make Great Art” yang memang ingin saya tonton sejak tahun lalu, barangkali salah satu dari kalian pernah menontonnya dan menemukan subtitle yang sama.

1

[highlight]00:00:00:24,942 –> 00:00:26,944
<font color=”#ffff00″><i>Alih Bahasa: Cicak Indigo</i></font>[/highlight]

 

2

00:01:00,102 –> 00:01:03,147

[RADIO FM BERCELOTEH]

 

3

00:01:03,314 –> 00:01:05,483

SUPIR TAKSI: Mereka masih mengikuti kita.

Bagaimana ini, Mbak?

 

4

00:01:05,649 –> 00:01:06,817

[SILAF MENGERANG TERTAHAN]

 

5

00:01:08,152 –> 00:01:10,237

Jalan saja.

 

6

00:01:10,571 –> 00:01:12,073

Baiklah.

 

7

00:01:12,239 –> 00:01:14,825

Saya tahu rumah sakit terdekat.

 

8

00:01:14,992 –> 00:01:17,912

Jalan saja, Pak.

Saya ingin cepat sampai rumah.

 

9

00:01:22,208 –> 00:01:23,542

[RADIO MEMUTAR MUSIK TECHNO]

 

10

00:01:23,709 –> 00:01:25,127

SUPIR TAKSI: Mbak?

 

11

00:01:25,377 –> 00:01:26,962

[NAPAS BERAT]

 

12

00:01:27,213 –> 00:01:28,839

Ya?

 

13

00:01:29,006 –> 00:01:30,049

Pernah dengar…

 

14

00:01:30,216 –> 00:01:34,470

Cerita tentang anak

yang memiliki kelainan pada tulang lehernya?

 

15

00:01:34,845 –> 00:01:37,681

Ia harus menyangga lehernya

dengan cervical collar khusus

 

16

00:01:37,848 –> 00:01:40,392

Supaya lehernya

tidak seperti agar-agar…

 

17

00:01:40,851 –> 00:01:43,354

[NADA DERING NOKIA]

 

18

00:01:43,521 –> 00:01:45,314

[REM BERDECIT]

 

19

00:01:51,779 –> 00:01:53,864

Lalu?

 

20

00:01:55,199 –> 00:01:56,992

Suatu hari…

 

21

00:01:57,159 –> 00:01:59,578

[SUARA TUBRUKAN DI BELAKANG]

 

22

00:01:59,745 –> 00:02:02,373

…suatu hari anak itu me–

 

23

00:02:02,540 –> 00:02:03,958

[SUARA KLAKSON]

 

24

00:02:04,291 –> 00:02:05,501

Lalu?

 

25

00:02:05,668 –> 00:02:08,379

Saya kira kita harus menemukan

bar atau kafe yang masih buka…

 

26

00:02:08,546 –> 00:02:10,422

Selesaikan saja di sini.

 

27

00:02:10,589 –> 00:02:13,676

[SUPIR TAKSI TERBATUK KECIL]

…atau di rumah sakit, Mbak.

 

28

00:02:14,677 –> 00:02:17,596

Selesaikan di sini saja,

saat ini juga.

 

29

00:02:17,763 –> 00:02:18,973

Baiklah.

 

30

00:02:20,224 –> 00:02:21,725

Jadi, setelah itu?

 

31

00:02:21,892 –> 00:02:23,561

Sampai di mana tadi?

 

32

00:02:23,727 –> 00:02:26,772

Suatu hari, anak itu…

 

33

00:02:27,731 –> 00:02:30,693

Oh, ya, suatu hari anak itu–

 

34

00:02:31,026 –> 00:02:32,736

[SUARA TUBRUKAN DI BELAKANG]

 

35

00:02:32,903 –> 00:02:36,115

Sebaiknya kita berhenti dan Mbak meminta maaf

kepada orang di mobil belakang.

 

36

00:02:37,992 –> 00:02:40,202

Mereka tak akan memaafkanku.

37

00:02:40,870 –> 00:02:43,414

Tuhan juga tidak akan memaafkan kita, Mbak…

 

38

00:02:44,456 –> 00:02:46,208

…tapi nyatanya kita terus meminta maaf.

 

39

00:02:46,709 –> 00:02:50,754

setelah itu biasanya kita

bisa merasa tenang.

 

40

00:02:51,255 –> 00:02:53,299

Saya tidak butuh ‘merasa’ tenang, Pak…

41

00:02:53,465 –> 00:02:55,885

…lagipula Tuhan sudah meninggalkan kota ini

sementara mereka tidak akan pernah.

 

42

00:02:56,051 –> 00:02:58,762

Saya kira tidak ada salahnya

dicoba.

 

43

00:02:58,929 –> 00:03:00,181

[SILAF TERKEKEH]

 

44

00:03:01,265 –> 00:03:03,934

[SILAF MENGERANG]/

Tidak ada salahnya, Mbak.

 

45

00:03:05,060 –> 00:03:08,314

Jangan bilang Bapak

salah satu dari mereka.

 

46

00:03:08,480 –> 00:03:10,941

Semua orang di sini bagian dari mereka,

Mbak tentu tahu itu.

 

47

00:03:11,108 –> 00:03:13,194

Jadi, bagaimana dengan

anak berleher agar-agar tadi, Pak?

 

48

00:03:13,360 –> 00:03:14,403

Suatu hari…

 

49

00:03:14,570 –> 00:03:19,116

…suatu hari anak itu me–/

[TUBRUKAN DI PINTU KANAN]

 

50

00:03:30,878 –> 00:03:33,631

Lanjutkan, atau saya tidak akan

membayar tarif argo.

 

51

00:03:38,344 –> 00:03:40,346

[PENYIAR RADIO MEWARTAKAN BERITA KRIMINAL]

 

52

00:03:45,976 –> 00:03:48,979

Suatu hari anak itu membuka cervical collar-nya…

 

53

00:03:57,029 –> 00:03:59,240

…kemudian dia berkata,

54

00:06:19,296 –> 00:06:22,383

Mengapa aku harus memakai benda sialan itu sumur hidupku, padahal…

 

55

00:06:43,821 –> 00:06:47,324

[SESUATU BERGEMELETAK]

 

56

00:07:01,672 –> 00:07:03,215

[NADA DERING NOKIA]

 

57

00:07:03,382 –> 00:07:05,384

…padahal dengan leher seperti ini

aku bisa memandang dunia dari berbagai sudut.”

 

58

00:07:05,551 –> 00:07:06,969

Lalu dia tertawa seperti ini…

 

59

00:07:07,886 –> 00:07:09,388

[SUPIR TAKSI TERTAWA]

 

60

00:07:11,974 –> 00:07:15,686

Dengan kepala yang tidak bisa dikontrol

anak itu memiliki pandangan baru terhadap dunia.

 

61

00:07:15,853 –> 00:07:17,855

Hingga suatu hari…

 

62

00:07:20,023 –> 00:07:21,024

Hingga?

 

63

00:07:21,191 –> 00:07:23,318

[RADIO MATI]

64

[highlight]00:07:23,485 –> 00:07:27,364

<font color=”#ffff00″><i>Lima menit lagi aku akan datang dan menerjemahkan sisa dialog dengan cara membisikkannya ke telinga kalian sampai film berakhir. Aku janji. Salam, Cicak Indigo.</i></font>[/highlight]

 

Sugali

[#ARSIP Terlalu banyak tidur-tiduran membuat saya browsing yang tidak-tidak dan tanpa sengaja terdampar di blog lawas. Saya tahu ini memalukan, tapi bagaimanapun cerita ini teronggok di sana dan, yah, sialan memang menyadari bahwa saya menulis cerita pendek yang buruk sekali, beberapa bagian tidak masuk akal, dan sebagainya, sekaligus ada perasaan tidak rela menghapusnya. Jadi saya memutuskan untuk memindahkannya ke blog ini. Ditulis sekitar tengah tahun 2009 setelah membaca “Kepada Pelukis Affandi” di Deru Campur Debu, “Membuat Sajak, Melihat Lukisan” di Pulanglah Dia Si Anak Hilang: Kumpulan Terjemahan dan Esai, dan novel grafis “The Eyes of the Cat” karya duet Jodorowsky-Moebius, tokoh Sugali di cerita ini adalah bahan untuk membuat tokoh Kek Su di dalam novel Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Saya tidak mengeditnya, langsung salin dan tempel dari blog lama (dan saya baru lihat lagi beberapa menit lalu ternyata ada juga di laman kompasiana saya, diunggah tahun 2012. Dan seingat saya, saya pernah mengunggahnya juga di kemudian.com sekitar tahun 2010.) Selamat membuang-buang waktu. Hehe.]

Cerita hari ini adalah cerita biasa tentang hari tuanya Sugali, orang kampung biasa memanggilnya Gali. Kek Gali. Kakekku. Lebih tepatnya kakek tiriku, dan lupakan soal gelar tiri dibelakangnya. Itu tidaklah penting.

Seperti senja kemarin, Kek Gali ajak aku duduk di serambi depan. Ada tiga cangkir di atas meja yang sama tuanya dengan usia Kek Gali. Satu untuknya, satu untukku (meski ia tahu, aku tak akan meminumnya) dan satu untuk lukisan perempuan cantik di sisinya. Perempuan yang menurutku aneh, terlalu bersahaja. Tanpa kalung emas menjuntai, tanpa gelang perak merambat di lingkar tangannya, tanpa gincu, bedak dan segala benda yang biasa di pakai Mpok Sirem, rentenir tua di kampungku. Tidak seperti Mpok Sirem yang gemar mengeksploitasi tubuhnya sendiri agar terlihat cukup, perempuan dalam lukisan itu sepertinya memang sudah cukup seperti itu. Cukup tersenyum seperti itu. Dan seperti kebanyakan lukisan lainnya, lukisan perempuan itu pun tidak minum teh. Namun tetap saja Kek Gali meletakkan secangkir teh dihadapannya. Lukisan perempuan itu adalah nenekku.

Kek Gali mengangkat secangkir teh hangat. Keriput tangannya bergetar seiring dengan laju gelas menuju tepi bibirnya. Namun senyumnya merekah; serasa semua melambat dan ratus-titik-kenangan muncul satu persatu.

Kek Gali membakar rokok kreteknya, kenangan itu mulai menggagahi wajahnya. Matanya jadi terpejam. Kembali ia pada suatu masa di mana Gali muda adalah seniman terhebat, seniman yang karyanya dibicarakan oleh jutaan orang. Patungnya di buru seperti paus biru. Lukisannya di pajang di istana, di kamar tidur bahkan di kamar mandi raja-raja. Siapa tak kenal Sugali? Bahkan jika kamu bisa bertanya pada seekor semut pun, mungkin semut akan mengenalnya. Sugali si Seniman Istana.

Pada suatu siang, Gali muda yang ingin melukis gunung pergi ke sebuah desa. Desa Althea. Desa terjauh dari kota, desanya para budak. Sesampainya di desa itu, ia langsung menyewa sebuah rumah milik warga yang menghadap gunung. Namun hingga petang menjelang, kanvasnya masih kosong. Pandangannya mulai lelah ketika seorang perempuan masuk membawakan secangkir teh hangat, lengkap dengan asapnya, perempuan berusia dua puluhan itu cantik sekali. Lebih cantik dari lukisan bidadarinya di rumah, lebih cantik dari seluruh objek perempuan yang pernah ia lukis dijadikan satu. Rambutnya yang kecokelatan berpadu dengan oranye senja dan seolah gunung yang akan di belakang kehilangan makna indah.

“Maukah kamu menjadi objek lukisanku?” tawar Gali. Perempuan itu hanya mengangguk kecil.

“Duduklah di kursi itu….” Perintahnya, perempuan itu pun menurut. Ia berjalan perlahan menuju kursi. “Tersenyumlah!”

Nampaklah dihadapan Gali muda. Senyum tipis, indah, dan misterius seperti nebula Mata Kucing. Gali memutuskan untuk melukis bibirnya terakhir, karena jujur saja itu bagian tersulit. Ia mulai dari mata, menuju hidung, rambut hingga pakaiannya. Hatinya berkata, ini akan menjadi lukisan terindah yang pernah ia buat. Sesaat sebelum ia menggoreskan cat untuk melukis senyum perempuan itu, perempuan itu mati. Mati tanpa sebab. Matanya terpejam. Perempuan itu terjatuh dari kursi. Anehnya, senyum itu tak berubah. Tidak bergeser sedikitpun. Masih sama indah ketika ia hidup. Mati, dan hanya Gali muda yang ada di situ.

Malam kian menua, dalam perjalanan menuju kota dengan kereta kuda Gali muda terus mendekap lukisannya. Rahasiakan. Rahasiakan. Gumamnya pada dirinya sendiri.

Raja Hobes I berkunjung keesokan harinya, tepat ketika Gali muda sedang mengagumi lukisan Perempuan Tersenyum di dinding rumahnya. Tak lama kemudian Raja Hobes I keluar lagi, membawa lukisan Perempuan Tersenyum itu. Ditinggalkannya Gali muda yang nyaris mati dipukuli para pengawal karena bersikeras menolak lukisannya di beli. Sementara itu di desa Althea terjadi peristiwa menggemparkan, tubuh seorang perempuan di temukan mati tergeletak di atas tempat tidur dalam sebuah kamar yang memperlihatkan pemandangan gunung, hal biasa bagi para budak jika mati setelah mendapat kunjungan dari orang lingkungan kerajaan. Yang membuat matinya menjadi luar biasa adalah, bibir perempuan itu hilang. Hilang. Berganti lukisan bibir dari cat minyak. Tak ada yang mengira bibir itu hasil lukisan cat minyak, sampai seorang anak kecil tanpa sengaja menumpahkan minyak tanah ke wajah perempuan malang itu. Anak itu berusaha membersihkan wajah perempuan itu dengan kain, dan terkejutlah ia ketika mengelap bagian bibirnya. Bibir itu luntur.

Kabar menghebohkan itu cepat sekali menyebar sampai lingkungan istana. Raja Hobes I yang ketakutan, menyuruh orang-orang suci untuk segera mengamankan lukisan itu dan memerintahkan pengawal untuk menangkap Gali muda. Seniman itu di tuduh melakukan praktek sihir dan sebagaimana nasib ratusan orang yang di tuduh penyihir, mereka akan di bakar hidup-hidup. Terlambat, Gali muda sudah kabur dari rumahnya. Ia bukan penyihir, dan lukisannya tak mengandung sihir apapun. Hanya sebuah senyuman yang ingin ia abadikan.

Sekian waktu berlalu, tersiar berita bahwa bibir itu memiliki kekuatan gaib dan bisa membuat si pemiliknya cantik pula hidup abadi. Beberapa kali terjadi percobaan pencurian. Mereka yang terobsesi dengan sihir, tak peduli lukisan itu ada di kamar sang raja atau di sarang piranha, mereka tetap akan mencurinya. Kabar itu sampai di telinga Gali. Gali sebenarnya tak kabur terlalu jauh, ia melukis wajahnya sendiri. Menambahkan kumis dan jenggot. Kini, tak satupun orang mengenalinya sebagai Gali si Seniman Istana melainkan Ali si budak pelabuhan. Ia bekerja sebagai budak di pelabuhan kerajaan.

Sejak Gali mendengar kabar bahwa lukisan itu berhasil dicuri. Ia gelisah. Berdoa sepanjang malam. Malam itu Gali tak bisa tidur, ia memikirkan lukisan Perempuan Tersenyum miliknya, mulutnya tak henti-hentinya memanjatkan doa. Dan entah Tuhan mengabulkan doanya, kebetulan, atau memang takdir atau apapun kamu menyebutnya, lukisan itu kini berada tepat dihadapannya. Lukisan itu tergeletak begitu saja di tempat sampah pelabuhan. Sungguh heran, hanya bagian bibirnya saja yang hilang, sisanya masih utuh dan masih indah meski ada yang kurang tanpa senyuman itu.Orang gila macam apa yang nekat mencuri di istana hanya untuk mengambil bibir itu? Pikirnya.

Gali membawanya pulang. Meletakannya di bawah tempat tidur. Gali berjanji tak akan kehilangan lukisan itu untuk kedua kali.

Kini Gali muda sudah tua, Punggungnya sudah tidak lagi tegap, susah payah pula ia menopang tubuh ringan-kurus itu, benar terasa sudah tidak lagi ringan. Tetapi ajaib, ketika menceritakan kisah itu padaku di temani lukisan Perempuan Tersenyum yang kini bibirnya sudah ada pada tempatnya lagi, ia nampak lebih muda.

“Kau pasti bertanya-tanya, bagaimana bibir yang sedang tersenyum itu kini berada di lukisan ini lagi, bukan? Lukisan perempuan yang bahkan tak ku ketahui namanya ini…” Kek Gali seolah mampu membaca pikiranku, ia melanjutkan “Pada suatu hari, kapal kami berlayar ke sebuah negeri yang jauh. Sesampainya di sana, entah kenapa aku ingin mengunjungi rumah ibadah. Mungkin rindu, entahlah. Aku memasuki rumah ibadah dekat pelabuhan, belum sempat aku berdoa sampai kedua mataku tertuju pada sebuah kotak kaca di sudut ruang peribadahan itu. Terkejutlah aku, di sana, di dalam sebuah kotak kaca, senyum itu mengembang cantik sekali, ditemani ayat-ayat pengusir roh.

“Aku heran, bagaimana mungkin senyum seindah ini di tuduh mengandung roh jahat. Apakah mereka buta? Jadi kupikir, percuma bila bibir yang sedang tersenyum itu diletakkan di sana hanya untuk ditakuti saja. Mungkin menurut mereka senyum itu misterius dan memiliki maksud tersirat, sebab di atas kotak kaca itu terdapat tulisan ‘Senyum Iblis’. Entah bagaimana mereka menafsirkannya, padahal, aku sendiri yang menempelkan senyum itu dulu, tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengabadikannya dan tidak mau senyuman terindah itu lenyap di makan belatung atau cacing tanah.”

Kek Gali menatapku, “Dan ya, harus ku akui mungkin caraku salah…”

Matanya mendelik. Ia mengambil sebatang rokok lagi, kemudian membakarnya. “Kulukis sebuah kotak kaca lengkap dengan ayat-ayat pengusir roh dan bibir yang sedang tersenyum, meski senyum itu tak sama persis, tak memiliki roh, tapi aku yakin tak akan ada yang menyadarinya. Sebab lukisan kotak kaca itu sama persis kecuali bibir yang sedang tersenyum itu. Ah, andai saja aku mampu melukiskan senyum itu dengan baik, tak mungkin aku harus mencuri bibir pemiliknya dulu, dan itu mungkin dosa terbesarku.”

Tehnya sudah tak lagi hangat, asapnya sudah pergi beberapa menit yang lalu. Kek Gali tetap menikmatinya. Sama saja.

“Setelah aku berhasil menyelundupkannya ke kapal, aku kembali lagi ke rumah ibadah itu. Memohon ampun, ah, begitulah manusia bukan? Setelah menyadari kesalahan yang mereka lakukan, mereka mengiba, memohon ampun pada Tuhan. Entah Tuhan mengampuni atau tidak, manusia hanya tahu Tuhan maha pengampun…dan senyuman ini, Nak,” matanya menatapku tajam, “ia tak memiliki kekuatan sihir. Seperti senyuman yang lain, ia bisa memperkaya orang yang melihatnya tanpa membuat miskin orang yang memberikan senyum.

“Senyuman tak bisa di beli, anakku, meski Raja Hobes I sanggup membeli ratusan budak untuk dijadikan pembantunya, ia tak akan pernah bisa membeli senyuman. Senyuman tak bisa dipinjamkan, apalagi disewakan, senyuman hanya bisa dibagi.”

Rumah ini dibalut penuh oleh udara yang bercampur wangi kayu, juga wangi cat minyak. Aroma yang sama sejak kali pertama Kek Gali memutuskan untuk tinggal di sini bertahun-tahun yang lalu, ah tentu saja, sudah sangat kuhapal benar baunya, Tidak hanya aku, patung-patung yang lain juga pastilah sangat hapal benar wangi ini. Wangi yang sejak kami di ciptakan oleh Kek Gali sudah seperti ini. Matahari tak akan pernah meninggi, tak akan pula benar-benar tenggelam. Ia akan tetap di sana, antara timbul dan tenggelam. Tertahan di posisi itu. Tak ada yang pernah bilang bahwa lukisan bisa menenggelamkan seseorang.

Lukisan Langit.

Lukisan Mpok Sirem Si Rentenir.

Lukisan Istana Raja Hobes I.

Lukisan Raja Hobes I.

Lukisan Kereta Kuda.

Lukisan Jembatan.

Lukisan Desa Althea.

Lukisan. Lukisan.. Lukisan.

Mata pemuda itu terbuka, dihadapannya masih terpampang sebuah lukisan cat minyak. Lukisan seorang lelaki tua sedang duduk menikmati senja sambil menikmati teh dan sebatang rokok terselip di jarinya, sebuah patung anak kecil di sebelah kanannya dan lukisan perempuan tersenyum di sebelah kirinya. Si lelaki tua kelihatan sedang berbincang sendiri.  Tiga cangkir teh tersaji di atas meja kayu. Wajah lelaki tua itu kelihatan sangat bahagia. Dan mata patung anak kecil yang melihat ke arahnya.

Pemuda itu baru menyadari apa yang terjadi barusan, antara mabuk dan sakit jiwa memang sulit dibedakan, tetapi ia sangat yakin. Lukisan itu bercerita padanya. Dengan ragu, pemuda itu mendekat untuk membaca nama pelukisnya. Sugali.