rumor

kau menemukan hantu
dan memberinya tubuh
dengan dua tangan dan
sepasang kaki buat
goes sepeda ke akhirat
tak rela membiarkan
mereka mati
tak rela membiarkan
yang mati mati

Iklan

Hantam

Kehendak bukan, dan tidak akan pernah menjadi, lawan sepadan di atas ring. Tetapi mengulur-ulur pertarungan juga bukan ide bagus. Sepanjang waktu selama kau berusaha menunda, ia muncul pada piksel cacat layar komputer, pada bau keringat, pada sebotol vitamin C 1000 mg. Menagih janji.

Ia menunggu hari di mana kau merasa segalanya sudah cukup: keluargamu baik dan sehat dan terjamin, teman-temanmu baik dan sehat dan terjamin, dan kau pikir darmamu sudah tidak perlu ditambah lagi. Seperti yang kau janjikan.

Kau tampaknya tak akan bisa membuat dunia jadi lebih baik: ia akan selalu seperti film horor jelek yang saking buruknya akan sayang dilewatkan apabila kau menutup mata dan telinga. Lelucon bisa menguranginya, sedikit. Pada beberapa kesempatan humor yang bikin ketawa cukup melegakan. Tetapi yang model begitu hanya seperti krim anti penuaan yang rutin kau oles sejak usia 20; hanya bisa menunda.

Kau berpikir bahwa kau tak akan meninggalkan dunia ini–kau masih ingin melihat unikorn pemakan cupcake di kala hujan, ingin melihat kutu anjing di sofa, ingin menyeberang ke Suriname atau Pamplona. Bahwa kau mencintai sekaligus membenci dunia dengan intensitas yang sama di waktu bersamaan pula.

Jadi yang kau perlukan hanya keyakinan bahwa apa yang kau lakukan cukup. Jika hari itu tiba, penuhi janjimu: naiklah ke ring. Dan hantam.

Saat kau mati, kau selamat; tak ada yang bisa menyentuhmu

Mongrel hitam-putih mondar-mandir di depan pintu seperti pelayan ber-dinner suits yang takut membangunkan tuannya tetapi tak kepengin sang Tuan melewatkan makan malam.

Ia berhenti di dekat kaki meja. Meringkuk seraya memandangi pesawat telepon, sebelum benda itu berbunyi dan membuatnya langsung berada dalam posisi siaga, lalu meringkuk lagi setelah telepon berhenti berdering.

Ia menaruh dagunya di lantai. Pada hari-hari biasa di jam-jam begini, di bawah meja itu selalu tersedia semangkuk makanan.

Tidak Perlu Melempar Koin

Nasib buruk satu orang tak ada urusan dengan nasib baik orang lain.

Seorang anak menunggu kereta ekonomi Jabodetabek lewat. Tangan kanannya menggenggam batu. Ia melihat lokomotif, menyusul suara peringatan palang pintu rel. Anak itu, dengan meniru gaya pahlawan super favoritnya, memasang kuda-kuda. Kereta lewat. Ia melempar batu sekuat tenaga. Batu menyusuri gerbong satu, gerbong dua, gerbong tiga, dan masuk gerbong empat melalui jendela dan mengenai pelipis Gula Batu yang sedang melamun. Kena kepala. Tentu saja telinga anak itu tak menangkap jeritan Gula Batu, ia sibuk meloncat-loncat kegirangan sebab baru saja melampaui rekor pribadi.

Sementara di dalam gerbong empat, Gula Batu menutup pelipisnya. Darah mengaliri tangan kanannya. Beberapa penumpang memandang iba, bahkan sempat-semoatnya bertanya apa yang ia rasakan. Sakit belaka. Seorang bapak yang berdiri di belakangnya menepuk pundak Gula Batu dan berkata: beruntung tidak kena mata.

Petugas kereta menghampiri Gula Batu, menanyakan hal yang baru ditanyakan penumpang lain beberapa menit lalu. Sakit belaka. Petugas membuka jalan, Gula Batu mengikuti sambil meringis. Beruntung. Jalan mereka nyaris tanpa hambatan sampai seorang ibu yang membawa dua tumpuk sayur dan ayam hidup tak bisa menggerakkan belanjaannya. Tak ada ruang lagi. Sakit belaka. Ibu itu sesungguhnya bisa saja memaksakan diri, ia bisa mendorong belanjaannya sekitar sepuluh senti, namun itu artinya satu dari empat penumpang yang menggelayut di pintu harus meloncat selagi kereta melaju dan itu rasanya tindakan yang kurang bijak. Petugas melirik Gula Batu, memintanya untuk sedikit bersabar, “Sebentar lagi Stasiun Pasar Minggu,” katanya, “Anda bisa turun dan mendapat pertolongan pertama.”

Petugas itu rupanya tidak tahu, Gula Batu sudah mendapat pertolongan pertamanya dari bapak yang tampaknya gemar bersyukur: “Beruntung tidak kena mata.”

Darah Gula Batu sudah malas keluar ketika mereka tiba di ruang operator yang terdapat kotak P3K di dinding. Petugas mengambil kapas dan alkohol, membersihkan luka sambil mengeluh sementara operator kereta sibuk memperhatikan lampu sinyal kereta.

“Aku belum siap menganggur,” katanya, “Tapi juga tidak tahan kerja begini.”

“Tidak ada yang memaksamu terus bekerja,” si Operator menyahut. Tangannya sibuk mengupasi kacang.

“Ya, memang.” Petugas Kereta Api menekan terlalu keras hingga Gula Batu hampir meninju wajahnya. “Tidak ada juga yang memaksamu untuk mendengarkan aku.”

“Aku sudah hafal keluhanmu, jadi rasanya tak perlu repot-repot mendengarkan.”

SesungguhnyalahvGula Batu tak ingin terjebak dalam obrolan itu, yang hanya membuatnya membayangkan hal yang mestinya ia lakukan sebelum kena lempar batu. Jika saja ia punya sedikit keyakinan, ia tak perlu merasakan sakit lagi. Ia mengingat-ingat pesan singkat dari atasannya dan wajah-wajah rekan kerjanya dan ekspresi kekasihnya dan pilihan paling masuk akal yang tak ia ambil.

Gelombang Besar

Karena hidup tak bisa dibikin lebih singkat lagi, kutekankan di sini: kau boleh patahkan batang hidungku berkali-kali. Sampai bosan. Sampai ketemu arti.

Karena hidup tak bisa dibikin lebih pepat lagi, kutekankan di sini: ambil kerah lawan dan pukul sampai tak kaukenali. Sampai bosan. Sampai ketemu arti.

Dibangun di atas pasir, pada dasarnya, kesedihan gampang roboh.

Tapi aku orangnya pacak menemukan cara buat menyerah.

2017

Dan Jadilah Demikian

Beruang tetanus dan sekarat akhirnya mati
Empat pria berseragam menyingkirkan bangkai
Dari pandangan penonton yang sedang menghindar
dari pandangan beruang yang seperti
payet hitam di gaun perempuan di pagar
dekat papan nama latin bertuliskan
Helarctos malayanus–beruang matahari
Perempuan itu menyingkir pelan-pelan

Flamingo: Kumpulan Cerita Seram

Sedang berusaha menyelesaikan apa yang suda dimulai. Hhh. Mungkin baru beres dua atau tiga tahun lagi. Ditaruh di blog, biar jadi semacam pengingat. Bole intip kalau mau. Hehe~

Flamingo: Kumpulan Cerita Seram

“Konyol sekali, menghabiskan 10 tahun cuma untuk menciptakan manusia. Kalau kau tak bisa bikin manusia lebih cepat daripada alam, sebaiknya kau tutup saja bengkel ini.” -Nasihat Rossum muda kepada Rossum tua (Rossum’s Universal Robots – Karel Čapek)

Demi keamanan dan keadilan, semua nama tokoh dalam kumpulan cerita ini disamarkan.

[…]

Stasiun radio terakhir di muka bumi sudah bangkrut sedekade lalu, dan yang saat ini sedang kamu dengar adalah suara hantu yang membajak frekuensi. Sobat Begadang Nusantara, selamat datang di Jurit Malam, Tidur di siang hari, menganggur di malam hari bersama Madam Luluk dan Bang Ben Bugimen.

[jingle Jurit Malam] Papa-Alfa-Charlie-Alfa-Romeo mengajakku gombal di udara~ memang cinta asyik di mana saja walau di angkasa~

[…]

“Eh, kau punya nomor telepon Bill Gates?” Sebuah ponsel mendarat di dasbor, menyenggol miniatur Dieguito dan membuatnya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“Bill Gates Microsoft?”

“Bill Gates mana lagi?”

“Kukira kau menyebut nama tetanggaku,” ia berdeham. “Kau bertanya nomor telepon Bill Gates seolah kami tinggal bersebelahan.”

“Aku ingin meneleponnya dan bilang ‘Sebelum melakukan hal-hal menjijikan sebaiknya pikirkan puki emakmu.’ atau apalah.”

“Memangnya, ada masalah apa antara kau dengan si Bill?”

“Dulu dia bilang Open Source berbahaya, dikait-kaitkan dengan komunisme segala. Sekarang Microsoft bergabung dengan Linux Foundation. Memang bajingan si Jembut Anjing ini, tak heran dia kaya raya.”

Sebuah tangan menghentikan goyangan Maradona, “Lantas, apa yang bikin kau marah? Kau pernah dengar pepatah: Jika kau tak bisa mengalahkan musuhmu, ajaklah mereka bekerjasama.”

Tangan lain menyentil kepala Maradona, “Jadi, apa sudah saatnya kita menyerah dan bekerjasama dengan mobil di belakang?”

Sambil berdeham, lelaki bersuara bariton membenarkan posisi spion tengah. Lampu merah dan biru berkedap-kedip. “Kau pikir aku tak bisa mengalahkan dia, ya?”

[…]

Menyetir mobil dengan lambung berisi seliter Topi Miring dan dua mayat di bagasi bukanlah hal mudah. Setidaknya itu yang dialami jagoan kita, Napas Kecoa, lima belas menit lalu sebelum ia dan mobil dinasnya menabrak pembatas tol di kilometer 26, meluncur tak terkendali di tanah curam, dan berhenti setelah menabrak gubuk di tepi sawah.

[…]

Ia mengingat-ingat pertama kalinya jatuh hati kepada pistol. Hal pertama yang muncul di dalam pikirannya adalah lampu-lampu neon yang merangkai nama Louis, restoran Italia-Amerika dan bagaimana seseorang membuka botol dengan cara diputar-putar, ditekan, dan ditarik hingga berbunyi ‘plop’, tak lama kemudian seseorang mati di meja makan. Plop. Mungkin begitu bunyi ketika nyawamu copot.

[…]

Nah, itulah ruginya orang yang tidak banyak bicara. Padahal kalau diajak bicara, kan, tidak perlu melibatkan pisau segala. Siapa tahu istri Mas dan tetangganya cuma sedang menggoreng sosis, sedikit necking atau petting sambil menunggu sosis masak tentu tak ada salahnya. Asal jangan sampai gosong. Madam pernah membaca buku tentang hal-hal yang diungkapkan di bilik pengakuan dosa, salah satu pengaku bertanya apakah menggesek-gesekkan alat kelamin ke lawan jenis tanpa menikah termasuk dosa? Romo tentu menjawab itu sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan, tapi menurut Madam itu sah-sah saja. Selama sosisnya tidak gosong. Hehe.

[…]

“Sialan. Lagipula buat apa dia repot-repot menyebutku menyebalkan? Kurasa dia hanya orang yang dendam kepadaku. Dan doanya itu lho. ‘Tempat yang terang’, cih, doanya tak terkabul. Tak akan terkabul. Kalau bisa aku pengin mendatanginya dan menyuruhnya berhenti mendoakanku. Percuma.”

“Mereka suka harapan, mestinya kau maklum. Tak ada yang ingin tinggal dalam ruang sempit dan gelap dalam waktu yang tak terbatas.”

“Tapi kita tahu itu tidak ada.”

“Kita tahu, mereka tidak.”

“Sialan. Doa itu malah bikin aku ingin memukulnya.”

“Setidaknya masih ada yang sudi mengingatmu meski kau menyebalkan. Mungkin dia istrimu. Tak ada yang memendam perasaan sebal berlebihan kepadamu selain pasanganmu.”

“Sialan. Kuharap dia bukan istriku. Kuharap dia bukan siapa pun.”

“Kau tahu dia tidak mungkin bukan siapa pun. Minimal kau tahu dia seorang perempuan.”

“Sialan.”

Pamit

Kutaruh di atas meja: Sabuk dan dompet, ponsel dan korek, selusin koin.

Cara terbaik menilai anjing bukan dari kemolekan rambut atau seberapa cepat ia menyahut, melainkan dari jumlah garit dan bagaimana pada suatu hari ia mesti merelakan sepuluh senti ujung ekornya.

Kutaruh di atas meja: Sabuk dan dompet, ponsel dan korek, selusin koin.

Ironi tak menyelamatkanmu dari apa pun dan handuk yang kau pakai untuk membersihkan muntahan juga tidak. Hidup sangat terbatas, proses memaafkan mustahil selesai. Semesta merenggang, tak ada satu pun yang benar-benar dekat.

a seguro, le llevan preso

Ia duduk di kedai kopi. Jemarinya mengetik angka-angka enkripsi perangkat lunak baru sambil sesekali memandang orang mengobrol di Starbucks seberang jalan. Mengapa dunia tidak bergerak dengan cara yang lebih gampang? Pikirnya. Mengapa orang-orang mesti sembunyi, bahkan di internet, dari orang lain? Kau ada di sini. A seguro, le llevan preso.

delapan seloki wiski

tak perlu membawa pistol
dalam pertarungan pisau
dan lupakan ketapel-ketapel Daud
pada kantung-kantung baju orang saleh
atau ancaman-ancaman dari langit

defile yang seperti antrean piyik
meski dipenuhi rajahan pitawat
darab cemeti mereka
tidak lebih keras dari
delapan seloki wiski