In Vitro

Sebuah rumah panekuk. Pelayan, yang merangkap koki, membersihkan meja pelanggannya–seorang wanita berkemeja biru ketat–lalu meletakkan botol saus dan sendok dan garpu. Ia membariskan benda-benda di atas meja secara horizontal, membuatnya seperti sehimpun regu tembak, kemudian meminta wanita itu menunggu sepuluh menit.

Wanita itu mengenang percakapan tiga orang asing yang membawanya ke rumah panekuk ini.

Satu jam lalu ia di jalan menuju stasiun, menuju rumah suaminya. Tak ada tanda-tanda ia akan menundukkan kepala, ketiak kiri mengempit amplop coklat, bahu kanan memanggul beban tas kulit, dan perias mata yang seperti lebam. Ia berhenti di depan kelompok pengamen yang menyanyi lagu Fariz RM. Di belakangnya, dua orang lelaki membicarakan sebuah rumah panekuk, berusaha mengajak teman perempuan mereka untuk mencobanya juga. Letaknya tak jauh dari Stasiun Gondangdia, di jalan kecil yang akan menuntunmu ke Stasiun Gambir. Buku menu di rumah panekuk itu berisi dua puluh tiga jenis makanan, enam jenis minuman, dan tiga jenis kue, tetapi hanya satu jenis makanan dan minuman yang tersedia. Panekuk dan teh tawar hangat. Rumah panekuk itu, kata salah seorang dari mereka, sebetulnya tak perlu menulis menu banyak-banyak, ia hanya perlu mempertahankan rasa panekuk dan sausnya. Yang satu menyetujui dan menambahkan kecurigaannya, sambil terkekeh, bahwa si koki menambahkan ganja ke dalam adonan panekuk. Keduanya sepakat panekuk itu membuat siapa pun yang memakannya merasa sedang dalam perayaan keagamaan atau festival tahunan; perasaan yang hanya mungkin muncul dalam momen-momen seperti itu.

Wanita itu tak ingin mendengar lebih banyak. Setelah lagu berakhir, ia melempar selembar uang sepuluh ribu lantas pergi. Ia naik kereta dan berhenti di Stasiun Gondangdia. Amplop coklatnya basah.

Pelayan meletakkan sepiring panekuk dan teh tawar hangat di atas meja. Wanita itu mengistirahatkan punggungnya di sandaran kursi. Ia tak segera memakan panekuknya, malah meminta diambilkan koran atau majalah. Tak ada koran atau majalah baru, kata pelayan seraya menyerahkan majalah LIFE terbitan 13 Juni 1969. Wanita itu membaca halaman demi halaman, mencuil panekuk saat berganti halaman, dan menghabiskan tehnya setelah menutup halaman terakhir. Serangga terbang menghampiri lampu, mengitarinya seperti sedang melakukan ritual suci, atau hanya upaya kecil mereka untuk bertahan. Wanita itu menutup amplop coklatnya dengan majalah. Ia menatap gambar sampul majalah itu dan berpikir bahwa hidup dan mati, dan pertemuan-pertemuan yang terjadi di antara kedua kutub itu, hanyalah kecelakaan. Ada kecelakaan yang hanya menggores pipi, yang tak mengorbankan banyak darah. Ada pula yang sebaliknya.

Iklan

Survei

 

Tangkap layar salah satu fragmen di film Ruang Rak Noi Nid Mahasan (Last Life in the Universe) [2003]
Tangkap layar salah satu fragmen di film Ruang Rak Noi Nid Mahasan (Last Life in the Universe) [2003]

Bagaimana cara anda menghibur diri?

A. Nonton ulang ‘Bedknobs and Broomsticks’ sambil mengupas kentang dan minum teh Tong Tji plus sedikit garam dan perasan limau nipis
B. Membuka empat tab youtube dengan lagu berbeda-beda dan volume maksimal
C. Menyegarkan laman berita sampai isinya berubah sesuai dengan yang anda mau
D. Memandangi foto aktor/aktris kesukaan anda sambil memainkan alat kelamin
E. Membalas SMS provider yang sehari sekali menyapa anda dengan promo-promo yang sama sekali tidak menarik dengan mengirim puisi-puisi Nizar Qabbani sepanjang tiga halaman

Judul lagu mana yang menurut anda layak menempati ruang antara trek Eleanor Rigby dan I’m Only Sleeping di album Revolver?
A. Inane Love Ballad for One-Sided Love
B. Horrid Nursery Rhyme Sung by Dipshit
C. Song Your Drunk Mom Sings at Karaoke
D. Eat, Pray, Love, Kickflip, Backflip, Shark Attack, Papa, Alfa, Charlie, Alfa, Romeo, Execute, Operation Mongoose
E. They Scream Like People

Apa yang anda katakan untuk membuat pacar anda senang?
A. Obrolan kita selevel, My Love
B. Aku ingin makan bola matamu supaya kamu bisa melihat isi hatiku, My Love
C. Aku ingin ikut program kloning, menggandakan diri sebanyak 50 juta, sehingga aku bisa mencintaimu sebanyak itu, My Love
D. Kalau kamu lem, aku jadi pipa: kita sama-sama bikinan pabrik, My Love
E. Bahkan kematian harus melangkahi kepalaku dulu sebelum mematikanmu, My Love

Mengapa anda tidur?
A. Mengikuti aturan yang berlaku di masyarakat
B. Enak
C. Sudah menjadi kebiasaan
D. Tidur hanya mitos pabrik bantal dan tukang bikin ranjang dan sofa supaya kita beli produknya
E. Karena tidur menghindari kita dari berbuat maksiat dan juga menghindari kita dari makan dan minum dan masalah-masalah duniawi

Menurut anda, jika anda digigit anak berdandanan gotik, apakah anda akan menjadi vampir?
A. Iya
B. Tidak
C. Tidak, karena aku ingin jadi drakula
D. Tidak, kecuali yang menggigitku Nick Cave atau, yah, minimal Robert Smith
E. Aku memang vampir

Terima kasih telah berpartisipasi.

Salam,
Alfred Kurniawan

Fungsi Minuman Bersoda

agrariafolks muntah bebek

Sebuah telaga. Empat perahu kayuh berbentuk bebek kuning bermuatan dua orang tertambat di dermaga, dua lainnya bergerak menjauh. Setelah penyewa perahu membawa pasangan masing-masing naik perahu, pengelola perahu bebek berbaring di dipan, ia meregangkan punggung sebelum menutup wajahnya dengan topi pancing.

“Kira-kira, sudah berapa banyak pasangan yang ia lihat sepanjang ia bertugas?” Herman membuka kaleng teh soda, lantas menenggaknya. Yang ditanya membuka satu kancing paling atas dan mengipas-ipas wajahnya dengan kertas biru.

“Aku tidak apa-apa,” katanya, mengetuk-ngetuk sudut kertas biru ke pipi Herman lalu kembali menjadikannya kipas. “Orang datang dan pergi, dan datang dan pergi. Bukan masalah besar.”

“Seingatku si Bapak sudah ada di dipan itu sejak aku SD, sejak kami baru pindah ke perumahan ini.” Herman mengepalkan tangannya, membuka satu per satu jemari. “Empat atau lima belas tahun. Wah… kalau satu hari lima pasangan saja satu tahun mungkin sekitar empat ribu orang, lima belas tahun berarti sekitar enam puluh ribuan.”

Nina diam saja.

“Eh, Nina, kau lapar? Aku punya sesuatu.”

Nina meletakkan kertas biru di atas rumput, mengambil kaleng teh soda milik Herman, lalu meminumnya. “Ini cukup. Kau tahu, soda bikin perutmu terasa penuh.”

“Tapi dengan roti coklat perutmu akan benar-benar terisi.”

“Simpan saja,” katanya. “Buat nanti kalau aku benar-benar sudah lapar.”

“Seingatku kau baru makan satu kali, bubur ayam tadi pagi?”

“Perutku rasanya penuh sekali.”

“Penuh sampai-sampai ingin kau keluarkan separuhnya?” ujar Herman, setengah bercanda.

“Ya, itu satu dari beberapa fungsi soda.”

Dua perahu bebek berjalan bersisian. Terdengar tawa samar, tawa perempuan. Barangkali penyewanya teman dekat. Keduanya sama-sama berbelok sehingga kini yang bisa kita lihat hanya kepala belakang mereka dan galur air di bokong bebek.

“Rasanya aku ingin punya kemampuan menurunkan kraken dari langit,” ujar Herman, menyobek bungkus roti cokelat. “Dan kujatuhkan di antara mereka.”

“Jahatnya anak ini…”

“Atau bukan untuk mereka,” ia meletakkan bungkus roti di atas kertas biru. “Bukan di sini. Tidak saat ini.”

Nina terlihat ingin tertawa, namun urung. Alih-alih ia malah menyerobot roti cokelat dari tangan Herman dan memakannya dengan lahap.

“Katanya nggak lapar?”

“Siapa bilang?” suara Nina tertahan gumpalan roti di mulutnya sehingga terdengar seperti katak sawah. “Aku hanya bilang perutku terasa penuh.” Ia kelihatan agak kesulitan menelan, karena itu ia bergegas mengambil teh soda, bersendawa kecil, lalu mengulang: “Terasa penuh.”

“Sekarang mungkin terasa lebih penuh lagi,” kata Herman. “Aku sudah menyediakan kantung plastik.”

“Kau laki-laki visioner,” katanya. “Akan menjadi suami yang baik.”

Herman terpingkal, membuat seekor burung gereja yang sedang mematuk-matuk rumput tak jauh dari mereka terbang.

“Aku,” pupil mata Nina mengikuti burung gereja, “Aku cuma berharap dilindungi dari roh jahat dan nasib sial.”

“Menurutku ditinggal seseorang bukanlah nasib sial.”

Nina mengangguk. Ia buka lagi sekaleng teh soda dan meminumnya serupa atlet sepakbola di masa istirahat yang lupa selain air ia juga butuh bernapas. Ia tersedak hingga menitikkan air mata, lalu terpingkal.

“Apanya yang lucu?” tanya Herman. “4.800 orang mati tersedak di tahun 2014, tahu?”

“Bisakah kau berhenti memikirkan angka, data, dan hal-hal seperti itu?” suara Nina meninggi.

“Angka tidak pernah berbohong.”

“Tapi angka membosankan. Mungkin itulah penyebab kau nggak punya banyak teman.”

Dua perahu bebek semakin mengecil. Kali ini bahkan terlihat lebih kecil dari batu yang digenggam Herman. Ia melempar-lempar batu itu sebelum akhirnya dibuang, suara jatuhnya sampai ke telinga, disusul wangi minyak kayu putih yang dibuka Nina.

“Kau mual?”

“Tadi kau tanya berapa banyak pasangan yang dijumpai si Bapak penjaga perahu bebek?”

“Kalau mual sebaiknya muntahkan saja.”

Nina mengambil lagi kaleng teh soda terakhir, meminumnya, lalu meremas kaleng itu. Herman merasa rumput-rumput hidup dan mulai menggelitik betisnya, tentu saja mustahil, setelah ia periksa ternyata beberapa semut tersesat di rambut kakinya. Ia menekuk tungkai kakinya dan menyapunya dengan telapak tangan. Rupanya ada semut yang masuk pula ke dalam sepatu olahraganya. Ia bisa merasakan sesuatu berjalan pelan menyusuri telapak kaki, dan segera menyesali keputusannya tidak mengenakan kaus kaki.

Ia membuka sepatu dan tak menemukan apa-apa.

“Kukira angka perkiraanmu tidak banyak mengubah fakta ini: Orang-orang itu akan pulang dan tidak menyisakan kesan apapun terhadap bapak itu, yang mereka ingat barangkali cuma kebahagiaan saat mengayuh perahu.”

“Lihat,” Herman menunjuk dua perahu bebek di tengah telaga. Perempuan di perahu sebelah kanan berdiri, hendak melompat ke perahu di sisinya. Sementara yang laki-laki berusaha membuang air dengan sesuatu. Ia melakukan gerakan seperti menyangkul berulang-ulang dan tiap kali ia membuang air bobot si Bebek seolah bertambah. Laki-laki itu menyerah dan memutuskan untuk melompat. Pasangannya sudah berpindah ke perahu bebek lain. Saat laki-laki itu muncul ke permukaan kepalanya dipenuhi tumbuhan air, ia berusaha mengambil udara di dekat perahu bebek yang berangsur karam. Mungkin karena masih bingung, ia malah berenang menjauh dari perahu temannya sambil berkali-kali mengibaskan rambut, berusaha melepas tumbuhan atau lumut atau apapun benda kehijauan yang menghiasi kepalanya. Dari kejauhan ia nampak seperti Kappa mabuk yang baru pulang dari pesta bujang. Perahu bebek malang itu kini hanya kelihatan atapnya. Kuning pucat dan tidak berdaya. Sementara si Bapak masih tidur lelap di dipan, empat pemuda yang berdesakkan di satu perahu barangkali tengah menyusun alasan-alasan masuk akal.

Nina dan Herman terbahak-bahak sambil tangan mereka sibuk memasukkan semua sampah ke plastik kresek putih: Kaleng-kaleng teh bersoda, plastik roti, kertas biru, dan struk belanja. Sesekali Nina menggeleng-gelengkan kepala, seakan tak percaya atas apa yang baru saja ia lihat, dan tak perlu waktu lama hingga ia nyaris jatuh lalu mengeluarkan isi perutnya dan Herman dengan tangkas memberi kantung plastik sampah di tangannya.

Di Mana Letak Lucunya?

A manual of the physiological and therapeutic effects of hydriatic procedures, and the technique of their application in the treatment of disease  2d ed. by J. H. Kellogg / sumber: openlibrary.org
Ilustrasi diambil dari buku Rational Hydrotherapy karya J. H. Kellogg (1902) // sumber ebook: openlibrary.org

Aku akan menyiramkan air ke dadamu. Pencet lubang hidung kananmu dengan telunjuk lalu tarik napas sambil menghitung dari nol sampai delapan. Tahan. Buka lubang hidung kanan dan pencet lubang hidung kiri kemudian embuskan. Sekarang lakukan sebaliknya. Ulangi sebanyak empat kali.

Kau mungkin akan merasa sedikit pusing setelahnya, namun kini hidungmu lebih sensitif dan bernapas lebih lega. Kau bisa membaui aroma minyak tanah dari obor yang menempel di dinding dan kalau beruntung kau bisa mencium sisa-sisa wangi parfumku. Bernapaslah dengan cara normal sambil memikirkan seseorang yang kaupercaya, seseorang yang kaukenal, seseorang yang kaurindukan.

Aku adalah orang yang kau pikirkan.

Namaku adalah namanya, suaraku adalah suaranya, mataku adalah matanya, dan sekarang aku menggenggam telapak tanganmu dan kau mengenali guratnya; mengenali tekstur punggung tangannya.

Mestinya sekarang kau sudah melihat sungai di bawah sana. Kita akan ke sana. Bukit ini memang agak licin karena hujan yang baru saja berhenti, tetapi kita tidak akan terpeleset selama kita menuruninya secara perlahan. Kita bisa menghitung langkah kita bersama-sama, sambil mengayunkan tangan kalau kau suka. Kau tahu, seperti anak-anak TK.

Tiba di langkah ke dua puluh, kau merasakan tubuhmu menciut. Dan tangan kita menyusut pula. Aku kini adalah anak kecil yang pernah kau temui di pusat perbelanjaan ketika usiamu enam tahun. Kita saling menatap, tetapi tak punya cukup nyali untuk menyapa. Aku adalah desir hasrat pertamamu, yang dulu kepengin kau genggam namun tak pernah terjadi.

Kita tahu tak ada yang lebih menakutkan bagi anak usia lima belasan daripada iman, sesuatu yang tak cukup ada untuk dianggap ada meski begitu orang lain menuntut kita untuk meyakini keberadaannya. Tetapi kini kau tahu ia ada: Aku adalah iman. Ketetapan hati. Aku adalah ia yang kau yakin memandangimu di sisi ranjang selagi kau tertidur, ia yang hidup di tempat-tempat di kamarmu yang tak berani kau jelajahi; yang mengendap-endap dalam sistem sadarmu saat kau melakukan hal yang orang lain pikir tak layak dilakukan anak usia lima belas seperti merokok, onani, mengintip orang mandi, menonton film porno, mencatut uang bayaran sekolah, berdusta. Aku adalah ketakutan yang menyebabkan kau seperti kau hari ini. Tataplah aku kalau berani dan kau akan ingat orang yang paling menyebalkan yang pernah kau tahu: Sahabat, mantan pacar, politisi, pemerkosa, imam, selebriti, pramuniaga judes, tetangga, atau siapapun yang masuk dalam daftar orang-orang yang kepengin kaubenamkan dalam lumpur isap.

Aku akan mengingatkanmu sedikit saat Kain menjalani hukuman yang diberikan Elohim. Mula-mula ia terdampar di negeri kaum Nod. Di negeri itu ia menjadi seorang budak yang akhirnya menjadi lelaki simpanan Lilith, Sang Penguasa. Kain dan Lilith menghabiskan malam demi malam dalam kenikmatan berahi. Tetapi Elohim adalah Elohim adalah Elohim dan Kain harus kembali melanjutkan hukumannya melintasi ruang waktu.

Adalah Kain yang mencegah penyembelihan Abraham dan menyelamatkan Ismail, karena malaikat yang seharusnya menukar Ismail dengan seekor lembu datang terlambat. Kain ada di atas bukit saat pasukan Joshua meruntuhkan benteng kota Jericho. Kain pun menyaksikan bagaimana halilintar Elohim menghancur-leburkan Menara Babel. Dia berdebat dengan Elohim ketika Elohim hendak menghancurkan kota Sodom. Ia pun berjumpa dengan Luth dan Ayub dan sempat-sempatnya menumpang di bahtera Nuh sebelum kemudian membunuh satu per satu manusia yang tersisa pasca banjir besar. Maju mundur di dimensi waktu membuatnya bisa mengubah detail-detail penting sejarah yang membuat dunia menjadi dunia yang seperti saat ini.

Kita sudah hampir tiba di bibir sungai, berhati-hatilah, ada banyak batu dan beberapa sisinya cukup tajam untuk merobek telapak kakimu. Seseorang tengah bersimpuh di atas batu besar. Ia membelakangi kita. Kau tahu ia siapa, dan jika kau menepuk pundaknya, ia akan berbalik dan memperlihatkan hal yang sungguh-sungguh ingin kau ketahui. Orang itu bisa saja cinta pertamamu atau musuh abadimu atau justru dirimu sendiri sebelum kau menyalin identitas artis idolamu, menyalin sifat dan prilaku orang yang kau anggap lebih baik darimu, menyalin orang di ruang tengah itu, menyalin aku.

Kau adalah salinan adalah salinan adalah salinan sementara aku adalah kebebasan adalah kebebasan adalah kebebasan. Kini aku membelakangimu. Pilihlah batu yang kau suka,  setelah semua yang kaulalui, maukah kau menghantam kepalaku dengan batu pilihanmu agar ketika kau terbangun nanti kau tidak menjadi kau saat ini?

 

Waiting

ARSIP. Cerita pendek ini berjudul asli ‘Menunggu‘, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Alyssa  Syamina untuk Murmur Journal volume 3 (2015)

When the train arrived in Manggarai Station and the automatic doors slid open, the old lady was already standing in front of it, pressing her wristwatch to her right ear. She was in her mid 60s. She scratched the tip of her nose with her finger, and then folded her arms on her chest. She was wearing a light blue cardigan on top of her white shirt and a long grey skirt with a stain on its front. The stain looked new and the color was still so fresh that I could smell the stench of bottled sauce all the way from my seat.

She rubbed her wristwatch repeatedly, uncomfortably, as if the thing was slimy or had not been there at all before. Maybe the watch was new and she was not used to wearing it.

The old woman didn’t take my train even though the car I was in—right in front of her face—was mostly empty. Strange, I thought, because the platform where she was waiting—the platform I had been on—was a line for Bekasi. She couldn’t possibly mean to take another line because every train that passed in front of here would always head to Bekasi. Perhaps she was waiting for someone.

Usually, the train would stop for three to five minutes in this station. While waiting, I imagined her journey before coming to stand in front of me.

Five minutes ago the old woman was sitting in a fast-food restaurant near the ticket box. She ordered a sandwich and sat waiting for someone. The person she was waiting for would be in a train that would pass Manggarai Station and then would step out to meet her. The sauce in her sandwich dripped onto her favorite skirt.

In the middle of her meal, she occasionally scratched the tip of her nose with her finger. The person she was waiting for still hadn’t shown up. She stood from her chair and decided to wait for them in the platform. It would be easier for them to find each other that way.

Ten minutes before ordering the sandwich in the fast-food restaurant, she had visited a watch-seller kiosk in an antique market at Jalan Surabaya, Cikini. The watch-seller was about her age and he looked as exhausted as she did. Both of them were born in 1948—yes, the year was more or less appropriate—and they once went to school together. They met each other again in that market by chance and had a small awkward conversation.

“You were only interested in the ticking of a clock,” she said. “You didn’t change at all.”

“Of course. What did you expect?” The watch-seller laughed as his eyes swept through his display. “I think this watch fits you.”

“Why?”

“Listen carefully.” He showed the watch on his left hand and the old woman bent over to listen. “Hear that? The tick sounds like that house lizard that fell on your head once, right?”

She tried to hold back her laugh, because when she was laughing, the wrinkles on her cheeks showed clearly. Even after she finished they wouldn’t disappear—thin lines like dried wood would mark her face and would only disappear after an hour if she didn’t laugh again. She had to find another topic of conversation that wouldn’t force her to laugh. “I never expected for us to meet again.”

The watch-seller lifted his right hand to show the time on his own watch to the old lady. “I never expected you to marry in ’73.”

“Like I never expected you to not show up in Megaria* that afternoon.” She matched the time on her new watch to his.

“I did show up.”

“I know you did, but you ignored my presence there for one whole hour,” she said. “How much for this?”

“So I did.” The watch-seller released a long breath through his mouth, as if saying fine. It’s okay. “It’s free.”

I was suspicious about the watch. Maybe the watch-seller had deliberately kept the watch for the her all along. But when I realized I was just questioning my own imagination, I started to feel uncomfortable thinking about her.

The announcement that came through the speaker said that the doors would be closed in a few. When she heard it, she looked at her watch again. I followed her example. 15.29.

A little boy ran past, screaming happily from the back car through mine. His parents were outside, running and laughing, telling him to get off the train. When the boy got to the door where the old woman was standing, it closed. The mother who was laughing suddenly widened her eyes and was staring in fear when the train began to move forward. The boy hit the door repeatedly and yelled for his mother while the train continued to move past the platform. A passenger tried to calm him down. Several minutes later a security officer came and was informed about the whole matter. He lifted the boy in his arms and carried him to the front car.

The door in front of me had already shut. I lost the old woman when I was distracted by the boy. I looked at the door for quite a long time, and when I felt it was in vain, I turned my eyes to the tips of my own shoes.

The train arrived in Jatinegara. The door slid open and this time a short-haired girl was standing on the threshold. She also folded her arms on her chest, like the old woman. I glanced at my wristwatch and asked myself: How many people in this world, at this moment, are waiting?

Before I had an answer the door slid closed again. Getting on a commuter line on the weekend at this hour felt like getting on a horizontally moving lift in a deserted shopping mall. When the door was opened, only one or two people got in—in some stations, nobody came in at all. And the door in front of me was like some opposite of a stage curtain; when it opens again the scenery has changed, but we don’t have to guess what kind of role the characters are playing. Me myself, actually, what in the world was I waiting for? While thinking about it, I patted my pockets and realized that my motorcycle key was missing. [ ]

*Megaria Cinema was built in 1932 and still operates until today. The cinema was once called Metropole before Soekarno changed the name.

Menenggala Harapan

Rooms by the Sea, Edward Hopper, 1951
Rooms by the Sea, Edward Hopper, 1951

Seorang pria yang hanya ingin berlibur baru saja menikahi wanita yang hanya ingin bekerja dan keduanya membeli rumah di lingkungan yang mendambakan ketenangan di sebuah kota yang setiap hari mengharapkan kelancaran lalu lintas dipenuhi orang yang hanya meminta hal-hal yang tak akan pernah mereka miliki.

Dingin

1

Sempat mengira seseorang memasukkan selang ke dalam hidung, ternyata hanya udara dingin. Kerucut lalu lintas di tengah pertigaan bergetar tiap kali kendaraan besar lewat, atau ia hanya menggigil. Seorang Ratu Tua perengus bahkan mungkin tak akan sanggup berdiri di tepi jalan ini tanpa menggelugut.

Tiap kali melewati mobil yang terparkir, saya menyempatkan diri bercermin. Melaluinya pula saya bisa melihat pantulan tupai berlari cepat menyusur kabel, rupa-rupa orang, aneka jenis helm dan sebagainya. Empat puluh, tidak, mungkin delapan puluh kaca mobil. Selisihnya terlalu banyak, tetapi saya memang tidak terlalu yakin. Otot betis dan paha sudah keki. Minta istirahat. Sayangnya berbanding terbalik dengan keinginan.

Semakin dekat dengan rumah, bayangan pada kaca mobil semakin lenyap. Seakan kaca mobil-mobil mengidap kanker dan kelamaan kehilangan kemampuan memantulkan bayangan. Kau tahu itu tidak mungkin, kan? Tak ada yang istimewa. Hanya akibat pergerakan bumi pada sumbunya.

 

2

Tanpa alasan yang jelas orang-orang berada di jalan, dan tanpa kepentingan apa-apa saya berada di antara mereka. Apakah gadis yang duduk di kursi depan mini market itu seorang biduan? Apakah lelaki di sebelahnya ‘hanyalah bayang-bayang’ seperti dalam Mazmur 39:6? Siapa pula yang peduli dengan belalang sembah di kap Kijang kotak marun? Atau debu yang membuat semua orang mengapung sekitar limaratusan milimeter dari tanah? Tak ada pentingnya, kau tahu, dan ini membuatku berpikir tentang seekor sapi bernomor enam belas yang mengamuk masuk mesjid kala orang-orang sedang melaksanakan salat Idul Adha. Menyeruduk bokong jemaah. Memecahkan kaca depan. Suasana kacau yang cepat beralih menjadi sketsa komedi yang tak ada pentingnya buat siapa-siapa.

 

3

Drip drap drip drap drip drap

Ia sudah merengket di belakang punggung saat saya menoleh ke arah suara langkah yang familiar tadi.

Dingin model begini bisa bikin badan kita busuk di dalam,” katanya. Saya menuduhnya terlalu banyak menonton serial zombie. Ia menggeleng, lalu mengajak saya masuk. “Kau jalan kaki lagi, ya? Naik angkot cuma dua ribu perak.”

Orang-orang sudah tahu,” kata saya. Kurang menaruh minat pada kekhawatirannya. “Bagaimana?”

“Biar saja.”

“Hm, mau nonton The Brood?”

Anu

Secara biologis, aku sudah mati lima menit yang lalu di depan komputer. Cerita ini diketik oleh seekor kucing putih-cokelat yang malasnya tak tertahankan.

Penasaran dengan tubuhku yang tak bergerak kucing itu berhenti di depan layar, meregangkan tubuh dan mengeong sebanyak satu kali sebelum akhirnya menggulung tubuhnya di ruang antara kibor dan leher monitor, dengan malas-malasan kaki depannya menekan-nekan tuts sesuai dengan yang ingin kukatakan. Meski tingkat kemalasannya membuatku ingin mencekik lehernya, apa boleh buat, cuma dia yang bisa memahamiku saat ini. Jadi aku mendiktekan cerita ini.

Barangkali ini guna kau memelihara binatang. Jika nyawamu mendadak copot plok! dari tubuhmu kala kau sedang bekerja, binatang peliharaanmu bisa menuntaskan pekerjaan yang tak sempat kau selesaikan atau obituarimu sendiri. Yah, kau tahulah, dengan cara-cara metafisika atau sejenisnya yang tak kau pahami kecuali kau pernah mati sepertiku.

Kucing itu kupanggil sesukaku. Aku pernah memanggilnya Nimrod, karena cuma yang bernama Nimrod yang boleh menjatuhkan cangkir kopi tanpa membuatku ingin memarahinya. Kecuali nabi, tak ada orang normal yang kepengin debat kusir dengan Nimrod. Lain waktu kupanggil ia Miley, Miley Cyrus, saat kudapati ia menggeliat di kaki ranjang dengan lidah menjulur-julur. Terakhir ia kupanggil Trump sebab bulu cokelat di kepalanya mengingatkanku pada rambut Donald Trump. Kali ini kupanggil dia Anu saja, biar mudah dan relevan. Disebut binatang peliharaan pun tak layak, ia cuma kucing kampung yang kebetulan suka melipir ke jendela kamar kontrakanku di lantai dua. Anu bukan maling saat ia dengan bakatnya sebagai kucing menggarong bandeng gorengku di piring. Ia melakukannya karena memang begitulah kucing. Karena ia terus-terusan melakukannya, apa boleh buat, kuputuskan berbagi lauk dengannya. Ia dapat 5% dari laukku dan aku sisanya. Bukan pembagian yang adil, meski begitu Anu nampaknya tak keberatan. Buktinya ia selalu kembali. Hingga hari kematianku, aku tak tahu jenis kelamin Anu.

Sebagai hantu, tentu aku bisa berada di mana saja. Sialnya, sebagaimana arwah-arwah di film yang pernah kutonton, aku tak bisa menyentuh apapun. Dan aku mengambang di udara. Wow. Aku selalu ingin melayang, dan ternyata melayang tak enak-enak amat. Beberapa menit sekali kau akan mual dan kepengin duduk atau bersandar, namun benda solid bukanlah sahabat hantu. Jadi satu-satunya cara terbaik adalah dengan terbiasa dengan rasa mual. Heran juga mengapa hantu bisa merasa mual, dan yang paling mengherankan ternyata aku masih kepengin buang air besar. Baru lima menit mati aku sudah kepengin buang air besar.

Tunggu sebentar, Anu, aku keluar dulu. Jangan mengetik sembarangan.

Yang itu nggak usah diketik.

Ini juga.

Terserah, deh.

Igohhofitittirjrjejektkfkglfkfkdktktooy95/-/-/5/#/#/#/#lykykgoyototkylgogorkekdrktkyototititot9tirudjdufigigkgifi-ifigigogog8gifigigog9gogofirjdjfi-8_858585858[}[<[<|}¥{€§*…€§%{*}¥<€}€<¥}¥}¥<|<|§%§+§*…%…*…[otiririrititittitigogogihogogktktiti5858-8-8-8-8–)-)44)5)-)-)/-)-)-8-8-/5)-8|}|}¥{¥}|}|}~<~<~}|§|§¥^¥^¥§¥§¥§|}|}|<~9#8-_)373745859#9-9#9~<|}~}|<~§|§|§~…~<~<~<~9#9-)5)-)-)-8-8-igigogkggkykgkgkgkgKgkgkgogogohohOhogOGOGkgKGOGlHLHLHlHLHlhLgkgkgGkKFKRkfkgkf/gkgkgkgkgo#9#9_83(2738596#9#96ototitit95)5)5)-8-8583626252;7_7_udud

Anjing! Apa yang kau lakukan? Berhenti injak-injak kibor, Anu.

Oh, hai, aku baru kembali dari Bulan. Awalnya iseng saja, kepengin tahu seberapa tinggi aku bisa terbang dan apa rasanya buang air besar di udara. Karena bulan sabit adalah objek paling terang di langit malam ini, maka aku memutuskan pergi ke sana. Penasaran juga ingin tahu rasanya berak di bulan. Ternyata tak cuma aku saja yang penasaran, hantu-hantu lain pun. Dan ternyata lagi, separuh bulan yang tak bisa kau lihat dari bumi dipenuhi tahi hantu. Aku serius. Mungkin itu mengapa ia malu menampakkan sisi gelapnya. Karena memang benar-benar “gelap” secara metaforis.

Di jalan menuju bulan tadi aku bertemu hantu lain, seorang perempuan tua bernama Hayati. Kanker, katanya, sulit dihindari. Darinya aku tahu bahwa kami, para hantu, bisa menjelajahi luar angkasa sesuka kami. Tetapi kebanyakan hantu memilih kembali ke bumi, atau terbang dekat-dekat bumi, karena takut tersesat. Bulan menjadi tempat wisata sekaligus toilet favorit. Dekat dengan rumah, katanya. Apapun definisi rumah bagi kami saat ini.

Tadi aku menyempatkan diri mengintip tetanggaku, Pak Broto, meniduri istrinya. Lucu juga bagaimana mereka mengakali penis yang tak kuat tegang lebih dari semenit. Aku pun sempat mengitari sisi dunia yang masih siang. Negara yang terlibat perang dan baru saja seseorang membuat tubuhnya sendiri hancur berkeping-keping dengan bom. Aku sempat berbincang dengan hantu teroris itu, ia tak henti-hentinya merongseng, merasa ditipu gurunya yang menjanjikan bidadari dan hal-hal enak. Mati ternyata tak membawamu ke mana-mana.

Dunia memang kisruh, seperti biasa. Dan kabar baiknya, itu bukan urusanku lagi. Ini bukan rumahku lagi. Kalaulah tuhan memang tidak ada, lantas siapa yang membenci kalian terlalu dalam dan yang bikin kalian sebegitu terikatnya pada penderitaan dan harapan-harapan yang selalu akan? Dalam kematian, aku bisa merasakan apa yang sebelumnya disebut ‘kehadirat’ tuhan. Haha. Nah, skakmat, Ateis.

Anu, tuhan t-nya kapital. Huruf kapital, Anu. Nah, nah, seperti kau menulis namamu. Tekan tombol shift berbarengan dengan huruf T. Nah, begitu. Ya, sudahlah, lupakan. Susah bicara dengan kucing keras kepala sepertimu.

Si Anu ini, kucing sialan. Beberapa hari sebelum aku mati, aku melihatnya melakukan hal kurang ajar. Di seberang kontrakanku ada sebuah taman kecil, lahan terbuka yang tidak akan ada kalau saja ia berada di lahan strategis untuk membangun rumah. Letak taman itu berada tepat di depan pertigaan  yang artinya, kalau ada supir mabuk dari arah utara kemungkinan ia akan menabrak pohon beringin besar yang berdiri segaris dengan ujung pertigaan. Tusuk sate, kata orang. Harga tanahnya barangkali kian turun berbarengan dengan kecepatan rumor mistis yang berkembang.

Di bawah beringin itu memang sangat sejuk. Karena itu, pengembang perumahan ini menyediakan kursi besi panjang di bawahnya. Jika kau duduk di sana, kau akan berhadapan dengan alat-alat kebugaran sederhana. Saking pedulinya para pengembang dengan kesehatan warga. Di sisi kanannya terdapat jungkat-jungkit yang dicat kuning primer, beberapa bagian yang berkarat membuatnya terlihat seperti leher jerapah yang dipenggal dan diberi sadel di ujung-ujungnya. Ada pula papan seluncur yang langsung mengarah ke bak-pasir-yang-tak-ada-pasirnya. Secara berkala bocah-bocah mengeruk pasir, menyimpannya di mobil truk mainan, dan membawanya menjauhi taman hingga suatu hari pasirnya habis dan bocah-bocah mulai mencabuti rumput serta mengorek-orek tanah sebagai gantinya. Di kursi paniang itulah seorang duda berusia sekitar 80 tahunan sering duduk sepanjang sore. Di kursi panjang itu pula nyawanya copot–aku suka menggunakan kata copot, sebab memang begitulah rasa dan mungkin bunyinya. Plok. Terkejut mendapati Anu yang tiba-tiba melompat dari dahan beringin dan mendarat di kepalanya, ruh sang duda meloncat dari tubuhnya dan ngibrit sekencang-kencangnya sementara raga si duda terlalu tua buat berlari mengejarnya. Raganya tertinggal jauh. Tak tertolong.

Aku melihat seluruh kejadian itu dari jendela kamarku. Sejak hari itu kupanggil ia Anu. Anubis. Dan dengan cara yang hampir mirip, di dalam kamarku, di depan microsoft word yang masih sekosong kepalaku, kucing itu mencopot nyawaku. Plok! Kabar baiknya, aku tak perlu melanjutkan novelku lagi.

Bung John

Makhluk abadi. Evolusi merancang makhluk itu untuk bergegas mengganti organ yang rusak dengan yang baru: gigi baru akan tumbuh menempati ruang kosong di gusi tempat gigi yang tanggal, kulitnya akan segera luruh digantikan kulit baru sebelum berkeriput, sepasang tungkai kaki dan lengan yang selalu nampak segar meski ia berdiri sepanjang hari di trotoar yang teriknya minta ampun di siang hari, tulang-tulangnya berhenti tumbuh saat tingginya mencapai seratus tujuh puluh lima sentimeter dan ia secara otomatis mengisi kalsium. Tak ada tumpukan kolesterol di dinding arterinya. Jantung dan paru-parunya meremajakan-diri setiap bulan. Ia tak akan terkena kanker kulit meski saban hari disemprot asap kendaraan, tak ada virus dan bakteri yang menyewa tempat terlalu lama di tubuhnya. Makhluk itu hidup selaras dengan lingkungannya, tak pernah merasa terlalu panas pun terlalu dingin, tak bisa lapar, dan tak butuh-butuh amat udara segar. Selama ia tak butuh mati, selama ia berpikir hidup lebih baik daripada mati, ia tak akan mati. Lanjutkan membaca “Bung John”

Gerhana Matahari

Dari jendela kamar indekos teman saya, saya bisa melihat sebuah apartemen. Bangunan paling tinggi yang saya temui selama saya berada di kota itu.

Hari itu saya membawa-bawa buku saku ‘Petunjuk Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983’ yang disusun oleh Dr. Djoni N. Dawanas. Buku itu ditujukan bukan hanya sebagai panduan menonton gerhana matahari, melainkan berisi petunjuk dan eksperimen apa yang bisa dilakukan saat gerhana matahari terjadi. Lanjutkan membaca “Gerhana Matahari”