Flamingo: Kumpulan Cerita Seram

Sedang berusaha menyelesaikan apa yang suda dimulai. Hhh. Mungkin baru beres dua atau tiga tahun lagi. Ditaruh di blog, biar jadi semacam pengingat. Bole intip kalau mau. Hehe~

Flamingo: Kumpulan Cerita Seram

“Konyol sekali, menghabiskan 10 tahun cuma untuk menciptakan manusia. Kalau kau tak bisa bikin manusia lebih cepat daripada alam, sebaiknya kau tutup saja bengkel ini.” -Nasihat Rossum muda kepada Rossum tua (Rossum’s Universal Robots – Karel Čapek)

Demi keamanan dan keadilan, semua nama tokoh dalam kumpulan cerita ini disamarkan.

[…]

Stasiun radio terakhir di muka bumi sudah bangkrut sedekade lalu, dan yang saat ini sedang kamu dengar adalah suara hantu yang membajak frekuensi. Sobat Begadang Nusantara, selamat datang di Jurit Malam, Tidur di siang hari, menganggur di malam hari bersama Madam Luluk dan Bang Ben Bugimen.

[jingle Jurit Malam] Papa-Alfa-Charlie-Alfa-Romeo mengajakku gombal di udara~ memang cinta asyik di mana saja walau di angkasa~

[…]

“Eh, kau punya nomor telepon Bill Gates?” Sebuah ponsel mendarat di dasbor, menyenggol miniatur Dieguito dan membuatnya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“Bill Gates Microsoft?”

“Bill Gates mana lagi?”

“Kukira kau menyebut nama tetanggaku,” ia berdeham. “Kau bertanya nomor telepon Bill Gates seolah kami tinggal bersebelahan.”

“Aku ingin meneleponnya dan bilang ‘Sebelum melakukan hal-hal menjijikan sebaiknya pikirkan puki emakmu.’ atau apalah.”

“Memangnya, ada masalah apa antara kau dengan si Bill?”

“Dulu dia bilang Open Source berbahaya, dikait-kaitkan dengan komunisme segala. Sekarang Microsoft bergabung dengan Linux Foundation. Memang bajingan si Jembut Anjing ini, tak heran dia kaya raya.”

Sebuah tangan menghentikan goyangan Maradona, “Lantas, apa yang bikin kau marah? Kau pernah dengar pepatah: Jika kau tak bisa mengalahkan musuhmu, ajaklah mereka bekerjasama.”

Tangan lain menyentil kepala Maradona, “Jadi, apa sudah saatnya kita menyerah dan bekerjasama dengan mobil di belakang?”

Sambil berdeham, lelaki bersuara bariton membenarkan posisi spion tengah. Lampu merah dan biru berkedap-kedip. “Kau pikir aku tak bisa mengalahkan dia, ya?”

[…]

Menyetir mobil dengan lambung berisi seliter Topi Miring dan dua mayat di bagasi bukanlah hal mudah. Setidaknya itu yang dialami jagoan kita, Napas Kecoa, lima belas menit lalu sebelum ia dan mobil dinasnya menabrak pembatas tol di kilometer 26, meluncur tak terkendali di tanah curam, dan berhenti setelah menabrak gubuk di tepi sawah.

[…]

Ia mengingat-ingat pertama kalinya jatuh hati kepada pistol. Hal pertama yang muncul di dalam pikirannya adalah lampu-lampu neon yang merangkai nama Louis, restoran Italia-Amerika dan bagaimana seseorang membuka botol dengan cara diputar-putar, ditekan, dan ditarik hingga berbunyi ‘plop’, tak lama kemudian seseorang mati di meja makan. Plop. Mungkin begitu bunyi ketika nyawamu copot.

[…]

Nah, itulah ruginya orang yang tidak banyak bicara. Padahal kalau diajak bicara, kan, tidak perlu melibatkan pisau segala. Siapa tahu istri Mas dan tetangganya cuma sedang menggoreng sosis, sedikit necking atau petting sambil menunggu sosis masak tentu tak ada salahnya. Asal jangan sampai gosong. Madam pernah membaca buku tentang hal-hal yang diungkapkan di bilik pengakuan dosa, salah satu pengaku bertanya apakah menggesek-gesekkan alat kelamin ke lawan jenis tanpa menikah termasuk dosa? Romo tentu menjawab itu sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan, tapi menurut Madam itu sah-sah saja. Selama sosisnya tidak gosong. Hehe.

[…]

“Sialan. Lagipula buat apa dia repot-repot menyebutku menyebalkan? Kurasa dia hanya orang yang dendam kepadaku. Dan doanya itu lho. ‘Tempat yang terang’, cih, doanya tak terkabul. Tak akan terkabul. Kalau bisa aku pengin mendatanginya dan menyuruhnya berhenti mendoakanku. Percuma.”

“Mereka suka harapan, mestinya kau maklum. Tak ada yang ingin tinggal dalam ruang sempit dan gelap dalam waktu yang tak terbatas.”

“Tapi kita tahu itu tidak ada.”

“Kita tahu, mereka tidak.”

“Sialan. Doa itu malah bikin aku ingin memukulnya.”

“Setidaknya masih ada yang sudi mengingatmu meski kau menyebalkan. Mungkin dia istrimu. Tak ada yang memendam perasaan sebal berlebihan kepadamu selain pasanganmu.”

“Sialan. Kuharap dia bukan istriku. Kuharap dia bukan siapa pun.”

“Kau tahu dia tidak mungkin bukan siapa pun. Minimal kau tahu dia seorang perempuan.”

“Sialan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s