In Vitro

Sebuah rumah panekuk. Pelayan, yang merangkap koki, membersihkan meja pelanggannya–seorang wanita berkemeja biru ketat–lalu meletakkan botol saus dan sendok dan garpu. Ia membariskan benda-benda di atas meja secara horizontal, membuatnya seperti sehimpun regu tembak, kemudian meminta wanita itu menunggu sepuluh menit.

Wanita itu mengenang percakapan tiga orang asing yang membawanya ke rumah panekuk ini.

Satu jam lalu ia di jalan menuju stasiun, menuju rumah suaminya. Tak ada tanda-tanda ia akan menundukkan kepala, ketiak kiri mengempit amplop coklat, bahu kanan memanggul beban tas kulit, dan perias mata yang seperti lebam. Ia berhenti di depan kelompok pengamen yang menyanyi lagu Fariz RM. Di belakangnya, dua orang lelaki membicarakan sebuah rumah panekuk, berusaha mengajak teman perempuan mereka untuk mencobanya juga. Letaknya tak jauh dari Stasiun Gondangdia, di jalan kecil yang akan menuntunmu ke Stasiun Gambir. Buku menu di rumah panekuk itu berisi dua puluh tiga jenis makanan, enam jenis minuman, dan tiga jenis kue, tetapi hanya satu jenis makanan dan minuman yang tersedia. Panekuk dan teh tawar hangat. Rumah panekuk itu, kata salah seorang dari mereka, sebetulnya tak perlu menulis menu banyak-banyak, ia hanya perlu mempertahankan rasa panekuk dan sausnya. Yang satu menyetujui dan menambahkan kecurigaannya, sambil terkekeh, bahwa si koki menambahkan ganja ke dalam adonan panekuk. Keduanya sepakat panekuk itu membuat siapa pun yang memakannya merasa sedang dalam perayaan keagamaan atau festival tahunan; perasaan yang hanya mungkin muncul dalam momen-momen seperti itu.

Wanita itu tak ingin mendengar lebih banyak. Setelah lagu berakhir, ia melempar selembar uang sepuluh ribu lantas pergi. Ia naik kereta dan berhenti di Stasiun Gondangdia. Amplop coklatnya basah.

Pelayan meletakkan sepiring panekuk dan teh tawar hangat di atas meja. Wanita itu mengistirahatkan punggungnya di sandaran kursi. Ia tak segera memakan panekuknya, malah meminta diambilkan koran atau majalah. Tak ada koran atau majalah baru, kata pelayan seraya menyerahkan majalah LIFE terbitan 13 Juni 1969. Wanita itu membaca halaman demi halaman, mencuil panekuk saat berganti halaman, dan menghabiskan tehnya setelah menutup halaman terakhir. Serangga terbang menghampiri lampu, mengitarinya seperti sedang melakukan ritual suci, atau hanya upaya kecil mereka untuk bertahan. Wanita itu menutup amplop coklatnya dengan majalah. Ia menatap gambar sampul majalah itu dan berpikir bahwa hidup dan mati, dan pertemuan-pertemuan yang terjadi di antara kedua kutub itu, hanyalah kecelakaan. Ada kecelakaan yang hanya menggores pipi, yang tak mengorbankan banyak darah. Ada pula yang sebaliknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s