Kapal Tempur Yamato

Ketika bom atom mendarat di tanah mereka
ia tidak sekadar merusak tetapi juga
menanam ingatan

(72 tahun kemudian pohonnya tumbuh dan berbuah dan buahnya menggelinding ke ruang kerjaku.)

Ruang kerjaku seperti stoples selai
yang disimpan di dalam lemari oleh seorang nenek yang pikun.

Ia duduk, bertanya sesuatu mengenai buku di tangannya dan kubilang aku tidak tahu
“Tidak tahu bukanlah jawaban.”
“Tidak tahu adalah jawaban,” kataku
“Aku cuma baca dua paragraf.”
Matanya nyalang.

Ia menuang teh herbal dari poci
–kubayangkan Kapal Tempur Yamato
terombang-ambing di sana
kalah dan putus asa
(aku melihatnya di pesisir sambil mengumpulkan guano.)

Ia mulai basa-basi
membicarakan seorang teman lama yang kabarnya jadi pecun.

Aku mengantuk, sungguh, dan menyesal telah mengenal adab memuliakan tamu
“Jadi, kapan
kau pergi?” tanyaku.
Wajahnya mengingatkanku pada kuda yang menatap maklaf
yang kosong.

Ketika bom atom mendarat di tanah mereka
ia tidak sekadar merusak tetapi juga
menanam ingatan

(72 tahun kemudian pohonnya tumbuh dan berbuah dan buahnya busuk di ruang kerjaku.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s