Gang

Sebuah gang beraspal. Di sisi kirinya tong sampah mengepulkan asap, udara malam yang dingin memerangkap asap, ia tak naik tetapi juga mustahil menembus belangkin. Asap itu hanya mengapung sebisanya, seperti arwah murung. Seorang lelaki berselonjor, punggungnya bersandar pada tong. Kaki kirinya, yang tidak memakai alas, bergoyang-goyang. Gerak kaki itu menyiratkan bahwa pemiliknya sudah berada di ambang tidur dan terjaga. Tiap kali sebuah sepeda motor dari arah depan menyorotkan lampu ke wajah si lelaki, kakinya bergoyang lebih cepat. Dua bangunan yang mengapit jalan sempit itu tampak kumuh dan cacat dan kegelapan dan asap berhasil mengaburkannya, meski hanya sedikit, tetapi cukup. Wangi benda sintetis terbakar bonus belaka.

Tiga orang melewati jalan itu: dua laki-laki dan satu perempuan, dua berpegangan dan yang satu membuntuti seperti anjing peliharaan.

“Kita bisa memanggil angin dengan cara bersiul,” kata si anjing peliharaan, “Ibuku yang mengajari.”

Ia terpejam sebentar. Mengingat-ingat nadanya, dan sebelum ia berhasil, laki-laki di depannya berkata, “Kalau kau merasa pedih, tutup saja matamu.”

“Bercanda kau,” seru si perempuan, terkekeh. Tetapi laki-laki itu betul-betul memejamkan matanya dan ia menginjak kaki lelaki yang berselonjor. Ia meminta maaf, berkata bahwa ia tak melihatnya. Lelaki yang berselonjor hanya berdeham.

“Aku ingat,” si anjing peliharaan menyiulkan sebuah nada.

“Sialan, itu kan lagu Chrisye!” Si perempuan tertawa lagi.

“Benarkah? Sialan,” si anjing peliharaan mengutuk, “Kalau begitu selama ini aku ditipu ibuku.”

Ketiganya tertawa.

“Tapi, aku rasa bukan yang itu, deh…”

Gumaman yang dengan mudah dilupakan. Si perempuan memulai obrolan lain, “Menurut kalian, kapan asap ini akan pergi?”

“Ya tentu saja segera setelah udara menghangat,” jawab laki-laki yang memegang tangannya, yang tampaknya punya berbagai jawaban ringkas atas masalah apa pun.

Wajah si anjing peliharaan semakin kusut, ia bersusah payah mengingat sesuatu, sesekali menyanggah pikirannya sendiri, menyepakatinya, lalu menyanggah lagi hingga ia kehilangan ritme berjalan dan tanpa sengaja menendang laki-laki di depannya. Ia meminta maaf dan membenahi ritmenya lagi, sambil tetap berpikir. Kelihatannya ia sudah tak peduli apakah siulan ajaran ibunya bisa mengundang angin atau tentara Jepang, ia hanya penasaran. Lalu telinganya menangkap siul samar. Udara malam yang dingin memerangkap siulan itu, ia tak naik tetapi juga mustahil menembus belangkin. Siulan itu hanya mengapung sebisanya, seperti nyanyian arwah murung.

Si anjing peliharaan menoleh ke belakang, ia segera tahu dari mana sumbernya, tetapi ia tak bisa lagi melihat lelaki yang berselonjor. Ia berhenti dan memaksa otot matanya bekerja ekstra.

Decit rem kereta di suatu tempat. Ledakan kecil dari arah tong, barangkali komponen elektronik atau bola lampu yang terbakar. Wanginya sampai ke hidung si anjing penjaga, seperti pisang goreng hangus, pikirnya. Saat ia melihat ke depan, kedua temannya sudah tak kelihatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s