Sebelum Masuk Ia Mengetuk Pintu Dulu

But there’s one thing I know,
the blues they send to meet me won’t defeat me.

-B.J. Thomas

Semua orang terlahir untuk menjadi keparat dan siapapun yang berkata sebaliknya pastilah delusif atau kalau tidak, ya, pendusta kelas berat. Orang-orang hanya nampak menyenangkan saat kau mengingatnya sebagai masa lalu, atau membayangkannya sebagai masa depan, atau memikirkan seseorang yang sama sekali di luar jangkauanmu sambil tidur-tiduran, dan kembali mengulek wajahmu saat kau terpaksa bangkit dari ranjang, mengintip si Pengetuk melalui jendela kamar, dan itulah dia: Buntelan daging bipedal. Seharusnya manusia tidak perlu sampai pada tahap di mana mereka bisa mengetuk pintu dengan begitu manusia lain tidak perlu sampai pada tahap di mana mereka bisa membuka pintu, mengasah kemampuan berbasa-basi, jadi tidak perlulah kau merasakan kekesalan dan merancang niat buruk tiap ada kesempatan. Tapi , yah, terlambat. Evolusi melangkah terlalu jauh. Setelah membaca buku-buku sejarah aku selalu merindukan masa di mana kucing-kucing raksasa bertaring pedang menyeret prahomo-sapiens ke sudut tergelap suatu gua atau ketika agama masih soal cerita tuhan-tuhan antropomorfis atau sewaktu kita masih mengorbankan nyawa orang lain untuk mengatasi perkara cuaca atau zaman di mana matematikawan bergumul dengan persoalan mistis sampai-sampai tak keluar kamar selama berminggu-minggu dan memaksa bininya mengetuk pintu dan ia mesti kembali menghadapi buntelan daging bipedal yang diberkahi kemampuan merajuk. Kau membuka pintu, anjing, ini akar dari segala masalah. Membuka pintu. Kau melihat Honda Astrea terparkir di tepi jalan, tetapi kau tahu, kan? Kita tidak pernah benar-benar melihat sesuatu dengan benar. Kita cuma melihat apa yang ditampilkan pikiran kita dan ia bisa berbentuk apa saja. Bebas. Dan bebas artinya bebas. Mungkin yang kaulihat adalah Honda Astrea hitam dengan putaran gas berwarna biru metalik, tetapi bagiku yang kulihat adalah tahi kuda super-besar yang menutupi puncak Jaya. Mungkin yang kaulihat adalah seorang gadis dengan paras kejepangan dilengkapi payudara sebesar enam pisin yang ditumpuk dan punya kebiasaan membersihkan sudut matanya tiap lima atau enam menit, tetapi yang kulihat adalah okapi setinggi 168 sentimeter yang mulutnya bergerak-gerak meniru cara manusia bicara meski begitu yang keluar dari mulutnya adalah Bahasa Okapi. Aku tidak pernah kursus Bahasa Okapi, sayangnya. Jadi kubiarkan ia bicara sampai liurnya yang muncrat dan mendarat di kausku mengering sambil membayangkan minuman apa yang ditenggak kuda jantan yang menghamili seekor zebra: Absinthe atau tujuh galon Guinness? Kukira sebotol Absinthe sama dengan tujuh galon stout. Kuda itu harus sangat mabuk, kalau tidak, ya, tidak akan ada okapi. Persetan ilmuwan yang bilang zebra dan okapi tidak berkerabat, persetan Pak Wahyu, guru biologiku yang mengutip ilmuwan bahwa kuda dan okapi tidak berkerabat. Beberapa darimu pasti sulit mempercayai ini tetapi seluruh makhluk di muka bumi, dari gajah hingga pohon beringin, adalah sepupu jauh. Ini benar. Cicak yang mati terjepit pintu kulkasmu adalah sepupu dari sepupu pangkat enam miliarmu. Bangsat yang sembunyi di lipatan kasur dan kadang iseng masuk ke celana dalam dan menggigit pelirmu adalah sepupu dari sepupu pangkat enam belas miliarmu. Pacarmu adalah sepupu dari sepupu pangkat tiga ratus jutamu. Dan kau menghamilinya dan anakmu menghamili anak dari sepupu dari sepupu pangkat dua ratus sembilan puluh sembilanmu dan kau punya cucu dan cucumu dihamili cucu dari sepupu pangkat sekian ratus jutamu dan seterusnya kemudian suatu hari, beberapa abad dari tahun kematianmu, sepupu-sepupu jauh itu akan menjadi setoples acar. Kalau kau tidak percaya dengan teori ini, cobalah tempatkan buah semangka dan biri-biri dalam satu ruangan. Tetapi kalau ada burung finch, khusunya burung finch berparuh panjang, aku lebih merekomendasikannya sebagai bahan percobaan. Darwin pernah mencobanya dan berhasil, ia berhasil karena meneliti di alam terbuka, di alam terbuka tidak ada yang mengetuk pintu. Liur di kausku sudah mengering dan okapi yang berusaha terlihat seperti manusia di hadapanku nampaknya sudah bosan bicara. Aku suka okapi yang bosan bicara, ia lebih nampak seperti manusia sungguhan. Jadi aku tergerak untuk bercerita tentang sebuah klub yang tidak akan membiarkan satu pun anggotanya keluar hidup-hidup ketika ia sudah resmi menjadi anggota, tak mengizinkan anggota baru masuk begitu saja, dan klub itu hanya menyisakan beberapa tipe anggota yang sanggup bertahan. Aku tak tahu apakah si okapi mengerti cara manusia berkomunikasi, tetapi tatapannya mengisyaratkan kebencian mendalam. Kuceritakan pula kepadanya bahwa ada masa di mana apa yang manusia sebut cinta dan empati memiliki wujud, bisa dipegang, dan ditendang-tendang, lalu suatu hari banjir besar menghanyutkan keduanya. Apa yang kita pahami hari ini tentang kedua benda itu hanya legenda yang setengah mati dihidupkan dalam tiap percakapan. Itulah mengapa aku benci kau mengetuk pintuku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s