Masalah Besar

“Burit manusia memang elastis, mungkin ia bisa dimasukkan bola golf atau bola kasti. Tapi hanya karena fakta itu bukan berarti orang boleh seenaknya bilang lambung manusia bisa memproduksi telur angsa,” Kamu melepas tangan kiri dari stir lalu menunjuk paragraf pertama cerita pendek di koran Minggu yang sedang dipegang Abulhayat dengan ujung rokoknya. “Kalau aku cuma punya tiga ribu batu bata merah untuk membangun rumah kecil di tanah warisan bapakku, akan kusisakan satu untuk menggetok kepala redaktur koran ini sekalipun sebagai gantinya satu sisi rumahku bolong.”

“Tapi itu bisa saja terjadi, kan? Maksudku, kau tahulah, bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin.” Abulhayat membuka laci asbak yang segera ditutup Kamu saat batang rokoknya setengah masuk sehingga rokoknya terjepit di sana, “Selama laci ini tertutup kita nggak tahu apakah rokokmu patah atau hanya bengkok. Aku tak masalah kau punya secuil atau seperiuk iman, tapi selama kau tak membuka percakapan soal itu aku tak akan takut dekat-dekat denganmu.”

“Patah atau bengkok, terserahlah.” Abulhayat mengeluarkan kotak rokok dari saku jinsnya, menarik sebatang rokok, dan melempar kotaknya ke dasbor. “Tuhan memang bisa melakukan apa saja, kan?”

“Sekarang aku akan menyisakan dua batu bata merah.”

“Iya, kan? Ayolah, kau tidak bisa menjelaskan bagaimana buah semangka bisa berdaun sirih, seperti di lagu Rinto.”

Kamu menepikan mobil di trotoar, keluar dari mobil dan bersiap memanjat pohon.

Ngapain kau?”

“Spanduk itu,” ia mendongak, “cukup besar untuk menutup lubang di dinding rumahku kelak, kalau kau terus bicara.”

“Oke, aku bantu.”

Kamu dan Abulhayat masing-masing memanjat pohon akasia tempat sebuah spanduk kampanye dibentangkan. Keduanya membakar tali yang mengikat spanduk dengan korek gas, lantas turun setelah pekerjaannya selesai. Empat orang, tiga wanita dewasa dan satu bayi, lewat depan pohon selagi proses penurunan spanduk, kecuali bayi, sisanya memandang dua orang di atas pohon dengan pikiran masing-masing. Di trotoar keduanya melakukan gerakkan seperti paskibra melipat bendera. Seorang kakek yang melewati mereka berhenti dan bertanya macam-macam. Kamu menjawab ia dan temannya adalah petugas Satpol PP dan si kakek menepuk pundaknya sambil berkata begitulah seharusnya penampilan Satpol PP, mengenakan kaus bergambar ikan marlin, celana jins, dan sandal jepit.

“Menurutmu kakek tadi benar-benar percaya kita petugas Satpol PP?” tanya Abulhayat setelah menyuruh Kamu membuka bagasi belakang Corolla ’94-nya. Kamu mengingatkan bahwa bagasi belakang penuh, dan seolah baru ingat sesuatu Abulhayat berjalan santai ke pintu belakang dan melempar lipatan spanduk, kemudian ia duduk di kursi depan, memasang sabuk pengaman, dan bertanya ulang.

“Aku tak mendengar nada sindiran. Lagipula kakek tadi sudah terlalu tua, usianya barangkali menginjak kepala tujuh atau delapan, maksudku, ia pastilah sudah terbiasa dengan perubahan-perubahan ekstrim.”

“Ya. Termasuk melihat buah semangka berdaun sirih.”

“Tentu, tentu saja. Juga melihat Godzilla menginjak atap rumah makan Padang, mengambil sepinggan rendang, dan meninggalkan dua lembar seratus ribu di meja kasir.”

“Itu mustahil. Godzilla, kan, nggak ada.”

“Tapi reputasinya terkenal.”

“Meski reputasinya terkenal.”

“Sepertinya kita perlu spanduk yang lebih besar.”

“Eh, sebentar. Bisa kau pelankan laju mobilmu? Rasanya aku mendengar sesuatu di belakang.” Abulhayat menoleh ke kursi belakang. Dua bungkus ketoprak yang belum dimakan, sekaleng Mañana*, seplastik kembang gula mentol yang berguncang-guncang, buntalan kaus bekas pakai, dan spanduk biru yang menampilkan gigi petahana yang tidak rata.

“Tenang saja, kau tidak mendengar wahyu atau firman, kok. Paling kompresor AC-ku aus.”

“Aku memang nggak bisa menyetir, tapi aku tahu kompresor AC mobil sedan ada di depan.”

“Kalau begitu suara yang kau dengar berasal dari depan.”

Mobil mereka mengantre di perempatan. Lampu lalu lintas mati. Seorang polisi lalu lintas bergerak sistemis bak dakocan yang kena teluh dan sekumpulan pengendara tolol yang tetap membunyikan klakson dan barisan anak SD di zebra cross dengan minuman aneka warna di tangan mereka, dan Kamu terus memainkan jemarinya di atas kemudi sambil sesekali melihat gerak tangan polisi.

“Menurutku, dari bau keringatmu, kau makan gulai kambing sehari sekali selama seminggu terakhir.” ujar Abulhayat.

“Kau makan pepes anjing Pug,” jawab Kamu, mengendus-endus ketiaknya.

Abulhayat gantian mengendus-endus ketiaknya, “Bau anjing Pug tidak menyenangkan seperti ini.”

“Jadi menurutmu bau kambing menyenangkan?”

“Bukan begitu, baunya tajam seperti daging kambing tapi yang ini terasa manis. Mungkin kambing yang kau makan dicekoki setangki sirup coco pandan sebelum disembelih.”

“Terakhir kali aku makan daging kambing lebaran haji tahun lalu dan kau sendiri yang pernah heran mengapa aku tidak bau badan meski tidak pakai parfum atau deodoran. Kalau ini bukan bau badanmu, atau parfum yang kau pakai, paling-paling kaleng Mañana di belakang terbuka karena terus terguncang-guncang.”

Abulhayat memandangi Kamu sesaat, yang dilirik fokus ke gerak tangan polisi. Mata polisi lalu lintas melirik mobil mereka sebelum akhirnya bergerak-gerak lagi. “Jalan Raya Pemda ini baru diperbaiki bulan lalu, aspalnya mulus.”

“Tadi, kan, kita melewati dua atau tiga polisi tidur.”

“Kalau bukan Tuhan yang membuka kaleng Mañana itu, maka desainer kaleng Mañana dalam masalah besar.”

“Kalau begitu desainer kaleng Mañana memang dalam masalah besar.”

*Mañana: Minuman jus buah bersoda yang diproduksi di Surabaya sejak 2002, berbau seperti kloroform.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Masalah Besar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s