Hava Nagila

Agrariafolks

Adam memiliki penis dan penis Adam memiliki tulang yang kecil namun empat kali lebih kuat dari tulang paha dan memanjang dan punya  tiga sendi engsel seperti tulang jari tengah atau telunjuk atau jari manis atau kelingking. Adam bisa ereksi kapanpun, mencantel pada ranting pohon rambutan surgawi yang tak bisa patah sekalipun digelayuti enam ekor gajah, bahkan penis Adam bisa digunakan untuk menarik pelatuk Glock 17 kalau-kalau di surga masih perlu mati, hanya perlu sedikit latihan. Tetapi Tuhan saat itu sedang kreatif-kreatifnya, kau tahulah, Ia mencomot tulang penis Adam selagi ia tertidur dan menciptakan Hawa dengan harapan saat terbangun nanti makhluk kesayangannya itu terkejut dan terharu sampai-sampai menitikkan air mata dan bertanya-tanya bagaimana cara bersyukur yang baik saat mendapati seorang teman di sisinya. Sayangnya prediksi meleset, saat terbangun dari tidur enaknya Adam, seperti biasa,menggaruk-garuk pelirnya dan mencoba menaik-turunkan batang penisnya dan yang terjadi kemudian tidak terjadi apa-apa. Ada apa dengan mainanku? Tanya Adam, murung.

“Begitulah,” Paman Hun menarik napas dan menggosok-gosok lubang hidung dengan punggung jari, “Ketakutan akan nggak bisa ngaceng sudah muncul jauh sebelum setan membelot.”

“Tapi itu tak menjawab mengapa kau tidak menikah,” protesku.

“Tapi itu menjawab mengapa aku tak takut dengan ombak.”

“Aku rasa fakta bahwa Hawa diciptakan dari tulang penis tak ada urusannya dengan keberanian seseorang.”

Paman Hun menggosok-gosok lubang hidungnya lagi setelah itu megusap rambutku, ia memperlakukanku seperti bocah berambut topo dan tak ada yang suka diperlakukan seperti itu, kemudian ia mengambil Glock 17 miliknya dari tanganku, mencopot magasinnya dan berlari ke bibir pantai, melompat-lompat kecil, melempar magasin dan badan pistol sejauh yang ia bisa ke arah laut, dan berseru seperti orang gila, “Hava nagila*.”

Dari tempatku duduk aku bisa melihat garis tipis yang kelamaan membesar dan membesar dan Paman Hun sudah tertelungkup di atas papan selancar. Kuambil botol limun, memasukkan sedotan ke dalam mulut. Ia berdiri di tengah gulungan ombak, menyeimbangkan badan, dan saat cairan perisa meluncur di kerongkonganku, ia terpelanting. Suara tawanya ikut tergulung ombak.

 

*Hava Nagila: (הבה נגילה) sebuah lagu daerah berbahasa Ibrani yang berarti “Marilah bergembira”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s