Fungsi Minuman Bersoda

agrariafolks muntah bebek

Sebuah telaga. Empat perahu kayuh berbentuk bebek kuning bermuatan dua orang tertambat di dermaga, dua lainnya bergerak menjauh. Setelah penyewa perahu membawa pasangan masing-masing naik perahu, pengelola perahu bebek berbaring di dipan, ia meregangkan punggung sebelum menutup wajahnya dengan topi pancing.

“Kira-kira, sudah berapa banyak pasangan yang ia lihat sepanjang ia bertugas?” Herman membuka kaleng teh soda, lantas menenggaknya. Yang ditanya membuka satu kancing paling atas dan mengipas-ipas wajahnya dengan kertas biru.

“Aku tidak apa-apa,” katanya, mengetuk-ngetuk sudut kertas biru ke pipi Herman lalu kembali menjadikannya kipas. “Orang datang dan pergi, dan datang dan pergi. Bukan masalah besar.”

“Seingatku si Bapak sudah ada di dipan itu sejak aku SD, sejak kami baru pindah ke perumahan ini.” Herman mengepalkan tangannya, membuka satu per satu jemari. “Empat atau lima belas tahun. Wah… kalau satu hari lima pasangan saja satu tahun mungkin sekitar empat ribu orang, lima belas tahun berarti sekitar enam puluh ribuan.”

Nina diam saja.

“Eh, Nina, kau lapar? Aku punya sesuatu.”

Nina meletakkan kertas biru di atas rumput, mengambil kaleng teh soda milik Herman, lalu meminumnya. “Ini cukup. Kau tahu, soda bikin perutmu terasa penuh.”

“Tapi dengan roti coklat perutmu akan benar-benar terisi.”

“Simpan saja,” katanya. “Buat nanti kalau aku benar-benar sudah lapar.”

“Seingatku kau baru makan satu kali, bubur ayam tadi pagi?”

“Perutku rasanya penuh sekali.”

“Penuh sampai-sampai ingin kau keluarkan separuhnya?” ujar Herman, setengah bercanda.

“Ya, itu satu dari beberapa fungsi soda.”

Dua perahu bebek berjalan bersisian. Terdengar tawa samar, tawa perempuan. Barangkali penyewanya teman dekat. Keduanya sama-sama berbelok sehingga kini yang bisa kita lihat hanya kepala belakang mereka dan galur air di bokong bebek.

“Rasanya aku ingin punya kemampuan menurunkan kraken dari langit,” ujar Herman, menyobek bungkus roti cokelat. “Dan kujatuhkan di antara mereka.”

“Jahatnya anak ini…”

“Atau bukan untuk mereka,” ia meletakkan bungkus roti di atas kertas biru. “Bukan di sini. Tidak saat ini.”

Nina terlihat ingin tertawa, namun urung. Alih-alih ia malah menyerobot roti cokelat dari tangan Herman dan memakannya dengan lahap.

“Katanya nggak lapar?”

“Siapa bilang?” suara Nina tertahan gumpalan roti di mulutnya sehingga terdengar seperti katak sawah. “Aku hanya bilang perutku terasa penuh.” Ia kelihatan agak kesulitan menelan, karena itu ia bergegas mengambil teh soda, bersendawa kecil, lalu mengulang: “Terasa penuh.”

“Sekarang mungkin terasa lebih penuh lagi,” kata Herman. “Aku sudah menyediakan kantung plastik.”

“Kau laki-laki visioner,” katanya. “Akan menjadi suami yang baik.”

Herman terpingkal, membuat seekor burung gereja yang sedang mematuk-matuk rumput tak jauh dari mereka terbang.

“Aku,” pupil mata Nina mengikuti burung gereja, “Aku cuma berharap dilindungi dari roh jahat dan nasib sial.”

“Menurutku ditinggal seseorang bukanlah nasib sial.”

Nina mengangguk. Ia buka lagi sekaleng teh soda dan meminumnya serupa atlet sepakbola di masa istirahat yang lupa selain air ia juga butuh bernapas. Ia tersedak hingga menitikkan air mata, lalu terpingkal.

“Apanya yang lucu?” tanya Herman. “4.800 orang mati tersedak di tahun 2014, tahu?”

“Bisakah kau berhenti memikirkan angka, data, dan hal-hal seperti itu?” suara Nina meninggi.

“Angka tidak pernah berbohong.”

“Tapi angka membosankan. Mungkin itulah penyebab kau nggak punya banyak teman.”

Dua perahu bebek semakin mengecil. Kali ini bahkan terlihat lebih kecil dari batu yang digenggam Herman. Ia melempar-lempar batu itu sebelum akhirnya dibuang, suara jatuhnya sampai ke telinga, disusul wangi minyak kayu putih yang dibuka Nina.

“Kau mual?”

“Tadi kau tanya berapa banyak pasangan yang dijumpai si Bapak penjaga perahu bebek?”

“Kalau mual sebaiknya muntahkan saja.”

Nina mengambil lagi kaleng teh soda terakhir, meminumnya, lalu meremas kaleng itu. Herman merasa rumput-rumput hidup dan mulai menggelitik betisnya, tentu saja mustahil, setelah ia periksa ternyata beberapa semut tersesat di rambut kakinya. Ia menekuk tungkai kakinya dan menyapunya dengan telapak tangan. Rupanya ada semut yang masuk pula ke dalam sepatu olahraganya. Ia bisa merasakan sesuatu berjalan pelan menyusuri telapak kaki, dan segera menyesali keputusannya tidak mengenakan kaus kaki.

Ia membuka sepatu dan tak menemukan apa-apa.

“Kukira angka perkiraanmu tidak banyak mengubah fakta ini: Orang-orang itu akan pulang dan tidak menyisakan kesan apapun terhadap bapak itu, yang mereka ingat barangkali cuma kebahagiaan saat mengayuh perahu.”

“Lihat,” Herman menunjuk dua perahu bebek di tengah telaga. Perempuan di perahu sebelah kanan berdiri, hendak melompat ke perahu di sisinya. Sementara yang laki-laki berusaha membuang air dengan sesuatu. Ia melakukan gerakan seperti menyangkul berulang-ulang dan tiap kali ia membuang air bobot si Bebek seolah bertambah. Laki-laki itu menyerah dan memutuskan untuk melompat. Pasangannya sudah berpindah ke perahu bebek lain. Saat laki-laki itu muncul ke permukaan kepalanya dipenuhi tumbuhan air, ia berusaha mengambil udara di dekat perahu bebek yang berangsur karam. Mungkin karena masih bingung, ia malah berenang menjauh dari perahu temannya sambil berkali-kali mengibaskan rambut, berusaha melepas tumbuhan atau lumut atau apapun benda kehijauan yang menghiasi kepalanya. Dari kejauhan ia nampak seperti Kappa mabuk yang baru pulang dari pesta bujang. Perahu bebek malang itu kini hanya kelihatan atapnya. Kuning pucat dan tidak berdaya. Sementara si Bapak masih tidur lelap di dipan, empat pemuda yang berdesakkan di satu perahu barangkali tengah menyusun alasan-alasan masuk akal.

Nina dan Herman terbahak-bahak sambil tangan mereka sibuk memasukkan semua sampah ke plastik kresek putih: Kaleng-kaleng teh bersoda, plastik roti, kertas biru, dan struk belanja. Sesekali Nina menggeleng-gelengkan kepala, seakan tak percaya atas apa yang baru saja ia lihat, dan tak perlu waktu lama hingga ia nyaris jatuh lalu mengeluarkan isi perutnya dan Herman dengan tangkas memberi kantung plastik sampah di tangannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s