Di Mana Letak Lucunya?

A manual of the physiological and therapeutic effects of hydriatic procedures, and the technique of their application in the treatment of disease  2d ed. by J. H. Kellogg / sumber: openlibrary.org
Ilustrasi diambil dari buku Rational Hydrotherapy karya J. H. Kellogg (1902) // sumber ebook: openlibrary.org

Aku akan menyiramkan air ke dadamu. Pencet lubang hidung kananmu dengan telunjuk lalu tarik napas sambil menghitung dari nol sampai delapan. Tahan. Buka lubang hidung kanan dan pencet lubang hidung kiri kemudian embuskan. Sekarang lakukan sebaliknya. Ulangi sebanyak empat kali.

Kau mungkin akan merasa sedikit pusing setelahnya, namun kini hidungmu lebih sensitif dan bernapas lebih lega. Kau bisa membaui aroma minyak tanah dari obor yang menempel di dinding dan kalau beruntung kau bisa mencium sisa-sisa wangi parfumku. Bernapaslah dengan cara normal sambil memikirkan seseorang yang kaupercaya, seseorang yang kaukenal, seseorang yang kaurindukan.

Aku adalah orang yang kau pikirkan.

Namaku adalah namanya, suaraku adalah suaranya, mataku adalah matanya, dan sekarang aku menggenggam telapak tanganmu dan kau mengenali guratnya; mengenali tekstur punggung tangannya.

Mestinya sekarang kau sudah melihat sungai di bawah sana. Kita akan ke sana. Bukit ini memang agak licin karena hujan yang baru saja berhenti, tetapi kita tidak akan terpeleset selama kita menuruninya secara perlahan. Kita bisa menghitung langkah kita bersama-sama, sambil mengayunkan tangan kalau kau suka. Kau tahu, seperti anak-anak TK.

Tiba di langkah ke dua puluh, kau merasakan tubuhmu menciut. Dan tangan kita menyusut pula. Aku kini adalah anak kecil yang pernah kau temui di pusat perbelanjaan ketika usiamu enam tahun. Kita saling menatap, tetapi tak punya cukup nyali untuk menyapa. Aku adalah desir hasrat pertamamu, yang dulu kepengin kau genggam namun tak pernah terjadi.

Kita tahu tak ada yang lebih menakutkan bagi anak usia lima belasan daripada iman, sesuatu yang tak cukup ada untuk dianggap ada meski begitu orang lain menuntut kita untuk meyakini keberadaannya. Tetapi kini kau tahu ia ada: Aku adalah iman. Ketetapan hati. Aku adalah ia yang kau yakin memandangimu di sisi ranjang selagi kau tertidur, ia yang hidup di tempat-tempat di kamarmu yang tak berani kau jelajahi; yang mengendap-endap dalam sistem sadarmu saat kau melakukan hal yang orang lain pikir tak layak dilakukan anak usia lima belas seperti merokok, onani, mengintip orang mandi, menonton film porno, mencatut uang bayaran sekolah, berdusta. Aku adalah ketakutan yang menyebabkan kau seperti kau hari ini. Tataplah aku kalau berani dan kau akan ingat orang yang paling menyebalkan yang pernah kau tahu: Sahabat, mantan pacar, politisi, pemerkosa, imam, selebriti, pramuniaga judes, tetangga, atau siapapun yang masuk dalam daftar orang-orang yang kepengin kaubenamkan dalam lumpur isap.

Aku akan mengingatkanmu sedikit saat Kain menjalani hukuman yang diberikan Elohim. Mula-mula ia terdampar di negeri kaum Nod. Di negeri itu ia menjadi seorang budak yang akhirnya menjadi lelaki simpanan Lilith, Sang Penguasa. Kain dan Lilith menghabiskan malam demi malam dalam kenikmatan berahi. Tetapi Elohim adalah Elohim adalah Elohim dan Kain harus kembali melanjutkan hukumannya melintasi ruang waktu.

Adalah Kain yang mencegah penyembelihan Abraham dan menyelamatkan Ismail, karena malaikat yang seharusnya menukar Ismail dengan seekor lembu datang terlambat. Kain ada di atas bukit saat pasukan Joshua meruntuhkan benteng kota Jericho. Kain pun menyaksikan bagaimana halilintar Elohim menghancur-leburkan Menara Babel. Dia berdebat dengan Elohim ketika Elohim hendak menghancurkan kota Sodom. Ia pun berjumpa dengan Luth dan Ayub dan sempat-sempatnya menumpang di bahtera Nuh sebelum kemudian membunuh satu per satu manusia yang tersisa pasca banjir besar. Maju mundur di dimensi waktu membuatnya bisa mengubah detail-detail penting sejarah yang membuat dunia menjadi dunia yang seperti saat ini.

Kita sudah hampir tiba di bibir sungai, berhati-hatilah, ada banyak batu dan beberapa sisinya cukup tajam untuk merobek telapak kakimu. Seseorang tengah bersimpuh di atas batu besar. Ia membelakangi kita. Kau tahu ia siapa, dan jika kau menepuk pundaknya, ia akan berbalik dan memperlihatkan hal yang sungguh-sungguh ingin kau ketahui. Orang itu bisa saja cinta pertamamu atau musuh abadimu atau justru dirimu sendiri sebelum kau menyalin identitas artis idolamu, menyalin sifat dan prilaku orang yang kau anggap lebih baik darimu, menyalin orang di ruang tengah itu, menyalin aku.

Kau adalah salinan adalah salinan adalah salinan sementara aku adalah kebebasan adalah kebebasan adalah kebebasan. Kini aku membelakangimu. Pilihlah batu yang kau suka,  setelah semua yang kaulalui, maukah kau menghantam kepalaku dengan batu pilihanmu agar ketika kau terbangun nanti kau tidak menjadi kau saat ini?

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Di Mana Letak Lucunya?

  1. Suka! Gilak ini, sih, cerpen. :))

    Langsung merenung gitu. Kalo di usia 15, ya, suka ngikutin orang lain, tepatnya idola. Bahkan, sekarang ini diriku juga hasil banyaknya pengaruh-pengaruh. 😀

    Oiya, kalau mau baca Gabril Garcia Marquez itu yang mana dulu ya, Mz Dio? Sudah ada terjemahannya belum, sih? Tiap ke toko buku jarang lihat. :/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s