Surat buat Schopenhauer

Hai Arthur,

Di tengah perjalanan tadi Cortazar, motorku, kehabisan bensin dan kami sempat tersesat. GPS sialan. Kau mesti tahu rasanya dibodohi teknologi, Arthur. Jam sebelas malam aku masih berputar-putar di komplek tak dikenal, untuk pertama kali dalam seumur hidup aku punya alasan memaki Borges.

Sepanjang perjalanan aku ajak ngobrol GPS. Pengisi suaranya mungkin seorang perempuan berusia nyaris empat puluh. Dari nada bicaranya yang datar dan tanpa emosi aku menduga dia tipikal cewek yang ‘dingin’. Aku terpikir untuk memberinya nama, mungkin Agnes, Agnes von Kurowsky. Kau kenal? Kalau tidak, ya tidak apa. Tiba-tiba aku ingat kisahnya dengan Hemingway dan, yah, ‘kekejaman’ Agnes kukira sangat cocok dengan kepribadian pengisi suara GPS-ku, jadi mulai detik ini akan kupanggil dia Agnes. Tidak semua perempuan modern seperti Agnes, kau tahu, sama seperti tidak semua lelaki modern seperti Hemingway.

“Belok mana Agnes?”

“Belok kiri.”

“Dari sekian banyak profesi mengapa kau memilih jadi GPS?”

“Belok kiri.”

“Tidakkah kau bosan?”

“Belok kiri.”

“Bicara soal kiri, kemarin ada yang ditangkap karena pakai kaus palu arit, kita bisa ngobrol soal itu kalau kau tertarik.”

“Belok kanan.”

“Mengapa manusia begitu menyedihkan?”

“Belok kiri.”

“Kenapa mereka lebih takut dengan simbol ketimbang kecoa? Kecoa, Agnes, mereka nyata! Mereka bisa mengendus ketakutanmu, rasa laparmu. Aku nggak pernah menatap mata kecoa lebih dari lima detik. Mereka—”

“Belok kiri.”

“Kau tidak tertarik, ya?”

“Belok kiri.”

“Nggak usah atur-atur aing!”

Aku berharap Agnes kesal, Arthur. Mungkin bila ia kesal ia bisa mengeluarkan kalimat atau ekspresi lain, mengumpat, misalnya. Atau sekadar menjawab sengit, seperti kebiasaanku saat bertemu orang tolol. Karena itu aku memutuskan untuk belok kanan saat ia menyuruhku ke kiri, dan sebaliknya. Aku menentang sikap otoritatifnya hanya melalui tindakan, sebab aku benci percakapan satu arah. Aku menempatkan diriku sebagai jiwa dari Agnes, Cortazar adalah tubuh kami, dan sebagai jiwa aku memiliki superioritas terhadap tubuh seperti dalam Phaidon. Dan kami semakin tersesat. Luar biasa. Karena itu aku mengubah strategi. Kubayangkan baik Agnes maupun aku tidak memiliki jiwa, sebagaimana tidak ada Ilahi di balik keluasan semesta. Dengan cara materialistik model begini kami akhirnya, untuk pertama kali, bertemu warung yang masih buka. Kumatikan mesin Cortazar, membuka helm, membeli Filter dan teh kemasan sembari berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya menanyakan jalan.

Aku kepengin menyebutnya dengan istilahmu, Arthur, “Kehendak”. Atau menenteng-nenteng nama teman sejawat dan rivalmu. Tetapi GPS tetaplah GPS, Arthur, ia mungkin punya kehendak atau jiwa murni atau apalah, mungkin tidak sama sekali, tetapi percayalah aku tidak benar-benar menganggap Agnes dan kau dan yang lain sebagai teman seperjalanan. Kau boleh marah membaca ini, tetapi begitu kenyataannya. Lagipula saat tersesat memang tak banyak yang bisa kulakukan selain ngomong dan ngomong dan ngomong tanpa memikirkan hal-hal rumit seperti perbedaan antara fenomena dan noumena. Omong kosong. Maaf kukatakan seperti itu, sejujurnya kau dan mereka cuma bikin aku semakin sepi. Seperti nasihatmu, orang lain adalah api unggun.

Kunyalakan Cortazar dan mengikuti instruksi penjaga warung sambil sesekali membelot. Aku membayangkan dirimu yang berusia 45 tinggal di sini, kau mungkin lebih senang berjalan kaki tetapi, mengingat atmosfer kota dan sebagainya, sebaiknya kau gunakan penemuan umat manusia paling mutakhir: ojek online. Kita lihat seberapa jauh kau bisa menerapkan hidup disiplinmu dan tetap memainkan flute-mu. Kau mungkin akan punya KTP, negara sayang rakyatnya, tak kepengin mereka melamun dua hari dua malam di tepi sungai sekadar memikirkan identitas. Tetapi kemurungan usianya panjang, kita sama-sama tahu, dan menjadi warganegara yang baik tidak bisa memperpendek usianya.

Aku masuk Jalan Merpati keluar di Jalan Cendrawasih keluar lagi di Jalan Elang Bondol tiba di Jalan Camar dan masuk ke Jalan Kasuari dan masuk ke Jalan Merak dan Rajawali dan Merak atau Burung Hantu dan jenis aves lain. Setelah merasa seperti berputar-putar di kandang burung, aku tiba di Jalan Pemuda, yang kemudian menuntun aku ke arah pulang. Dituntun pulang oleh seorang pemuda membuat aku seperti seorang jompo. Meski begitu aku menikmati udara malam, bukan tipikal udara segar, karena itulah aku menikmatinya. Kalau kau ada di sini, barangkali kita akan sepakat kesepian berbau seperti knalpot Kopaja.

Jangan lupa makan siang.

Salam,

Arthur Harahap

Iklan

3 tanggapan untuk “Surat buat Schopenhauer

  1. Saya juga sering kesasar bersama motor saya, Issabella, dan mengingat saya dilahirkan buta arah serta hobi nyasar, membaca ini bikin saya bersyukur dengan kenyataan bahwa gps saya nggak bisa ngomong.

  2. Kalau masalah saya bersama motor saya, Soley, adalah masalah lubang jalanan. Mengapa tak ada GPS yang bisa merekam lubang jalanan? Kasihan kaki Soley bengkak dan rapuh.

    Jadi, bagaimana harus melewati lubang jalanan itu, Dok?

    *tanya jawab Dokter*

  3. Yes, I immediately thought of Taylor’s dress! Despite the nude, I would love Anna’s dress if it were a bit longer. The details are gorgeous and it fits her well! Plus, great shoes, clutch, and hair!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s