Kasus Nomor Delapan

[30/04/16 Percakapan ini saya transkripsi dari CCTV di TKP. Kamera hanya menangkap gambar televisi yang menyala dan sedang menyiarkan drama Film Televisi dengan volume amat kecil–gadis yang memerankan tokoh utama, atau setidaknya yang paling sering muncul, lucu juga. Mayat tak ditemukan. TKP sebersih rumah baru. Polisi masih menyelidiki, bagaimanapun rencana besar itu akan dilaksanakan tiga hari lagi. Berhati-hatilah, pelakunya barangkali sembunyi di rumah tetanggamu]

“Jadi, kau akan tetap pergi?”

“Mereka perlu tahu.”

“Kalau mereka sudah tahu, lantas apa? Kau kira semua akan selesai semudah itu?”

“Ingatan jangka pendekku memang buruk. Karena itu aku berhati-hati untuk tidak berkata ‘semua akan selesai’ apalagi ditambah ‘semudah itu’. Kau cuma menarik sembarang kesimpulan.”

“Kau tak pernah mengajariku optimisme buta, itu baik sekali. Kau tahu kau baik.”

“Bisa kau terangkan apa ‘baik’ yang kau maksud?”

“Maksudku, aku ingin kau tahu sejauh ini kau menjalankan peranmu sebagaimana mestinya. Meski bukan berarti tanpa cacat. Pilihan ini sepenuhnya tanggung jawabku. Tak ada urusannya denganmu. Aku tahu ini pilihan buruk, tetapi ini satu-satunya hal paling realistis yang bisa kita lakukan dalam situasi seperti ini.”

“Aku bisa memakluminya. Karena itu aku akan pulang dan memperingatkan mereka. Pasti sulit bikin mereka percaya, mengingat reputasimu… tapi pasti ada yang percaya. Kami akan pergi sejauh mungkin. Anggaplah aku membantu mengurangi dosamu.”

“Apakah aku harus berterima kasih?”

“Kita sama-sama tahu kita tak butuh-butuh amat ucapan terima kasih.”

“Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, ya.”

“Klise betul. Kau tahu, kan? Satu dari sekian nasib buah itu adalah ia akan membusuk dan terurai. Fakta bahwa ia jatuh dekat dengan pohonnya tak banyak membantu.”

“Ya, ya, kau selalu mahir berkelit. Itulah mengapa Ibu tak betah bersamamu. Semakin tua keahlianmu mengelak dan berlari semakin lihai.”

“Kau kira dengan membahas ibumu aku akan duduk di sofa empukmu, mendengarmu merengek, lantas mengasihanimu sebagaimana bapak kepada anak lelakinya, sementara di balik pintu itu segala rencana akan tetap berjalan?”

“Aku tak butuh dikasihani.”

“Bagaimana mungkin? Semua tindakanmu seakan memaksa kami untuk mengasihanimu.”

“Di perjalanan pulang, Serunting mengutuk semua pohon tebu menjadi batu. Dalam sekejap pohon-pohon itu menjadi batu. Lalu di sepanjang tepi sungai, ia juga mengutuk semua orang yang ia jumpai menjadi batu. Aku tak bisa mengubahmu jadi batu, tapi aku punya cukup tenaga buat menancapkan batu di tempat mana kau akan kukubur.”

“Apa kau punya cukup tenaga untuk mengukir namaku di sana?”

“Tentu. Tenagaku bahkan lebih dari cukup buat mengukir seratus namamu di batu itu. Masalahnya, apa aku punya waktu?”

“Semua orang yang menyadari keberadaan waktu jelas punya waktu. Apakah kau ingin menggunakannya untukku, itu perkara lain.”

“Aku menggunakan waktu sebaik-baiknya. Itulah kenapa aku melakukan ini.”

“Serunting akhirnya menyesali tindakannya.”

“Aku tidak.”

“Yakin betul?”

“Sejauh ini aku cuma pernah satu kali menyesal. Jadi secara statistik kecil kemungkinan aku akan menyesal.”

“Kau akan menyesal.”

“Kau bilang begitu agar nanti aku memikirkan kalimat itu lagi dan lagi, kan? Jurus kuno. Kita tak sedang berada di dalam sinetron dan kau tidak menurunkan bakat merenungmu kepadaku. Kau, lemah, terlalu banyak berpikir.”

“Dan kau lemah karena terlalu takut menekan pelatukmu.”

“Aku tak akan menekannya selama kau masih mengarahkan pistolmu ke kepalaku. Aku tak suka hewan yang memberontak.”

“Kalau begitu aku duluan.”

“Aku menunggu kau melakukannya. Kau tahu? Kesedihanku terlalu nyata. Manusia tidak bisa diselamatkan.”

“Karena itu kau menghancurkannya sekalian. Seperti Noah.”

“Ya. Kenapa tidak? Aku tak perlu menunggu firman untuk bertindak.”

“Karena hidup ini indah?”

“Apa yang indah saat kau melihat orang-orang itu mengirim kepala seorang ayah kepada anaknya? Katakan padaku, apa yang indah saat kau melihat mereka suatu hari memenggal kepalaku dan mengirimkannya kepadamu? Sejauh ini aku belum menemukan simbol yang tepat untuk melambangkan keindahan.”

“Mengagumkan. Aku tak menyangka kau memilih tumbuh di sisi yang bertolak belakang denganku. Dan kau hidup dan kau sehat dengan beban orang lain yang kau bawa sendiri. Kau terlalu memikirkan orang lain.”

“Dan kau terlalu memikirkan diri sendiri.”

“Benarkah?”

“Secara statistik, ya. Karena itu aku heran kenapa kau memilih pergi dan mengabarkan ‘kebenaran’ yang tidak benar-benar amat. Sadarkah kau bila kau melakukannya kau akan membuat reputasiku buruk?”

“Sejak kapan kau peduli?”

“Kau akan mati sebelum sampai ke pintu.”

“Bukankah kita sudah lama ‘mati’? Apa bedanya?”

“Bedanya kematianmu kali ini akan membuatmu tutup mulut selamanya.”

“Tidak buruk. Aku benci mulutku karena sudah membuatmu meniru semua ucapanku, semua pikiranku, saat aku seusiamu.”

“Cih. Kau bermaksud mengulur waktu dengan memunculkan tema perdebatan baru? Aku akan tetap melakukannya.”

“Kalau begitu aku pergi, Nak.”

“Aku menyayangimu.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s