Dingin

1

Sempat mengira seseorang memasukkan selang ke dalam hidung, ternyata hanya udara dingin. Kerucut lalu lintas di tengah pertigaan bergetar tiap kali kendaraan besar lewat, atau ia hanya menggigil. Seorang Ratu Tua perengus bahkan mungkin tak akan sanggup berdiri di tepi jalan ini tanpa menggelugut.

Tiap kali melewati mobil yang terparkir, saya menyempatkan diri bercermin. Melaluinya pula saya bisa melihat pantulan tupai berlari cepat menyusur kabel, rupa-rupa orang, aneka jenis helm dan sebagainya. Empat puluh, tidak, mungkin delapan puluh kaca mobil. Selisihnya terlalu banyak, tetapi saya memang tidak terlalu yakin. Otot betis dan paha sudah keki. Minta istirahat. Sayangnya berbanding terbalik dengan keinginan.

Semakin dekat dengan rumah, bayangan pada kaca mobil semakin lenyap. Seakan kaca mobil-mobil mengidap kanker dan kelamaan kehilangan kemampuan memantulkan bayangan. Kau tahu itu tidak mungkin, kan? Tak ada yang istimewa. Hanya akibat pergerakan bumi pada sumbunya.

 

2

Tanpa alasan yang jelas orang-orang berada di jalan, dan tanpa kepentingan apa-apa saya berada di antara mereka. Apakah gadis yang duduk di kursi depan mini market itu seorang biduan? Apakah lelaki di sebelahnya ‘hanyalah bayang-bayang’ seperti dalam Mazmur 39:6? Siapa pula yang peduli dengan belalang sembah di kap Kijang kotak marun? Atau debu yang membuat semua orang mengapung sekitar limaratusan milimeter dari tanah? Tak ada pentingnya, kau tahu, dan ini membuatku berpikir tentang seekor sapi bernomor enam belas yang mengamuk masuk mesjid kala orang-orang sedang melaksanakan salat Idul Adha. Menyeruduk bokong jemaah. Memecahkan kaca depan. Suasana kacau yang cepat beralih menjadi sketsa komedi yang tak ada pentingnya buat siapa-siapa.

 

3

Drip drap drip drap drip drap

Ia sudah merengket di belakang punggung saat saya menoleh ke arah suara langkah yang familiar tadi.

Dingin model begini bisa bikin badan kita busuk di dalam,” katanya. Saya menuduhnya terlalu banyak menonton serial zombie. Ia menggeleng, lalu mengajak saya masuk. “Kau jalan kaki lagi, ya? Naik angkot cuma dua ribu perak.”

Orang-orang sudah tahu,” kata saya. Kurang menaruh minat pada kekhawatirannya. “Bagaimana?”

“Biar saja.”

“Hm, mau nonton The Brood?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s