Anu

Secara biologis, aku sudah mati lima menit yang lalu di depan komputer. Cerita ini diketik oleh seekor kucing putih-cokelat yang malasnya tak tertahankan.

Penasaran dengan tubuhku yang tak bergerak kucing itu berhenti di depan layar, meregangkan tubuh dan mengeong sebanyak satu kali sebelum akhirnya menggulung tubuhnya di ruang antara kibor dan leher monitor, dengan malas-malasan kaki depannya menekan-nekan tuts sesuai dengan yang ingin kukatakan. Meski tingkat kemalasannya membuatku ingin mencekik lehernya, apa boleh buat, cuma dia yang bisa memahamiku saat ini. Jadi aku mendiktekan cerita ini.

Barangkali ini guna kau memelihara binatang. Jika nyawamu mendadak copot plok! dari tubuhmu kala kau sedang bekerja, binatang peliharaanmu bisa menuntaskan pekerjaan yang tak sempat kau selesaikan atau obituarimu sendiri. Yah, kau tahulah, dengan cara-cara metafisika atau sejenisnya yang tak kau pahami kecuali kau pernah mati sepertiku.

Kucing itu kupanggil sesukaku. Aku pernah memanggilnya Nimrod, karena cuma yang bernama Nimrod yang boleh menjatuhkan cangkir kopi tanpa membuatku ingin memarahinya. Kecuali nabi, tak ada orang normal yang kepengin debat kusir dengan Nimrod. Lain waktu kupanggil ia Miley, Miley Cyrus, saat kudapati ia menggeliat di kaki ranjang dengan lidah menjulur-julur. Terakhir ia kupanggil Trump sebab bulu cokelat di kepalanya mengingatkanku pada rambut Donald Trump. Kali ini kupanggil dia Anu saja, biar mudah dan relevan. Disebut binatang peliharaan pun tak layak, ia cuma kucing kampung yang kebetulan suka melipir ke jendela kamar kontrakanku di lantai dua. Anu bukan maling saat ia dengan bakatnya sebagai kucing menggarong bandeng gorengku di piring. Ia melakukannya karena memang begitulah kucing. Karena ia terus-terusan melakukannya, apa boleh buat, kuputuskan berbagi lauk dengannya. Ia dapat 5% dari laukku dan aku sisanya. Bukan pembagian yang adil, meski begitu Anu nampaknya tak keberatan. Buktinya ia selalu kembali. Hingga hari kematianku, aku tak tahu jenis kelamin Anu.

Sebagai hantu, tentu aku bisa berada di mana saja. Sialnya, sebagaimana arwah-arwah di film yang pernah kutonton, aku tak bisa menyentuh apapun. Dan aku mengambang di udara. Wow. Aku selalu ingin melayang, dan ternyata melayang tak enak-enak amat. Beberapa menit sekali kau akan mual dan kepengin duduk atau bersandar, namun benda solid bukanlah sahabat hantu. Jadi satu-satunya cara terbaik adalah dengan terbiasa dengan rasa mual. Heran juga mengapa hantu bisa merasa mual, dan yang paling mengherankan ternyata aku masih kepengin buang air besar. Baru lima menit mati aku sudah kepengin buang air besar.

Tunggu sebentar, Anu, aku keluar dulu. Jangan mengetik sembarangan.

Yang itu nggak usah diketik.

Ini juga.

Terserah, deh.

Igohhofitittirjrjejektkfkglfkfkdktktooy95/-/-/5/#/#/#/#lykykgoyototkylgogorkekdrktkyototititot9tirudjdufigigkgifi-ifigigogog8gifigigog9gogofirjdjfi-8_858585858[}[<[<|}¥{€§*…€§%{*}¥<€}€<¥}¥}¥<|<|§%§+§*…%…*…[otiririrititittitigogogihogogktktiti5858-8-8-8-8–)-)44)5)-)-)/-)-)-8-8-/5)-8|}|}¥{¥}|}|}~<~<~}|§|§¥^¥^¥§¥§¥§|}|}|<~9#8-_)373745859#9-9#9~<|}~}|<~§|§|§~…~<~<~<~9#9-)5)-)-)-8-8-igigogkggkykgkgkgkgKgkgkgogogohohOhogOGOGkgKGOGlHLHLHlHLHlhLgkgkgGkKFKRkfkgkf/gkgkgkgkgo#9#9_83(2738596#9#96ototitit95)5)5)-8-8583626252;7_7_udud

Anjing! Apa yang kau lakukan? Berhenti injak-injak kibor, Anu.

Oh, hai, aku baru kembali dari Bulan. Awalnya iseng saja, kepengin tahu seberapa tinggi aku bisa terbang dan apa rasanya buang air besar di udara. Karena bulan sabit adalah objek paling terang di langit malam ini, maka aku memutuskan pergi ke sana. Penasaran juga ingin tahu rasanya berak di bulan. Ternyata tak cuma aku saja yang penasaran, hantu-hantu lain pun. Dan ternyata lagi, separuh bulan yang tak bisa kau lihat dari bumi dipenuhi tahi hantu. Aku serius. Mungkin itu mengapa ia malu menampakkan sisi gelapnya. Karena memang benar-benar “gelap” secara metaforis.

Di jalan menuju bulan tadi aku bertemu hantu lain, seorang perempuan tua bernama Hayati. Kanker, katanya, sulit dihindari. Darinya aku tahu bahwa kami, para hantu, bisa menjelajahi luar angkasa sesuka kami. Tetapi kebanyakan hantu memilih kembali ke bumi, atau terbang dekat-dekat bumi, karena takut tersesat. Bulan menjadi tempat wisata sekaligus toilet favorit. Dekat dengan rumah, katanya. Apapun definisi rumah bagi kami saat ini.

Tadi aku menyempatkan diri mengintip tetanggaku, Pak Broto, meniduri istrinya. Lucu juga bagaimana mereka mengakali penis yang tak kuat tegang lebih dari semenit. Aku pun sempat mengitari sisi dunia yang masih siang. Negara yang terlibat perang dan baru saja seseorang membuat tubuhnya sendiri hancur berkeping-keping dengan bom. Aku sempat berbincang dengan hantu teroris itu, ia tak henti-hentinya merongseng, merasa ditipu gurunya yang menjanjikan bidadari dan hal-hal enak. Mati ternyata tak membawamu ke mana-mana.

Dunia memang kisruh, seperti biasa. Dan kabar baiknya, itu bukan urusanku lagi. Ini bukan rumahku lagi. Kalaulah tuhan memang tidak ada, lantas siapa yang membenci kalian terlalu dalam dan yang bikin kalian sebegitu terikatnya pada penderitaan dan harapan-harapan yang selalu akan? Dalam kematian, aku bisa merasakan apa yang sebelumnya disebut ‘kehadirat’ tuhan. Haha. Nah, skakmat, Ateis.

Anu, tuhan t-nya kapital. Huruf kapital, Anu. Nah, nah, seperti kau menulis namamu. Tekan tombol shift berbarengan dengan huruf T. Nah, begitu. Ya, sudahlah, lupakan. Susah bicara dengan kucing keras kepala sepertimu.

Si Anu ini, kucing sialan. Beberapa hari sebelum aku mati, aku melihatnya melakukan hal kurang ajar. Di seberang kontrakanku ada sebuah taman kecil, lahan terbuka yang tidak akan ada kalau saja ia berada di lahan strategis untuk membangun rumah. Letak taman itu berada tepat di depan pertigaan  yang artinya, kalau ada supir mabuk dari arah utara kemungkinan ia akan menabrak pohon beringin besar yang berdiri segaris dengan ujung pertigaan. Tusuk sate, kata orang. Harga tanahnya barangkali kian turun berbarengan dengan kecepatan rumor mistis yang berkembang.

Di bawah beringin itu memang sangat sejuk. Karena itu, pengembang perumahan ini menyediakan kursi besi panjang di bawahnya. Jika kau duduk di sana, kau akan berhadapan dengan alat-alat kebugaran sederhana. Saking pedulinya para pengembang dengan kesehatan warga. Di sisi kanannya terdapat jungkat-jungkit yang dicat kuning primer, beberapa bagian yang berkarat membuatnya terlihat seperti leher jerapah yang dipenggal dan diberi sadel di ujung-ujungnya. Ada pula papan seluncur yang langsung mengarah ke bak-pasir-yang-tak-ada-pasirnya. Secara berkala bocah-bocah mengeruk pasir, menyimpannya di mobil truk mainan, dan membawanya menjauhi taman hingga suatu hari pasirnya habis dan bocah-bocah mulai mencabuti rumput serta mengorek-orek tanah sebagai gantinya. Di kursi paniang itulah seorang duda berusia sekitar 80 tahunan sering duduk sepanjang sore. Di kursi panjang itu pula nyawanya copot–aku suka menggunakan kata copot, sebab memang begitulah rasa dan mungkin bunyinya. Plok. Terkejut mendapati Anu yang tiba-tiba melompat dari dahan beringin dan mendarat di kepalanya, ruh sang duda meloncat dari tubuhnya dan ngibrit sekencang-kencangnya sementara raga si duda terlalu tua buat berlari mengejarnya. Raganya tertinggal jauh. Tak tertolong.

Aku melihat seluruh kejadian itu dari jendela kamarku. Sejak hari itu kupanggil ia Anu. Anubis. Dan dengan cara yang hampir mirip, di dalam kamarku, di depan microsoft word yang masih sekosong kepalaku, kucing itu mencopot nyawaku. Plok! Kabar baiknya, aku tak perlu melanjutkan novelku lagi.

Iklan

13 tanggapan untuk “Anu

  1. Masya Allah. Gue abis baca apaan. Keren banget gilak ._____.
    Baru pertama kali mampir kesini, Kang. Di grup LINE aku lagi rame bahas soal tulisan-tulisan bagus, dan salah satu temen ngerekomendasiin blog ini. Well, now i believe it. :))

  2. Anjay beneran gak bosan baca cerita-ceritamu. Entah ini surealis, satir, fantasi, atau perpaduan semuanya; aku tak mengerti tapi aku menikmatinya. Saya izin ngefans, ya ya? 😀

  3. ku tak tahu, bagaimana otakmu bisa bekerja sebaik ini untuk sekedar menciptakan cerita picisan, dan sialnya aku gemar membuang waktuku tuk sekedar mengetik “agrariafolks” di mesin pencari lalu membaca dan mengumpat.

  4. Saya baru visit ke blog kakak untuk pertama kalinya, langsung jatuh cinta pada majas juga alur cerita yang kakak gunakan. Detil selalu menjadi kesukaanku. Terasa sekali komedi satirnya. Probably one of the best dark comedy short story. Ini mengingatkanku pada film 1996, “The Frighteners”.

    Now i am your fan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s