Bab II – 4

“…karena tidak semua dongeng menyimpan pesan moral. Kadang ia membuatmu terpingkal-pingkal saja dan meninggalkan luka mengenai keberadaanmu setelahnya, atau mengacaukan laju waktu hidupmu setelah kau mendengarnya. Petir mungkin tidak menyambar dua kali di tempat yang sama, tetapi kesedihan, ia menghantam berkali-kali. Begitulah, demi keseimbangan, Durti akhirnya harus melenyapkan jagat raya.”

-Babaji, Tetua Kampung Durti (Bab II – 3)

*
Dalam keadaan setengah terjaga, aku merasakan sesuatu masuk ke rongga hidung, merayap pelan, berputar-putar hingga merangsang saraf-saraf hidungku. Benda itu masuk semakin dalam, dan rongga hidungku semakin menyempit, dan kurasakan ia menciut mengikuti struktur lubang napasku, semakin dalam dan mengerucut hingga aku sempat berpikir tentang ular atau kelabang. Aku ingin sekali membuka mata, namun otot mataku tak mau diajak kompromi.

Terdengar helaan napas kasar, anginnya sampai juga ke wajahku, berbarengan dengan keluarnya benda asing dari dalam hidungku. Benda itu keluar cepat sekali, nyaris sama cepat dengan hembus napas seseorang di depan wajahku.

Ada orang lain di kamarku. Menyadari itu, mataku otomatis terbuka.

“Kukira kau mati.” Utara berkata begitu dengan memasang wajah ngeyel, yang semakin menyebalkan karena wajah itu berada di depan mataku. Ujung hidungnya kira-kira sejarak satu kelingking dengan ujung hidungku.

“Jam berapa ini?” tanyaku, “Dan kenapa kau ada di sini?”

“Sekarang jam sepuluh. Dan aku di sini karena ini rumahku.”

Mataku memicing. Tangan kananku menggaruk-garuk hidung yang masih terasa gatal sementara kesadaranku mengapung di paha boneka beruang mencari tahu kenapa aku berada di rumahnya.

Hari Sabtu kami bertemu, dan Minggu malam pukul sepuluh aku tidur di ranjang ini, aku ingat sebab aku bertanya jam kepada Utara dan jawaban Utara-lah suara terakhir yang kudengar sebelum tertidur. Ya, aku ingat.

“Benda apa yang kau masukkan, sih?”

“Tisu,” katanya, menunjukkan pilinan tisu kepadaku lalu meletakkannya di atas meja di sisi ranjang. “Kau tidur seperti orang mati, kau tahu?”

“Kau nggak siap-siap? Aku kan menginap di sini supaya kita bisa ke kebun binatang pagi-pagi?”

Wajahnya semringah namun tetap masih menyisakan kesan merendahkan. “Wah, kau masih ingat. Bagus juga ingatanmu. Tapi, kalaupun kita ke sana sekarang, mungkin kita cuma akan menyaksikan monyet-monyet tidur.”

“Tolol,” kataku, tertawa. “Kita sampai sana, barangkali mereka baru akan menyantap makan siang.”

Utara mengangguk, mengusap-usap dagunya tanpa alasan jelas. “Aku khawatir saat ini waktu makan malam pun sudah lewat. Sekarang jam sepuluh malam, hari Senin.”

Kami tiba di rumah Utara sekitar pukul tujuh malam. Setelah semua yang terjadi hari ini, kami memutuskan untuk membuka satu dari tiga botol wiski.

Untuk merayakan hari ini, kata Utara, “Lagipula rasanya kita perlu sentuhan alkohol, supaya bisa tidur nyenyak. Setelah semua.”
Aku tentu tidak bisa tidak sepakat.
Utara menuangkan segelas kecil dan meletakkannya di meja. Kami duduk di sofa ruang tengah. Televisi sengaja dinyalakan, menayangkan berita mengenai penyerangan Kampung Durti kemarin. Aku nyaris menangis menontonnya, bagaimana pun aku ada di sana kemarin. Aku masih hidup dan tak tahu apakah aku harus bersyukur atau menyesal mengetahui fakta itu. Kusesap seloki wiski lantas meluruskan kaki ke atas meja.

Ruang tengah ini menarik perhatianku, karena begitu bertolak belakang dengan asal-usul Tara yang kukenal semasa remaja. Seingatku ia hanya punya satu saudara, kembar, dan dia sudah mati. Tetapi ada foto keluarga besar terpajang di atas televisi. Tiga perempuan dalam foto itu mengenakan kebaya, termasuk Utara, sementara lima pria mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih. Mereka semua tersenyum ke arah kamera, kecuali Tara.

Di dinding kiri, terdapat dua foto yang sepertinya diambil jauh sebelum RRI mengudara. Dapat dipastikan kedua orang di foto itu sudah lama mati. Di sisinya terdapat foto sepasang manusia yang nampak jauh lebih muda dari dua foto tadi. Dan selanjutnya terdapat tiga foto anak kecil yang kuyakin tak ada anak kembar.

Ruang keluarga siapa ini? Rumah siapa yang Utara tinggali?

Utara menuangkan wiski lagi. Karena tiba-tiba merasa kurang sopan, aku menurunkan kaki. Sofa ini sebenarnya didesain untuk tiga orang, lengan sofanya seukuran dua kali guling di kamarku. Tidak, mungkin tiga kali lebih besar. Yang membuat aku dan Tara duduk berhimpitan adalah kehadiran sebuah boneka beruang raksasa di sampingku. Kubilang raksasa karena bahkan ketika duduk aku harus mendongak untuk melihat kepalanya. Sesekali lututku dan Tara beradu, atau siku, atau pinggul. Tiga seloki wiski saja tak akan cukup untuk mencairkan kecanggungan model begini.

Seolah membaca pikiranku, Utara mengisi gelas lagi.

“Kalau sedang duduk di sini, aku sering bertanya-tanya, ‘Ruang keluarga siapa ini?’ aku seharusnya tidak di sini,” katanya. Sebuah pembuka obrolan yang bagus, karena itulah yang ingin kutanyakan.

“Memangnya, rumah siapa, sih, ini?”

“Suamiku.”

Sebuah pembuka obrolan yang buruk, aku menyesal sudah menanggapinya.

“Aku sendiri nggak tahu kenapa aku menikah. Kupikir cuma dengan cara itu aku bisa melupakan peristiwa yang, yah, kautahulah.” Ia mengaitkan lengannya ke lenganku. “Membunuh kembaranmu rasanya seperti membunuh diri sendiri. Tiap kali aku bercermin aku berpikir aku seharusnya sudah mati.”

Ia menyamankan kepalanya di bahuku. “Setelah kita berpisah berkali-kali aku berpikir untuk bunuh diri, sampai di usia tiga puluh keinginan itu memudar dan yang tersisa cuma kehampaan. Seseorang harus mengisinya, kupikir begitu. Karena itu aku menerima lamarannya tahun lalu.”
Aku menggerakkan pundak, memberi isyarat akan bangun. Ia mengangkat kepala dan melepas kaitan lengan. Kusesap wiski, tanpa gelas, semampu yang kuteguk.

“Aku bersyukur kau masih hidup dan sehat begini,” kataku. “Cukup aneh mengetahui kau sudah menikah, dan… apa kalian ada rencana punya anak dalam waktu dekat? Atau malah sudah?”

“Itu tujuanku menikah,” jawabnya, menggeleng. “Aku ingin punya anak dan mencurahkan energiku untuknya, mengisi sesuatu yang kosong di dalam diriku, semacam cara untuk menebus dosa. Kau sudah menghilangkan nyawa orang–nyawamu sendiri, mungkin–dan rasanya aku perlu menebusnya dengan melahirkan dan membesarkan nyawa baru. Sayangnya, suamiku belum ingin punya anak. Dan aku pun masih ragu untuk melahirkan anak di dunia yang kacau ini. Terpikir untuk adopsi saja, suamiku nggak setuju.”

Aku tertawa. “Kau kan bisa mencurahkan energimu buat suamimu? Toh, dia kan bernyawa juga. Dan dia jelas mengisi kekosongan itu, kan? Apapun kekosongan yang kau maksud.”

Ia menggeleng, “Bukan buat orang seperti dia.”

“Seperti dia, bagaimana?”

Ia mengangkat bahu. “Entah. Aku hanya merasa dia nggak mengenalku, dan kami nggak punya kedekatan atau semacamnya.”

“Dia nggak mencintaimu?”

Utara tertawa kecut. “Memangnya, cinta itu apa? Yang kutahu, aku nggak perlu menghabiskan energiku buat orang yang sama sekali nggak membuatku merasa dekat dengannya.”

“Mengerikan,” komentarku.

“Lumayan.”

Kutenggak habis sebotol wiski dan ia membuka botol baru yang langsung kutenggak lagi dan ia meniru caraku meminum hingga kaus putih yang ia kenakan basah tersiram cairan yang tak tertampung rongga mulutnya. Kami terus mengulang cara seperti itu dan aku mulai meracau seperti rekaman kotak hitam di dalam pesawat yang sedang diputar ulang untuk mencari tahu penyebab kecelakaan dan ia menanggapi seperlunya tanpa sekalipun membantah dan kepalaku ringan sekali, rasanya hanya berisi nitrogen, otot kaki dan tanganku menegang dan mengendur secara konstan, dan jantungku berdetak serupa langkah babi hutan dikejar pemburu.

“Besok ke kebun binatang jam berapa?” tanyaku.

“Ya, tergantung jam berapa kita bangun.” ujarnya. Ia mengelap meja dengan tisu. “Sebaiknya kau tidur.”

“Memangnya sekarang jam berapa?”

Ia menarik tanganku dan melihat jam, “Jam sepuluh malam.” Setelah itu ia berjalan mematikan televisi.

Kurebahkan kepala di paha boneka, dan mencoba tertidur dengan perut dipenuhi cairan.

Kubuka tingkap dan menyipit saat melihat matahari pagi, sudah lama sekali tak kulihat ia mencuat di ufuk tanpa terhalang apapun. Kulirik jam tangan, pukul satu malam waktu indonesia bagian barat. Satu jam berlayar dan kami sudah terapung di tengah laut. Ini mengagumkan. Garis pantai di depan kami cukup menyiratkan pesan bahwa sesaat lagi kami akan tiba di tempat tujuan.

Aku menendang kaki Utara. “Hey, masih mau lihat laut?”

Ia mengucek matanya. Saat ia melakukan itu, ia terlihat seperti gadis belasan. Sialan, orang ini cantik.

Ia membuka tutup di atas kepalanya dan… yah, aku tak tahu bagaimana ekspresinya sewaktu melihat laut. Seharusnya ia gembira atau apalah.

Peti mati keparat yang kami naiki perlahan menurunkan kecepatan. Ada menara kayu di bibir pantai, kukira ia berdiri di semacam karang atau pelabuhan kayu. Peti mati berbelok dengan kemiringan yang agak membuatku khawatir, ia berputar, dan sekilas aku menangkap pemandangan kota di punggung bukit di depan kami yang kemudian terhalang hutan lagi. Peti mati kami bergerak pasti ke arah menara kayu. Ada kedip lampu hijau yang serupa laser dari puncak menara, laser itu mengarah ke wajahku dan Utara. Kami segera berhenti mengintip, menutup peti mati, dan menyerahkan diri pada nasib.

“Assalamualaikum.” Sapa seorang lelaki yang mengenakan burkak, pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, berwarna merah muda dan berkacamata hitam yang membuka peti mati kami. “Maha Suci Allah, dzat yang telah mengantar tamu kami, anak cucu Adam-Hawa, selamat sampai tujuan. Kiranya apa yang hendak kalian, sekumpulan daging dan ruh dari Tanah Nusantara, datang jauh-jauh ke negeri kami?”

“Kami datang atas undangan Al-Mi’raj,” jawab Utara. “Sahabat kami itu memberi tahu kami soal lubang hitam yang melenyapkan ibu teman saya yang hilang sekitar lima belas tahun lalu, dan katanya seseorang bernama Qasim mungkin bisa membantu kami.”

Tanpa menjawab, si orang berburkak merah muda itu mengarahkan laser hijaunya ke rumah kecil sejarak seratus meter dari kami. Tak lama, dua benda putih keluar dari dalam rumah itu. Dalam kurang dari dua puluh detik mereka sudah tiba di depan kami.
Dua Al-Mi’raj. Satu saja sudah bikin pusing.

“Duhai, Al-Mi’raj. Antarkan saudara kita ke rumah Qasim.”

Kedua Al-Mi’raj mengangguk dan mengiyakan perintah. “Ayo, ikut kami.”

Rumah-rumah kubus berwarna neon, sama rata, dan sebuah masjid dan gereja dan sekolah dan rumah sakit berdiri sama rata dan sama bentuk. Yang membedakan hanya huruf-huruf yang terpampang di layar digital di depannya, yang tiap kami lewat, huruf-huruf digital yang semula beraksara arab berganti cepat menjadi alfabet yang menyusun kata dalam bahasa Indonesia.
Orang-orang yang berada di tepi jalan pun mengenakan burkak aneka-warna terang dan kacamata hitam. Orang mengendarai sepeda keranjang mengenakan burkak hijau stabilo dan anak kecil di kursi pembonceng mengenakan burkak kuning gading, penyapu jalan mengenakan burkak biru langit selaras dengan gagang sapunya, seseorang di jendela sedang menggunting daun mawar, ia mengenakan burkak ungu. Dan di jalan, sekumpulan Al-Mi’raj tengah berbaris, menyanyikan lagu berbahasa Rusia atau Yunani, sepertinya–aku tidak tahu bahasa apa itu, tetapi jelas bukan bahasa Arab. Ada apa dengan kota ini?

Kota ini, Jezirat El-Tenym, jelas kota modern. Beberapa orang di jalan kulihat mengenakan jam digital, dan papan-papan penanda pun menggunakan layar digital. Sebuah televisi raksasa di sebuah pusat perbelanjaan, yang tengah menampilkan video orang sedang mengguntingi bonsai, juga menyimbolkan suatu peradaban modern. Tetapi segalanya nampak tak sesuai dengan definisi modern yang kupahami–tak ada mobil, motor, kemacetan mengular, tak ada orang memainkan gadget di jalan, tak ada bau asap, udara pekat, gedung pencakar langit, dan air mancur, dan lelampuan–sehingga sulit sekali mencerna semua ini. Tetapi kota ini ada, dan Utara nampaknya menikmati semua ini.

Ia menyuruhku melihat Al-Mi’raj yang sedang berjemur di kursi di tepi jalan. Kawanannya yang lain sedang mandi di pancuran yang tak jauh dari kursi. “Kalau dilihat-lihat, lucu, ya?”

“Lucu apanya?” tanyaku balik, dengan nada agak meninggi. “Kau nggak merasa semua ini… salah?”

Utara mengangkat bahu.

Aku menggeleng dan memasukkan tangan ke saku.

Al-Mi’raj juru arah kami berhenti di sebuah bangunan kotak bercat magenta. “BISMILLAH!”

Aku nyaris melompat mendengar seruan mereka yang tiba-tiba terdengar seperti lusinan kloning Pavarotti. Dan pintu terbuka.

“Sila masuk,” pinta Al-Mi’raj. “Ucapkan salam di depan pintu kamar nomor tiga,” tambahnya.

Kemudian kami masuk, menyusuri lorong sempit. Utara di belakangku, ia menyiulkan lagu yang populer di era 80-an yang bahkan tak pernah kutahu siapa penyanyinya tetapi nadanya cukup familiar. Berbeda denganku, ia nampak tak ketakutan sama sekali. Aku jadi ingat kalimatnya tadi malam: “Aku terlalu lelah untuk mengeluh, apalagi untuk merasa takut.” Ternyata ia membuktikannya.

Kami mengucap salam di depan kamar nomor tiga dan pintu terbuka dan seorang lelaki berburkak merah muda memperkenalkan diri sebagai Qasim.

“Bukankah kau laki-laki yang di menara tadi?” tanya Utara.

Qasim menggeleng, “Si penjaga menara bernama Mukhlisal, yah, orang memang sulit membedakan kami.”

Anjing kudis. Bagaimana tidak sulit? Pikirku. Burkak dan kacamata mereka sama.

“Duduklah,” katanya. “Akan kubuatkan minum. Kopi atau kopi? Aku cuma punya kopi.” Ia tertawa.

Setelah menyajikan kopi ia mempersilakanku untuk menceritakan masalahku. Jadi aku menceritakan segalanya, dengan terperinci sejauh yang kuingat, tentang malam peresmian gereja dan munculnya Al-Mi’raj dan lenyapnya ibuku dan separuh penduduk desa. “Apa kau bisa membantu kami?”

Qasim mengangkat bahu, “Aku sendiri tidak tahu. Namun menurut Al-Mi’raj-mu, aku bisa membantu. Maka akan kuusahakan sebisaku.”

“Al-Mi’raj-ku?” tanyaku, heran.

“Iya, Al-Mi’raj-mu.”

“Aku nggak punya Al-Mi’raj,” seruku, dan lagi siapa pula yang kepengin memelihara kelinci bertanduk yang menyebalkan model begitu.

“Bercanda kau,” seloroh Qasim, tertawa. “Semua orang di dunia ini punya Al-Mi’raj. Kalau tidak ada dia, kita tidak akan punya pilihan. Bisa kau bayangkan hidup tanpa pilihan? Tentu kau tidak bisa membayangkannya. Tidak ada hidup yang tanpa pilihan.”

Tapi aku sungguh-sungguh tak merasa memiliki binatang keparat itu. Meski begitu, kalau diingat-ingat, ada benarnya juga.

“Tidak semua orang beruntung bisa melihat makhluk suci itu. Mereka diciptakan untuk membimbing kita bertemu diri kita yang lain,” kata Qasim. “Kita yang lebih bersih dan terang. Semua Al-Mi’raj di dunia dilahirkan di sini sebelum dikirim kepada kalian.”

“Tetapi,” potongku. “Dari yang kuketahui, Al-Mi’raj monster yang mengacak-acak kota kalian?”

Qasim tertawa tanpa menjelaskan apa-apa dan rasanya cukup semua omong kosong ini. Aku tak ingin membahas lebih jauh, dan tak ada lagi yang berbicara.

“Jadi apa kau bisa membantu kami?” Utara akhirnya memecah keheningan dengan pertanyaan bagus.

“Kuusahakan sebisaku, dengan bantuan Allah.”

Kami di ajak ke ruangan lain. Sebuah perpustakaan. Kali ini sedikit lebih luas dari ruangan sebelumnya. Qasim menjelaskan bahwa ia sendiri tak tahu asal-usul lubang hitam itu, tetapi mereka memang ada di dalam diri manusia. “Aku sendiri heran mengapa ia muncul di desamu, biasanya ia cuma muncul dalam tubuh seseorang dan menghisap jiwanya dan… kau tahu?” Qasim membalik-balik buku di atas meja. “Labirin hanya punya satu pintu, pintu masuk sekaligus pintu keluar. Jiwa yang penasaran menyusuri lorong demi lorong menjauhi pintu masuk, suatu hari kau menyadarinya tetapi kau sudah terlalu jauh dan ruwet untuk kembali.”

“Dia muncul di desaku, bukan di dalam diriku,” jelasku. “Dan semestinya ada penjelasan lebih masuk akal mengapa ia muncul dan di mana ujung lorong itu.”

“Saudaraku, jika kau mendengarkan dengan baik, kau tentu tahu ujung lubang itu ada di pangkalnya.”

“Jadi, ke mana semua orang yang lenyap itu?”

“Tidak ke mana-mana. Penjelasan sederhananya seperti itu, Saudaraku. Sejujurnya baru kali ini aku mendengar ia muncul di luar diri kita. Hmm… Kasus yang menarik.”

“Dan ia bisa muncul di mana-mana, begitu, kan?” tambah Utara, ia menoleh ke arahku. Aku mengangguk.

“Kalau begitu, buku ini harus direvisi.” Qasim membuka halaman dan memperlihatkannya ke arah kami. Semua kata di halaman itu merangkai dirinya sendiri, huruf-huruf muncul dan tenggelam, tanda baca bergeser ke kiri dan ke kanan, hingga membentuk kata dalam bahasa yang kupahami. Di sana tertulis jelas bahwa lubang hitam yang kami maksud bernama Lugage Vortemini, dan digambar pula posisinya di dalam tubuh. Lubang itu biasanya muncul pertama kali di ujung kepala, mengundang rasa sakit tak tertahankan tetapi hanya berlangsung amat sangat singkat sehingga kadang manusia menghiraukannya. Kemudian ia akan hilang dan selanjutnya muncul di pangkal kerongkongan, saat ini terjadi manusia cenderung mengalami kesulitan bicara. Cukup lama hingga akhirnya lenyap dan terakhir ia muncul di lambung, menjaring semua pemahaman manusia dan memenjaranya di sana; menghisap segala yang manusia miliki dan menyisakan kekosongan maha-panjang, yang kemudian membuat manusia meragukan segalanya, dan terakhir, ia akan menghisap jiwa manusia. Jiwa manusia terkatung-katung dalam lorong dengan persimpangan tak terhingga. Al-Mi’raj, sang penjaga, muncul untuk memberi pilihan. Tiap pilihan akan mengantar ke pilihan lain dan yang lain. Ia bisa membuat jiwa mendekati pintu, atau menjauhinya.

Pemaparan yang membosankan.

Tak ada penjelasan ia bisa muncul di dalam lemari, dinding, tanah, atau lukisan yang terpotong sebelah. Ini tidak terlalu relevan dengan yang terjadi padaku.

“Langsung saja,” kataku. “Bagaimana caraku mencari dan menyelamatkan ibuku?”

Utara yang menangkap gelagat kekesalan, menyentuh pundak kananku dan meremasnya. Aku menoleh dan ia tersenyum kecil. Santai saja.

“Saudaraku, kau yakin yang harus dicari dan diselamatkan adalah ibumu?”

Utara melihatku.

Qasim melihatku.

Dunia melihatku.

Persetan. Ini tidak membantu sama sekali. Jauh-jauh kami datang ke sini bukan untuk diceramahi. Aku menarik napas panjang, berusaha berpikir lebih jernih. Kuncinya ada di kalimat Al-Mi’raj kemarin: Pergilah ke Jezirat Al Tennym dengan kemudian temuilah seseorang bernama Qasim, mungkin kau akan menemukan sesuatu yang kau perlukan. Atau tetap di sini, mungkin kau akan menemukan sesuatu yang kau inginkan.
Dan aku tidak mendapat apa yang kuperlukan di tempat ini. Oh, terima kasih, Al-bangsat-Mi’raj-ku.

“Tapi mungkin temanku bisa membantumu,” ujar Qasim. “Ia dulu tinggal bersamaku, kami banyak melakukan penelitian bersama hingga kemudian ia memutuskan untuk pergi dan mewartakan hal-hal baik tentang Yesus ke seluruh dunia. Namanya Ya’qub Kashmir, seorang penginjil protestan. Dari surat terakhir yang kudapat, ia tinggal di suatu tempat bernama Manado. Dari bahasa yang kalian gunakan, sepertinya tempat itu tak jauh dari tempat tinggal kalian.”

“Pendeta Ya’qub? Bagaimana mungkin?” tanyaku heran.

“Kau kenal?” tanya Utara.

“Tentu saja,” seruku. “Ia tinggal di desaku, tempat munculnya lubang hitam itu.”

“Tapi ia tak pernah menyoal perkara lubang hitam di suratnya.” Ia bangkit dari kursi menuju lemari arsip dan mengambil sepucuk surat. “Ini surat terakhirnya. Terakhir ia mengeluhkan ginjalnya. Mungkin sekarang dia sudah meninggal.”

Aku melihat foto lelaki bernama Ya’qub Kashmir. Ia memang agak mirip Pendeta Ya’qub yang kukenal, tetapi bukan. Apakah ia ayahnya? Kalau begitu benar ia sudah meninggal dan dimakamkan di Manado. Tetapi, seingatku, ada makam palsu tempat Pendeta Ya’qub mengubur semua benda peninggalan ayahnya. Kuceritakan ini kepada Utara dan Qasmir.

“Barangkali ada sesuatu di sana?” tanya Utara. “Mau coba?”

Aku hanya mengangkat bahu. Agak lemas mengingat fakta bahwa jawaban atas semua misteri ini pernah ada di dekat rumahku. Teliti. Begitu kata Laila, yang saat itu terdengar menyebalkan namun kali ini ternyata ia ada benarnya.

“Tidak ada salahnya dicoba, Saudaraku.” Qasim menutup buku dan meletakkannya di rak. “Allah hanya mengizinkanku membantu sampai di sini.”

Mungkin ini yang dimaksud Al-Mi’raj ‘sesuatu yang kuperlukan’. Tiba-tiba aku penasaran: ada di mana diriku saat ini jika aku memilih untuk mencari tahu apa yang kuinginkan?

Kelinci keparat itu.

Kami pamit. Qasim mengantar kami ke pelabuhan dan kami bertemu Mukhlisal di sana. Dua orang itu berdiri bersisian: Burkak merah muda, kacamata hitam, dan sandal kayu yang benar-benar mirip. Dan ini menimbulkn kesan bahwa aku tengah bermimpi.
Utara membakar rokoknya, “Jadi kita harus berlayar lagi?”

“Ya, mau bagaimana lagi?”

Jadi kami naik peti mati. Membiarkan ia hanyut terbawa aliran waktu. Di titik tertentu, aku mengintip untuk melihat bibir pantai, sinar laser hijau Mukhlisal berkelap-kelip mengantar kami pulang. “Sebaiknya kita tidur.” Aku bersandar pada dinding kayu. “Apa yang akan terjadi, terjadilah. Eh, kau nggak takut aku menidurimu?” godaku.

“Bercinta di dalam peti mati, seru juga. Tapi kau nggak seberani itu, Gaok.”

Dia benar.

Pukul empat pagi kami terbangun dan sudah berada di aliran sungai Ciliwung tak jauh dari dinding belakang indekosku. Ia berhenti di sisi sungai yang langsung mengarah ke pemakaman cina yang tadi malam kami rampok. Benar juga kata Al-Mi’raj, kami cuma perlu waktu empat jam. Ini mengejutkan, dan entah bagaimana, rasanya aku sudab tertidur selama sepekan.

Perkampungan sepi. Aku dan Utara menaikkan peti mati ke daratan dan mendorongnya lewat semak-semak. Makam yang kami bongkar masih menganga, dan cangkul kami masih ada di sana, dan mayatnya masih terbungkus rapi dengan selimutku. Ia pucat, seperti orang yang sedang flu berat. Tapi memang begitulah wajah orang mati. Kami bergegas membereskan semua kekacauan.
Pukul delapan pagi, dengan pakaian penuh tanah, kami naik taksi dan berhenti di dekat rumah Utara. Menikmati nasi uduk dan teh tawar hangat dan bertingakah seperti bukan-pembongkar-makam.

“Kita seperti Musa,” kata Utara. Mengunyah. “Masuk peti, dilarung di sungai.”

“Yah, syukurlah sekarang kita nggak ada di istana Fir’aun.”

Kami tertawa.

“Mau jalan-jalan dulu?” tanya Utara. “Sepertinya kita butuh penyegaran.”

“Ke mana?”

Akhirnya kami hanya luntang-lantung tak keruan. Naik-turun angkutan umum dan beristirahat di tepi rel yang menghubungkan Stasiun Depok Baru dan Pondok Cina. Rel sebelah kanan nampaknya sedang bermasalah, tim teknisi rel berkumpul di satu titik seperti sedang bermain judi rolet di pasar malam. Sebuah lori datang dari sisi kiri mereka, kerumunan bubar dan memperhatikan laju lori dengan menunduk.

“Aku mungkin menyukaimu,” kataku. Mau mati rasanya, tetapi kalimat itu menggantung di tenggorokanku semalaman.

Utara tertawa. “Kau tahu, berapa banyak pembunuhan yang kulakukan di dalam kepalaku? Kalau kau bersamaku, yah, aku penasaran sih kepengin mencoba satu dari beberapa metode mencincang orang.”

Aku berusaha membangun argumen yang sedikit keren, tetapi sia-sia. “Aku cuma ingin bilang begitu.”

Utara, lagi-lagi, tertawa. “Minggu depan usiaku 37 tahun, lho.”

Siapa yang peduli, ujarku dalam hati.

“Aku kepengin wiski,” katanya.

Di saat seperti ini, aku bersyukur punya teman seperti Arian. Kutelepon dia, menanyakan apakah di sekitar Depok dia punya kenalan yang menjul wiski. Arian memintaku menutup telepon, alamatnya akan dikirim lewat pesan singkat. Sebelum mengunjungi temannya-teman Arian, aku mampir ke ATM, mengambil uang secukupnya.
Lepas Maghrib kami sudah berada di warung tempat kami sarapan. Malam hari mereka menjual bubur ayam. Utara mengingatkan untuk makan banyak sebab di rumah tak ada yang memasak.

Kami tiba di rumah Utara sekitar pukul tujuh malam. Setelah semua yang terjadi hari ini, kami memutuskan untuk membuka satu dari tiga botol wiski yang sengaja kami beli di perjalanan tadi.

Ketika sedang asyik menenggak bir sambil memandangi arus sungai Ciliwung yang setenang sapi tidur, sudut mata kiriku menangkap sesuatu yang besar dan berwarna putih bergerak pelan mendekatiku. Kupicingkan mata, semula kukira karung sampah atau batang pisang, ternyata kepala orang.

Mayat?

Kubiarkan benda itu bergerak melewatiku, sekadar memastikan ini bukan efek mabuk–lagipula aku baru menenggak tiga kaleng bir. Semakin lama, semakin jelas bahwa itu adalah manusia. Ujung jemari kakinya timbul tenggelam, dan pakaian yang ia kenakan mekar sehingga membuatnya nampak seperti spanduk pemilu yang tersapu banjir.

Benda yang kukira mayat orang itu akhirnya tepat berada di depanku. Seorang perempuan. Wajahnya familiar. Matanya terpejam. Ia berlalu pelan di hadapanku. Tak kulihat kecemasan atau apapun di wajahnya. Mungkin benar ia sudah mati.

Kuambil sebatang kayu dan menusuk-nusuk pelan bagian perutnya. “Oi, sudah mati?”

Matanya terbuka, melirikku. “Harusnya sudah.”

“Perlu bantuan?”

Ia menggeleng. Menciptakan riak kecil di sekitar kepala hingga bahunya. “Remora, ya?”

Aku menelan ludah. Bagaimana ia tahu nama kecilku?

“Sudah tua juga,” katanya.

Aku mengingat-ingat wajahnya. Rambutnya yang panjang mekar macam ekor cendrawasih. Lekuk hidungnya, bibirnya, mengingatkanku pada temanku Udara. Tapi ia sudah mati. Aku berjalan pelan mengikuti tubuh mengapung itu. Oke, dia saudara kembarnya. Utara.

“Kukira kau sudah lupa dengan orang yang mengulum penismu di tepi sungai.”

Aku tertawa. “Naiklah. Dingin, tahu?”

“Lumayan.”

Utara mengepakkan tangannya, menepikan tubuhnya. Ternyata ia berbaring di atas tumpukkan batang pisang yang diikat sedemikian rupa membentuk rakit.

“Kau gila atau memang menyukai olahraga ekstrim?” tanyaku. “Soalnya beda tipis.”

“Aku kepengin ke laut.”

“Kau bisa melihat laut kapanpun di Youtube.”

“Kau nggak dengar, ya?” Ia mengibas-ibaskan rambutnya, dan tangannya menepuk-nepuk pakaian. “Aku kepengin ke laut.”

“Kalau begitu istirahatlah dulu. Nanti kupesankan travel, sepertinya lebih cepat mengantarmu sampai ke laut ketimbang mengapung di batang pisang. Aku punya dua kaleng bir lagi.” Aku membuka satu kaleng untuknya. “Dan mulai sekarang panggil aku Gaok. Susah juga kalau kuceritakan. Intinya ini berhubungan dengan pekerjaan. Aku takut kau kelepasan memanggil nama kecilku.”

“Gaok.” Ia memicingkan mata. Menerima kaleng bir. “Nama samaranmu jelek amat.”

Kami berbincang di tepi sungai. Bertukar kabar dan segala macam. Ia bilang potongan rambutku jelek, tapi itu membuat wajahku nampak lebih jelas. Aku bilang payudaranya mulai turun dan ia terpingkal-pingkal.

“Kau nggak sedang cuci pakaian di pinggir kali, kan?” tanyanya.
Aku menggeleng dan entah bagaimana aku ingin meminta pendapatnya soal apa yang akan kulakukan. Maka kuceritakan soal teori Babaji mengenai peti mati dan distorsi ruang-waktu dan Al-Mi’raj yang muncul tadi sore ketika aku melihat iring-iringan pengantar jenazah tionghoa dan kelinci keparat itu menyuruhku membongkar makam atau diam saja.

“Kau masih mencari ibumu dan lubang hitam itu, ya?” Utara menyesap bir. “Jujur saja, selama bertahun-tahun aku nggak bisa lupa soal desamu. Dan lubang hitam itu. Penasaran juga.”

“Menurutmu aku harus menuruti nasihat kelinci sialan itu untuk membongkar makam? Bagiku, sangat nggak masuk akal.”

“Bukankah kasus desamu juga nggak masuk akal?”

Dia benar. “Jadi aku harus membongkar makam?”

“Mau kutemani?”

“Tentu.”

Sampai di kamarku, aku meminjamkan kaus dan celana jins. Selagi ia berganti pakaian, aku meminjam cangkul ke induk semang. Saat kembali ke kamar, Utara sedang melipat selimutku.
“Menurutmu, apakah mayat bisa merasa kedinginan?”

“Bukankah mayat memang dingin?”

“Ya, memang. Mereka memang dingin, tapi apakah mereka kedinginan?”

Aku mengangkat bahu.

Utara memasukkan selimut ke dalam tas, buat jaga-jaga, katanya.

Kami menyeberangi sungi dan menyusup ke area pemakam melalui semak-semak. Mengintip kalau-kalau penjaga makam belum tidur. Rumahnya masih terang. Saat ini pukul delapan malam. Meski makam incaran kami letaknya jauh dari rumah penjaga, kami sepakat menunggu hingga pukul sembilan malam. Utara bertanya apakah penisku masih bisa ereksi dan aku menjawab, tentu saja masih bisa, tapi tidak di situasi seperti ini.
Kami mulai mencangkul. Mula-mula dengan santai. Kelamaan, otot-otot lenganku mulai menegang. Mencangkul ternyata pekerjaan yang sangat berat. Aku tak pernah merasa selelah sekaligus sepenasaran ini. Utara berkali-kali istirahat. Aku pikir kalau begini, kami baru akan selesai mencangkul pagi hari. Jadi kukatakan pada Utara bahwa kita sudah sejauh ini, jika seseorang memergoki kita, mungkin kita akan dikubur hidup-hidup atau lebih buruk lagi kita akan dicincang dan dijadikan makanan ikan louhan. Itu bukan cara mati yang bagus. Kami sepakat untuk mempercepat pekerjaan kami.
Kulirik jam tangan, pukul setengah dua belas. Setengah jam lagi menuju tengah malam. Dua jam lebih menggali, kami sudah berhasil menaikkan peti mati ke atas tanah sekaligus berhasil membuang nyaris seluruh tenaga kami. Kami mengeluarkan mayat perempuan yang ada di dalam peti, membungkusnya dengan selimut, dan meletakkannya di depan kami. Sungguh itu bukan karena aku seorang nekrofilia atau diam-diam memiliki ketertarikan khusus pada mayat, aku hanya tak punya tenaga lebih untuk menggotong dan meletakkan mayat di tempat yang tak bisa kulihat. Jadi, ya sudah, kami bersandar di peti mati, membakar rokok sambil memandangi mayat. Di titik ini, aku sudah tidak peduli apakah aku akan dikubur hidup-hidup atau dijadikan pakan ikan louhan. Aku cuma kepengin merokok.

Satu batang rokok habis namun pekerjaan belum tuntas. Kami masih harus membawa peti mati ke sungai. Aku tidak pernah tahu peti mati seberat ini, atau barangkali tenagakulah yang sudah tak bersisa. Peti ini tak mungkin diangkat dua orang. Utara memberi ide untuk mendorongnya saja. “Mungkin akan lebih cepat,” ujarnya. Ia menahan napas, lalu mengembuskannya perlahan. Seakan tengah berusaha keras meredam degup jantungnya agar tak meretakkan rusuknya. “Aku nggak pernah membayangkan akan melakukan hal lumayan tolol begini dan aku nggak tahu kenapa kita melakukannya. Mungkin karena kita tanpa sadar semacam pengidap adrenaline junkie. Jadi, sebaiknya, kita tuntaskan semua, secepatnya.”

Aku setuju. Kubenamkan bara rokok ke tanah merah dan mengambil posisi yang enak untuk mendorong peti mati.
Perlu waktu hampir setengah jam bagi kami untuk menyusuri tanah merah dan semak-belukar, mencari tempat paling landai agar lebih mudah saat melarungnya ke sungai nanti.

Utara menoleh dan bertanya: “Selanjutnya apa?”

Kujelaskan bahwa aku harus membaca mantra.

“Kau masih ingat mantranya?”
Aku mengangguk. “Tapi aku nggak tahu apakah aku masih punya tenaga buat mengingat.”

Utara menggenggam tanganku, nyaris meremasnya andai ia masih punya daya ekstra. “Selelah apapun, manusia selalu punya tenaga cadangan untuk mengingat-ingat hal yang nggak berguna. Percayalah.”

Peran waktu sangat penting dalam kedunguan malam ini. Satu menit sebelum tepat tengah malam, aku berdiri di belakang peti dan membaca mantra. Dan tiga detik sebelum tepat jam dua belas, kami mendorong peti mati. Aku sudah tidak peduli lagi kata-kata Babaji. Kalau besok pagi seseorang menemukan kami tersangkut di pintu air bersama sampah-sampah lain, artinya kami gagal.

Aku bersandar di bagian belakang peti–setidaknya begitulah posisi saat kami baru berlayar–dan Utara di sudut satunya. Kaki kami saling tumpang tindih. Di dalam peti mati tertutup, yang bahkan terlalu gelap untuk melihat hidungmu sendiri, bersama seorang perempuan yang pernah mengantarmu ke gerbang kenikmatan di masa puber aku cuma bisa berdeham kapan pun aku pikir aku harus memulai percakapan.

“Kau nggak takut?” tanyaku, tak lebih karena aku merasa perlu bicara.

“Aku sudah terlalu lelah untuk mengeluh, apalagi merasa takut.”

“Kukira kau akan menjawab ‘lumayan’.”

“Aku cuma akan menjawab ‘lumayan’ saat diperlukan,” katanya. “Eh, menurutmu, apa fungsi pusar di perut?”

Kubayangkan ia tengah memainkan lubang pusarnya dengan telunjuk kanan. “Setahuku ia berfungsi sebagai jalan masuk makanan waktu manusia masih di dalam kandungan.”

“Tapi bukan itu yang kutanyakan,” selorohnya. “Yang kutanyakan adalah fungsinya saat ini.”

“Sebagai tanda kalau kau punya perut?” jawabku, tak yakin. “Semacam identitas, begitulah.”

“Entah, ya, kukira ia nggak banyak berguna selain menjadi sarang daki.”

“Aku bisa googling kalau kau mau tahu jawaban yang lebih baik,” kukeluarkan ponsel dan layar sentuhnya hanya menampakkan gerombolan piksel aneka warna bergoyang-goyang. “Kelihatannya ponselku rusak gara-gara menggali tadi. Kalau begitu anggaplah fungsi pusar semacam bank daki, seperti anggapanmu.”

“Pernahkah kau membayangkan menanam tomat atau cabai di lubang pusarmu? Sepertinya itu akan lebih berguna.”

“Bagaimana kalau akarnya menembus masuk ke dalam perutmu?”

“Paling-paling geli sedikit, kemungkinan terburuk ya mati. Tapi kau akan tetap mati dengan atau tanpa menanam tomat di lubang pusarmu.” Utara menurunkan kakinya dari kakiku. “Lagipula, mereka bilang kita tidak boleh melupakan ‘akar’ kita. Nah, kita bukan cuma ‘tidak akan melupakan akar’ tetapi kita ‘akan berakar’. Seru, ya?”

Kuselipkan rokok di bibir, kunyalakan korek, lalu kuangkat penutup peti mati dengan tangan kanan dan tetap begitu hingga rokok habis nanti.

“Akhirnya aku bisa melihat wajahmu,” komentarnya.

“Kalau begitu, gantian.”

Ia melakukan hal yang sama denganku. Saat ia membakar rokok, angin menggoyang-goyangkan api dan membuat wajahnya seperti pertunjukkan bayangan: Sisi gelap hidungnya meluas dan menyempit dan mata kanannya tertutup poni. Kami tetap mengangkat tutup peti mati selama beberapa menit setelah rokok habis, hingga asap rokok di dalam peti benar-benar keluar. “Setelah semua selesai, rasanya aku kepengin disemprot gajah.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke kebun binatang?”

“Kapan?”

“Ya, setelah semua selesai. Hari Senin, bagaimana? Kau bisa menginap di rumahku. Biar cepat.”

Aku mengangguk. Mataku terasa berat. Tak lama, aku tertidur.

Kubuka tingkap dan menyipit saat melihat matahari pagi, sudah lama sekali tak kulihat ia mencuat di ufuk tanpa terhalang apapun. Kulirik jam tangan, pukul enam kami masih terapung di tengah laut, garis pantai di depan kami cukup menyiratkan pesan bahwa sesaat lagi kami akan tiba di tempat tujuan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s