Raden Mandasia adalah Kabar Baik

The Tremors feat Kurang Skill Company menggambar Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
The Tremors feat Kurang Skill Company menggambar Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Kabar baik buat saya, sebaiknya buat kalian juga.

Tak banyak penulis Indonesia yang bikin saya mau  buang-buang waktu untuk mencatat dan menandai halaman. Budi Darma pernah memaksa saya melakukannya, Puthut EA juga, dan bulan lalu A.S. Laksana. Minggu ini saya berhasil dibikin repot oleh utusan dari Bumi Kekhalifahan Depok: Yusi Avianto Pareanom, atau saya lebih senang memanggilnya Pamanda.

Tenang saja. Setelah saya baca, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi bukanlah buku antologi khotbah atau novel kompilasi laporan cuaca. Ya, kau tahulah, tak ada yang perlu dicatat dan ditandai pada halaman-halaman buku semacam itu. Mengerti, kan? Maksudku cara menikmati fiksi yang ditulis penceramah mirip adegan rutin salat Jumat: Mendatangi masjid, duduk anteng, sesekali bolehlah mencabuti karpet masjid atau cekikikan membaca tulisan di punggung kaos jamaah di depanmu, bisa juga menebak-nebak alasan orang di sebelahmu mengenakan batik yang dipenuhi logo Chelsea F.C. sambil mendengarkan juru ceramah membaca ulang buku Khotbah Jumat Pilihan, dan pulang, dan tak ada yang terlalu penting buat diingat. Salah satu sifat buruk saya barangkali tidak tega merepotkan diri sendiri, kabar baik dari sifat itu saya jadi punya waktu luang buat edit foto teman, sebagai hadiah. Dongeng yang ditawarkan Paman bukan yang semacam itu. Saya lebih senang mengutuk ketimbang memuji buku ini. Di negara asal Arthur Harahap, orang-orang mengekspresikan rasa sayang mereka dengan cara merapal sumpah-serapah.

Buku dongeng keparat. Bikin saya harus membacanya dua kali: Pertama buat dinikmati, dan yang kedua dengan sukarela saya menandai kalimat-kalimat, paragraf, dan dialog yang mungkin akan ada gunanya buat kesenangan saya nanti. Pembacaan pertama, sialnya, menyenangkan, padahal kalau tidak, tak bakal ada pembacaan kedua. Hasil dari pembacaan kedua: Malu dan minder, dalam satu paket. Anjing. Kalau kau menyukai tulis-menulis, kau seharusnya akrab dengan pikiran macam begini. Ketika kau berhadapan dengan tulisan bagus, kau seketika menyesali keputusanmu menulis dan berpikir untuk menjadi guru bimbel saja, sepertinya jauh lebih mudah dan menenangkan. Pertanyaan yang muncul adalah, harus berapa buku lagi yang saya, dan kamu, baca supaya bisa menyusun kalimat sejelas dan seefektif buku dongeng ini? Penempatan humor yang sesuai porsi: tidak kapiran, tak membuat sang narator seperti stand up comedian murung yang terpaksa melucu agar bisa mengganti tisu toilet mereka secara berkala. Belum lagi karakter-karakter yang muncul, tugas mereka jelas dan kita bisa dengan mudah menebak sifat mereka hanya melalui dialog. Raden Mandasia semacam bersalto dari satu daratan ke daratan lain dan seakan tidak peduli, dan dengan lihai Pamanda Yusi meletakkan segala muslihatnya di lorong sasakala yang menghibur tanpa perlu bikin pembaca berusaha keras menyibak makna yang, barangkali, memang tak ada di sana. Karena saya tidak suka merepotkan diri sendiri, tentu saya menyukainya.

George de Fretes di beberapa aksi panggungnya menunjukkan kebolehan memetik gitar dengan mata tertutup, Andi Tielman dan Jimi Hendrix menggigit senar, Ray Manzarek kadang bermain-main dengan kursi putarnya atau sekadar melonjak-lonjak kecil di kursi, dan banyak aksi panggung eksentrik, bahkan akrobatik, dipertontonkan musisi-musisi sialan lain. Kebanyakan larut dalam ekstase, lupa bahwa penonton mereka adalah makhluk yang bisa muntah kapan pun ia merasa mual atau gusar kala akal sehatnya dikhianati. Sebagian jempalitan namun tetap menjaga kesadaran dan tempo permainan, sehingga bisa memainkan lagu hingga tuntas. Model pertama, sekalipun beberapa barangkali menganggap keren, menurut saya menyebalkan. Sebab kalau cuma kepengin melihat aksi kocak orang mabuk, saya bisa datang ke bar dangdut di Terminal Cibinong atau menonton video kesaksian seseorang yang pernah mewawancarai jin. Dongeng Raden Mandasia adalah model kedua. Ia sadar betul bahwa aksi panggung adalah bagian dari pertunjukkan, penonton tidak boleh kecewa, meski begitu tak lupa bahwa kepuasan diri sendiri tetap yang utama. Tidak kelewat egois sampai-sampai mencelakai akal pirsawan. Pamanda Yusi, sialan, paham betul caranya.

Nyaris semua elemen yang kau perlukan untuk menulis prosa fiksi (bahkan non-fiksi, barangkali) yang asyik terangkum dalam novel ini. Kini kau tahu, kau tak perlu lagi bertanya bagaimana cara menjadi Juru Cerita kepada seorang maniak aforisme, mantan pengamat dekorasi Taman Eden, atau tukang tipu yang menawarkan kebenaran dan lapar persetujuan.

Melewatkan titik terbaik untuk mengakhiri cerita barangkali sudah dilakukan orang pandir sejak zaman leluhur Raden Mandasia hobi mencuri daging Mammoth yang sedang memamah-biak di tepi Sungai Songhua. Jika neraka ada dan ternyata banyak pengarang di sana, saya kira mereka masuk neraka bukan gara-gara dosa akibat bermain-main dengan konsep penciptaan atau membuat pembacanya bikin agama baru atau kelewat menyiksa tokoh utamanya atau gara-gara meniduri pembacanya, kemungkinan besar mereka masuk neraka akibat  mengecewakan pembaca dengan menyajikan akhir cerita yang buruk; memaksa terus bercerita saat tiba di titik terbaik untuk menamatkannya, lebih buruk lagi dibuatkan sekuel meski tahu kerangka logika di cerita sebelumnya tak didesain buat menampung cerita lanjutan. Sang omnisains pun tahu kapan hari terbaik buat berhenti, padahal mudah baginya membuat ‘Kisah Penciptaan Jagat Raya bagian 2’ toh, manusia merespon bagian satu dengan sangat baik. Saat tiba di halaman 448 buku dongeng Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, ia meneguk kopi lantas menunjukkan gelagat perpisahan. Kami yang tak tahu diri tentu merengek, memintanya lanjut bercerita barang dua ratus halaman lagi. Tapi, sudah diputuskan. Cukup. Dongeng berakhir dan tak ada yang terluka. Bukankah itu kabar baik?

Iklan

3 tanggapan untuk “Raden Mandasia adalah Kabar Baik

  1. sedang menikmati buku ini (sudah setengah bagian dilahap), dan seketika saya merasa betapa bacaan saya selama ini masih sangat “miskin. untung saja bisa berkenalan dengan karya Pamanda Yusi (jika boleh saya menyapanya demikian) di usia saya yang masih terbilang muda ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s