Bung John

Makhluk abadi. Evolusi merancang makhluk itu untuk bergegas mengganti organ yang rusak dengan yang baru: gigi baru akan tumbuh menempati ruang kosong di gusi tempat gigi yang tanggal, kulitnya akan segera luruh digantikan kulit baru sebelum berkeriput, sepasang tungkai kaki dan lengan yang selalu nampak segar meski ia berdiri sepanjang hari di trotoar yang teriknya minta ampun di siang hari, tulang-tulangnya berhenti tumbuh saat tingginya mencapai seratus tujuh puluh lima sentimeter dan ia secara otomatis mengisi kalsium. Tak ada tumpukan kolesterol di dinding arterinya. Jantung dan paru-parunya meremajakan-diri setiap bulan. Ia tak akan terkena kanker kulit meski saban hari disemprot asap kendaraan, tak ada virus dan bakteri yang menyewa tempat terlalu lama di tubuhnya. Makhluk itu hidup selaras dengan lingkungannya, tak pernah merasa terlalu panas pun terlalu dingin, tak bisa lapar, dan tak butuh-butuh amat udara segar. Selama ia tak butuh mati, selama ia berpikir hidup lebih baik daripada mati, ia tak akan mati.

Kami memanggil makhluk itu Bung John, ia berwujud manusia, sebenarnya, hanya saja kurang–atau sama sekali tidak–manusiawi.

Kita tahu ada pohon yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun, mendekati definisi abadi, hingga suatu hari mereka ditemukan dan kayunya dipakai untuk dijadikan ranjang tempat kita meniduri selingkuhan kita dan lima puluh tahun kemudian ranjang itu sudah menjadi bubur kertas. Atau kura-kura yang bertahan selama 175 tahun hingga 25 tahun kemudian berakhir di restoran makanan laut lalu kita berak dan kotoran kita dimakan cacing dan seterusnya. Atau komposisi Beethoven yang kemudian melebur ke musik-musik moden, cerita-cerita rakyat yang ditulis ulang dan dikawinkan dengan kehidupan perkotaan, dan lainnya, semua nyaris mendekati definisi abadi, tetapi keabadian model begitu tidak bisa disebut benar-benar abadi seperi Bung John. Bung John tidak didaur-ulang, tidak menjelma menjadi entitas baru, tidak dikremasi dan abunya dibuang ke laut dan masuk ke tubuh ikan atau menempel di anemon, tidak. Bukan yang seperti itu. Ia abadi secara harfiah. Bung John yang dilihat manusia purba adalah Bung John yang sama yang kita lihat tengah berdiri di trotoar petang ini.

Dia punya penis, dan kita bisa melihat penisnya tiap kali kita melewatinya, itulah mengapa ia mendapat sapaan ‘Bung’. Ia berdiri dengan dua kakinya. Seseorang yang bosan melihat tampangnya pernah memotong kakinya dengan kapak, ia terjatuh hingga kakinya tumbuh lagi beberapa menit kemudian. Seorang pengemudi mobil di bawah pengaruh sabu-sabu pernah menabraknya, kau tahu, melindasnya, dan ia sudah berdiri lagi sebelum polisi datang ke TKP.

Ilmuwan-ilmuwan tak bisa membuktikan kalau ia hantu atau siluman–dugaan kami meleset–mereka sepakat memasukkannya ke dalam kategori manusia. Ia mamalia, sama seperti kita dan lumba-lumba. Tak ada keraguan soal itu.

Tapi kukira Bung John sudah lama ‘mati’, atau sesederhana ia memang tidak ada.

Kematian sepertinya adalah bagian dari cara makhluk hidup bertahan hidup. Jika kau tidak mati-mati, maka kau tidak turut andil dalam usaha-usaha kami melestarikan kehidupan. Jika kau tidak berpartisipasi, singkatnya, kau tidak ada. Keabadian Bung John tak mempengaruhi harga beras dan bawang merah, karena tak kepengin bicara–saat kakinya dikapak, ia menjerit kesakitan, dan seseorang mengklaim pernah mendengarnya berbicara–ia bahkan tak memberi kesaksian sejarah. Ia tak berguna bagi peradaban kota ini, negara ini, dunia ini, barangkali.

Kusesap kopi sambil memandangi Bung John. Aku membayangkan isi pikirannya: ia hanya belum bosan hidup. Aku jadi ingat Paradoks Zeno tentang jarak. Ia tengah melaju menuju titik kebosanan, tetapi tak akan pernah sampai ke titik itu. Setiap kali melangkahkan kaki, ia tiba di ketak-terhinggaan, dan ketak-terhinggaan lain menantinya di depan; ia tak akan bisa bosan.
Matanya melihatku, saat itulah aku merasa sedang berdiri di tengah cermin yang saling berhadapan. Dan itu menjemukkan. Memuakkan, tepatnya.

Maka kuambil garpu makan dan kuhampiri ia dan kutusuk berkali-kali di bagian manapun yang kusuka. Tiap kali bagian tajamnya menembus kulit, aku merasakan kepuasan tak terhingga. Dan saat kucabut, lubang itu lenyap tanpa bekas.

Bukan hanya aku yang pernah melakukan ini. Boleh jadi seluruh penduduk kota pernah melakukannya, seisi negeri ingin melakukannya, bahkan seluruh penduduk dunia. Kami, barangkali, iri kepadanya yang tak pernah merasakan cinta dan patah hati, kegembiraan menyambut bayi dan kesedihan di hari pemakaman. Atau sesederhana kami hanya membencinya.

Triliunan generasi, triliunan kematian. Anak yang bengek 200 tahun yang lalu mungkin pemicu ditemukannya obat batuk hari ini, jika 30 tahun lalu tak ada orang yang bosan atau muak karena tak seorang pun mendengar ocehannya atau frustrasi sebab tak ada yang tahu bahwa ia sedang patah hati barangkali tak akan ada twitter hari ini. Segalanya berkembang berkat kelahiran dan kematian. Dan Bung John tak ada di sana. Tiap makhluk tersambung dalam rantai evolusi, kecuali Bung John. Ia ada sekaligus tidak ada, dan jadi menyebalkan karena ia memiliki fisik yang bisa disentuh dan terluka.

Seekor anak kucing bermanja-manja di kaki kanan Bung John sementara garpuku tengah tertancap di bola matanya. Bulu cokelatnya terkena tetesan darah tetapi kucing itu tidak peduli.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s