Gerhana Matahari

Dari jendela kamar indekos teman saya, saya bisa melihat sebuah apartemen. Bangunan paling tinggi yang saya temui selama saya berada di kota itu.

Hari itu saya membawa-bawa buku saku ‘Petunjuk Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983’ yang disusun oleh Dr. Djoni N. Dawanas. Buku itu ditujukan bukan hanya sebagai panduan menonton gerhana matahari, melainkan berisi petunjuk dan eksperimen apa yang bisa dilakukan saat gerhana matahari terjadi.

Siang itu saya bangun dan bergegas mencari air putih dan rokok. Teman saya belum, ia biasanya bangun setengah hingga satu jam setelah saya atau sebaliknya. Kami jarang bangun tidur bersamaan.

Saya membuka halaman secara acak dan berhenti di halaman 42, membaca bab VII: Apa yang Dilakukan Para Ahli?

Sesungguhnya saya tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan para ahli saat gerhana terjadi, yang membuat saya tertarik membaca adalah penggambaran suasana ketika gerhana matahari terjadi di paragraf pertama, dan saya hanya membaca paragraf pertama. Di sana tertulis:

“Pada saat gerhana total, hari yang tadinya terang benderang sedikit demi sedikit meredup dan akhirnya gelap sama sekali. Dan bintang-bintang, juga planet, menampakkan dirinya di langit, tidak ubahnya seperti malam hari saja. Burung-burung, ayam dan binatang lainnya berlarian pulang ke kandang masing-masing, karena mengira hari telah malam. Suasananya benar-benar mencekam, apalagi kalau di sekitar kita keadaannya sunyi-senyap. Juga suhu udara yang tadinya cukup panas, tiba-tiba menjadi rendah akibat berkurangnya pancaran sinar matahari.

Saat seperti itulah yang dinantikan Mar. Tinggal di apartemen ukuran studio yang ruang geraknya serba terbatas nyatanya tidak membuat ia lebih dekat dengan Ed, suaminya. Dan kondisi ini memaksa Mar menyalurkan kebosanannya dengan berlangganan majalah Metanormal. Edisi bulan lalu menyebutkan keajaiban apa yang mungkin terjadi saat gerhana matahari. Ia tidak ingin mempercayainya, tetapi merasa perlu. Dan hari ini pun tiba.

Ed sedang sibuk dengan pekerjaannya. Meja kerja Ed dipenuhi pulpen dan segala macam dan ia lebih menyayangi benda-benda di atas mejanya ketimbang apapun di dunia ini. Ia bahkan tidak peduli dengan gejala alam yang jarang terjadi dan tengah berlangsung saat ini. Ia menyalakan lampu meja tanpa menoleh. Mar diam-diam mendekati jendela. Kegelapan sementara ini harus dimanfaatkan dengan efektif.

*

Dab mengiris bawang merah setipis-tipisnya. Minyak goreng di wajan menyerupai danau di hari tanpa angin, untuk memastikan apakah minyak itu sudah panas Dab melempar selembar irisan bawang goreng. Terdengar suara berisik seiring irisan bawang naik dan mengapung dan mengering di permukaan minyak. Dab mengangkat talenan plastik kemudian menarik-jatuhkan semua irisan bawang ke wajan dengan sisi pisau yang tajam.

Sebelumnya ia sudah memecahkan telur, menjatuhkan isinya ke mangkuk merah, dan mengocoknya. Setelah itu ia mencampur bumbu dapur dan jahe bubuk. Ia tidak pernah mencoba ini sebelumnya, biasanya ia hanya menambahkan merica atau cabai bubuk, tetapi hari itu ia sedang flu dan rasanya bubuk jahe bisa menghangatkan badannya. Kalaulah tidak enak ia hanya perlu membuangnya, pikirnya. “Lagipula bawang goreng selalu berhasil membuat makanan apapun jadi bisa ditelan,” simpulnya sendiri. “Tidak enak, tapi bisa ditelan.”

Ketika ia mengangkat mangkuk merah dan bersiap mencampur adonan dadar dengan bawang goreng di wajan, seketika jendela di sisi kanannya–satu-satunya tempat keluar masuk sinar matahari di dapur–berganti suasana. Seperti seseorang baru saja dengan seenaknya memutuskan untuk menutupnya dengan kertas karbon raksasa. Dan kegelapan itu serta-merta menyerap seluruh cahaya dapurnya.

“Apa-apaan?” gerutunya.

Namun kegelapan mendadak itu gagal mematahkan semangatnya untuk menggoreng dadar untuk makan siang. Ia tetap menuang adonan telur ke wajan. Aroma jahe yang cukup kuat menyeruak seiring cairan kental itu terjun bebas ke minyak goreng, memunculkan bunyi-bunyian khas saat seseorang sedang menggoreng. Dab bersiul. Memegang spatula, menggosok hidungnya, menarik ingus, dan bersiul. Pertama ia menyiulkan lagu pembuka kartun Scooby Doo, karena tidak terlalu hafal, ia menggantinya dengan lagu Panbers yang tiba-tiba bercokol di kepalanya. Ia bahkan tidak ingat judulnya.

“Aku bosan.” Suara seorang perempuan merusak siulannya, dan ia benci disabotase.

“Bisakah muncul nanti saja? Tunggu aku selesai satu lagu, atau selesai memasak. Kau ini, kebiasaan.”

“Kau nggak kaget kenapa aku bisa ada di sini sekarang?”

“Bukankah kau memang begitu, Mar? Datang dan pergi semaunya.”

Mar tertawa. “Kau delusional, kau tahu? Coba ceritakan menurutmu bagaimana aku bisa sampai ke sini?”

Dab membalik telur di wajan. “Kau sedang berdiri di tepi jendela. Kau berdoa semoga ekor naga yang sekarang sedang menelan matahari menyepakmu dari apartemen itu. Dan kau mendarat di sini, dan seenaknya bilang, ‘Aku bosan.’ Begitu?”

“Anggap saja begitu,” kata Mar. “Ceritaku akan lebih tidak masuk akal lagi. Lagipula aku cuma ingin lihat rambutmu.”

Sinar matahari kembali. Dab meniriskan telur dadar dan berbalik dan tidak ada siapapun. Ia menghela napas. “Padahal ingin kuajak makan siang,” gumamnya sambil berjalan ke mesin penanak nasi, memenuhi piringnya dengan butiran nasi, sebelum akhirnya menutupi gunung nasi itu dengan selembar telur dadar yang diameternya nyaris menyamai piring. Ia akan makan siang, tak peduli apa yang akan maupun baru saja terjadi.”

*

Perempuan yang berdiri di beranda kamar yang sedang saya perhatikan, yang nyaris berada di puncak apartemen, masuk kembali ke dalam kamar. Saya memasukkan buku saku ke dalam tas dan mengambil dompet, menarik selembar uang kertas untuk saya tukar dengan sebungkus kretek.

Jika perempuan itu Mar, maka ketika ia membuka pintu kamarnya ia akan kembali menghadapi Ed dan pekerjaannya dan kebosanannya sendiri. Dan di suatu tempat di waktu yang sama saat saya sedang berdiri di tepi jendela dan teman saya masih mengelap liurnya dengan bantal, Dab mungkin sudah selasai makan siang dan kini tengah menghirup aroma lemon dari sabun cuci piring.

Sudah saatnya saya membangunkan teman saya, pagi ini gantian tugasnya untuk keluar membeli sarapan dan rokok.

[Cerita dibuat di WC Fifa Chazali, Februari 2016]

Iklan

Satu tanggapan untuk “Gerhana Matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s