Keparat di Kursi

Tadi pagi saya, Sabda Armandio Alif, bertemu orang kurang waras. Saya menuduhnya begitu sebab begitulah ia nampaknya.

Ia duduk di tempat favorit saya. Saya mengalah dan duduk di sebelahnya sambil mencari-cari rokok yang saya tinggalkan sebanyak tiga batang dini hari tadi di kursi. Saya memintanya bangkit, siapa tahu rokok saya ia duduki. Alih-alih mengangkat pantatnya ia malah menyodorkan kotak Surya 12, rokok kami sama ternyata. Ia sudah membuka tutupnya, tersisa tiga batang. Saya mulai berpikiran buruk, orang ini mengambil rokok saya. Tetapi ia belum membakar satu pun, lalu buat apa?

Saya mengambil satu batang dan membakarnya. Ia menutup kotak rokok dan memeganginya dengan tangan kiri. Ia mengingatkan saya pada kebiasaan saya dulu, saya lebih suka memegangi kotak rokok ketimbang menyimpannya di kantung sebab lebih mudah kalau tiba-tiba ingin merokok. Saya sudah meninggalkan kebiasaan itu sebab tak jarang saya malah meremukkannya.

Ia bilang sudah duduk di sini sejak jam empat, menunggu saya bangun. Ada perlu apa? Pikir saya. Saya tidak kenal orang ini.

Lelaki ini, saya kira, habis mengonsumsi alkohol dan kopi dalam jumlah besar. Matanya merah saga dan napasnya bau bangkai kecok, kantung matanya hitam tipis, dan berkali-kali ia membetulkan posisi kacamatanya. Ia mengenakan setelan jas cokelat lengkap dengan sepatu kulit yang selaras. Saat menaikkan kaki kanannya ke lutut kiri, saya bisa melihat kaus kaki yang juga cokelat dengan tanda mata angin kecil berwarna putih. Sesekali ia melihat ke arah saya, dan tiap kali ia melakukannya ia tersenyum jenaka. Ia nampak lelah sekaligus bersemangat, lucu dan sedih. Seperti seseorang yang sedang berdiri di negasi antara mati dan tidak hidup.

Namanya Dabsa, begitulah ia memperkenalkan diri. Usianya 35 tahun dan ia menunggu saya sepagian.

“Memo,” katanya. “Memo yang kemarin.”

Memo apa?

“Yang ada di dompetmu.”

Orang ini mulai bikin saya takut. Kapan ia membongkar-bongkar dompet saya? Tunggu, di mana saya meletakkan dompet? Saya memeriksa saku dan tidak menemukannya. Membuka tas, memeriksa, dan tidak ada di sana.

“Cari apa?” tanyanya.

“Dompet. Dompetku hilang, kayaknya.”

“Saya jug punya dompet,” katanya. Dan saya tidak mau tahu soal itu, sih. Saya selipkan batang rokok di bibir dan bangun dan mencari-cari di saku jaket, memeriksa ulang saku celana dan tas, dan nihil. Benda kecil itu tidak ada di mana pun.

Saya memang lalai. Dua tahun lalu saya kehilangan tiga ponsel, dan tahun kemarin dua. Tapi saya tidak pernah kehilangan dompet. Kecuali ia tertinggal. Itu bukan dompet, sebenarnya. Beberapa tahun lalu, setelah membantu teman pindah rumah, ia memberikan benda itu. Sejenis tempat untuk menyimpan kartu nama. Ada buku kecil tepat di tengahnya, bersebelahan dengan tali untuk mengaitkan pena. Itu buku catatan, gereja tempat temanku beribadah memberikannya secara cuma-cuma. Pada kulit luarnya terdapat logo, nama, serta alamat gereja. Diharapkan buku catatan saku itu akan digunakan untuk mencatat ayat-ayat alkitab. Tetapi teman saya ini malah memanfaatkan ukurannya yang sedikit lebih dari dompet biasa dan lebih banyak kantung di dalamnya untuk menyimpan papir dan ganja. Ia memberikannya kepada saya sebagai balas jasa, ia bilang karena saya suka menulis sepertinya buku saku model begini lebih berguna bagi saya. Saya menerimanya dan menggunakannya untuk menyimpan papir dan ganja juga, hingg suatu hari karena gaji saya selalu kurang saya berhenti mengonsumsi benda itu dan mengubah fungsinya menjadi dompet dan tempat koleksi pick gitar. Saya memang lalai, sering menghilangkan atau meninggalkan sesuatu, kecuali dompet.

“Aku juga punya dompet,” ulangnya, kali ini dibarengi dengan gerakkan merogoh saku belakang celana yang mirip dengan gerakkan sedang menggaruk pantat.

“Itu dompetku. Keparat!”

Saya bersiap menghajar wajahnya. Oh, ini momen yang saya tunggu sejak semalam: menghajar wajah orang tak dikenal, mematahkan batang hidungnya, rusuknya, menghantam ulu hatinya, dan saya harap saya mendapat balasan setimpal.

“Memo,” katanya. “Aku punya memo, di dalam dompet ini, yang sepertinya untukmu juga.”

Ah, memo. Rupanya yang dimaksud kertas kecil bertuliskan: love is a flame dan blablabla… yang diselipkan seseorang beberapa waktu lalu. Saya ingat. Tapi orang itu pun lebih suka melihat saya menyerah, sepertinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s