Mewawancarai Dea Anugrah

Dari Hemingway ke Ayana JKT48

 

Dea Anugrah Cahaya Asia: Memancing di gurun, mendapat lele
Dea Anugrah Cahaya Asia: Memancing di gurun, mendapat lele [Foto original diambil dari laman Facebook Rozi Kembara]

Siapa yang tidak kenal Dea Anugrah?

Banyak, sih. Tapi, bagi mereka yang sudah kenal pun perlu dipertanyakan lagi: “Dea Anugrah mana yang anda kenal?” Apakah Dea Anugrah yang penyair? Yang cerpenis? Penulis esai? Pemuda Korea—yang belum menentukan sikapnya apakah memihak Selatan atau Utara? Atau Dea Anugrah yang Wota? Dan saya mendapat kabar bahwa Dea Anugrah lain akan menerbitkan buku kumpulan cerita pendeknya dalam waktu dekat. Luar biasa. Dan ini tidak menutup kemungkinan akan muncul Dea Anugrah lain di masa mendatang. Karena itu, saya membujuknya untuk mau diwawancara sebelum Dea Anugrah menjadi terlalu banyak.

Tapi, masalahnya, saya cuma kenal dengan Dea Anugrah yang lain, yaitu Dea Anugrah yang baru saja wisuda. Saya sebetulnya bertanya-tanya, ada berapa banyak Dea Anugrah di muka Bumi? Karena sedang menguras akuarium, saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan pertanyaan itu. Awalnya, saya menyuruh ia datang ke rumah saya di Citayam. Ia malas, katanya, dan malah berbalik menyuruh saya ke Yogya. Saya pun menjawab dengan alasan yang sama, dan menyuruh dia saja yang datang ke Citayam dengan iming-iming dia boleh membantu saya menguras akuarium. Lalu dia menolak dan menyebutkan 4.572.109 alasan mengapa saya mesti ke Yogya. Dan seterusnya, dan seterusnya hingga kami lelah dan memutuskan untuk bertemu di tengah-tengah gurun Gobi saja, lebih fair. Ya, saya kira itu cukup fair. Lagipula saya sudah sangat penasaran ingin melihat secara langsung олгой-хорхой atau yang dalam bahasa lebih akrab oleh mata saya ditulis Mongolian Death Worm alias Cacing Maut dari Mongolia.

Maka berangkatlah kami ke gurun Gobi dari kota masing-masing, saya sendiri naik penerbangan ketiga dari Bandar Udara Internasional Citayam.

Saya tiba lebih dulu dan memutuskan untuk mencari warung kopi yang ternyata tidak ada di tengah gurun, dan sekalipun ada saya ragu apakah mereka menjual kopi sachet karena uang di kantong cuma tiga ribu rupiah—kalian, kan, nggak perlu bawa banyak uang saat sedang menguras akuarium. Dalam perjalanan, saya bertemu seorang penggembala yang—seingat saya—bernama Subetei Yegu Sibaguchu Myagmar Altan Yediublugh Chingis Bukidai Khorichar Nogai dan saya bertanya dengan bahasa Indonesia apakah dia melihat kawan saya yang bernama Dea Anugrah? Dan ia menjawab dengan bahasa Mongol yang saya tafsirkan ke bahasa Inggris kira-kira “Who the fuck is Dea Anugrah?”  saya menjelaskan bahwa ia tak perlu kasar sebab saya cuma bertanya, tetapi orang itu malah memegang tangan saya dan menyeret saya dengan muka marah. Sepanjang perjalanan yang berkerikil dan penuh semak dan panas dan tidak ada warung kopi, saya berkesimpulan bahwa Gobi memang cocok mendapat julukan gurun.

Subetei Yegu Sibaguchu Myagmar Altan Yediublugh Chingis Bukidai Khorichar Nogai ternyata mengantar saya ke tempat di mana Dea Anugrah yang baru-saja-wisuda sedang membuat minuman fermentasi daun saxaul, ia memamerkan ikan lele hasil pancingannya selama menunggu saya. Ia sengaja membuat minuman agar kami bisa mabuk-mabukan sekaligus menghangatkan badan dan mungkin akan membuat suasana semakin akrab. Saya berterima kasih atas niat baik Dea Anugrah namun, melihat kondisi Gobi, saya pikir kita belum perlu menghangatkan badan. Dan Dea Anugrah setuju.

Penggembala tadi sudah hilang padahal saya mau berterima kasih. Ya, sudahlah. Saya mulai berbincang dengan Dea Anugrah, tetapi sebelum itu, saya bertanya apakah saya boleh menyebut Dea Anugrah dengan Dea Anugrah saja dan Dea Anugrah boleh menyapa saya dengan Sabda Armandio Alif? Sebab kata ganti ‘Gue’ dan ‘Lu’ nampaknya tidak sesuai dengan iklim gurun sementara ‘Saya’ dan ‘Anda’ terlalu formal dan ‘Aku’ dan ‘Kamu’ terdengar sedikit mengganggu mengingat saat itu kami hanya berduaan. Dea Anugrah setuju, tapi dia mengingatkan betapa merepotkannya kalau kami harus menyebut nama sepanjang itu dan ia menyarankan kami menggunakan nama kecil saja. Dan saya setuju.

Dio         : Assalamu’alaikum. Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Dea.

Dea        : Wa’alaikumsalam. Ya, semoga rahmat Allah senantiasa tercurah juga kepada Dio.

Dio         : Ada nggak sih pertanyaan yang sebetulnya pengen banget Dea jawab tapi sampai sekarang gak pernah ada yang nanyain?

Dea        : Bera yang pengen dijawab tapi gak pernah ditanyain orang.

Dio         : Ya, gak apa-apa. Eh, ini udah wawancara, yha.

Dea        : Hmm… gak ada, Dio. Kalo bayangin ditanyain orang, paling-paling soal lebih suka mana antara Cadillac sama Toyota. Tapi itu pun Dea gak tau jawabannya.

Dio         : Yakin nih gak ada? Ya, sudah. Lanjut, ya. ini agak personal nih, kalo mau off the record bilang ya. kenapa Dea akhirnya memutuskan untuk main Suikoden?

Dea        : Hhh… sebenernya lebih cocok dibilang ditakdirkan ketimbang memutuskan~ Dea gak sengaja nemu CD-nya di tumpukan CD koleksi kurang laku rental PS punya paman Dea, yang ditumpuk di situ biasanya cd-cd yang gak laku. Dea menemukan doi (CD Suikoden)dalam keadaan menyedihkan. Udah gak ada bungkusnya dan lecet-lecet. Takdir lainnya: pas Dea coba di rumah, itu kaset masih berfungsi dengan baik.

Oh iya, itu kejadiannya pas Dea kelas 3 SD dan game yang dimaksud adalah Suikoden 2 yang tentu saja dirilis setelah Suikoden (1). Dea malah baru main Suikoden (1) sekitar setaun setelahnya. Belasan tahun silam Dea mengenal seri Suikoden dan mainin secara berkala terus-terusan sampai sekarang karena merekalah hal terbaik dalam hidup Dea.

Dio         : Hmm~ oke, tapi kenapa Suikoden 2? Kenapa gak Shanghai Shoryu yang jelas memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak? Apa yang Dea kecil temukan dalam game tersebut sehingga?

Dea        : Dea main juga Shanghai shoryu. Main mahyong terus yang kalah telanjang itu kan? Tapi maennya nga di rumah lach, di rumah temen hhe

Dio         : Iya, tepatnya kalau Dea berhasil merontokkan semua biji mahyong maka Dea akan dikasih gambar telanjang sebagai imbalan atas jerih payah Dea. Kalau di rental langganan Dio dulu, yang main biasanya om om kesepian~ Jadi, gimana-gimana, kenapa Suikoden 2?

Dea        : Yang Dea temukan dari Suikoden 2 waktu itu adalah hmmm menarik yha ceritanya. Beberapa hari kemudian, penemuan itu berkembang jadi: hmmm cerita itu menarik yha ternyata. BTW di masa-masa itu Dea juga mainin 3 game dahsyat: Chrono Cross, Final Fantasy 8, dan Star Ocean (lupa nomor berapa, yang jagoannya bawa pestol laser). Tapi cinta Dea hanya untuk Suikoden~

Dio         : Waktu menyukai cerita game itu, apa sempet terpikir kelak puluhan tahun mendatang Dea akan jadi pengarang?

[Dea tidak menjawab, sibuk mengamati unta yang lewat.]

Dio         : Jawab, plis, ada pertanyaan lain yang tak kalah penting menunggu Dea~

Dea        : Wkwkwk puluhan taun~ Belasan taun yha paling kalo sejak waktu itu ke sekarang.

Nggak. Waktu itu cita-cita Dea banyak dan beragam, kalo dari semua cita-cita itu Dea paling nggak belajar kemampuan dasar yang diperlukan, Dea yakin rennaisance man kontemporer macam Ryu Murakami bakal manggil Dea senpai.

Dari sekian banyak cita-cita itu, nggak ada yg nyerempet-nyerempet tulis-menulis. Kalo karang-mengarang sih bawaan orok. Sejak kecil Dea suka nipu teman sepermainan. Dan karena banyak orang mempertahankan keluguannya sampai dewasa, Dea juga mempertahankan kesukaan terhadap tipu-menipu sampai dewasa. Tapi seandainya suatu hari, mungkin 20 tahun mendatang ,orang-orang tiba-tiba nggak lugu lagi, Dea mungkin bakal stop mengarang. Udah nggak asyik.

Dio         : Nah, soal tipu menipu dan game. Dea kan gak main Resident Evil karena alasan personal ya, tapi misalnya Dea direkrut Capcom buat nulis cerita Resident Evil kesekian, akan Dea terima gak? Dan kalau iya, kira-kira apa yang akan Dea rombak dari Resident Evil pendahulunya?

Dea        : Nggak, karena Dea cuma pernah main Resident Evil Nemesis, itu pun gak tamat. Singkatnya, Dea gak paham ‘semesta’ RE. Dan mustahil ngubah kalo ngga paham. Hehe. Alasan personal apaan. Takut zombi dan hantu-hantu dan monster-monster itu universal, Dio~

Dio         : Wah, sungguh di luar dugaan. Emang sejak kapan sih Dea takut hantu? Apaka perna ada pengalaman?

[Dea menundukkan kepala, memijat-mijat dahinya]

Dio         : Maaf, ya. Dio sebetulnya cuma menyiapkan pertanyaan kalau jawaban Dea ‘ya, diterimalah’, jadi sekarang Dio terpaksa mengubah rencana dan harus bertanya kayak gitu.

Dea        : Nggak [Dea menggelengkan kepala, lalu berjongkok sambil mainan pasir]

Dea gak suka game yang ada puzzle-nya, gak suka juga game platform yang melompati rintangan-rintangan. Capek. Yang Dea sukai dari video game yha ceritanya. Wkwkw. Makanya hampir semua yang Dea mainin genre-nya RPG (Role-Playing Game; permainan yang para pemainnya memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk merajut sebuah cerita bersama.)

Kalau takut hantu itu sebenernya lebih mirip ‘ciri yg diwariskan’ ketimbang sifat yang muncul karena pengalaman tertentu. [Dea bangkit dan berbalik cepat] Apakah agama-agama, lewat para padri dan orang tua, yang mewariskan ketakutan terhadap hantu? Siapa lagi?!

Dio         : hmm~ tenang Dea. Dea hanya korban… jangan sedih, ya. insya Allah kita bisa bantu. Sekarang, ini agak sentimentil, tapi berkaitan dan perlu nih.

[Hening]

Dio         : Dea pernah diculik wewe gombel gak?

Dea        : [Setelah yakin akan dibantu, Dea mulai terlihat lebih santai] Nggak, sih. Tapi pernah dideketin tukang sabit rumput (yang diam-diam dicurigai warga kampung Dea sebagai tukang penggal kepala anak-anak buat ganjelan jembatan) dan dikejar banci pas SMP kelas 1. Eh, yang disamper tukang penggal anak-anak itu masih sd ding.

Selain itu, Dea punya mimpi yang sering berulang, sejak kecil sampai sekarang: mimpi dikejar satu skuadron tentara, tapi lolos karena sembunyi di semak-semak. Yang horor, makin ke sini, di mimpi itu jarak Dea sama gerombolan pengejar makin dekat dan pas mereka nyari di semak-semak, makin dekat juga sama persembunyian Dea. Hhh. Jadi polanya berulang tapi intensitasnya naik. Syeram. Biasanya dialami sekali atau dua kali dalam setahun.

Dio         : Hmm… seram juga, yha. Ada pengalaman apa lagi yang Dio perlu tau supaya kita tambah dekat?

Dea        : Hmm emangnya kita mau sedekat apa nih? Xixixi

Dio         : Uwuwuw :3

Dea        : Ya, nggak ada lagi, sih. Jadi selain takut hantu, Dea juga takut tentara. Dan takut aktivis feminisma, takut miskin, dan takut impoten. Kira-kira itu sajalah ketakutan Dea sebagai manusia yang berdikari alias berdiri di atas dua kaki sendiri tapi tidak berbulu seperti ayam. Apaan. Hhh.

Dio         : Dea takut kecoa gak? Dio sih iya, karena mereka bisa terbang.

Dea        : Kecoa sih nggak. Dea gak takut binatang sih. Kecuali 2, manusia sama belalang sembah~

Dio         : Tapi kalau skuadron tentara di mimpi Dea tadi diganti dengan member JKT48 kira-kira apa yg akan Dea lakukan?

Dea        : Tetep lari. Dea gak suka cewek agresif, Dio. Kecuali pada pake kostum lateks.

Dio         : Oh iya, ngomong-ngomong soal JKT48, ini ada pertanyaan titipan dari Kangmas di Jakarta. Kenapa suka Ayana?

Dea        : Ayana lucu, kalo ngomong pengucapannya ga jelas uwuwuw Dea sukaaa~ Ayana juga mengingatkan Dea kepada kukang, hewan yang paling Dea sukai di dunia ini xixixi

Dio         : Hmm… konon Yona JKT48 penikmat game Persona, kan Dea juga. Kenapa Dea gak meng-oshi-kan Yona?

Dea        : Ini menyakitkan nih, tapi buat Dio ya Dea bagi deh. Orang tida bole bertinju di luar kelasnya~ Alias yona terlalu keren buat Dea. Hhh. Apa bole bikin, ngidol juga tau diri sikitla, plisla~

Dio         : Hhh…

[Kami sama-sama terdiam sesaat]

Dio         : Lanjut, ya. Mengenai game Persona sendiri, apakah Dea juga suka karena ceritanya?

Dea        : Yes, tapi yang Dea suka dari Persona bukan cuma ceritanya, tapi juga gameplay-nya, desainnya, musiknya. Sebenernya buat semua game yang Dea sukai faktor-faktor itu ngaruh sih, walaupun emang gak sebesar cerita. Oiya, Dea cuma main Persona 4 sama Persona 3 FES. Tapi karena mendapat kepuasan, Dea akan memainkan persona 5 juga~ Dari trailernya saja suda terbayang sebesar apa keni’matan yang bakal Dea reguk kelak fu fu fu~

Dio         : Iya betul… hhhh makanya Dio mendoakan semoga kumcer Dea laku dan bisa beli konsol baru~ Soal buku kumcer sendiri, selain demam, apa yang mungkin orang dapatkan setelah membacanya?

Dea        : Dea sih penginnya orang-orang yang baca jadi lebih suka baca Al-quran, Alkitab, dan kitab-kitab suci lainnya. Karena segala yang baik berasal dari Allah dan manusia adalah tempatnya salah dan dosa.

Buku Dea seperti cilok, tidak ada manfaatnya tapi sebaiknya anda beli. Karena kalo ga ada yang beli cilok, Abang cilok akan berhenti jualan cilok. Dan tidak ada yang bisa menjamin apakah mata pencaharian baru yang dipilihnya bermanfaat atau nggak. Dengan kata lain, hidup ya begitu-begitu aja tapi tidak hidup juga begitu-begitu aja, jadi yaudah biarin aja.

Oiya, dukung Arman Dhani dapat pacar di kuartal pertama 2016 ya! Meski punya pacar ya begitu-begitu aja dan ga punya pacar pun begitu-begitu aja. Hehe.

Dio         : Dio sebetulnya ketawa pas baca soal Arman Dhani, Dio bisa aja ngetik ‘wkwkwk’ atau ‘hahaha’ supaya Dea tau Dio ketawa. Tapi biarlah ketawa Dio jadi milik Dio sendiri… baikla, karena ini sudah kepanjangan, kita langsung aja yha ke 3 pertanyaan pamungkas~

Pertama,  siapa 3 tokoh yang Dea pikir banyak memberi manfaat buat Dea. Dio sih berharap Dea akan jawab serius, biar setidaknya bisa memunculkan kesan obrolan ini ada manfaatnya~

Dea        : Hemingway, Schopenhauer, dan Laksamana Maeda.

Old Man and the Sea adalah novel ‘serius’ pertama yang Dea baca. Waktu itu nemunya gak sengaja di perpus SMP, tapi sampai sekarang pengaruhnya besar buat Dea. Karena buku itulah yang membuat Dea jatuh cinta pada cerita dalam bentuk tertulis. Mas Arthur (Schopenhauer) mengubah cara Dea berpikir. Karena dia, Dea melihat dunia dengan cara yang jauh lebih syegar dan jernih dibandingkan sebelumnya dan bonusnya, untuk ukuran filsuf (kontinental pula), cara nulis beliau penuh gaya~ sebetulnya banyak, tapi dua orang itu yang utama~

Dio         : Okelah. Kalau Hemingway dan Schopenhauer dengan senang hati Dio menerima tanpa perlu alasan. Tapi Laksamana Maeda?

Dea        : Nggak, sih. Tiba-tiba aja inget namanya.

Dio         : Yha~ Cukup, Dea.

Dea        : Lah katanya 3 pertanyaan pamungkasnya?

Dio         : Iya, sabaaaar~ Ih Dea nggak sabaran.

Dea        : Nggak bisa.

Dio         : Jangan gitu dong, Dio nggak suka dibentak.

Dea        : Dea berdarah panas karena ayah Dea dispenser~

Dio         : Ini yang paling penting dan alasan utama Dio wawancara Dea. Simak baik-baik.

Menurut Dea apakah Sofyan cocok dengan Yona JKT48?

Dea        : Hmm… sekarang, sih, belum. Ntar ya Sop kalo udah jadi bapa-bapa buncit pejabat atawa pengusaha kayak Adiguna Sutowo atau siapalah gitu~

Dio         : HAHAHA. Oke, ada pesan khusus?

Dea        : Pesan khusus, ya?

  1. Iman adalah sebagian dari iman
  2. Mana nech naskahnya?
  3. Ayo mabu
  4. Apakah nama tengah penyihir Babidy?

Dio         : Segitu aja?

 

Langit mendadak gelap. Saya lupa angkat jemuran, saya bilang begitu ke Dea Anugrah. Meski terlihat sedih, Dea akhirnya merelakan kepergian saya. Saya menumpang burung Simurgh yang kebetulan sedang gunting kuku di bawah pohon kurma dekat kami. Dea bilang ia akan tinggal beberapa waktu. Saya tanya apakah dia bermaksud menunggu ilham atau wahyu? Dea menggeleng dan menjawab: “Dea sedang mencoba jimat pancing baru. Siapa tahu dapat ikan lain.”

Baiklah.

Iklan

3 tanggapan untuk “Mewawancarai Dea Anugrah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s