Kamu: Cerita yang Sebaiknya Berguna

Kalau tidak berguna, ya, apa boleh buat.

Bulan ini tepat satu tahun novel ‘Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya’ diluncurkan di Post Santa. Saat ini, barangkali, novel itu ada di rak bukumu atau di dalam tasmu atau tergeletak di lantai bersama barang-barang lain di dalam indekosmu. Alangkah manusiawi kalau saya berharap kalian menikmati isi novel itu, meski klise, harapan model begitu lahir tanpa bisa saya cegah. Perkara apakah kalian berbahagia atau bersedih atau malah tertarik untuk menggeluti bisnis alat bantu seks setelah membacanya, jelas bukan urusan saya. Tetapi begini, saya mau cerita sedikit:

Bulan lalu, awal tahun 2016, saya bertemu Dea di depan Taman Ismail Marzuki, Pemuda Harapan Bhutan itu baru tiba di Jakarta menjelang Isa. Ia datang jauh-jauh dari Jogja untuk memindahkan buku-buku di indekosnya di Jagakarsa yang sewanya tidak diperpanjang. Malam itu ia mengenakan kaus bergambar orangutan, satu dari tiga ilustrasi di novel ‘Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya’ buatan Toro Elmar yang saya cetak di kaus putih sebanyak empat buah dan saya bagikan ke teman-teman. Setelah itu kami bergegas ke bar di mana teman lain sudah menunggu kami di sana.

Satu tahun sudah lewat, dan saya masih tidak percaya ada orang yang mau menuntaskan membaca novel itu. Mulanya saya kira novel itu hanya akan digunakan oleh buaya-buaya di penakaran untuk mengganjal dagu mereka, menemani mereka bermalas-malasan sambil menunggu Sang Pawang memberi makan.

Sabtu malam di tengah tahun 2014, saya dan Dea bertemu di kedai kopi sekaligus markas penggemar Arsenal atau Liverpool (saya lupa, dan sesungguhnya tidak tahu apa beda dua tim sepakbola ini). Dea bercerita bahwa tim penggodok naskah di Moka Media sempat tertawa dan mengira bercanda dengan judul yang terpaksa saya berikan untuk novel itu. Mulanya novel itu saya beri judul ‘Sendok’, karena saya tidak pernah sempat memikirkan judul dan cuma kata itu yang melintas di kepala saya beberapa menit sebelum memutuskan untuk mengirim naskahnya melalui e-mail ke redaksi Moka Media. Sebuah novel biasanya memerlukan judul. Dan meski saya masa bodoh, tetapi saya tidak kepengin menyusahkan orang-orang di penerbitan–terutama tim pemasaran–karena itu terpaksa saya harus memberikan judul. Dan ‘Sendok’, meski buruk, tetapi rasanya cukup untuk membedakan naskah novel saya dengan yang lain dan meringankan kerja teman-teman di Moka Media.

Setelah itu kami menyelipkan obrolan tentang Hemingway dan sebagainya, tetapi lebih banyak membicarakan game yang kami mainkan. Dea mengaku berulang kali memainkan Suikoden II dan saya penyuka Shin Megami Tensei: Nocturne dan ternyata Dea juga memainkan Shin Megami Tensei versi lain dan kami sama-sama pernah menamatkan beberapa seri Final Fantasy dan sepakat memilih Pokemon daripada Digimon. Lalu kami bertukar cerita lucu soal orang mabuk. Dan tentu, meski sedikit, menyelipkan obrolan yang mengharuskan kami bertemu: naskah novel ‘Sendok’. Dea menyarankan saya mengganti judul, meski ia bilang ‘Sendok’ pun tak apa, tetapi sesungguhnya dari obrolan tersebut saya merasa ia lebih senang kalau saya menemukan judul lain. Jadi saya mulai memikirkan judul lain.

Saat menulis Kamu dan si narator, saya tidak membayangkan wabah yang menyerang suatu kota atau raja Efira yang mendorong-dorong batu di punggung gunung. Saya lebih senang membayangkan seorang pemuda berdiri di tepi pantai, memegang pistol, dan orang yang tergeletak di pasir dengan luka tembak. Tidak sempat membayangkan darah atau bunyi pistol atau debur ombak atau posisi matahari: peristiwa penting sudah terjadi dan waktu mendadak berhenti setelahnya. Kecuali keringat yang memberontak dari keharusan dengan tetap meluncur di pelipis pemuda berpistol, tak ada lagi yang bergerak di dalam potongan gambar itu; dan itu membuat rokok saya terasa pahit. Semacam humor yang kira-kira sama menyenangkannya dengan membayangkan Abu Bakr Al-Baghdadi, pemimpin ISIS, tidak pernah mencuci celana dalamnya dan garuk-garuk selangkangan di balik mimbar. Atau saya sekadar menulisnya dengan tingkat kebencian dan kebosanan yang sanggup memaksa kambing gunung berevolusi menjadi kambing laut, atau malah bisa jadi saya tak membayangkan apa-apa, entahlah, yang pasti saya mengunggah naskah novel itu di blog ini di tahun 2013 sebab saya merasa cerita tersebut omong kosong yang tidak perlu dicetak dan diperbanyak–dan di blog ini pula naskah itu dilirik Moka Media.

Saya berkata begitu kepada Dea, kami berbincang cukup serius di tengah penggemar sepakbola yang sedang menggoblok-gobloki tim kesayangan mereka. Dea berhasil meyakinkan saya bahwa, yah, tidak ada salahnya ikut andil menyesakkan dunia dengan omong kosong. Saya sepakat. Setelah itu kami membahas ukuran buku yang menurutnya perlu dibikin kecil agar, siapa tahu, kelak toko buku khilaf dan meletakkannya di rak buku impor. Lalu membahas mengapa Konami begitu tidak berperasaan dan hal-hal lain. Dan terakhir Pemuda Harapan Bhutan yang belakangan diketahui aktif pula di Korea Utara itu memastikan saya sudah menemukan judul lain di pertemuan selanjutnya.

Di tahun 2012 saya sedang membereskan folder-folder di harddisk komputer dan menemukan cikal-bakal naskah novel itu. Tulisan lama, yang ruwet dan kalau dicetak jumlah halamannya mungkin akan cukup untuk membungkus sekitar empat ratus nasi uduk. Karena kekurangan hiburan dan kelebihan waktu luang, saya memangkasnya sedikit demi sedikit untuk diunggah ke blog ini.

Akhir tahun 2010 saya menyelesaikan sebuah cerita yang mengerikan. Ruwet dan mengerikan, dan barangkali berpotensi membuat Wittgenstein marah-marah saking tidak logisnya.

Seseorang di luar sana berkata bahwa karyamu adalah anak yang kau lahirkan. Dan saya membayangkan jika suatu hari saya bertemu orang itu dan orang itu tahu ‘anak’ saya dan nasib buruk memaksa kami harus berbasa-basi dan dia mulai bertanya serupa pasukan berani mati menekan pelatuk senjata otomatis di medan perang:

“Apa jenis kelamin anakmu? Mirip siapa dia? Lahir normal atau operasi? Tepat waktu atau prematur? Diinginkan atau tidak diinginkan? Apakah kamu sudah adzan di telinganya? Aih, atau mau kau buang saja? Nih, aku punya plastik kresek hitam. Ayo kuantar ke Bantar Gebang. Atau mau saya bikinkan peti mati saja agar lebih terhormat?”

Saya mungkin tidak punya jawaban yang akan memuaskan siapapun, baik orang itu maupun saya sendiri. Jadi saya ikuti sarannya: memendamnya di harddisk dan masa bodoh. Menelantarkan sesuatu adalah pekerjaan mudah, kan? Kau hanya perlu menelantarkannya. Karena itu saya memutuskan untuk membuang keinginan menjadi penulis dan memposisikan diri sebagai pembaca saja, sesekali menerjemah tulisan yang saya suka, semacam satu dari empat-ribu-lebih-sedikit upaya menghibur diri.

Begitulah. Tidak ada jaminan saya akan menerbitkan novel lagi mengingat saya, seperti kalian, punya kegemaran lain yang tak kalah pentingnya. Saya tidak percaya novel berisi cerita yang tidak perlu-perlu amat dipercaya itu nyatanya memperkenalkan saya pada wilayah-wilayah baru; teman-teman baru, baik yang sudah maupun yang belum sempat bertemu, yang meski brengsek seperti lazimnya manusia tetapi baiknya minta ampun. Terima kasih. Senang kenal kamu semua~ hehe.

Sudah, ah.

Setelah jalan-jalan sore bersama Fifa, Sofyan, dan Rangga di kawasan Glodok, menepi ke Tebet dan lalu Teguh Purnomo datang membawakan kami ‘hadiah’, dan setibanya di rumah saya harus membuang ‘hadiah’ itu di toilet sambil mengetik tulisan ini ditemani Make A Smile dari The Eraderheads, Heart of Gold dari Neil Young, Landslide-nya Stevie Nicks, dan Perfect Day dari Lou Reed. Kalian boleh mendengarkannya, kalau mau.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s