Longsor

…you can’t get away from yourself by moving from one place to another. -E. Hemingway

Karena kesal dengan semut yang selalu tiba-tiba sudah berkumpul di bibir cangkir kopinya, Dabsa membuat lingkaran dengan kapur anti-serangga. Garis tepinya sekitar setengah sentimeter dari alas cangkir. Setelah itu ia lanjut membaca The Sun Also Rises.

Baru tiga sesap, bibirnya kembali merasakan sesuatu yang familiar: tidak ada ampas kopi yang mampu bergerak-gerak dan memunculkan rasa pedas saat kau menggigitnya. Semut-semut kembali lagi. Dabsa menyumpah kelalaiannya meletakkan alas cangkir di luar lingkaran yang ia buat. Karena itu ia membuat lingkaran yang lebih besar. Kali ini jarak dari tepi alas ke garis kapur kira-kira sepanjang jari telunjuk. Cukup besar untuk mencegah ia mengulangi kesalahannya, namun tidak terlalu besar hingga menutupi kemungkinan ia akan melakukannya lagi.

Dabsa mengutuk dalam hati: semua cerita Hemingway seperti peti mati yang dirancang khusus untuk membakar kerangka di dalamnya.

Dabsa iri bagaimana mungkin seseorang bisa menutup rapat-rapat sesuatu tanpa perlu membuat hal itu mati kehabisan napas dan orang lain masih sanggup mencium aroma bangkainya? Meski begitu, ia tetap tak sanggup untuk iri kepada Hemingway. Tepatnya, ia merasa tak pantas untuk itu.

Dia menandai halaman dan memutuskan untuk berhenti membaca. Tangan kanannya meraih kuping cangkir, menyesap lagi kopinya, dan merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada di dalam kopi. Dia lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri karena lalai. Semut tidak bisa disalahkan atas ketololan manusia.

Dabsa memutuskan untuk menghapus lingkaran di meja dengan ludahnya, menggosoknya sampai bersih, dan menjadikan novel Hemingway sebagai alas. Itu novel yang, dalam kondisi tertentu, tidak enak. Maka seharusnya semut pun segan merangkak di tepinya. Pikir Dabsa. Kesimpulan yang cukup tolol dan rasanya lahir dari keputus-asaan yang teramat.

Mudah ditebak, Dabsa pasti menghabiskan usia belasannya untuk mendengarkan lagu-lagu sedih, dan kalau begitu orang mestinya bisa memaklumi mengapa ia mengambil keputusan yang menyedihkan seperti mendengarkan album Disintegration dari The Cure dan bukannya mengambil ponsel untuk menelepon Pip, meyakinkan orang itu supaya tetap bisa bersikap seperti biasa.

*

Dabsa dan Pip tertimpa longsor kemarin. Mereka sedang dalam perjalanan ke danau, melewati sebuah bukit, melindungi kepala masing-masing dari gerimis dengan hoodie, hingga tiba-tiba tanah bukit longsor dan mengubur seluruh tubuh mereka.

Dabsa yang sadar lebih dulu berusaha mencari Pip dalam kepungan tanah, ia bahkan lupa bahwa ia butuh udara segar. Sadar bahwa tindakannya sia-sia belaka, Dabsa mencoba menggerakkan tangannya, berharap tulang lengannya tidak patah. Ia mengusir tanah basah dan liat hingga ia punya cukup ruang untuk menggerakkan tangan kanannya dengan leluasa.

Hampir mati kehabisan napas, Dabsa berhasil mengeluarkan kepalanya sendiri. Tangannya yang bebas berusaha menyingkirkan tanah dan air dari wajahnya. Kemudian ia melihat wajah Pip. Syukurlah kepala anak itu tidak tertimbun tanah, pikirnya. Tetapi Pip terpejam. Mati? Segera ia memastikan perempuan itu masih bernapas. Dan memang ia masih bernapas.

Merasakan sesuatu menghalangi lubang hidungnya, Pip membuka mata dan melirik. “Kenapa kau bangunkan aku?”

“Aku nggak membangunkanmu, aku hanya memastikan kau belum mati. Sebentar, aku akan menolongmu.”

“Nggak perlu,” tukas Pip. “Kau pun sebaiknya nggak usah bangun lagi.”

“Apa-apaan, sih?”

“Ini salahku. Harusnya kita nggak perlu ke danau. Cuaca sedang buruk. Biasanya kau bisa berpikir lebih logis, harusnya kau bisa mencegah perjalanan ini.”

“Nggak ada gunanya bicara seperti itu, kan?”

“Dan nggak ada gunanya bangun lagi, kan?” Pip mengatupkan kelopak matanya. “Kita nggak perlu ke mana-mana lagi. Di sini saja.”

“Tapi kau harus pulang, dan tugasku mengantarmu pulang dan memastikan tak ada tulangmu yang patah.”

“Kau nggak punya tugas apa-apa.”

“Aku tahu.”

“Cuma di sini kita bisa selamat.”

“Itu absurd. Apanya yang selamat? Kita tertimbun dan kau sempat-sempatnya berpikir begitu. Sudahlah, ini bukan waktu yang tepat buat berdebat. Tetap bernapas sampai aku bisa membebaskan diri. Dan aku akan membawamu pu–“

“Kalau aku pulang,” potong Pip, “kau tahu, besar kemungkinan kita nggak akan bertemu lagi.

“Apa-apaan kau ini. Di saat genting malah berpikir aneh-aneh.”

“Itulah kenapa kau menyukaiku, kan?”

Dabsa tidak mengindahkan pertanyaan itu, dengan susah payah ia bersikeras membebaskan diri.

“Danau itu nggak ada di sana, kau tahu itu.” Pip berkata tanpa membuka mata. “Aku hanya senang berjalan bersamamu.”

Dabsa tidak peduli.

“Kita pulang dan akan kubuatkan kopi,” kata Dabsa.

“Kopimu sama nggak enaknya dengan kopi buatanku.”

“Kita pulang, dan…”

“Nggak bertemu lagi.”

“Intinya kita pulang.”

“Kau keras kepala sekali.”

“Karena itu kau menyukaiku, kan?”

*

Dabsa menimbang-nimbang apakah dia perlu menghubungi Pip atau tidak. Meski Dabsa percaya Pip bisa mengurus dirinya sendiri, ia tetap tak yakin apakah ia mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan apa-apa.

Akhirnya Dabsa hanya bisa bersandar di kursi. Lampu neon di atas kepalanya dikerubungi serangga, seekor cicak dengan sabar menunggu waktu yang tepat untuk, sekali lagi, mendapat makan malam. Tak ada cicak di kamar Pip, setidaknya Dabsa tidak pernah melihatnya sendiri.

Dabsa memikirkan sebuah danau. Danau yang, baik warna maupun dinginnya, sama seperti yang sudah disepakati olehnya dan Pip. Tempat itu kelak akan menjadi tempat yang menyenangkan, begitu kata Pip. “Ada gunung rawan longsor di sisi kanan dan kita mencelupkan kaki di danau, beradaptasi dengan dinginnya air, sebelum akhirnya menyeburkan kakinya hingga sebatas lutut sambil sesekali melirik gunung itu.”

Dabsa tidak mengerti mengapa Pip ngotot menempatkan sebuah gunung yang berpotensi longsor dan mungkin menguruk tepi danau itu.

“Ia harus ada di sana, agar kita waspada.”

Kalimat Pip tiga malam yang lalu berputar kembali dan karena itu Dabsa lekas-lekas mengenyahkan pikirannya tentang danau dan, sekali lagi, menyesap kopi bersama semut yang tidak peduli siapa Hemingway.

[Catatan yang siapa tahu nanti ada gunanya]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s