Toko Sek [4]: Apakah Ikan Domba Kesepian?

Ini pertanyaan super-dungu yang pernah kudengar. Dan rasanya tak berhubungan dengan ibuku.

Ada banyak pertanyaan bagus, mengapa Pip memilih pertanyaan yang jelas-jelas tak layak dipertanyakan? Pertama, aku tidak pernah sekalipun mendengar spesies ikan domba. Ini bisa kumaafkan, mungkin aku saja yang kurang membaca. Kedua, aku tak pernah melihat ikan meratap, atau bergembira, atau bersedih. Ekspresinya selalu sama. Jadi bagaimana aku tahu ikan itu sedang kesepian?

Ikan yang sendirian di dalam akuarium, kan, belum tentu kesepian. Kita tidak berhak menuduh sembarangan.

Meski begitu aku tetap memikirkannya di jalan menuju sekolah. Salahku memang memilih menjadi orang yang selalu menepati janji.

“Kuda tambah ayam, kuda tambah ayam.” Seorang perempuan mengucapkan sandi rahasia di belakangku. Aku mengurangi kecepatan berjalan sambil berpikir, kira-kira, ada urusan rahasia apa pagi-pagi ini? Aku ingin bertanya langsung saja, sebab aku sedang pusing memikirkan pertanyaan Pip. Saat aku menoleh, sang pemberi sandi sudah tidak ada.

Segera setelah menaruh tas di kursi aku berlari kecil menuju tempat rahasia nomor enam. Ya, jumlah kaki kuda ditambah kaki ayam sama dengan tempat rahasia nomor enam. Itu sandi anak laki-laki di kelas kami, sebuah ruangan tertutup tempat menggelar pertandingan gulat atau main kartu atau apapun tanpa ketahuan guru. Perempuan yang tadi menyebut sandi pastilah Kim, dia satu-satunya cewek yang diberi tahu sandi itu. Dan meski kurus dia jagoan mengunci lawan saat sedang gulat, asal kau tahu saja.

“Lihat apa yang kubawa,” kata Kim sembari menyerahkan sebuah kotak bertuliskan ‘Obat Kuat’. “Ini akan membuat otot-ototmu besar dalam satu minggu, kau cuma perlu menambahkan susu kuda atau kambing.”

“Sudahlah, Kim,” kataku. “Aku bisa menciutkan ukuran otak Si Otak Kelereng sampai sebesar lada, tanpa bantuanmu, atau siapapun.”

Otak Kelereng yang kumaksud adalah Jun, laki-laki yang pernah tak naik kelas selama tiga tahun di kelas satu karena masih belum bisa mengenali 25 dari 26 alfabet. Mitosnya, saat kelas satu ia harus menghabiskan dua buku tulis untuk menghafal bentuk huruf ‘A’. Mitos ini aku yang buat, dan ketahuan minggu lalu, karena itu ia menantangku berkelahi bulan depan. Ia cengengesan dan berkata bahwa satu bulan lebih dari cukup bagiku untuk latihan Pencak Silat. Dan aku menambahkan julukan ‘Otak Kelereng’ sebelum tawanya, dan kawan-kawannya, mereda sehingga dengan kurang bijak dan tanpa menunggu kata sepakat dariku ia memajukan jadwal berkelahi jadi minggu depan.

Jun memang tipikal anak yang tak butuh pendapat maupun persetujuan orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan dan ini kuceritakan pada Coro dengan harapan ia datang untuk membantuku. Kata Coro, sifat Jun mengingatkannya padaku. Sialan betul si Coro, berani-beraninya dia menyamakanku dengan Si Otak Kelereng. Ia memang kakak yang kurang peka, di saat-saat genting malah mengomentari hal tak perlu. Coro bahkan tahu aku tak butuh pendapatnya tentangku.

Jadi terpaksa aku harus menghadapinya seorang diri. Kim tahu ini, karena itu ia sejak beberapa hari terakhir menyuruhku melakukan hal tak perlu.

Kau nggak akan menang, Juls. Katanya, dan menambahkan: “Kalau kau babak belur, aku yang repot.”

Apa-apaan cewek ini. Siapa pula yang menyuruhnya merepotkan diri? “Aku mungkin nggak akan menang,” jawabku. “Tapi kupastikan aku nggak akan merepotkan siapapun.”

“Tapi kau anak Yatim, Juls.” Kim menepuk pundakku. “Rasul menyuruh kita menyayangi anak Yatim.”

Apa-apaan?

Agak kesal, sih. Tapi aku memakluminya. Kalimat seperti itu hanya mungkin diucapkan oleh anak SD kelas 6 yang berusia 12 tahun, aku harus bisa menahan amarah. Bagaimanapun dari sorot mata dan tepukan bahunya kurasa ia tulus. Aku tak tahu standar ketulusan meski begitu aku cukup bisa meyakinkan diri bahwa anak ini memang sungguh-sungguh ingin kurepotkan. “Begini saja. Kalau kau mau kubikin repot…”

Ia mengerutkan dahi, ia tak mengerti. Kata Rud kita sebisa mungkin memaafkan orang yang tak mengerti, aku menurutinya sesekali.

“Maksudku begini,” terangku. “Kalau kau sungguh-sungguh ingin membantuku kau boleh mencari tahu apa itu ikan domba kesepian.”

Ia masih mengerutkan dahi, dan aku bukanlah anak yang sabar. “Atau kau nggak perlu membantuku sama sekali.”

Aku ingin sekali membantumu, katanya. “Apalagi kau anak Yatim.”

Mengapa anak ini jadi suka menggunakan istilah ‘Yatim’? Aku tak melihat hubungan antara anak Yatim dengan bantu-membantu sehingga aku mengembalikan pembicaraan ke relnya. “Kalau begitu tolong cari tahu ikan domba saja dulu. Kau tahu kan cara kerjaku?”

Kim mengangguk cepat hingha rambut panjangnya meruapkan wangi shampo yang familiar di hidungku. Aku juga memakai shampo yang sama. Terbesit keinginan untuk membicarakan shampo, namun kuurungkan. “Beri aku data, dan kita akan diskusikan soal ‘kesepian’ kalau datanya sudah siap.”

Kami berpisah untuk menghindari kecurigaan. Kim berjalan ke kanan semantara aku ke kiri, kami bertemu lagi di depan pintu kelas secara nyaris bersamaan dan berpura-pura tak terjadi apa-apa.

Siangnya saat tiba di toko, aku melihat Coro sedang menyuruh pelanggan membaca buku ensiklopedia tembakau. Berbeda dengan Rud, Coro kurang tertarik berbincang mengenai tembakau. Ia tidak mencintai tembakau, katanya pada suatu hari, bahkan tidak mencintai apapun.

Aku tahu karena aku pernah membaca buku catatannya. Ia juga sedang menulis sebuah novel, tetapi ia tidak pernah mengakuinya. Mungkin ia takut bersaing denganku. Meski begitu, seperti yang sudah kukatakan, aku senang membaca buku catatannya yang kucurigai adalah rancangan novelnya. Di dalam novel itu, seorang pecandu sabung ayam bernama Eliakim berkata begini:

“Latihlah dirimu untuk tidak mencintai apapun; tidak membutuhkan apapun, dan hasilkanlah uang sebanyak-banyaknya.”

Aku rasa ia sedang mencurahkan pikirannya, sebab begitulah nasihat Rud: Imajinasi itu terbatas, dan kita bisa memperluasnya dengan banyak membaca. Membaca membuat kita memikirkan banyak hal. Mungkin akan membuat kita ingin menulis karena kita memikirkan sesuatu, tetapi pengetahuan kita selalu terbatas. Itulah mengapa kita masih harus memperluas batas imajinasi kita dengan terus membaca. Menulis jadi tidak penting kalau kau tidak membaca, sebab tak ada hal penting yang kita pikirkan. Jadi, menulislah sesekali saja, dan usahakan ditulis dengan gaya agar terlihat keren, begitu petuah Rud, “Kau harus terlihat gaya supaya orang percaya dengan tulisanmu.” dan kurasa Coro pun mengikuti saran Rud sebagaimana aku melakukannya. Aku tak percaya orang seperti Rud yang membiarkan anaknya kebingungan mencari ibu kandungnya bisa berkata begitu. Aku curiga ia mendapatkannya dari Grace, dan Grace mendapatakannya dari orang lain, dan orang lain mendapatkannya dari orang lain lagi. Ini lebih mudah kumengerti.

Seekor tikus sebesar bola kasti berjalan di atas kabel yang menghubungkan antara lampu dengan saklar di sisi lemari penyimpanan temabakau. Kabel itu melewati atas lemari, menjadi jembatan bagi tikus. Sebelum kabur tikus itu melirikku sebentar, seolah mengingatkan bahwa aku tak punya kalimat menarik yang bisa kucatat hari ini.

[BERSAMBUNG]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s