Bodo Amat dan Tiga Mitos Generasi Beat

Suatu hari, seorang raja yang bijak pernah bersabda: “Bodo amat.” Dan sabda itu saya ulang-ulang tiap kali saya membuka portal berita atau media sosial atau SMS dari provider. Petuah itu ternyata cukup mujarab untuk meleburkan kekesalan dan ketidak-mampuan saya melakukan sesuatu untuk mengubah sesuatu, dan cukup artinya sudah lebih dari cukup. Setiap hari saya berdoa semoga Sang Raja dan keluarganya dinaungi nasib baik hingga 112 generasi.

Konon setelah bolak-balik melanggar hukum, terjerat kasus narkotika, dan menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, Bob Kaufman harus tinggal di dalam masyarakat yang dibencinya. Kekesalannya memuncak pasca menyaksikan pembunuhan John F. Kennedy dan ia bersumpah untuk ‘puasa ngomong’ sampai Perang Vietnam berakhir. Saat perang berakhir ia membatalkan puasa ngomongnya dengan pergi ke sebuah kafe dan membacakan puisi ‘All The Ships That Never Sailed’. Rumor yang cukup menyentuh hingga kita menyadari bahwa ia menerbitkan tiga volume buku dalam rentang waktu antara kematian JFK dan berakhirnya Perang Vietnam dan, yah, dalam prosesnya besar kemungkinan dia berbicara kepada seseorang atau minimal melempar satu-dua kata kepada pembacanya saat menandatangani buku.

Saya ketawa membaca ‘mitos’ Bob Kaufman tadi, dan kalau suatu hari saya kepengin menceritakan mitos ini kepada seseorang kemudian orang itu bertanya, “Itu beneran?” Saya akan menjawab dengan meminjam petuah Si Raja Bijak: Bodo amat.

Mitos lain yang tak kalah menggugah datang dari novel favorit saya, On The Road karya Jack Kerouac. Konon setelah berkeliling Amerika dan menjalani liarnya hidup di jalan, Pak Kerouac ini mengisi-ulang tenaganya dengan kopi dan benzedrine dan mulai menulis manuskrip On The Road dengan energi meletup-letup dan menyelesaikan 120 halaman dalam waktu tiga hari tanpa jeda.

Tiga hari. Luar biasa, kan? Ya, bahkan saat saya membaca cerita lain yang lebih masuk akal: Selama pengembaraannya Pak Kerouac mencatat apa yang ia perlukan untuk novelnya di dalam jurnal pribadi dan dia menghabiskan banyak waktu serta kerja keras membuat dan memeriksa ulang draft novelnya hingga siap dipublikasikan. Versi cerita yang ini pun menyebutkan ia memang menyelesaikan seratus dua puluh lembar, tetapi perlu waktu tiga minggu. Dan ini lebih terdengar wajar tetapi saya lebih suka versi pertama sekalipun memang sulit dipercaya. Lagipula tak seorang pun, termasuk Kerouac sendiri, yang meminta saya untuk mempercayai cerita kedua. Jadi, bodo amat.

Di tahun 1965 protes Perang Vietnam membara di San Fransisco karena keteguhan Allen Ginsberg dan Ken Kesey. Pada awalnya gelombang protes dihalangi oleh Hell’s Angels yang muak dengan aksi demonstran anti-perang dan menyebut mereka komunis. Ginsberg dan Kesey akhirnya mengadakan pertemuan dengan Sonny Barger, ketua geng Hell’s Angels. Keduanya berhasil meyakinkan Pak Kepala Geng dan malah membuat Pak Kepala Geng terkesan hingga ia memuji dua penulis itu. Rumornya, Ginsberg menghadiahi Pak Kepala Geng LSD dalam jumlah yang sangat banyak…

Benar atau tidak, tentu dengan mudah saya berkata: bodo amat.

Di dalam mobil travel menuju Depok, saya mengingat tiga mitos tadi. Ya, menganggap ketiganya angin lalu itu semudah mengarahkan kursor dan mengklik magnet torrent. Meski begitu, ternyata, saya tidak bisa benar-benar bodo amat. Dan menyadari fakta ini, di dalam travel yang AC-nya tepat mengarah ke wajah saya dan kemacetan di pintu tol Cikarang dan supir yang memutar lagu R&B dengan setelan bas melewati batas kewajaran cukup mengganggu saya.

Dua hari yang lalu saya menyerah saat menerjemahkan cerpen Jonathan Safran Foer, lalu saya beralih menerjemahkan esai Alain de Botton padahal tidak ada yang menyuruh saya melakukannya, lalu saya berbaring dan memutuskan untuk tidak peduli. Minggu lalu saya memutuskan untuk tidak peduli dengan teror di Sarinah, tapi nyatanya itulah yang mendorong saya menerjemahkan esai Alain de Botton.

Hingga kalimat ini diketik, saya sendiri masih penasaran apa tujuan saya menulis ini. Tapi, begini, ya. Suatu hari, seorang raja yang bijak pernah berkata: “Bodo amat.”

Tapi, Mas Raja, ada yang lumayan sulit dimasa-bodohi. Perpisahan, misalnya. Atau kematian seseorang akibat kedunguan orang lain.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Bodo Amat dan Tiga Mitos Generasi Beat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s