[3] Toko Sek: Dandelion

Jadi orang tak bisa sembarang menuduhku anak kurang ajar hanya karena aku memanggil kakakku tanpa panggilan hormat seperti ‘Kak’, ‘Bang’, ‘Mas’, dan sebagainya. Aku bahkan memanggil ayahku dengan namanya saja: Rud. Dialah yang memintanya sendiri.

Semasa hidupnya, Rud menghabiskan waktu untuk menghafal wangi tembakau. Ingatan Rud sebenarnya bagus, dan mungkin akan sedikit mengubah nasib kami kalau saja ia menggunakannya untuk hal-hal berguna. Ia bisa menghafal sebuah tempat kemudian melukisnya ulang dengan kemiripin mendekati 80%, yang lebih luar biasa mengejutkan dari itu ia hafal lebih dari tiga nomor telepon di ponselnya. Meski begitu, ia tidak hafal nama-nama presiden dunia, karena itu aku suka memasukkan kategori ‘Nama Presiden’ ketika kami berempat (Aku, Coro, Rud, dan Pip) main ABC Lima Dasar. Cuma di kategori itu aku bisa menyaingi ketiga lawanku.

Satu keahlian yang tidak diturunkan Rud kepadaku maupun Coro adalah Rud tidak pernah lupa menyiram dandelion di depan toko. Bunga itu ditanam di pot yang ia buat sendiri dari talang air yang dipotong sepanjang satu setengah meter. Bagiku tanaman itu lebih mirip belukar yang sebaiknya tidak ditanam jika maksudnya untuk memperindah dekorasi halaman. Tetapi Rud menyiraminya dua kali sehari: pagi dan petang. Sifat ‘suka melakukan hal sia-sia’ Rud kurasa mengalir dalam darah Coro.

Sejak Rud dipendam di tanah tanaman itu seperti hidup segan mati pun enggan. Di musim kemarau, dengan sisa-sisa mineral di dalam pot, tanaman itu terus berusaha menumbuhkan tunasnya sambil tetap merontokkan daunnya yang lain.

Hidup segan mati pun enggan
. Kalimat yang menarik. Aku akan mencatatnya nanti.

Jadi selagi Coro dan Pip merapikan toko aku beristirahat di depan pot. Terbesit keinginan untuk menyiramnya. Kaleng penyiram berada persis di pojok pot, aku hanya perlu berjalan beberapa langkah dan mengisinya dengan air. Namun sesuatu yang dingin menyentuh lenganku. Air. Oke, gerimis. Aku jadi tak perlu menyiraminya. Lagipula, bagaimana kalau mereka sebenarnya ingin mati? Maksudku, kalau begitu, tidakkah hujan malah memperpanjang penderitaannya?

Coro bilang hujan yang datang tiba-tiba di musim kemarau itu kiriman Rud dari surga. Ia pasti tidak pernah dengar isu Pemanasan Global.

Aku memikirkan bentuk bunga dandelion dan tiba-tiba aku ingat sesuatu. Segera kuberlari ke dalam toko, Coro dan Pip yang tengah asyik memisah-misahkan tembakau melihat ke arahku dan bertanya ada apa? Aku tak menjawab dan segera naik ke atas meja, memperhatikan satu per satu foto lalu melepas foto Grace. Di sana, di sela rambut keriting dekat telinga, terdapat sesuatu yang seharusnya sudah kuduga sejak awal. Dandelion.

“Dia ibuku!”

“Yang mana?” tanya Coro.

“Si Grace ini, lah,” kataku. “Ada dandelion di sela kupingnya. Ah tololnya, harusnya sudah kutebak sejak awal.”

“Kalau ada dandelion, lalu kenapa?” Coro berjalan mendekati foto. “Semua cewe ini ada dandelionnya.”

Kudekati foto lain dan… brengsek. Apakah Si Tua Rud ini suka merayu cewek dengan menyelipkan dandelion di telinganya? Klasik betul cara merayunya.

“Kau melanggar janjimu,” kata Pip. “Kau, kan, seharusnya menjawab pertanyaanku kemarin.”

Aku melengos dan menjawab enggan: “Ya, ya. Apa itu ibu? Ibu adalah perempuan yang dirayu dengan bunga semak-semak oleh seorang lelaki.”

“Jawaban apaan, tuh?” Coro menempeleng pelan kepalaku.

“Aku seorang empiris, Coro.” Kutatap wajahnya dengan tatapan sedikit menghina. “Jawabanku berdasarkan pengalaman dan pengamatan.”

“Taik kucing,” tukas Coro.

Aku bersiap menyerang Coro sebelum akhirnya Pip, seperti biasa, melerai kami dan memberikan pertanyaan selanjutnya.

[BERSAMBUNG]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s