Toko Sek [2]: Lima Pertanyaan

Jadi aku harus menunggu Coro keluar dari kamar mandi. Salahku memang membiarkan dia menguasai kamar mandi lebih dulu. Coro ke kamar mandi dua kali sehari, menghabiskan setengah hingga satu jam, dan anehnya dia lebih sering keluar dengan tubuh kering. Kau tak perlu menjadi pria duapuluhdua tahun untuk tahu bahwa ia tidak mandi.

Sambil menunggu Coro, aku berdiri lagi di depan tiga foto di dinding. Berdiri persis di tempat yang sama seperti semalam, dan tetap tak menemukan sesuatu yang penting. Aku tak percaya firasat. Itu omong kosong. Aku perlu bukti emp–apa istilahnya… sebentar, aku buka internet dulu. Rasanya ada istilah yang tepat dan terdengar keren.

Ah, ini dia: empiris.

Dari keterangan di ensiklopedia online, barangkali aku penganut empirisme. Semua keterangan mengenai ajaran itu cocok dengan sifatku. Siapa itu David Hume? Lain kali aku akan mencari tahu. Setidaknya aku sudah menjalani ajaran empirisme sejak usia tujuh atau delapan tahun tanpa pernah membaca satu pun tulisan Hume. Pengalaman mengajarkanku untuk tidak menginjak ekor anjing yang sedang tidur dan pengalaman pula yang mengajarkanku untuk tidak menatap kecoa terlalu lama, sebab ia akan marah dan terbang ke arahmu. Serta pengalaman jugalah yang menyadarkanku betapa tidak bergunanya dua binatang itu dalam kehidupanku. Dari pengalaman, aku baru bisa berpikir dengan jernih. Ini pencapaian yang mungkin bisa kubanggakan pada seseorang di masa depan.

Saat ini yang kuperlukan adalah bukti empiris, sesuatu dari ciri fisik tiga perempuan itu yang kira-kira mirip denganku. Aku harus mencari pengalaman baru dalam menatap ketiga foto itu.

Karena itu aku bergeser dua langkah ke kiri. Memandangi ketiganya selama satu sampai dua menit dan tetap tak ada perubahan. Karena itu aku bergeser empat langkah ke kanan, dan tetap tak ada perubahan. Kuputuskan untuk naik ke meja. Handuk biru yang melilit pinggangku melorot. Masa bodoh. Tak ada siapapun yang melihat.

Dari jarak sedekat ini ketiganya nampak lebih jelas. Bahkan terlalu jelas hingga kepalaku pusing. Ini bukan ide yang bagus. Aku terpaksa turun dari meja dan mundur sebanyak tiga langkah dan menatap foto-foto itu sekaligus mencoba mengumpulkan informasi mengenai ketiganya.

Foto pertama seorang wanita bernama Marini, rambutnya sedikit ikal dan dipotong pendek. Tulang hidung mancungnya menjaga agar kacamata lensa cokelat yang ia kenakan tidak melorot. Ia duduk di atas batu besar dengan kaki diluruskan dan tangan kirinya digunakan untuk melindungi celana dalamnya dari tangkapan kamera sementara tangan kanannya merangkul bahu ayahku yang di dalam foto itu berkacamata hitam, mengenakan kaus oblong merah pucat, dan jins model kuno. Foto kedua diambil di sebuah perpustakaan, kali ini wanita itu bernama Grace—atau ayahku sering memanggilnya ‘Si Lugu’. Si Lugu Grace menutupi tubuh atasnya dengan kemeja ungu pudar yang kebesaran, rambutnya lebih ikal dan lebih panjang dan lebih mengembang dari Marini sehingga membuat wajahnya nampak seperti kucing yang terperangkap di semak-semak. Si Lugu Grace terlihat kurang santai, ia menelungkupkan kedua telapak tangannya di depan dan tersenyum kaku ke arah kamera sementara ayahku merangkulnya dan tangannya yang bebas memamerkan sebuah novel bersampul biru dan ia tetap mengenakan kaus oblong merah pucatnya sambil tertawa penuh kemenangan. Wanita terakhir bernama Lina, foto diambil saat ia dan ayahku—yang masih dengan ‘seragam’ kebanggaannya—naik komedi putar di sebuah taman hiburan. Rambut Lina pendek dan kriwil, seperti gabungan dari Marini dan Grace. Tulang pipinya bulat dan bermata besar, tipikal wajah yang menyiratkan keramahan sekalipun ia sedang memaki-maki orang. Suatu hari aku pernah kebingungan mengisi formulir dari sekolah yang mengharuskanku menulis nama ibuku, sehingga aku meminta ayah mengisinya. Coba tebak apa yang ia tulis di sana? Marini Gracelina. Aku protes sebab alangkah tak masuk akalnya orang tua ini, sembarangan menyatu-nyatukan nama orang? Ayahku dengan ketenangan serupa kucing kekenyangan mengambil sebuah map di lemari berkas dan menunjukkan akta kelahiranku. Di sana tertulis nama ibuku: Marini Gracelina.

Bagaimana mungkin?

Mungkin saja, kata Ayah, “Kau cuma perlu menyelipkan selembar lima puluh ribuan saat bikin akta dan semuanya akan baik-baik saja.”

Apanya yang baik-baik saja?

Dari ketiga foto itu, aku menyimpulkan Marini patut dicurigai. Hidungku seperti hidungnya dan rambutku, kalau gondrong, pasti seperti dia. Dari satu sampai sepuluh, kemungkinan Marini ibu kandungku adalah lima karena Marini kelihatannya tidak suka membaca, itu bertolak belakang denganku. Aku benci istilah ‘kutu buku’, itu menjijikan, kau tahu, terkesan seolah sepanjang hariku dihabiskan dengan membaca padahal aku punya banyak kegemaran. Tetapi, sulit dipungkiri, aku memang suka membaca dan sedang menulis novel seperti yang pernah dilakukan Grace. Maka kuputuskan dari satu sampai sepuluh, Grace menyentuh angka lima juga. Tulang pipi Lina mengingatkanku pada Porco Roso dan Porco Roso mengingatkanku pada diriku sendiri. Si Coro yang bilang aku mirip Porco Roso, awalnya tentu aku marah dan menendang kakinya. Namun saat kembali ke kamar dan bercermin ternyata aku ada miripnya juga dengan babi itu. Dan Pip pernah berkata bahwa alis dan mataku didesain untuk meneduhkan hati orang yang marah, seperti Lina, itu menjawab mengapa Ayah tak pernah marah padaku. Cukup masuk akal. Dari satu sampai sepuluh, kemungkinan Lina ibu kandungku adalah lima.

Semuanya lima. Sengaja. Aku tak boleh gegabah.

Kutinggalkan handuk di lantai tempatku berdiri lalu pergi ke meja kasir untuk mengambil spidol permanen. Setelah itu aku kembali, menyingkrikan handuk, kemudian membuat lingkaran di lantai. Kutulis pula tanggal dan jam. Besok aku perlu meneliti dari sudut lain.

Pip datang sebelum aku sempat mengenakan handuk. Malu juga, tapi tak apalah. Toh, dia perempuan dan aku laki-laki dan yang membedakan kami cuma itu. Aku tak tahu apa yang kumaksud dengan kalimat tadi, tapi aku berlari ke kamar dan segera menulisnya di buku catatan. Suatu hari barangkali ada gunanya.

Coro sudah berada di toko, aku melihatnya saat berjalan menuju kamar mandi. Pip tengah menceritakan kejadian tadi dan samar kudengar Coro membahas ibu. Aku menguping percakapan keduanya. Sial sekali, aku tak tahan ingin pipis. Aku ingin tahu isi obrolan mereka, tetapi aku lebih ingin pipis.

Aku mandi sambil mengulang-ulang nama ‘Marini Gracelina’ yang kelamaan membuatku membayangkan sabun cair berwarna ungu. Nama itu rasanya lebih cocok jadi merek sabun cair atau sabun cuci piring.

Lepas berpakaian aku bergegas ke toko. Kedua orang dewasa ini belum memulai apapun. Luar biasa.

“Kenapa belum mulai?” kataku. “Kau nggak bisa angkat meja sendiri, ya? Atau perlu kuajari cara memegang sapu?”

Coro menghampiriku dan menjepit kepalaku dengan ketiaknya. Ya, dia belum mandi. “Kenapa kau berdiri di depan foto?”

“Aku nggak pinjam kakimu buat berdiri di sana, aku nggak pinjam matamu buat melihat foto-foto itu, jadi jelaskan padaku apa urusanmu bertanya seperti itu?” tanyaku seraya berusaha melepas jepitan ketiaknya. “Aku bahkan nggak memprotes kenapa kau nggak mandi lagi pagi ini.”

“Begini, adik manis. Aku cuma kepengin tahu apa yang kau pikirkan saat melihat foto itu.”

“Aku menyelidikinyalah, kau kira apa lagi?”

“Mau jadi Holmes, ya?”

“Heh, Coro. Kau tahu aku benci detektif itu.” Aku berhasil melepas jepitannya dan berusaha menjauh. Ia menatapku dengan mata belernya, aku balas menatap dengan tatapan seorang pria. “Holmes idiot. Cuma karena dia detektif bukan berarti dia nggak perlu tahu bumi berputar mengelilingi matahari. Dia nggak mau tahu soal itu, itu menjijikan. Tolong jangan sebut nama itu di depanku lagi.”

“Jadi kau mau kupanggil siapa? Poirot?”

“Panggil aku Julian, itu sudah cukup.”

“Panjuls…”

“Meledekku sekali lagi, jangan salahkan aku kalau hidungmu kupindahkan ke pipi.”

“Kau meracau seperti bocah. Menggelikan…”

Pip melerai kami dan merangkulku. Ia menarik tangan Coro dan memaksanya untuk menjabat tanganku. Kalau bukan Pip yang meminta, kami yakin kami tak akan berbaikan.

“Julian.” Pip menyebut namaku dengan gaya bicaranya yang khas yang membuatmu membayangkan seseorang menyanyikan lagu Nina Bobo di tengah kabut di film The Mist. “Kau ingin tahu siapa ibumu, kan?”

Aku mengangguk. Coro siap protes sebelum akhirnya Pip mencubit lengannya.

“Kalau begitu, aku akan memberimu lima pertanyaan. Kalau kau bisa menjawab semuanya, kau boleh berpikir ulang apakah kau perlu mencari siapa ibumu,” terangnya. “Satu pertanyaan dan pertanyaan selanjutnya akan kuberikan kalau kau sudah menjawab pertanyaan sebelumnya. Mudah kan aturan mainnya?”

“Kau mau menjebakku, ya? Kalau satu pertanyaan sangat menyukai pertanyaan lain dan pertanyaan lain menarik hati pertanyaan lain lagi maka nggak akan ada akhirnya. Kau cuma kepengin aku nggak tahu siapa ibuku. Begitu?”

“Lelaki yang cerdas…” Pip memutar matanya ke arah Coro. Apapun yang tengah mereka rencakan, masa bodoh, dipanggil ‘lelaki’ membuatku merasa perlu sedikit meredam kemarahan.

“Aku janji hanya akan memberimu lima pertanyaan,” ujar Pip. Ia memberiku kelingking kanannya. “Kau boleh meragukan janji Coro, dia memang masih bocah. Tapi kau nggak akan meragukanku, kan?”

Baiklah, aku menyerah. Apapun yang mereka rencanakan, aku punya rencana lain. Kalau Pip bermaksud menjebakku dalam pertanyaan tak-terhingga, maka tugasku membunuh ketak-terhinggaan itu. Membunuh ketak-terhinggaan. Terdengar keren. Aku akan menulis kalimat tadi sebelum lupa.

“Baiklah,” kataku. Kuberi ia kelingking kananku. “Lima pertanyaan.”

Pertanyaan pertama dari Pip: Apa itu ibu?

Pertanyaan konyol, tapi toh tak ada pilihan lain. Aku sudah kepalang setuju. Pertanyaan itu akan kupikirkan setelah toko selesai dibereskan, kataku.

“Nah, jadi kapan kita mulai beres-beres?” tanya Coro. “Aku sudah bangun kepagian, nih.”

“Tunggu sebentar,” tukasku. “Aku harus ke kamar dulu.”

“Eh, mau kabur, ya?”

“Gentleman tidak pernah lari, Bung.” Aku berlari ke kamar, mengingat-ingat kalimat tadi untuk menambah daftar kalimat favoritku. Siapa tahu ada gunanya.

[BERSAMBUNG]

Iklan

Satu tanggapan untuk “Toko Sek [2]: Lima Pertanyaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s