Toko Sek

Masalah-masalah yang Biasa Menimpa Laki-laki di Usia 22 Tahun

Ada tiga foto wanita di dinding toko. Salah satu dari mereka adalah ibu kandungku. Dan Ayah mati tahun lalu sebelum memberitahu kebenarannya–di masa sekaratnya ia bahkan tak ingat bahwa Indonesia sudah berganti presiden tahun lalu. Jadi, sebagai anak lelaki yang pintar, dan usia mentalku–Ayah dulu sering memuji usia mentalku, dan kini aku harus mengakui ia benar adanya–sepuluh tahun lebih tua dari anak-anak sepantaran. Tentu aku ingin tahu.

Aku memberitahu hal ini kepada Coro, kakakku–begitulah ia dipanggil teman-temannya, sebelum ia menjuluki teman-temannya dengan sebutan kumpulan-tahi-kucing-yang-diberaki-kelelawar dan kini ia tak punya teman selain aku dan Pip, pacarnya–dan kakakku tersayang yang tidak banyak gunanya bagi masyarakat dan bau ketiaknya mampu memusnahkan populasi kecoa di dapur (aku percaya kau tidak bodoh-bodoh amat, artinya aku pun percaya kau tahu fakta ilmiah bahwa kecoa tahan radiasi nuklir dan mestinya–mestinya, ya–kau tertawa saat kubilang ketiak kakakku mampu membunuh kecoa) berkata begini:

“Rasa ingin tahulah yang membuat Pandora membuka kotak titipan Jupiter dan membebaskan hewan penyengat kecil yang memperkenalkan ketakutan pada umat manusia. Jadi, apakah kita harus menjadi Pandora yang ke sekian juta dengan menuruti rasa ingin tahu kita? Jangan bercandalah, Juls! Itu akan merepotkanmu, tahu?”

Tapi, kakakku memang tololnya minta ampun. Dia tidak berpikir saat mengatakan itu, padahal aku dan dia membaca buku yang sama. Bukankah rasa penasaran pula yang membuat Pandora membuka kotak sekali lagi dan membebaskan hewan lain yang mengobati ketakutan itu? Dan bukankah pada akhirnya cuma keturunan Pandora (Bangsa Helenia) yang selamat dari petaka banjir kiriman Jupiter? Akhir yang tidak buruk-buruk amat, rasanya.

Jadi, apakah aku harus mulai membongkar rahasia siapa dari ketiga wanita di depanku ini yang merupakan ibu kandungku?

Aku ingat berita koran tadi siang yang sepertinya berhubungan dengan masalah ini. Rasa ingin tahu membuat sekelompok pemuda melakukan hal-hal tak perlu seperti: mencampur kopi dengan obat nyamuk oles. Dan mereka mati sebelum sempat memberi tahu hasil ‘penemuan’ mereka kepada dunia.

Dan rasa ingin tahu pula yang membuatku berdiri di depan ketiga foto itu, dan–sulit mengatakannya–menangis, sedikit, sebelum akhirnya berpikir untuk mencampur kopi hitam dengan obat nyamuk oles. Tapi, setelah kupikir-pikir, kematian model begitu tidak cocok untuk lelaki seumuranku.

Usia fisikku 12 tahun, ditambah usia mental artinya usiaku saat ini sebenarnya adalah 22 tahun. Tiga tahun lebih tua dari kakakku. Kakakku pernah berkuliah dan mengambil jurusan filsafat dan memutuskan hengkang dua bulan lalu karena merasa hanya dikerjai oleh para filsuf dan ia merasa dirinya pintar karena menyadari lebih dulu. Dan sejak saat itu dia menganggur, tidak punya teman, minum-minuman keras, menempelkan benda pipih aneh dijidatnya yang namanya bahkan tak terdaftar dalam KBBI, dan ketawa-ketawa melihat pengunjung toko tembakau kami. Dan karena itu pengunjung kabur.

Julukan ‘coro’ tidak cocok sama sekali, ia memang menjijikan tetapi bukan yang seperti kecoa. Aku lebih senang memanggilnya–sekaligus menghinanya–dengan sebutan ‘jerapah’. Kata Ayah, jerapah suka membersihkan hidungnya dengan lidah. Itu tolol, kan? Hidungmu bersih tapi lidahmu kotor. Suatu tindakan sia-sia yang cocok dengan kepribadian kakakku. Ia harusnya tersinggung kupanggil begitu, tetapi karena otaknya sudah kadung beku ia kerap mengira aku memanggilnya jerapah karena telinganya yang agak meruncing dan lehernya yang cukup panjang untuk orang seusianya. Dia salah sangka, ah, aku suka orang yang salah sangka. Sesungguhnya kalau ia mengerti, menghina fisik atau meledek orang dengan memanggil nama orangtua cuma ada di alam pikir anak-anak umur 12 tahun.

Jadi tiga perempuan di foto ini terus-menerus menatapku. Salah satu dari mereka adalah orang yang pernah menyusui aku dan kakakku. Kakakku pasti tahu dan seperti filsuf bajingan ia mempraktekkan jurus: aku tahu aku tidak tahu apa-apa. Itu cukup menyebalkan, ah andai usia fisikku benar-benar dua puluh dua tahun aku mungkin akan menyuruh orang untuk memukul kakakku dengan gayung mandi agar ia jadi monyet. Aku tak akan mengotori tanganku sendiri, dan orang cina ahli siasat perang di buku yang baru kubaca berkata begini: Pinjam tangan lawan menikam musuh.

Cara yang jenius. Akan kupikirkan nanti, kalau ada waktu. Saat ini aku ingin memikirkan persoalan yang lebih penting, tetapi setelah berlama-lama menatap dan memikirkannya perlahan ia jadi terasa kurang penting. Aku ingin minum vodka, meski begitu setelah kupikir masak-masak ternyata aku tak kepengin-kepengin amat. Susu coklat rasanya sudah cukup.

Jadi besok Pip akan datang untuk membantu kami membereskan toko. Saking tak bergunanya kakakku, ia membiarkan seekor tikus berkembang-biak di dalam toko tembakau. Dan suatu hari tikus itu perlu mengundang temannya, membentuk semacam desa di balik lemari-lemari, dan mulai beranak-pinak dan menggerogoti buku catatan utang-piutang.

Bulan lalu kakakku dikencingi tikus, karena marah ia mengambil sapu dan menghajar apa saja. Tak satupun tikus mati. Sebagai gantinya ia merusak mesin kasir, telepon, lemari kaca, koleksi buku-buku, dan sebuah globe. Sekaligus menghajar kaca depan serta merusak grandel pintu. Dan itu membuat toko kami seperti baru saja diinjak kaki Ultraman. Apa yang sesungguhnya ia pikirkan saat mengacau seperti itu? Hanya Tuhan yang tahu. Tapi kakakku tidak punya Tuhan, maka tak ada yang tahu alasan sesungguhnya. Kakakku seorang ateis meski ia tak pernah mengakuinya. Ia sudah memenuhi standar-baku-seorang-ateis yang kutahu, misalnya ia sudah melupakan doa sebelum makan. Padahal dulu ia selalu menyuruhku melakukannya. Dia ateis, aku bilang begitu namun dia mengelak dengan berkata kalau aku ateis lantas Ayah apa? (Ayahku tidak bisa membaca Al-Qur’an) aku bilang bahwa Ayah adalah ayahnya ateis. Sesederhana itu.

“Kalau begitu,” katanya, “kami akan bertemu di neraka dan kau sendirian di surga nanti. Jadi pikirkan baik-baik, belum terlambat untuk mengumpulkan dosa, Dik.”

Aku benci kakakku bukan karena ia seorang ateis atau karena ia memanggilku dengan sebutan ‘Dik’, hal sepele seperti itu tak sanggup melukaiku. Aku membencinya karena ia tidak mengaku kalau ia seorang ateis. Itu bukanlah sikap ksatria.

Aku harus mengantuk sebab besok kami mesti membereskan kekacauan yang Coro lakukan. Mungkin kami akan memasang jebakan tikus yang tidak melukai tikus. Bagaimanapun wajah Ayah mirip tikus, maka kami harus memikirkan cara lain. Itu usulku, dan Pip menyetujuinya. Kalau sudah begitu, Coro harus setuju. Sekarang aku harus ke kamar, mustahil aku ingin mengantuk di tengah kekacauan toko.

Dengan berhati-hati, aku memilih jalan untuk menuju pintu belakang. Saat aku membukanya, aku melihat Coro teler di ruang tamu. Televisi yang menyala tengah menyiarkan aksi terorisme di ibu kota. Pelaku bom bunuh diri itu gobloknya minta ampun, ya, itu sudah bukan rahasia. Kalau mereka pintar sedikit, mereka tentu akan mau bersabar sebab duapuluh tahun lagi toh mungkin mereka akan mati juga. Dan semua orang akan mati juga. Tak perlu repot meledakkan diri. Cuma orang super-dungu yang melakukan hal itu. Ini membuatku sedikit tenang, ternyata ada yang lebih dungu dari Coro.

Oh, iya. Toko tembakau kami bernama ‘Toko Sek’. Nama yang kurang keren, memang. Tapi usia toko ini sama tuanya dengan Tembok Ratapan, begitu kata Ayah. Untuk menuju ke sini orang hanya perlu naik kereta dan turun di Stasiun Depok Baru. Berjalan ke arah Terminal Depok dan belok kiri. Usahakan tidak mengenakan pakaian terlalu tebal, kau tahulah, cuaca panas mudah bikin orang marah dan terlihat lebih kekanakkan dari yang seharusnya.

Jadi besok hari Minggu dan aku harus membereskan toko. Aku sudah curiga toko kami menyembunyikan kebenaran mengenai ibuku mengingat di tempat inilah ibuku minggat enam bulan setelah melahirkanku. Satu dari tiga perempuan ini adalah ibuku, sisanya selingkuhan ayahku, dan satunya lagi mungkin selingkuhannya yang lain. Aku tidak tahu apakah aku siap menyambut kebenaran, banyak tokoh dalam novel yang kubaca tidak sanggup menerima kebenaran dan memutuskan untuk bunuh diri. Aku, sih, tak akan melakukan hal tolol seperti itu. Tetapi, aku tak kepengin kebenaran mencuri sesuatu yang membuatku kini merasa berusia 22 tahun kemudian membuatku bertingkah seperti anak-anak pada umumnya. Aku benci mereka, anak bau kencur itu. Setiap hari kerjanya menyuruh gadis-gadis untuk berdandan. Mereka tidak mengerti bahwa tidak semua gadis perlu dinasihati untuk jadi cantik, mereka cuma perlu cermin untuk mengurus diri sendiri. Begitulah yang tertulis di buku kakakku–yah, meski suka melakukan tindakan sia-sia seperti jerapah, harus kuakui kakakku kadang cukup lihai dalam berpikir. Karena itu aku suka hari Minggu, aku tak perlu bertemu anak-anak konyol itu. Dan membereskan toko di hari Minggu bukanlah hal buruk.

Aku sedang tidak mood melanjutkan novelku. Karena itu aku berbaring saja. Semoga aku memimpikan sesuatu yang lebih penting dari sekadar seorang badut berkostum babi merah muda dan berkaki ayam seperti kemarin-kemarin. Sebaiknya, sih, aku memimpikan ibu kandungku saja.

[BERSAMBUNG]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s