Siapakah Arthur Harahap?

Aku pernah membaca sebuah novel yang ditulis Sabda Armandio. Ia menulis novel yang di dalamnya terdapat novel karya Arthur Harahap. Dan di awal tahun 2016 aku membaca kumpulan cerpen berjudul “Bakat Menggonggong dan Manfaat Demam No. 4” karya Dea Anugrah di mana terdapat cerpen yang menyertakan novel karangan Arthur Harahap. Aku yakin, hampir 100%, keduanya tak tahu apa-apa soal Arthur Harahap. Aku tahu karena… yah, aku tahu.

Baiklah, begini. Ada banyak sekali versi cerita tentang Arthur Harahap. Beberapa menyebut dia penulis, filsuf, mistikus, pemancing, pengangguran, pengecut-yang-menolak-perang, juru masak restoran Padang, dan lain-lain. Setidaknya, ada dua buku yang menjelaskan sedikit mengenai dia. Buku pertama, sebuah biografi berjudul Hidup dan Matinya Arthur Harahap terbitan tahun 1986–setidaknya begitulah yang tertulis di buku ini–dan diterbitkan oleh PT. Gilindo Utama, Jakarta Selatan. Dan buku satu lagi, sebuah novel berjudul ‘Tahun Terbaik di San Juan’. Ada fragmen di Bab 2 ‘Di Kedai yang Memesan Makanan ke Kedai Lain’ di dalam novel itu yang secara tak langsung mengusut riwayat Arthur Harahap, dan meski kau tidak perlu-perlu amat mempercayainya, mungkin ada sedikit hikmah yang bisa kau petik dari cerita ini.

[Diambil dari Bab 2: ‘Di Kedai yang Memesan Makanan ke Kedai Lain’ dalam novel ‘Tahun Terbaik di San Juan’ halaman 167]

“Pernah dengar doktrin transmutasi?” Laila membuka kisah Orang Durti dengan pertanyaan yang mustahil kutolak. Jarang–atau bahkan tak ada–orang yang tak tertarik dengan gagasan Yunani Kuno ini. Kami sepakat membicarakan hal lain sebelum membicarakan masalah personal, kalau ada waktu. Aku menyepakatinya sebab aku sendiri tak tahu bagaimana cara menuntaskan masalah kami–apakah aku harus memeluknya? Apakah memeluk saja bisa menyelesaikan masalah?–dan ia membuka percakapan dengan topik menarik. Ini pertama kalinya kami bertemu lagi setelah satu bulan sepakat untuk tidak saling menghubungi.

“Nggak tahu banyak, sih. Seingatku itu semacam keyakinan bisa membuat emas dari logam biasa dan ramuan keabadian dan sejenisnya?”

“Kira-kira seperti itulah.” Laila tersenyum tetapi bukan untukku, melainkan untuk seseorang di belakangku.

“Temannya sudah datang, ya?” tanya pemilik kedai dengan suara berat dan letih seakan ia baru saja mencangkul sepetak sawah selagi aku menunggu di sini. Ia menyerahkan buku menu. “Mau pesan apa?”

Aku memilih roti bakar cokelat dan bir dingin sementara Laila memesan panekuk saus strawberi dan cokelat panas. Pemilik kedai meminta kami menunggu sebentar, terdengar derap langkah perlahan menjauh, tak lama terdengar suaranya lagi–kali ini lebih keras. Ia menelepon seseorang dan membacakan pesanan kami. Kurasa, tak mungkin di dunia ini ada kedai yang memesan ke kedai lain.

“Pasca kejatuhan Romawi Barat dan melemahnya Byzantium, Islam menemukan kejayaannya. Sarjana-sarjana muslim menyerap pemikiran Romawi dan menerjemahkan kitab-kitab ilmu pengetahuan seperti astronomi, filsafat, kimia, dan lainnya. Kita sama-sama tahu selama ratusan tahun Romawi menyerap pengetahuan Yunani, dan Yunani bertalian erat dengan Mesir Kuno. Bidang teknik mereka pun mengalami kemajuan pesat: pembuatan saluran air, gelas kaca, dan larutan semen, misalnya. Dan Doktrin Transmutasi berkembang tak terkendali, rumor bertebaran soal keajaiban-keajaiban yang ironisnya malah mempertegas bahwa ilmu itu mitos belaka, tetapi doktrin itu terlalu memikat sehingga menular pula di masa transisi geopolitik saat itu. Di satu sisi ilmuwan Islam mempelajari warisan Romawi, yang merupakan gabungan Yunani dan Mesir Kuno, di sisi lain kebudayaan Islam telah lebih dulu menyerap ilmu-ilmu India dan Persia. Sebuah kombinasi yang mengagumkan, kan?” tanya Laila, sebuah pertanyaan retoris. Aku hanya bisa melongo selama ia bercerita. Entah apa yang ia alami selama kami tak bertemu, yang pasti sesuatu telah mengubah dirinya dari cewek menyebalkan yang cerewet dan sok tahu menjadi pencerita ulung. Aku curiga ia menghabiskan waktu berselancar di internet atau membaca sebuah ensiklopedia, menghafalnya, untuk menghukumku.

Selagi ia bercerita, aku memperhatikan rambutnya yang bergelombang hingga sebatas sebahu dibiarkan terurai. Menikmati kebiasaannya memelintir ujung-ujung rambut dan menciuminya dan berselancar di urat-urat halus yang menyerupai jalinan kabel elektronik rumit di permukaan pipi tembamnya. Sore itu, bagiku, ia nampak seperti Cherry Barbados segar, dan aku bocah yang melemparinya dengan sandal jepit.

“Seorang alkimia Islam yang menekuninya secara serius, bukan lagi sebagai mitos tetapi diteliti secara sistematis, bernama Jabir Ibnu Hayyin,” lanjutnya. Aku pernah dengar nama itu, kataku. Lalu ia berhenti bercerita dan kembali menciumi ujung-ujung rambut, sepertinya ia melakukannya tanpa sadar dan tidak memikirkan perasaanku kala menyaksikannya. “Tapi ini bukan soal Jabir Ibnu Hayyan. Ini tentang salah satu muridnya.”

“Siapa?” tanyaku.

“Orang Irak mengklaim namanya adalah Ubay bin Sufyan, nama itu terpahat di nisan yang terbuat dari emas putih. Saat mereka hendak membangun perumahan, mereka membongkar makam itu tetapi tak ada belulang di dalamnya. Beberapa tahun kemudian makam yang sama persis ditemukan di selatan Turki, kali ini nama yang terpahat: Ayub bin Anfusy. Dan setelah penemuan itu, ditemukan makam lain dengan nisan emas putih, tidak hanya di semenanjung Arab tetapi juga sampai ke Eropa: Norwegia, Finlandia, dan Belanda.” Laila meminjam kertas dan pulpen, dan menuliskan nama-nama itu. Terdengar pintu di belakangku terbuka, lalu Laila berdiri dan membantu pemilik kedai itu membawa pesanan kami. Ia pun meminta maaf sebab ban motor kurir pengantar makanan pecah sehingga agak terlambat mengantar pesanan. Ya. Ternyata di dunia ini ada kedai yang memesan makanan ke kedai lain.

Laila berusaha menenangkan dengan berkata bahwa kami tidak terlalu lapar, setelah itu ia kembali duduk di hadapanku dan menatapku agak lama. “Kau lihat?”

“Lihat apa?”

Ia menggeleng kecil seraya mengaduk cokelat panas. “Kau nggak banyak berubah, ya?”

“Memangnya kau berharap aku berubah jadi apa? Ikan buntal?”

Laila tertawa kecil. “Semua nama di kertas itu cuma utak-atik gathuk, anagram. Kesimpulannya, ia mungkin orang yang sama. Dan berkali-kali memalsukan kematiannya.”

“Omong kosong.”

“Hubungan kita pun omong kosong, kau sendiri yang bilang begitu: tak ada apa-apa di antara kita dan kau yang menikmati omong kosong ini. Aku rasa seharusnya nggak sulit bagimu menikmati omong kosong lainnya.”

Peradaban dan wanita memang sulit kupahami.

“Mau kulanjutkan cerita ‘omong kosong’ tadi?”

“Tentu. Itu pun kalau kau sepakat untuk tidak mengulang dan menekan frasa ‘omong kosong’ yang entah bagaimana terdengar kurang enak.”

Ia memotong panekuk, mencoloknya dengan garpu, sedikit mengoles-oleskan bagian sudut panekuk ke saus strawberi, memakannya, mengunyah dan berkata: “Begini ceritanya…”

*

Alkisah Sang Murid meninggalkan teman-temannya yang, sepeninggal gurunya, lebih tertarik pada dunia spiritual. Ia mendirikan laboratorium sendiri. Dan, mengikuti jejak gurunya, ia mengabaikan mistisme dan fokus pada eksperimen-eksperimen. Setiap hari ia mencampur, memisahkan, dan meleburkan materi. Mencatat kejadian sekecil apapun. Dengan berpedoman pada kitab gurunya, ia bekerja dalam kesunyian panjang.

Sepuluh tahun berlalu, tak ada hal penting yang perlu dicatat. Ia mengalami masa depresi. Waktu melaju seperti kereta yang masinisnya tertidur. Usianya menua, kematian bisa menelannya kapan saja. Kedinginan yang dahsayat menyerang tubuhnya kala memikirkan hal itu: “Aku akan mati tanpa menyelesaikan apa-apa, tanpa mengetahui apa-apa.”

Tiba-tiba perasaan yang amat kuat memaksanya keluar laboratorium. Ia merasa harus bertemu seseorang, siapapun orang itu. Ia memasukkan seluruh catatannya ke dalam tas. Satu tas penuh, isinya hanya buku catatan.

Ia berjalan lebih jauh dari toko roti dan kedai langganannya, melewati pasar, dan tiba di pelabuhan. Di sanalah ia bertemu seorang pria berpenampilan serba-putih, tiba-tiba memeluknya dan mencium pipinya. “Kau harus berhenti,” kata pria itu. “Kutawarkan padamu jalan keselamatan, berhentilah mencari.”

Memangnya, siapa kau? Tahu apa kau soal diriku? Tanyanya.

“Kau menginginkan sesuatu, tak ada jalan keluar dari jerat keinginan, kau akan terjebak selamanya. Tuhan menyayangimu, menyayangi kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Berserahlah kepada-Nya.”

Sang murid Jabir terkaget-kaget mendengar kata Tuhan. Ya, benar, Tuhan memang baik. “Tapi ke mana Tuhan saat perang terjadi? Saat ratusan orang mati? Saat wabah penyakit merenggut nyawa orang? Tuhan ada, aku tahu, tapi Dia pasti sedang tidur. Yang sedang tidur tidak bisa disalahkan, tidak bisa diandalkan, kitalah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi di muka bumi. Jadi bagaimana mungkin aku berserah diri?”

“Jaga ucapanmu!”

Semua orang di pelabuhan menoleh ke arah mereka, serta merta si gadis berkata lantang. “Orang ini bilang Tuhan sedang tidur.”

Dan semua orang tertawa.

“Aku mencintaimu, percayalah. Aku datang untuk menyelamatkanmu dari siksa pedih api neraka.”

Murid Jabir bertanya balik, “Selama ini aku tidak mengikuti Tuhanmu, apakah bila saat ini aku bertubat Dia akan memaafkanku?”

“Tentu,” kata lelaki itu. “Tuhan memaafkan mereka yang tidak tahu. Kini aku sudah mewartakan kebenaran padamu, kini kau sudah tahu.”

“Dengan kata lain bila aku tak mengikutimu maka aku akan dimasukkan ke neraka Tuhanmu?”

Pria itu mengangguk.

“Kalau begitu kenapa kau beri tahu aku? Kenapa kau tak membiarkanku dalam ketidak-tahuanku akan kebenaran ajaranmu?”

“Karena aku mencintaimu, dan seluruh umat manusia. Karena aku datang untuk menyebarkan kebenaran.”

“Seharusnya kau datang untuk memberi kami pilihan ya, Paduka. Seharusnya kau biarkan kami memilih. Kau tidak mencintai siapapun, kau hanya ingin memaksaku mengikutimu.”

Ia kembali ke laboratorium dengan gamang. Dunia luar sudah tak lagi ia kenali. Ia memutuskan untuk membaca seluruh catatannya, memikirkan apa yang ia ucapkan kepada orang di pelabuhan. Hingga ia ingat Thales, filsuf Mazhab Miletos sekaligus satu dari Tujuh Orang Bijaksana, bahwa air adalah inti dari segala sesuatu. Seharusnya ada cairan yang membentuk segala sesuatu. Cairan yang juga mengandung unsur keilahian.

*

“Di sini ia mulai menggeluti mistisme,” sambung Laila. “Tetapi mistisme yang sungguh menarik, setidaknya buatku. Ia mengajukan gagasan, tanpa penelitian, hanya kontemplasi, bahwa Tuhan tertidur dan liur Tuhan…”

“Liur?”

“Ya, air liur…”

Aku ingin tertawa, sebenarnya, tetapi kutahan sebisanya.

“Liur Tuhan menetes dan menciptakan tumbuhan, hewan, dan manusia.” Laila melahap suapan panekuk terakhirnya. “Kau boleh ketawa, kok. Aku pun awalnya ketawa. Sampai aku ingat sebuah teori biologi.”

“Ya?” tanyaku.

“Sup primordial,” jawabnya. “Pernah dengar?”

Aku mengangguk. “Tetapi rasanya aku kurang mengerti hubungannya dengan masalah yang sedang kita bahas saat ini.”

“Itu bagian lain dari cerita Orang Durti, akan kuceritakan lain kali,” katanya. “Si Murid Jabir ini pun menemukan hal lain setelah membaca ulang catatannya.”

Laila mengelap noda saus strawberi di bibirnya dengan tisu. “Tetapi tak diketahui pasti apa yang dia temukan. Halaman terakhir kitabnya ditutup dengan satu kalimat: ‘Aku menemukannya! Tetapi apakah dunia harus tahu? Apakah penemuan ini perlu?’ Ironis bukan? Sepanjang hidupnya dihabiskan untuk menemukan apa yang dia cari, tetapi ketika dia berhasil, dia malah ragu apakah penemuannya ada gunanya.”

“Yah, dunia memang dipenuhi orang-orang aneh,” komentarku, tanpa tahu apa yang kumaksud dengan ‘aneh’. “Menurutmu apa yang dia temukan?”

“Entahlah. Ada yang bilang ia sudah menemukan eliksir yang selama ini dicari semua alkemis: ramuan keabadian. Tetapi ia melewatkannya sebab saat itu, pikirannya terlalu mabuk dengan obsesi. Dan setelah ketemu, dia berpikir ulang, apakah manusia memerlukan keabadian? Jadi dia memutuskan untuk merahasiakannya. Oh iya…” Laila menatapku. “Rumor ‘Eliksir Keabadian’ ini yang diyakini Orang Durti. Mereka percaya Si Murid Jabir ini menghabiskan usianya yang-tak-habis-habis untuk berkeliling dunia: Turki, Irak, Norwegia, dan seterusnya. Ia terus berganti nama dan sebelum pergi, ia meninggalkan makam bernisan emas putih dan memahat namanya di sana. Makamnya sendiri ditemukan Indonesia, tepatnya di Depok, di Kampung Durti. Di sana tertulis…” Laila berhenti bercerita, membersihkan sudut matanya yang tidak kotor, dan menggigit-gigit lidahnya–suatu tindakan yang tak banyak gunanya dan tanpa ia sadari membuatnya terlihat menggemaskan. “Pernah dengar nama pena Arthur Harahap?”

“Aku pernah membaca nama itu di sebuah novel karya Sabda Armandio, dan cerpennya Dea Anugrah,” kataku. “Dan, yah, mendengar rumor dari segelintir teman dekat.”

Laila mengangkat pundaknya. “Hm, ia bisa jadi tetanggamu. Atau guru fisikamu di sekolah. Kau tahu? Kau baru saja mendengarkan riwayat hidup Arthur Harahap.”

Kusilangkan kaki di kolong meja, berusaha mengingat cerita panjang tadi namun tak ada bagian utuh yang mampu kuingat. Aku harusnya merekam percakapan tadi dengan ponsel atau apapun. Siapa tahu kelak ada gunanya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s