Lagu

29 Desember 2015
Pip memperlakukan buku menu seperti kitab suci. Dibacanya satu-persatu nama makanan yang baik pelafalannya maupun jenis hurufnya sama-sama merepotkan, setelah yakin tak ada yang hendak dipilih ia membalik halaman selanjutnya dan mengulang cara yang sama hingga halaman terakhir. Dan memulai lagi dari awal. Setelah tiga kali mengulang, lelaki di depannya yang sudah gerah, menegurnya, “Makanan apa, sih, yang kau cari?”

“Yang namanya bisa kuucapkan dengan baik, dan harus lebih enak dari pilihanmu.”

“Kalau begitu, coba ini.” Lelaki itu menunjuk satu nama berbahasa Italia.

“Kau pernah coba?”

Lelaki itu menggeleng. “Biar kau nggak bikin pelayan melempar nampannya ke wajahmu saja.”

“Bagaimana kalau makanan pesananmu lebih enak?”

“Kalau begitu kita pesan kecap satu botol,” jawabnya. Pip mendelik, seakan bertanya ‘Apa hubungannya?’. Lelaki itu tidak tinggal diam, ia membalas tatapan Pip dengan menjawab: “Seorang koki yang mukanya menyebalkan pernah bilang di acara masak-memasak di TV bahwa kecap bisa merusak rasa makanan. Kalau pesananku lebih enak, kita bisa tambahkan sebotol kecap. Jadi makanan pesananmu, kan, akan lebih enak.”

“Kali ini aku yang kepengin menghajar wajahmu dengan buku menu, sih. Tapi itu bukan ide buruk.” Pip berpaling ke pelayan wanita yang wajahnya nampak masam, menunjuk nama makanan di daftar, dan meminta sebotol kecap.

Penyanyi yang disewa kedai memetik dawai gitarnya. Ia mulai dengan akor Dmaj7, akor standar untuk membangun atmosfer ‘kedai yang nyaman’. Selagi jemarinya sibuk berpindah-pindah fret, ia berbasa-basi menyapa pengunjung yang nampaknya kurang peduli dengan ocehannya. Tetapi ia tetap melakukannya dengan tulus, atas nama sopan santun. Setelah itu terdengar suara embusan napas dari pengeras suara dan ia mulai bernyanyi.

“Tebak, ini lagu siapa?” tanya Pip.

“Jamiroquai,” jawabnya cepat. “Mungkin.”

“Ini memang lagu Jamiroquai,” tukas Pip. “Kau nggak perlu menambahkan kata ‘mungkin’.”

“Ya, siapa tahu itu sebenarnya ciptaan orang yang bukan anggota Jamiroquai?”

Pip mengambil ponselnya, mengetik judul lagu, membuka laman wikipedia, dan memperlihatkan pengarang lagu itu. “Sekarang sudah yakin?”

Lelaki itu mengangkat pundak. “Kita, kan, tetap nggak tahu yang sebenarnya.”

“Kau mau menuduh Jamiroquai melakukan plagiasi, hah?”

Lelaki itu menggeleng dan tertawa. Keduanya terus membahas persoalan itu hingga lagu berakhir: yang satu berusaha meyakinkan, yang satu bersikeras untuk tidak yakin. Perdebatan berhenti saat lagu berganti, dan memulai perdebatan lain dengan tema dan cara yang sama. Si laki-laki terus menambahkan kata ‘mungkin’, ‘kayaknya’, ‘sepertinya’, dan lain-lain, dan terus begitu hingga makanan selesai dan keduanya membakar rokok.

Lelaki itu mengeluarkan asap rokok dari hidungnya, menggeleng kecil. “Aku mungkin menyukaimu.”

“Mungkin?”

“Ya,” jawabnya cepat. “Nggak terlalu yakin. Tadi cuma mau bilang begitu.”

“Ah, kau ini nggak terlalu yakin dengan apapun. Itu kenapa aku menyukaimu.”

Penyanyi melantunkan lagu lain, kali ini berbahasa Indonesia. Dengan nada familiar dan repetitif dan hanya disusun dari tiga sampai empat akor mayor, penambahan akor minor di bagian bridge, serta lirik yang begitu naif; perpisahan maupun kematian pasti terjadi dan pertemuan, meski singkat, perlu dirayakan; dan kesunyian pun layak mendapat tempat khusus. Kira-kira begitu yang hendak disampaikan sang pengarang lagu. Pola yang mirip lagu-lagu The Beatles di album Hard Day’s Night membuat lelaki di hadapan Pip menebak bahwa ‘mungkin’ ini lagu Koes Plus.

O, hari baru
O, harapan baru
Tak ada yang lebih sempurna dari semua itu.

Begitu bait refrainnya.

Pip menggeleng. “Ini memang lagu Koes Plus, kok.”

“Sepertinya bukan, deh.” Lelaki itu mematikan rokoknya lantas mengusir asap tipis yang menusuk hidungnya.

Pip menarik tangan teman lelakinya, mengajaknya untuk bertanya langsung kepada si penyanyi. Keduanya berjalan melewati meja-meja pelanggan, dan Pip mengeluhkan tubuhnya yang menurutnya terlalu gemuk saat melewati celah semput di antara sandaran kursi. Ia suka menggerutu seperti itu meski ia sesungguhnya tahu ia tak gemuk-gemuk amat, tetapi ia suka melakukannya sebagai auto-kritik, untuk mengejek pola makan dan tidurnya yang memang tidak teratur dan tak ada usaha keras untuk mengubah kebiasaan itu.

“Bukan, bukan lagu Koes Plus,” jawab si penyanyi. “Aku sendiri nggak tahu siapa penyanyi asli lagu tadi. Dan, yah, ada banyak versi. Tapi versi tadi yang paling kusuka.”

Pip tertawa, merangkul teman lelakinya dan berbisik, “Heh, apa kau masih menyukaiku meski aku ngeyel dan sok tahu?”

“Kayaknya, sih, begitu,” jawabnya. “Mungkin aku ingin melamarmu sekarang.”

29 Desember 2009
Mungkin Tuhan pun tidak tahu pasti mengapa Yusran berbaring di dalam selokan malam itu, yang pasti jins dan jaketnya lepek karena memang begitulah sifat air. Dan ia masih sempat-sempatnya bernyanyi pelan, karena memang hanya itu yang ingin dia lakukan.

Dua jam lalu ia beranjak dari Stasiun Universitas Indonesia, menyusuri gang yang pada sisi kanan dan kirinya dipadati ruko-ruko yang sebagian besar sudah tutup. Ia berhenti di depan sekelompok pengamen. Ia menyusupkan tangan ke dalam saku jaket dan terpekur menikmati alunan jazz sederhana dari musik yang mereka bawakan.

Kelompok musik itu terdiri dari empat orang. Penabuh drum mini–yang hanya terdiri dari satu floor sebagai pengganti kick, sebuah snare, dan lempengan tembaga dengan rantai kecil di atasnya yang berfungsi sebagai hi-hat sekaligus crash–menabuh sambil bernyanyi dengan semangat, ia mengenakan topi hijau toska dengan logo bintang keperakkan di bagian kiri. Si pemain gitar string sibuk mengisi kekosongan nada dengan melodi-melodi diatonik, dan pula sesekali ikut ambil suara. Pemain ukulele memetik dawai dan bernyanyi seperti suami yang baru saja mendapat kabar baik pasca persalinan istrinya. Dan violis merangkum semua kebahagiaan mereka dengan sentuhan-sentuhan kecil di beberapa bagian lagu sebelum akhirnya menggesek dawai secara penuh menjelang akhir permainan. Orkes kecil yang cukup memabukkan, tepatnya, menimbulkan keinginan pendengarnya untuk menenggak vodka murahan. Seperti yang sedang mereka lakukan.

O, hari baru
O, harapan baru
Adakah yang lebih sempurna dari semua itu?

Setelah refrain yang melulu diulang seolah tak ada lagi kesempatan untuk mengulangnya esok hari, semua pemain berhenti secara mendadak. Padahal pendengar mulai hafal nada refrain itu dan mengikutinya diam-diam. Penabuh drum melepas topinya, menyeka keringat, disambut tepukan kecil dari tiga pendengarnya malam itu. Setelah meletakkan ukulelenya di atas kursi, pemetik ukulele menyambar plastik hitam berisi vodka palsu dan menenggaknya. Ia menawarkannya pada Yusran, dan Yusran tak punya alasan bagus untuk menolak.

Yusran memperkenalkan diri sebagai Yusran–tentu saja. Gerombolan orkes memperkenalkan diri mereka satu persatu. Dua pendengar lain tidak tertarik dalam acara perkenalan itu. Tinggal Yusran, dan semua pertanyaan yang muncul setelah mendengarkan lagu tadi.

“Lagu ciptaan sendiri?” tanya Yusran.

Pemain ukulele menggeleng, “Bukan. Tapi kami senang memainkannya.”

“Memang siapa penyanyi aslinya? Aku kayaknya pernah dengar, tapi entahlah.”

Sang Violis berdeham untuk melegakan kerongkongannya yang seperti terbakar. “Nggak tahu,” jawabnya. “Orang sering menyanyikannya, lagunya juga enak dan bikin orang senang, siapa yang peduli dengan penciptanya?”

“Yah, siapa, kek, yang bikin,” sambut pemetik gitar, “Dia harus masuk surga.”

Puji Tuhan mereka punya stok vodka mansion lebih dari yang Yusran inginkan, dan mereka tak pelit berbagi, termasuk berbagi cerita-cerita sial yang entah bagaimana malah terdengar lucu malam itu. Dan mereka saling menertawakan diri hingga pukul dua dini hari, orkes itu terlelap di atas kursi dan lantai ruko dan Yusran terpaksa pulang sebab petir menggelegar dan ia mendadak ingat ia belum mengangkat jemuran di halaman depan. Induk semangnya yang bawel minta ampun pasti akan mengoceh besok.

Sambil berjalan ia terus mengulang bagian refrain seraya menjaga keseimbangan sampai kantung kemihnya meradang. Jalanan sepi, sebagian besar penduduk komplek sudah mencuci kaki selingkuhan imajinernya dalam mimpi, tak ada alasan bagi Yusran untuk malu. Ia bisa saja mengencingi trotoar, atau tiang rambu lalu lintas, bahkan di tengah jalan. Tak akan ada yang peduli. Tapi rupanya kesadaran teologis mengapung di atas konsentrat alkohol di dalam kepalanya. Ia perlu merasa malu sebab penggerak-yang-tak-digerakkan mungkin sedang melihatnya. Oh tentu, pikirnya, Dia kan tak punya kerjaan lain selain melihat. Dan fakta bahwa tak ada orang lain selain ibu-bapaknya, dan Tuhan, dan sekelompok makhluk gaib yang pernah melihat penisnya membuatnya merasa risih. Ia tidak pernah merasa kencing adalah peristiwa sakral hingga malam itu.

Ada kebun di seberang parit selebar kurang dari dua meter, ia bisa sembunyi di sana. Ia tidak bisa sembunyi dari dzat gaib, tetapi ia mungkin bisa mengurangi kecemasannya dengan bersembunyi. Meski tak ada jaminan untuk itu, setidaknya aku sudah mencoba, pikirnya.

Ia berlari sekuat tenaga, atau tepatnya merasa sudah berlari semampu yang dia bisa, untuk melompati parit. Tapi nasib baik rupanya belum berpihak pada Yusran.

29 Desember 1984
Marla kecil berlari saat mendengar seseorang di dalam rumahnya tengah bermain piano. Ayahnya menepati janji.

Tanpa melepas sepatu apalagi mengucap salam, ia menerobos masuk mencari arah datangnya musik. Di ruang tengah. Bukan. Di sana hanya ada ibunya, tengah menonton televisi mengenai fenomena Gerhana Matahari Total yang belum lama ini terjadi di sebagian wilayah nusantara. Dapur? Tentu mustahil. Ia memutuskan untuk naik ke lantai dua dan menemukan ayahnya tengah meraba-raba nada di atas papan organ elektrik. Itu organ, bukan piano, tapi tak banyak bedanya bagi Marla. Tahun depan ia pasti sudah menguasai alat musik itu, agar bisa tampil di acara perpisahan sekolah. Di depan ayahnya.

O, hari baru
O, harapan baru
Apakah yang lebih menyenangkan dari semua itu?

Itu lagu pertama yang dinyanyikan ayahnya di depan Marla. Lagunya sederhana, katanya, liriknya bagus dan mudah dipelajari.

“Itu lagu siapa, Yah?”

“Entahlah,” jawab ayahnya. “Kakekmu dulu memainkannya di pernikahan ayah dan ibu. Lagunya bagus, kan?”

“Bagus sekali.” Marla memaksa duduk di pangkuan ayahnya, “Mana yang harus kupencet?”

Keduanya mengulang lagu itu hingga ibunya kesal sebab makan malam sudah dingin. Akhirnya sang ibu ikut naik dan bernyanyi pula.

Akhir tahun yang menyenangkan dan jadi penting untuk diingat beberapa tahun kemudian, mengingat tahun berikutnya ayah Marla memutuskan untuk menikahi perempuan lain dan ibu Marla menikahi laki-laki lain dan Marla sudah menguasai kunci dasar permainan organ dan mulai terpikir untuk menciptakan lagu sendiri. Atau mengaransmen ulang lagu pertama yang diajarkan ayahnya dengan sedikit perubahan pada liriknya, tentu saja, agar sesuai.

29 Desember 1972
Sambil duduk-duduk di kursi depan, seorang pemuda tanggung berperawakan seceking gagang sapu mencoret lagi kertas di hadapannya.

“Mungkin dari G ke D lebih cocok?” Temannya yang sedari tadi menaruh perhatian serius pada lagu yang dimainkan akhirnya memberi saran. “Menurut gue, lo terlalu banyak mikir. Nggak perlu susah-susah, lah.”

“Ya, tapi nanti lagunya jadi terlalu ceria. Nggak cocok sama liriknya.”

“Terus kenapa? Lo tahu Leaving on the Jet Plane? Kurang sedih apa? Tapi kuncinya gitu-gitu doang, dan itu cukup. Nggak usah ribet-ribetlah.”

“Kalau cuma kunci standar gitu, sih, nanti jadinya kayak lagu kakek-kakek, Brur.”

“Ya, bebaslah.” Temannya menyesap kopi. “Cuma kasih saran aja.”

“O, hari baru…” Ia mengganti posisi jari G mayor ke D mayor, “O, harapan baru… A…” Dengan cepat jemarinya membentuk formasi C mayor. “…dakah yang lebih…”

“Nah, di sini kasih minor sedikit.”

“C minor?”

Temannya mengangguk, “Terus ke D lagi. Sudah, begitu aja, diulang-ulang lagi.”

Si pemuda ceking menuruti saran temannya dan melanjutkan: “…celaka semua itu?”

Setelah itu si pemuda menambahkan catatan baru di kertas. Lagu sudah siap. Keduanya mengulang-ulang hasil cipta mereka, dengan keyakinan penuh bahwa lagu ini akan menjadi sangat terkenal dan nama kelompok musik mereka akan disejajarkan dengan kelompok musik idola mereka. Besok lagu ini akan dibawakan dalam versi lebih lengkap dengan drum, bass, gitar elektrik, dan keyboard.

O, hari baru
O, harapan baru
Adakah yang lebih celaka semua itu?

(Catatan yang siapa tahu nanti ada gunanya. Hehe.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s