BAB 2 Cukup Artinya Lebih dari Cukup

Demikianlah mereka diserakkan Tuhan dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan Tuhan bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan Tuhan ke seluruh bumi. (Kejadian 11:8, 11:9)

*

“…arwah-arwah penasaran itu kini ditidurkan di dalam pepohonan di Desa Pabuaran, dan para dukun bayaran pengusaha muda bernama Broto Adi Sucipto menutup lubang hitam yang sudah menelan lebih dari enam puluh orang. Setelah tanah-tanah mereka dibayar lunas, seluruh penduduk desa berpencar mencari tempat tinggal baru di kawasan Depok. Kini desa terkutuk itu dipagari seng setinggi nyaris dua meter, entah apa yang tengah direncanakan Broto Adi Sucipto namun yang pasti, Broto Adi Sucipto telah menyelamatkan hidup penduduk desa. Kini mereka bisa menutup lembaran suram, melupakan mereka yang hilang, dan menikmati hidup baru. Sebab hidup, meski singkat, perlu dinikmati.”

Omong kosong. Cetita ini omong kosong. Menjijikan. Setelah meletakkan tanda titik di akhir kalimat, aku mual. Bubur ayam yang kumakan tadi pagi sudah sampai ke kerongkongan, tetapi aku menelannya lagi.

Kalau pembaca cerita ini ingin kebenaran, ia perlu memangkas nyaris 99% isinya dan hanya menyisakan ini: Penduduk desa yang ketakutan terpaksa menyerahkan tanahnya kepada pengusaha properti bernama Broto dan mereka minggat dari desa itu, meninggalkan tanah kelahiran mereka, kecuali Pendeta Yaqub dan Haji Banu yang memang sudah tua dan kepengin mati di desa itu, dan ayahku yang tanpa motif jelas mempertahankan rumah kami dan toko ikannya.

Ini cerita pesanan Pak Broto untuk menenangkan isu yang beredar: ia menipu penduduk desa dengan menyebar rumor bahwa desa itu tanah terkutuk agar penduduk desa mau menjual murah tanah mereka dan akan membangun pemukiman elit di sana. Ia benar soal tanah terkutuk, aku pernah tinggal di sana dan tanah itu memang dikutuk pasca pembangunan jalan raya yang menghubungkannya secara langsung dengan kota Depok dan Bogor. Lubang hitam muncul bak bisul di tubuhmu. Dan lubang itu tak benar-benar hilang. Pak Broto bohong soal dukun, faktanya dukun-dukun yang ia sewa masuk pula ke sana. Ia membeton seluruh tempat di mana lubang itu muncul. Ia hampir putus asa sebab lubang itu terus muncul hingga Arian Muya, pemimpin Majalah Metanormal tempatku bekerja hari ini, menyarankannya untuk mengurbankan 50 kerbau, membagi dagingnya kepada anak yatim piatu, dan mengubur kepalanya di tanah di desa itu. Lubang itu memang berhenti muncul, tetapi hanya sementara, dan Arian Muya tidak pernah memberitahunya kepada siapapun kecuali aku. “Kita cuma perlu duitnya Si Broto,” katanya di mobil setelah kami teken kontrak dengan Broto Group. “Sepuluh tahun lagi lubang itu bakal kumat, dan itu waktu yang cukup bagi kita untuk menyedot uangnya. Kontrak kita dengan dia, kan, cuma dua tahun.” Ia terkekeh saat menerangkannya lalu mengeluarkan kalimat andalannya: “Dan cukup artinya lebih dari cukup.”

Kubuka folder berisi foto penampakan desa kelahiranku hari ini. Pagar tinggi berwarna hitam pekat mengelilingi tanah yang tengah digarap, mobil-mobil penghancur meratakan rumah-rumah dan tempat bermainku dulu, dan mobil pengeruk melubangi tanahnya. Di salah satu tempat yang tengah dilubangi, seingatku, adalah tempat favoritku kencing.

Aku sengaja meminta mereka mengirimi foto. Aku tak kepengin pulang.

Dua belas tahun berlalu sejak aku mengikuti naluriku: naik kereta dan kau akan sampai di ujung lubang hitam. Ternyata aku cuma terdampar di Stasiun Kota dan aku tak kenal siapa-siapa dan tak tahu hendak melakukan apa. Di dalam tasku ada selembar ijazah SMA, yang kemudian kujadikan ganjalan meja yang timpang setelah aku bertemu Arian Muya.

Hari kedua di Jakarta Barat, uangku habis. Aku memang sudah menduga akan secepat itu, hanya saja aku tak mengantisipasi kemungkinan tersial seperti kepengin buang air besar. Aku bisa menahan lapar, itu mudah, kau cuma perlu tidur dan kalau nasibmu baik kau tidak akan bangun lagi, kalau nasibmu kurang beruntung kau akan bangun dan beberapa jam kemudian akan merasa lapar lagi dan kau tidur lagi. Itulah yang kulakukan di malam sebelumnya, aku memaksakan tidur di depan toko emas yang tutup dan saat terbangun perutku bergolak. Bukan karena lapar. Sesuatu mendesak untuk keluar dari ususku. Sialan betul. Aku cuma mengisi perutku dengan air keran dan aku sudah kencing lima kali, apa yang harus kubuang lagi? Atau mungkin ususku mencerna dirinya sendiri, saking laparnya? Dan yang lebih biadab dari semuanya adalah aku harus bayar agar bisa menikmati fasilitas toilet. Ini biadab. Sebab kalau aku punya uang, kemarin aku pasti akan makan dan paginya aku akan buang air besar. Tapi aku tidak makan kemarin dan paginya aku tetap harus menyewa toilet untuk buang air besar. Kesimpulannya, makan tidak makan kau tetap akan buang air besar.

Aku memutuskan untuk mencari masjid atau rumah ibadah apapun yang toiletnya sudah pasti gratis, sebab Tuhan memahami perasaan orang yang ingin buang air. Kata penjaga warung rokok, jarak masjid terdekat lima kilometer dari tempatku berdiri dan gereja dua kali naik angkutan umum, ia tak pernah tahu ada pura atau wihara di dekat sini. Tetapi dia tahu ada toilet umum tepat di belakangku. Informasi yang cukup menghibur.
Aku menyerah dan memutuskan masuk toilet. Nekat saja. Kalau toh aku harus dipukuli, ya pukulilah. Tetapi nanti kalau urusanku sudah selesai. Puji syukur sistem pembayaran toilet seperti angkutan umum. Masuk gratis, keluar bayar. Aku sama sekali tidak berniat kabur, meski begitu aku tak punya alasan bagus untuk tidak membayar.

Penjaga toiletnya terlihat kurang ramah–lagipula keramahan model apa yang kita bisa harapkan dari penjaga toilet umum, kan?–ia nampak sedang bersungut-sungut sembari menghitung uang di tangannya. Badannya besar, rambutnya serupa tentara, dan sesungguhnya tidak baik mencari perkara dengan orang seperti dia. Tapi begitulah, setelah menuntaskan hajat yang cuma-begitu-saja aku mesti berhadapan dengannya. Aku menghampirinya dan mengaku tak punya uang, ia sudah nampak gusar, tetapi kujelaskan bahwa aku punya jimat pancing. Kulepas jimat pancing untuk pertama kalinya setelah ia dikalungkan di sana dan meletakkannya di atas meja. Aku tak merasa rugi, ialah yang seharusnya merasa demikian dan ternyata benar. Ia menolak dan memaksaku mengosongkan sakuku. Bukan perkara sulit. Sakuku memang sudah kosong. Ia semakin kesal dan kelihatan ingin benar meninjuku. Beruntunglah aku sudah memperkirakannya, dan wajahku sudah siap, kukira. Ia meremas jimat di atas meja dan bersiap melemparku dengan itu. Ia melemparku dengan jimat itu, memang, yang tak kuduga adalah kepalaku ternyata memiliki respon yang lumayan bagus. Tanpa kuingin, kepalaku menghindar. Jimat itu mendarat di suatu tempat di belakang punggungku. Wajahnya semakin memerah, tentu saja. Di masa krisis seperti ini, bahkan demi uang lima ratus rupiah orang bisa saling tikam. Aku paham. Maka, yah, apapun yang terjadi, terjadilah.

Seorang lelaki menepuk pundakku, mengaku kalau ia kakakku, menanyakan duduk perkara, dan–yang paling penting–membayari toiletku dengan uang sepuluh ribuan tanpa meminta kembalian.

Peristiwa yang selanjutnya terjadi adalah: aku duduk dengan lelaki berusia tigapuluhan yang memperkenalkan dirinya sebagai Arian Muya. Ia memegangi jimatku, ia bilang itu jimat yang dibuat Ana Mayuri, seorang dukun yang menghilang di Depok pasca proklamasi. Aku tak tahu soal hal itu, jawabku, yang kutahu itu jimat pemancing untuk menarik ikan. Ia memintaku bercerita mengenai asal usul jimat itu. Jadi kuceritakan seluruhnya, seluruh peristiwa yang terjadi di desaku, sambil menyantap ayam pop dan lalap dan terus bercerita hingga piring kedua. Dan ketiga. Dan yang tak kuduga selanjutnya adalah ia menawariku pekerjaan di majalah miliknya. Kukeluarkan selembar ijazah dari tas dan bilang bahwa aku tak memiliki pengalaman apapun. Ia terkekeh dan berkata: “Juru Cerita tidak perlu ijazah, cuma perlu punya cerita bagus yang bisa dipercaya. Atau minimal membuat orang merasa perlu mempercayainya tanpa dipaksa. Dan kau mungkin memilikinya.”

Sebetulnya, ada banyak sekali pertanyaan mengenai majalah dan profesi ‘Juru Cerita’ yang ingin kutanyakan dengan diriku sendiri. Maksudku, apakah aku bisa menjalaninya? Apakah tidak akan membuatnya kecewa sudah menggajiku? Apakah tidak aneh aku digaji hanya untuk bercerita? Itu aneh. Dari sekian banyak profesi di kota besar yang kutahu, aku tak pernah membayangkan ada pekerjaan yang hanya menceritakan sesuatu dan kau dibayar untuk itu. Tetapi, ya sudah, kuterima saja. Tak ada gunanya berdiskusi dengan takdir, kan?

Sejak saat itu aku resmi menjabat sebagai Juru Cerita di majalah misteri bernama Metanormal dan diizinkan tinggal di rumah kedua yang sekaligus museum barang-barang mistis koleksi Arian muya. Tugasnya mudah. Kau hanya perlu mendatangi sebuah tempat yang diduga terdapat aktivitas gaib dan kau menceritakan ulang apa yang diceritakan narasumber dan apa yang kau amati selama kau berada di sana. Sejujurnya, aku bahkan tak mengamati apapun. Dan kalau lebih jujur lagi, cerita sebagian besar narasumber–kalau bukan seluruhnya–tidak membuatku merinding. Aku harus mendaur-ulang seluruh ceritanya, yang artinya aku perlu menambahkan beberapa cerita karanganku sendiri yang menurutku akan membuatnya nampak lebih bagus. Dengan kata lain, aku menipu pembaca. Tetapi, toh, Metanormal laku pesat, bahkan di masa resesi ekonomi, meski jika kau tanya tetanggamu atau pejabat negara sekelas menteri ia tak akan pernah mau mengaku bahwa ia pembaca Metanormal. Artinya, pembaca menikmati bualanku, dan itu membuatku tidak merasa bersalah telah menipunya.

Dan Pak Broto pembaca setia majalah itu, padahal dia cukup kaya untuk berlangganan majalah impor dan ia seorang Doktor dan fakta lain bahwa ia suka menyelipkan istilah rumit dalam obrolan setidaknya tak akan bikin siapapun mengira bahwa ia pembaca setia majalah murahan seperti Metanormal; menelan mentah-mentah seluruh ceritaku.

Aku cukup menyukai pekerjaan ini, maksudku, selama dua belas tahun terakhir aku tak menemukan alasan masuk akal mengapa aku harus membencinya. Lagipula tiga tahun lalu aku naik jabatan, dari Juru Cerita menjadi Juru Ketik. Pada mulanya jabatan itu dipegang Arian, aku duduk di sofa dan menceritakan secara verbal tentang tempat yang kami observasi dan Arian mengetiknya–dia pun menambahkan cerita versi dia, seperlunya. Tetapi kini aku mengetiknya sendiri dan Arian fokus pada tugasnya sebagai pemimpin redaksi. Apapun pekerjaan ‘Pemimpin Redaksi’. Tidak ada yang bisa kukeluhkan dari pekerjaan ini: ia hanya lelucon yang digarap secara serius. Sepertinya semua orang suka misteri, tak ada yang penasaran dengan rahasia; dengan yang tak bisa mereka lihat, yang membuat mereka merasa ‘ada sesuatu yang lain’, yang konspiratif; semua itu membuat mereka merasa hidup mereka lebih berwarna. Dan tak ada yang tak suka lelucon, kan? Yang kukerjakan adalah lelucon besar yang tak seorang pun tertawa, kecuali aku dan Arian.

Selain aku, ada empat pegawai lain–setidaknya begitulah yang tertulis di Daftar Produksi. Iam Yanuar sebagai Editor dan Penata Letak, Ayu Marina tertulis ‘Juru Foto dan Sketsa’, Yuri Anama di departemen Humas, Arian Muya menjabat Penanggung Jawab sekaligus Kepala Redaksi, dan aku Juru Cerita. Majalah Metanormal terbit bulanan, tebalnya tak pernah lebih dari 50 halaman dengan ukuran sama persis dengan buku Teka-Teki Silang, satu edisi hanya membahas satu tempat atau kejadian. Setiap bulannya dicetak sembilan ratus sembilan puluh sembilan copy, dan itu sudah pesanan pelanggan. Kubayangkan ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang di luar sana, berpencar menjadi seratus kelompok yang tiap kelompok terdiri dari sembilan anggota, mereka berkumpul di Dunkin Donuts atau bar atau klub sepulang kerja sembari menunggu jam sibuk berakhir. Mereka masih mengenakan setelan jas perlente, menghisap cerutu, menyesap wine, dan membicarakan topik yang diangkat majalah kami: pernikahan dengan jin, pesugihan, portal lintas dimensi, hingga makhluk ekstraterestrial. Sementara para pegawai yang bekerja untuk mereka memenuhi jalan raya, mengutuki kemacetan dan tunggakan rumah, berdesakkan di dalam kereta listrik, angkutan umum, tak sabar sampai di rumah dan tak tahu akan melakukan apa setelah sampai rumah selain, ya, menonton berita nasional yang kurang enak, atau sinetron di mana tokoh utamanya selalu lebih sengsara dari nasib mereka, atau tidur. Menurut catatan pelanggan, pembaca majalah kami sebagian besar adalah pengusaha dan pembesar-pembesar seperti itu.

Khusus bulan ini, edisi ulang tahun, akan membahas desaku. Seperti yang sudah kusampaikan tadi, kisah ini pesanan Pak Broto untuk memuluskan niatnya membangun perumahan di daerah itu. Ada rasa bersalah, tentu saja ini perasaan manusiawi yang tidak bisa dihindari. Tetapi aku juga benci desa itu, kelinci bertanduk dan lubang hitam yang muncul di sana membuatku gila. Kukira awalnya bersentuhan dengan hal gaib akan membawaku pada pemecahan kasus menghilangnya ibuku, dan sesungguhnya aku masih berharap akan seperti itu, namun serupa memasuki labirin kini motifku menyelesaikan kasus itu semakin mengabur. Kukira benar kata Tara dulu, aku hanya terobsesi. Obsesi dan akal sehat tidak pernah sejalan. Dan kini aku hanya ingin keluar.

[…]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s