Gammel Dalet

Usia lebih mirip wiski yang seharusnya tak kau tenggak tetapi, yah, apa boleh buat, kau tenggak juga, seloki demi seloki, setiap tahunnya. Kau semakin mabuk dan mabuk acap kali berganti usia, dan jika malam ini kau berulang tahun, ada harapan samar–yang memang selalu ada di sana–bahwa malam ini adalah wiski terakhir yang kau sesap. Kau cukup mabuk dan cukup kembung dan kerongkonganmu sudah tak lagi peka dan lambungmu cukup terbakar. Cukup artinya sudah lebih dari cukup. Tetapi, aduh, barangkali darmamu belum cukup sehingga Tuhan, yang mengasihimu dan tak kepengin kau masuk neraka, belum pula memanggilmu pulang. Atau kau cuma satu dari sekian banyak orang sial yang mulai terbiasa dan akan sanggup menenggak hingga empat puluh seloki lagi.

Cukup artinya sudah lebih dari cukup.

Anggaplah Gammel dan Dalet sudah cukup mabuk sehingga empat hari bersama tak bikin mereka ingin protes tentang, misalnya, kenapa pada suatu hari di masa lalu mereka bertemu dengan orang yang seharusnya tak perlu mereka temui, yang meski tidak menimbulkan penyesalan apapun, namun mereka kira alangkah menyenangkan jika pertemuan itu tidak pernah terjadi; alangkah lebih mudah jika mereka lebih dulu bertemu ketimbang bertemu dengan yang lain. Dan dengan kepala terendam alkohol keduanya kini terdampar di dalam kamar, telanjang bulat seperti Adam dan Hawa sebelum mereka mengenal rasa malu.

Keduanya seakan menumpangi kereta yang seharusnya tak mereka naiki, maka tak ada pilihan lain lagi: mereka sudah naik dan kini yang bisa mereka lakukan supaya bisa selamat hanyalah dengan mengubur keinginan mereka untuk melompat keluar jendela saat kereta sedang kencang-kencangnya melaju. Jadi begitulah, nasib mereka saat ini kira-kira sama dengan nasib jutaan orang di luar sana yang enggan melakukan tindakan penuh risiko seperti melawan arus takdir. Dan pertemuan mereka lebih seperti sedotan atau sampah plastik yang kecebur sungai dan tersangkut di akar-akar kelapa yang bandel menghalangi arus air.

Gammel, seorang perempuan yang setiap pagi selalu dilanda perasaan antara ingin dan tak ingin berak, tertidur membelakangi Dalet. “Eh, tahu nggak, ikan paus dan ikan lumba-lumba–”

“Cukup ‘paus’ dan ‘lumba-lumba’,” potong Dalet. “Mereka bukan ikan.”

“Mereka ikan! Anak SD juga tahu mereka ikan.”

“Kalau begitu isi kepalamu ketinggalan di loker SD.”

“Coba kau lakukan polling, 97% penduduk negara ini pasti menyebut mereka ‘ikan paus’ dan ‘ikan lumba-lumba’.” Gammel berbalik dan melotot. “Sekalipun kau membawa seabrek-abrek bukti kalau mereka bukan ikan, nggak akan ada yang percaya penjelasanmu.”

Tapi mereka memang bukan ikan. Dalet membakar rokok, “Dan kau sudah cukup tua buat tahu itu.”

“Aku nggak tahu. Bagiku mereka ikan, sesederhana itu.”

“Terserahlah,” kata Dalet. “Jadi ada apa dengan ‘ikan’ paus dan ‘ikan’ lumba-lumba tadi?”

“Nggak jadi,” jawab Gammel cepat sembari melengos. “Aku cuma akan mau melanjutkan kalau kau dengan ikhlas mengakui mereka ikan.”

“Ya sudah,” jawab Dalet, tak kalah cepat. “Mereka bukan ikan.”

“Mereka ikan.”

Dalet berhenti bicara, tetapi tidak pikirannya. Ia terus mengulang, “Mereka bukan ikan,” sebanyak Gammel mengulang kalimat sebaliknya di dalam hati. Mereka saling menyanggah di dalam pikiran masing-masing hingga topik tentang kebiasaan masyarakat Cartagena, Kolombia, di mana para lelakinya menyerahkan keperjakaan mereka kepada keledai kesayangan mereka–dan terus mereka lakukan meski sudah berkeluarga–muncul dan berkembang begitu saja.

“Kalau kau,” kata Dalet. “Misalnya suamimu masih suka menyelipkan penisnya di vagina keledai, apa kau merasa diselingkuhi?”

“Kukira itu bukan selingkuh,” jawabnya. “Bagaimanapun ada perbedaan besar antara keledai dan manusia.”

“Tapi mereka, kan, memiliki keledai kesayangan dan mereka mencintainya. Kau bahkan nggak akan pernah tahu mana yang lebih dalam: cinta suamimu kepada dirimu atau suamimu kepada keledainya.”

“Kita ngomongin cinta seolah pakar saja.” Ia mendesah, menyedot ingusnya, lalu merangkak melewati perut dan dada Dalet menuju dispenser seolah kasurnya sudah menyedot seluruh daya hidupnya. “Tapi mungkin kalau kejadiannya seperti itu, dan sudah mentok, aku akan menyuruhnya pilih aku atau keledainya. Kalau kau?”

“Aku, sih, mungkin akan membiarkannya. Misal istriku merasa lebih suka bercinta dengan keledai, ya sudah, kutinggalkan saja.”

“Semudah itu?”

“Semudah itu.”

“Kau nggak perlu penjelasan?”

“Buat apa?” tanya Dalet. Sebuah pertanyaan yang seharusnya memerlukan penjelasan lebih, tetapi pikirannya dialihkan oleh kenikmatan menyesap bir dingin. Maka ia putuskan untuk menjawab seadanya, “Kita bahkan nggak bisa menjelaskan semua ini, kan?”

Beruntunglah Gammel cukup mabuk untuk tidak menuntut penjelasan lebih. Dan ia menemukan hal lain yang lebih menarik, yang tiba-tiba saja melintas di kepalanya. Ia duduk bersila dan membakar rokoknya. “Seorang temanku pernah diceritakan oleh ayahnya soal kenapa warna cheetah nggak menarik sama sekali, pernah dengar?” tanya Gammel dan Dalet menggeleng, ia akhirnya ikut bersila juga di atas kasur. Gammel menghisap rokoknya dan mulai bercerita:

Saat itu di hutan hewan-hewan belum mengenakan baju, mereka telanjang mencari makan dan sulit membedakan satu sama lain kecuali dari bentuk fisiknya. Seekor Burung Penjaga Hutan yang prihatin dengan kondisi itu memutuskan untuk memberi mereka pakaian. Ia terbang di langit dan mewartakan bahwa mulai besok ia akan memberi mereka hadiah dan semua penduduk hutan diharapkan datang ke batu besar di timur.

Hari pertama, sebagian hewan datang. Macan mendapat lorengnya yang berbeda dengan zebra, jerapah mendapat pakaian yang sesuai dengan panjang lehernya, begitu pula hewan lain yang datang hari itu. Cheetah sudah mempersiapkan diri, tetapi tempat tinggalnya jauh dan dia binatang yang lambat dan pemalas, sehingga hari keburu petang dan burung penjaga hutan harus pulang. Meski begitu, karena belum semua hewan mendapat bagian, ia berjanji akan kembali lagi esok.

Esoknya, sebagian binatang yang kemarin belum mendapat jatah datang ke batu besar. Gajah menyukai warnanya yang kelabu, ia bisa berendam di lumpur tanpa takut terlihat kotor dan merak mendapat pakaian yang amat cocok dengan kepribadiannya. Namun lagi-lagi, cheetah yang pemalas baru bangun saat matahari sudah nyaris tenggelam. Ia tak kebagian lagi.

Hampir semua hewan sudah mendapat bagiannya, dan besok, menurut perhitungan Burung Penjaga Hutan yang cermat, seluruh hewan akan mendapat baju. Maka ia pulang sambil menyiarkan kabar bahwa besok adalah hari terakhir. Cheetah yang hampir putus asa berjanji bahwa besok ia harus sampai ke batu besar.

“Ia memang sampai ke batu besar,” lanjut Gammel, “tapi lagi-lagi sudah petang, Burung Penjaga Hutan sudah bersiap pulang, dan yang tersisa di kantung pakaian Burung Penjaga Hutan hanya sebuah pakaian jelek yang sudah kelunturan pakaian lain.”

“Jadi cheetah menerima pakaian itu?”

“Ya,” jawabnya, dengan nada yang khas. “Nggak ada pilihan lain, kan? Tapi sebagai gantinya, Burung Penjaga Hutan menghilangkan kemalasan cheetah dan menjadikan cheetah hewan paling cepat di darat.”

“Jadi, apa hikmah yang bisa diambil dari cerita itu?”

Gammel mengangkat bahu.

“Eh, kurasa ayah temanmu itu sedang mabuk,” komentar Dalet. “Si cheetah kan bisa diam di dekat batu besar sampai besok, ia nggak perlu pulang, toh besok si Burung Penjaga Hutan akan kembali. Pasti ayah temanmu itu mabuk saat menceritakannya. Hm, tapi, ya. Kurasa nggak ada seorang pun di dunia ini yang nggak sedang mabuk.”

Gammel lagi-lagi menjawab ‘ya’ dengan nada yang khas. “Entahlah. Tapi mungkin sebaiknya nggak seperti itu, sih.”

“Cukup?” tanya Dalet, tidak jelas apa maksudnya. Gammel hanya mengangguk dan menjawab: Cukup.

Wajah mereka mendekat, dan ruang di antara hidung mereka kian menyempit, lalu hilang sama sekali.

“Bir dingin sepertinya enak,” ujar Dalet. Ada empat botol bir di bawah meja, mereka sudah berencana meminumnya semalam tetapi keburu tertidur dan rencana tinggal rencana. Klaim Gammel tentang kasurnya yang mampu menghisap sari kehidupan orang memang tidak berlebihan, ia memang berpotensi membuat siapapun yang tidur di sana enggan bangun lagi. Serupa kutukan yang kausenangi.

“Kalau ada kulkas, aku sudah memasukkannya dari semalam.” Gammel melingkarkan tangannya ke bahu Dalet.

“Ada warung makan dekat sini, kan? Kita bisa beli batu es.”

“Ide bagus,” jawab Gammel. “Lagipula mungkin memang sudah waktunya kita kena sinar matahari.”

Bandung, 10 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s