Pesan Moral

Homo sapiens mungkin sudah mengagumi langit bahkan saat mereka belum sapiens, dan rasa ingin tahu membawa mereka memasuki bentangan jagat raya yang tak terhingga luasnya berabad-abad kemudian. Sebelum keingin-tahuan ini terpuaskan dan teka-teki mampu diselesaikan barangkali semua bintang sudah terbakar habis. Untuk menyingkap rahasia di balik kabut sejauh 3000 tahun cahaya–yang menutupi sebagian rasi Monoceros–pun barangkali mereka perlu menunggu hingga kalender masehi di kamar mereka berganti sebanyak 3000 kali. Mereka hidup bersama rasa penasaran yang sama panjang dengan usia semesta, dan sialnya tak ada seorangpun boleh hidup selama itu, setengahnya pun tidak. Faktanya pada tahun 2025 tiga puluh bom nuklir diledakkan oleh lima negara–awalnya hanya satu, kemudian yang lain, yang merasa mampu, ikut serta. Ledakkan pertama disusul yang kedua dan seterusnya–untuk membantai ISIS dan sekaligus melenyapkan seluruh manusia dari muka bumi–kau boleh membakar rumahmu untuk membunuh seekor tikus, kan? Ya, meski itu tindakan tolol, tentu boleh. Itu, kan, rumahmu sendiri–dan dua orang yang mampu bertahan beberapa menit lebih lama dari yang lain bahkan tak sempat memaki tindakan terkutuk ini: yang pertama mati saat kata ‘tolol’ hendak melewati kerongkongannya, yang kedua terlalu pusing untuk berpikir. Orang kedua bernama Gali. Gali bisa selamat dari kemusnahan karena Tuhan sayang Gali, dan ini bercanda. Gali selamat barangkali karena daya juangnya dua setengah level lebih tinggi dari kecoa terakhir yang baru saja mati terlentang di bawah kakinya, atau ia memang ditakdirkan menjadi pahlawan penyelamat ras manusia.

Gali tergeletak di tanah-yang-tidak-mirip-tanah dan berusaha mati-matian mengagumi langit-yang-tidak-mirip-langit meniru manusia purba yang terpana pada langit untuk pertama kali dengan harapan ia akan menemukan daya hidup yang sama.

Kami, narator kesayangan anda, akan memandu tokoh kita bertemu beberapa sosok dan suara yang mungkin ia kenali. Barangkali anda pun mengenalinya.

Suara pertama datang dari langit tenggara, ia menyapa dengan lembut dan penuh kasih. “Bila aku memberimu roti, maukah kau mengikuti semua perintahku sebagaimana orang-orang sebelum kamu sehingga dunia baru yang lebih baik dari sebelumnya, dunia yang hanya menyembahku dan berbuat kebaikan, akan terbentuk?”

Gali tidak peduli dengan dunia baru dan sejenisnya, tetapi ia lapar dan ingin rotinya. Ia bersiap menyetujui ajakan itu namun suara lain muncul dari langit barat daya: “Akan kuberi kau dua roti, ditambah segelas susu, dan seorang wanita cantik dari rasi Vultur Cadens jika kau mau mengikutiku dan kita akan berbagi tempat sebagai raja kala dunia baru terbentuk.”

Tawaran yang menggiurkan, pikir Gali. Ia akan menerima tawaran itu andai tak muncul suara sayup dari timur, yang mengisahkan cerita. Begini ceritanya:

Ketika orang yang beriman berhadapan dengan Chaf Shin IV, seorang despot dari negeri yang jauh, kami membimbingnya sehingga Chaf Shin IV terbungkam tak dapat menjawab maupun membantah. Ia berhasil mempermalukan raja jahanam itu di depan publik tanpa melakukan tindak kekerasan apapun. Sang Raja yang malu lantas memerintah orang untuk memenggal lehernya. Orang yang beriman ini masih ingin memiliki leher, namun keinginan nyaris selalu berbanding terbalik dengan kenyataan dan hukum ini berlaku bahkan kepada orang yang beriman. Ia diikat dan dibawa ke alun-alun kota, di mana algojo dengan pedang terasah menunggunya, dan ia dipaksa membungkuk.

Kepada orang yang beriman itu, kami berusaha membesar-besarkan hatinya. Membuatnya merasa terhibur sebelum tubuhnya mengejang dan kepalanya menggelinding di lantai kayu. Kami punya banyak cara untuk menghibur orang yang akan meninggal dunia, karena itulah tugas kami: membacakan sebuah cerita kepada mereka yang sakaratul maut. Kami sudah melakukannya sejak zaman adam, dan kami kira kami cukup profesional.

Tersebutlah seorang saleh yang tak diketahui namanya. Dalam suatu perjalanan dia melewati sebuah tempat yang telah jadi padang tekukur, kata peribahasa. Pohon-pohon sudah meninggi, tumbuhan rambat menutupi atap-atap rumah, tak ada manusia yang mendiaminya lagi. Sebagian besar bangunan telah runtuh, yang merupakan tanda bahwa tanah itu pernah berdiri sebuah negeri.

Orang saleh itu bertanya-tanya, bisakah segala kerusakan ini dibangun kembali? Bisakah tanaman rambat itu dirapikan sehingga manusia bisa menempati rumah-rumah itu lagi? Maka Tuhan membuatnya tertidur lelap dan mematikan seluruh sistem tubuhnya hingga ia tak akan menua dan merasa lapar.

Jika teman kita tidur dan kita berbaring tanpa mengantuk di sisinya, malam akan terasa panjang bagi kita sementara sang teman merasa matahari terbit terlalu cepat. Begitulah orang saleh itu tertidur dan bangun seratus tahun kemudian. Keledainya sudah tinggal belulang, berserak di tempat ia dulu ditambatkan. Dan kampung itu sudah menjadi kota besar dengan model-model rumah penuh gaya, tiang-tiangnya berulir naga, dan tembok-tembok mereka berwarna cerah.

Pasar digelar tak jauh dari pembaringannya, dan saat ia terduduk, semua orang yang tengah sibuk menjadi waspada sesaat; tawar-menawar dihentikan; dan semua bocah yang berlarian terdiam menatap orang saleh itu. Hanya beberapa saat hingga otak cemerlang mereka menerima sepeunh hati bahwa ia yang ditunggu-tunggu telah bangkit. Pengunjung pasar bersorak sorai, mengelu-elukan orang saleh itu, dan itu mengejutkan mereka yang berdiam di dalam rumah. Penduduk berhamburan di jalan-jalan, berlomba-lomba menuju pembaringan orang saleh. Mereka mengerubunginya, beeusaha memeluknya, menciuminya. Dialah si orang saleh, penghuni pertama negeri itu, yang tertidur dan ditunggu-tunggu kebangkitannya selama lebih dari tiga generasi. Dan orang saleh itu mati karena kehabisan napas sebelum sempat mengagumi fakta bahwa pertanyaannya seratus tahun lalu telah terjawab oleh waktu.

Suara dari timur melanjutkan cerita sementara dua suara lain berdebat mengenai konsep tatanan dunia baru: “Jika serunai sangkakala dibunyikan musnahlah segalanya, sia-sialah segala gagasan dan tak ada gunanya memperdebatkan kebaikan maupun keburukan. Dan apabila serunai sangkakala dibunyikan untuk kedua kalinya maka, serupa burung-burung yang telah dijinakkan, mereka akan bangkit dari kematiannya dan berjalan menuju sumber suara.”

Bahwa yang terakhir tidak selalu menyenangkan atau menyimpan sisi romantis sebagaimana dahulu kerap diagung-agungkan tukang obat kapiran, dibuktikan sendiri oleh Gali. Ada kalanya ia berpikir lebih baik ikut lenyap bersama-sama, atau mati lebih dulu. Setidaknya begitulah yang dirasakan Gali. Ia muak namun tak bisa mengalihkan pandangannya dari langit yang, meski amboi jeleknya, diam-diam ia kagumi.

Izinkan kami, narator kesayangan anda, pamit tanpa menyampaikan pesan moral dari kisah di atas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s