Cara Membuang-buang Waktu Paling Efektif

Seekor kupu-kupu masuk ke dalam kamar yang mendapat cukup sinar matahari. Melalui mata kupu-kupu itu, kamar yang semula kosong melompong kini padat dengan warna ultraviolet. Ia berkeliling satu kali sebelum akhirnya hinggap di satu dari sedikit benda berpendar di ruangan itu: jas hujan kuning yang masih agak basah dan digantung bersisian dengan handuk hijau tak layak pakai. Ia mengepak satu kali sebelum mengatupkan sayapnya hingga tegak sempurna. Setelah kaki-kaki kecilnya yakin jas hujan tidak mengenyangkannya, ia terbang sedikit dan berpindah ke handuk–yang sama-sama tak memiliki rasa apa-apa.

Embun dari gelas berisi batu es yang mulai mencair mengalir perlahan dari menit ke menit dan akan segera sampai di bawah asbak merah kalau saja sang empunya kamar tidak melipat tisu, membentuknya menjadi segitiga sama kaki, dan menyentuhkan sudut tersempitnya ke hulu aliran air. Kini air itu merambat naik dan tisu yang semula kaku bak lempengan aluminium kini tak ubahnya binaragawan yang tulang kakinya mendadak lunak kala sedang mempertontonkan otot-ototnya di depan dewan juri. Tetapi tisu itu tak mampu menyerap seluruh air. Fali tersenyum kecut, melemaskan otot leher, kemudian meremas tisu dan membiarkannya tergeletak begitu saja.

Tak cukup sampai di situ, ia meneteskan sisa kuah soto ayam makan siangnya. Gumpalan tisu itu kini mungkin mampu membuat pengidap coprophobia mati di tempat. Setelah puas dengan karyanya, Fali membuka kaus kaki tanpa menyentuhnya dengan tangan. Ia sudah memakainya semalaman suntuk. Bukan untuk menghalau dingin atau meredam langkah kakinya, ia hanya lupa melepasnya. Sepulang kerja ia memikirkan hubungannya dengan seorang perempuan yang lebih tua tujuh tahun darinya tetapi ia tertidur sebelum sempat berandai-andai betapa menyenangkan jika perempuan itu tidak pulang. Satu jam yang lalu ia bangun, menguap, dan tidak bergerak dari ranjang hingga mendengar denting mangkuk tukang soto ayam keliling langganannya. Ia tidak terlalu lapar, tetapi makan bukanlah ide yang buruk. Ia bangkit, mendekati jendela, membukanya, menepuk tangan tiga hingga empat kali, dan saat tukang soto ayam menoleh ia menunjukkan jari telunjuknya dan si tukang soto ayam tahu itu berarti: satu porsi, tidak pakai daun bawang, tidak pakai kecap, plus nasi, dan di antar ke kamar. Tukang soto membalasnya dengan mempertemukan ujung ibu jari dan telunjuk–membentuk huruf ‘O’–yang setara dengan jawaban: Oke. Beberapa menit kemudian, diiringi berita teror di Paris yang sedang ia tonton di youtube, ia melahap soto ayam sambil memikirkan siklus hidup ayam pedaging yang begitu terstruktur dan penuh kepastian.

Ketiaknya bau. Ia baru menyadarinya saat membungkuk untuk mencolok headphone ke komputer. Ia tak jadi memasang headphone. Fali menaikkan volume pelantang stereo yang kini memainkan Have You Ever Seen the Rain, dan mengambil handuk hijau yang tipis nan kusam sehingga memaksa kupu-kupu yang hinggap di sana terbang lagi. Tidak seperti Fali, kupu-kupu itu tak kepengin menghirup aroma parfum perempuan yang cukup santer menyeruak dari handuk. Sewangi-mahal apapun aroma parfum tak mampu mengenyangkan kupu-kupu.

Seandainya kupu-kupu itu peduli, tentu ia akan mendengar gemericik air pancuran dan gumaman orang di bawahnya. Sayangnya ia tak didesain untuk itu. Kini ia hinggap di benda berpendar lain: asbak merah, dan tak menemukan kehidupan di benda itu. Beberapa saat kemudian ia berpindah ke gumpalan tisu dan tetap tak mengobati rasa laparnya. Karena itu ia memutuskan untuk berkeliling sebentar, sebelum akhirnya menemukan rok motif bunga mawar di atas bantal, yang tetap tak memberi apa yang ia inginkan. Toh ia berdiam di sana, menutup-tegakkan sayapnya dan merasakan permukaan rok itu dengan kakinya yang terlalu sensitif.

Kalau saja kupu-kupu itu bisa protes tentu ia akan menyampaikan keluhannya: mengapa manusia gemar merusak kesenangan makhluk lain? Fali, yang baru saja selesai mandi, melempar handuk jeleknya secara asal dan nyaris membekap kupu-kupu itu.

Si kupu-kupu kini kabur dan hinggap di atas ponsel yang tiba-tiba saja berpendar di matanya. Panggilan masuk menyebabkan simbol merah di layar sentuh ponsel seketika muncul, disertai alunan musik. Kupu-kupu itu kurang peduli dengan musiknya, tetapi tidak dengan si pemilik ponsel. Alih-alih menjawab panggilan, ia malah bernanyi mengikuti nada panggil. Ia merasa tidak perlu mengangkat telepon yang sudah diketahui siapa penelepon dan apa yang mungkin hendak disampaikan.

“Don’t bother saying you’re sorry,” gumamnya, mengikuti lagu sambil memilih celana dalam. “Why don’t you come in Smoke all my cigarettes again.”

Telepon berhenti berdering. Kupu-kupu minggat. Kalaulah ia sedikit bersabar, tentu ia akan tinggal lebih lama sebab sesaat kemudian telepon berdering lagi. Kita tidak pernah tahu apa yang dipikirkan kupu-kupu, tetapi wajar saja jika ia tak betah: ia tak menemukan kehidupan di dalam kamar itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s