Kaktus Ajaib

[Catatan iseng tadi siang sambil menunggu kerja selesai, siapa tahu nanti ada gunanya.]

Dia bukan Nabi Muhammad, tapi mereka punya nama yang mirip. Bedanya, tak ada nabi yang pekerjaannya mengutak-atik kode website dan sesekali membawa bekal ke kantor guna mengirit gaji dan benci kecoa karena bisa terbang. Kedua, Nabi Muhammad tidak punya nama belakang ‘Mastani’, sementara dia punya. Ketiga, dia baru tahu nama itu menggunakan dua huruf ‘m’ di tengah saat ia naik kelas tiga SD. Persisnya saat seorang teman sekelasnya menegur keras caranya menulis nama itu, orang itu bernama Afif dan kini, beberapa tahun sejak lulus SD, mereka reuni secara kebetulan dan dalam situasi yang agak membingungkan–jika menyeramkan dirasa terlalu berlebihan.

Afif mengetuk pintu kamar sewaannya dua puluh menit lalu, menawarkan serbuk abate dengan kalimat yang itu-itu saja sejak pertama kali ia memutuskan untuk menjadi sales abate palsu dua tahun yang lalu. Ia lebih dulu menyadari pria yang membuka pintu adalah teman lamanya, ia segera menunduk dan berpikir betapa beruntung dia jadi sales serbuk abate sebab jarang orang tahan dengan penjelasan panjang lebar, biasanya mereka langsung menolak dengan mengada-ada alasan-alasan. Tetapi Mastani diam dan menyimak penjelasan sales serbuk abate dengan penuh perhatian dan malah bertanya ini itu sehingga Afif terpaksa menjelaskan sambil tetap menunduk–dan itu tidak sulit, hanya bikin pegal. “Kau punya vodka?”

“Afif?”

“Vodka? Pekerja kantoran sepertimu biasanya suka bergaya. Ini, kan, akhir bulan.” Afif masuk ke dalam kamar tanpa menunggu ajakan dan duduk di depan komputer. “Vodka, atau apapun lah yang bikin mabuk, baru kau boleh tanya-tanya.”

Yang diajak bicara hanya bisa mengulang namanya. Ia tak punya minuman beralkohol atau apapun yang memabukkan, ia hanya memiliki sebotol air mineral, pupuk cair, dan sebuah pot berisi kaktus di bibir jendela. Kalau diizinkan ia malah ingin mencari tahu dulu di mesin pencari internet apakah fermentasi air kaktus bisa bikin teler. Tetapi Afif duduk di kursi kerjanya–satu-satunya kursi di dalam kamarnya–berhadapan dengan satu-satunya komputer yang sedang menampilkan video tutorial merawat anggrek. Ia berencana membeli anggrek untuk teman kaktusnya. Dan ia tipe anak yang punya kekhawatiran berlebihan jika seseorang mendekati komputernya, apalagi kaki kanan Afif baru saja menendang kabel earphone-nya sehingga kini kau bisa mendengarkan dengan volume penuh denting piano dan suara ibu-ibu yang tengah menjelaskan tempat terbaik untuk meletakkan anggrek. Dan siku Afif baru saja menggeser tetikusnya secara serampangan. Mastani bingung mana yang lebih dulu perlu ia selamatkan.

“Boleh minta rokok?” Afif bertanya setelah membakar dan menghisap rokoknya. Mastani hanya mengangguk dan mondar-mandir di depan kasurnya, sebelum akhirnya memutuskan duduk. Itu dia, Afif. Kecuali payudara, tak ada lagi yang mengembang dari tubuhnya. Tidak juga, sebenarnya. Lengannya bertambah sekal dan pipinya sedikit menggembung. Ada jerawat kecil di keningnya dan rambut merah samar, dan ia mengenakan eyeshadow dan, oh, matanya biru. Mastani mungkin tolol, tapi tidak terlalu dungu sehingga mengira waktu beberapa tahun mampu mengubah orang melayu menjadi bangsa aria. Afif mungil dan cerewet kini sudah besar dan tetap cerewet, selain itu ia mengenakan lensa kontak.

“Kalau begitu,” ujar Afif setelah nyaris putus asa melihat kamar teman kecilnya yang terlalu rapi dan terlalu banyak ruang kosong untuk menyembunyikan alkohol. “Jangan tanya kenapa aku bekerja seperti ini.”

Mastani menggeleng, “Aku memang nggak mau tahu, kok.”

“Baguslah.”

“Tapi tolong jauhkan kakimu dari Tiffany.”

Afif melongo. Mastani menambahkan: “PC-ku.”

Dengan ‘oh’ panjang Afif menggeser kursinya menjauhi komputer. Benda memabukkan yang mungkin dijumpai dari Laki-laki yang memberi nama komputernya Tiffany paling-paling koleksi foto cewek berbikini. Pikirnya, kali ini sepenuhnya putus asa. Afif mendengar suara tertawa, ia menoleh ke belakang dan tidak menemukan siapa-siapa. Mungkin suara AC. Tetapi, kalau dia sedikit teliti, dia akan tahu kamar ini tidak ber-AC.

Ia belum berhasil menjual satu pun serbuk abate selama seminggu terakhir dan sudah berencana akan tidur dengan calon pembelinya supaya mau memborong semua jualannya. Alih-alih, dia malah bertemu Mastani yang sepertinya masih sama pecundang seperti dulu.

Mastani merasa perlu menjadi tuan rumah yang baik, namun selain air mineral dan rokok ia tak punya apa-apa lagi. Tamunya kelihatan kusut, mungkin sedang bernasib buruk dan setahunya, nasib buruk selalu mengundang nasib buruk lain. Ia pernah dengar seseorang berkata untuk memutuskan rantai nasib buruk diperlukan sentuhan minuman keras. Maka ia mendekati Jules–kaktusnya, sebelumnya dia memberi nama kaktus itu Sasmita tetapi kaktus itu menolak setelah tahu arti dari Sasmita dan berkata Jules lebih cocok dengan kepribadiannya–yang sedari tadi melihat dan mendengarkan (dan cekikikan) melihat kelakuan tuannya.

“Ini permintaan pertamaku,” kata Mastani. “Jadi tolong dengarkan baik-baik.”

“Setelah dua tahun akhirnya kau memutuskan untuk menggunakan kekuatanku?” tanya Jules. “Jangan bilang kau ingin perempuan ini menyukaimu? Nggak sulit, sih, tapi menyedihkan.”

“Nggak.” Mastani menoleh ke belakang, Afif mulai berjalan-jalan ke koleksi buku-bukunya. “Aku hanya… Ah. Lupakan. Permintaan pertamaku, aku minta sebotol vodka.”

“Apa?”

“Vodka, yang dingin.”

Jules kembali bertanya sekadar memastikan kewarasan tuannya. Memang, tak ada aturan tertulis bahwa permintaan harus dibuat dalam keadaan waras. Tetapi, Jules sudah kadung menduga permintaan apa yang akan dibuat Mastani dan perkiraannya meleset total, karena itu ia merasa perlu memastikan. Bagaimanapun ia dan Mastani sudah berteman selama dua tahun, Mastani anak baik, ia tak mau Mastani menyesal. Meski begitu Mastani kembali mengulang dengan menekankan kata ‘dingin’, nampaknya ia cukup sadar. Seketika muncullah absolut vodka di tangan Mastani, lengkap dengan gelas sebagai bonus, kalau-kalau dibutuhkan.

Mastani berterima kasih. Ia mendekati Afif dan Afif cuma berseloroh kalau ternyata teman kecilnya tak selugu penampilannya. Ia mengambil tanpa bertanya dari mana vodka itu dan menenggaknya tanpa menggunakan gelas. Mastani meletakkan gelas di atas meja. Ia juga mengingatkan agar Afif tidak meletakkan botolnya di dekat kibor.

Ibu-ibu di dalam video sedang menyiapkan media tanam anggrek dan meminta pemirsanya untuk mengikuti.

Sembari menyesap vodka, Afif bercerita panjang lebar tentang kesialan demi kesialan yang mengantarnya ke pekerjaannya saat ini. Berbeda dengan minus kali minus yang sama dengan plus, tak ada jaminan nasib sial dikalikan nasib sial akan menghasilkan nasib baik. Ia juga bercerita bahwa ia membenci orang-orang seperti Mastani: mereka yang bekerja pagi dan pulang petang dan menghabiskan waktunya membicarakan dosa-dosa orang lain sekadar menghibur diri dari kenyataan betapa nelangsanya hidup mereka. “Pekerja kantoran seperti kalian,” kata Afif. “Cuma pengin kelihatan banyak uang. Dan kalau iya mereka banyak uang, toh, ya percuma juga kalau mereka nggak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan uang mereka. Lalu mereka membeli barang-barang nggak berguna, dan benci kalau ada yang berusaha menyaingi mereka. Mereka bicara soal kesehatan di depan mukaku, kautahu, melantur ke sana ke mari dan amat-sangat ngeri dengan nyamuk demam berdarah tapi mereka tak membeli satu pun daganganku. Mati sajalah!”

Ia juga bercerita dagangannya masih satu tas penuh, menepuk-nepuk tasnya, dan menambahkan kalau tidak terjual ia mungkin akan menyerah dan menerima tawaran kader partai islami yang akan menjadikannya istri keempat dengan menambahkan tawa untuk menimbulkan kesan ia sedang berkelakar.

Mastani bertanya berapa total harga yang harus ia bayar jika ia memborong semuanya, dan menambahkan kalau ia baru gajian. “Aku mungkin akan menjualnya lagi dengan harga dua kali lipat,” ujarnya.

Afif tahu teman kecilnya berbohong soal niatnya akan menjual lagi serbuk abate yang ia beli, ia menggaruk telinganya saat berbicara dan matanya tak fokus. Namun, yah, tentu Afif tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. “Sepuluh ribu rupiah kau dapat empat bungkus, di dalam tas ini ada dua ratus bungkus. Totalnya…” ia mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi kalkulator, “lima ratus ribu.”

Mastani tidak memegang uang tunai sebanyak itu. Sebenarnya saat ini ia memang tidak punya uang sebanyak itu, kemarin ia baru saja membayar sewa kamar dan sisanya dikirim ke ibunya. Ia hanya punya tiga ratus ribu rupiah, dan kliennya baru akan membayar desain pesanan minggu depan. Mastani berjalan ke jendela.

“Permintaan kedua,” bisiknya pada Jules. “Beri aku uang lima ratus ribu rupiah, sekarang.”

Kalau Jules punya tangan, ia mungkin akan mengecek suhu kening tuannya. Memastikan tuannya tidak demam. Atau ia bisa saja melakukan tes urin, tes kartu rorsarch, atau tes lain yang hasilnya bisa dipertanggung-jawabkan. Ia juga bisa saja menghipnosis Mastani untuk membuat permintaan yang masuk akal, setidaknya bagi akal kaktus. Tapi Jules memang tak pernah bisa mengerti Mastani, selama dua tahun ia hanya mendengar cerita orang lain dari mulut Mastani atau cerita dari buku yang menurut Mastani sangat bagus bagi kesehatan kaktus atau lagu-lagu favorit Mastani. Ia tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Mastani; apa yang dipikirkan tuannya. Jules mengira Mastani akan meminta komputer super-canggih, buku-buku langka, atau apapun selain sebotol vodka dingin dan uang lima ratus ribu rupiah. Tetapi, toh, pilihan tuannya bukan urusan Jules. Tugasnya hanya mengabulkan.

Kini di tangan Mastani ada lima lembar seratus ribuan. Dia berpura-pura mengeluarkan uang itu dari dompet dan memberikannya pada Afif.

“Kalau lagi nggak punya uang, nggak apa, kok.”

“Sudah kubilang, aku baru gajian. Tadi cuma… mengecek cuaca.”

Afif mengambil uangnya dan menyandarkan tasnya di kaki meja. Bonus tas, katanya. Mastani segera mengambil tas itu sebelum–pikirnya–merubuhkan meja komputer. Ia meletakkannya di atas ranjang.

“Kadang kupikir ada yang salah dengan namaku, tapi biar, deh,” kata Afif, ia berjalan mendekati jendela. “Kamarmu enak, ya. Dari sini bisa kelihatan… yah, tak ada yang menarik sih. Setidaknya suasana kamarmu memang enak. Bagaimana dengan hidupmu?”

Mastani mendelik. “Nggak banyak yang bisa diceritakan.”

“Aku sudah bisa menebak, kok.” Afif bersandar ke jendela. “Kau perlu pengalaman yang menegangkan.”

“Misalnya?”

Afif memutar bola matanya, mengetuk-ngetuk dahinya dengan telunjuk, berjinjit dua tiga kali, lalu berkata, “Misalnya bertemu dengan seorang teroris. Dia membawa bom di badannya dan masuk ke dalam kamarmu.”

Mastani tertawa dan bilang bahwa orang seperti itu tidak mengerikan, tapi tolol. Ia lebih takut dengan kecoa ketimbang orang tolol. Afif terpingkal dan bertanya kenapa harus kecoa. “Kecoa bisa terbang,” jawabnya, “dan itu mengerikan.”

“Bagaimana kalau teroris itu datang tanpa kepentingan politik atau agama?”

“Mana mungkin? Kalaupun ada, paling cuma psikopat pecundang.”

“Dan dia bukan psikopat.”

“Lalu?”

“Dia datang untuk memaksamu mendengarkan ceritanya, cerita yang panjaaaaang sekali. Kalau kau menolak, dia akan meledakkan diri.” Afif menjauhi jendela untuk mengambil rokok. “Sepertinya mengasyikkan.”

Mastani mendekati Jules. “Sekarang kau tahu kan permintaan terakhirku?”

“Sinting!” Jules berusaha menahan diri. “Kau tahu kan setelah ini aku hilang dan kau nggak bisa meminta apa-apa lagi?”

Tentu Mastani tahu. Ia memang tidak siap kehilangan teman berbincang, setidaknya ia belum menemukan tumbuhan lain yang seasyik Jules. Tetapi Mastani tidak punya pilihan lain, sepertinya.

“Tentu kau punya, Goblok,” seru Jules. “Kau bisa memintaku bikin kau kaya raya sehingga kau bisa mengawini perempuan itu dan dengan begitu mungkin hidupnya akan lebih menarik.”

“Pernikahan, kan, nggak selalu bahagia. Lagipula dua orang sial jika disatukan belum tentu menghasilkan kebahagiaan, Jules. Kau mengerti? Kami cuma perlu menghibur diri saat ini. Nanti, ya, urusan nanti. Dan ide teroris tadi, kukira, cukup seru.”

“Sinting,” ulang Jules, tetapi toh ia tak berhak mencampuri keputusan Mastani. “Tidak bisakah kau, setidaknya, menghadiahiku kemenangan yang layak?”

“Apa yang kau harapakan dariku?”

“Kau tahu aku sudah lelah berkeliling-keliling, kau cuma perlu membuatku mengabulkan permintaan yang, yah, lebih terhormat. Permintaanmu menyakiti harga diriku.”

Afif terlonjak saat mendengar pintu meneriakkan nama Mastani di depan pintu. Setelah itu, Jules mengering dan lenyap. Ia bebas.

Orang gila itu masuk, mengunci pintu, dan menelan kuncinya. Tubuhnya besar dan telapak tangannya cukup lebar untuk meremukkan kepala orang dengan sekali genggam. Ia membuka baju dan memperlihatkan rompi dengan rangkaian kabel rumit yang hanya punya satu tujuan: meledakkan tempat di mana pun ia menarik talinya.

Orang gila itu bilang ia mendapat gelar Ksatria di depan namanya. Namanya sendiri cukup panjang, jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia: Lingkaran Api yang Menyala saat Purnama Membesar dan Tempayan di Rumah-rumah Bergoyang-goyang sehingga setiap Kalajengking yang Tinggal Merayap serta Ular Derik Mendesiskan Kehebatannya. Kau cuma perlu menambahkan gelar ‘Ksatria’ di depan nama itu.

“Dengarkan ceritaku kalau kalian tak mau jadi abu,” serunya dengan suara lantang.

Afif, di luar dugaan, malah duduk bersila. “Kami punya banyak waktu.”

“Ketika Nabi Musa akan wafat; tidak jugalah beliau menerima maut di hadapan pengikutnya. Beliau meninggalkan mereka dan naik ke puncak gunung di Moab. Di sanalah beliau meninggal dunia dan dimakamkan secara rahasia sehingga tidaklah diketahui di mana makamnya. Tetapi empat puluh hari setelah itu, seorang pengikutnya menemukan kaktus yang bisa bicara di sekitar Moab. Beberapa pengikut setia Musa berkata bahwa itu sihir. Meski begitu, ia bersikeras membawa kaktus itu bersamanya yang membuatnya diusir. Selama perjalanan ia berbincang dengan kaktus itu dan kaktus itu berkata bahwa ia bisa mengabulkan tiga permintaan namun hingga ajalnya, ia tidak sempat meminta apa-apa.”
Sang Teroris terus bercerita mengenai perjalanan Kaktus Ajaib yang sebenarnya jin yang dihukum atas kelalaiannya membocorkan rahasia sihir kepada seorang pemalas yang berkeliaran di Mesir, jin itu tak tega melihat pemuda luntang-lantung. Alhasil, pemuda itu menjadi penyihir pertama di muka bumi dan mewariskan rahasia itu kepada beberapa sahabatnya yang lalu menjadi antek Fir’aun. Si Teroris menceritakan bagaimana Kaktus Ajaib itu sampai di tangan Mirza Ghulam Ahmad yang lalu membawanya ke Lembah Kashmir, dan terus berpindah-pindah kepemilikan yang mana setiap pemiliknya seolah ditakdirkan untuk tidak mengucapkan permintaan sehingga si Kaktus, selain tidak pernah bertambah tinggi, juga tidak pernah merdeka.

“Di tahun 1941, beberapa orang Arab dari Yordania yang menjual barang-barang gelap ke Yerusalem–saat itu Perang Dunia II tengah berkecamuk dan memang banyak ‘Pasar Gelap’–keluar dari ‘jalan tikus’ yang biasa mereka lalui dan memutuskan untuk bermalam di sebuah gua di pegunungan Qamran. Gua itu panjangnya sembilan meter dengan lebar dua meter dan tinggi sekitar tiga meter. Di dalam gua itulah mereka menemukan guci-guci. Dengan amat bernafsu mereka mengorek isi guci itu dan tak ditemukan sepeser emas pun kecuali lembaran-lembaran kuno dan sebuah kaktus. Yang lain melanjutkan perjalanan ke Yerusalem dan membawa lembaran itu kepada Athanasius Yashue Samuel karena menduga bahasa yang digunakan adalah bahasa Assyria, yang seorang–yang percaya bahwa kaktus itu lebih penting dari lembaran-lembaran usang–memisahkan diri setelah dikata-katai gila. Dan orang itu pun–semoga Allah merahmatinya–wafat tanpa sempat menggunakan keajaiban Sang Kaktus.”

Lalu, Sang Teroris melanjutkan kisah satu per satu sang pemilik kaktus: dari China hingga Vietnam, dari janda kaya yang menjadikan pembantunya budak seks hingga kakek-kakek yang tak pernah menikah seumur hidupnya, anak kecil yang terapung di samudera Hindia, petani yang dipotong kemaluannya dan batang penisnya digantung di depan pintu oleh seorang anti-komunis, sampai seorang Pegawai Negeri Sipil yang tewas tersengat listrik kereta ekonomi, dan semuanya meninggal sebelum sempat mengucapkan permintaan.

Lima jam berlalu dan kini Sang Teroris tiba di akhir cerita. Ia hendak mengisahkan seorang pemuda dan bagaimana pemuda itu akhirnya membebaskan jin itu dengan cara-cara yang kurang heroik. Suatu klimaks payah untuk riwayat Kaktus Ajaib yang amat-sangat panjang.

“Aku lapar,” bisik Afif.

“Aku juga,” jawab Mastani sementara Sang Teroris terus bercerita. “Aku masih menyimpan telur ayam di dapur, kalau kau mau.”

Afif menangguk.

Mereka pergi ke dapur sebelum cerita berakhir, sesaat sebelum Sang Teroris hendak menyebut nama Mastani di dalam ceritanya. Sambil berjalan Mastani berpikir apakah sebaiknya ia membeli anggrek atau ikan cupang. Tentu saja Sang Teroris menarik talinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s