Jam Sibuk

Kemarau menutup wajahnya dengan telapak tangan bukan karena sedang menyesali namanya—yang mungkin saja mempengaruhi nasibnya—dan bukan pula karena mengantuk atau takut kalau-kalau calon pembeli dagangannya sore itu kabur jika melihat tampangnya. Hanya ada satu pembeli, seorang perempuan berpakaian khas pegawai kantor yang jika dilihat dari tindak-tanduknya cukup tahan untuk tidak memaki orang lain secara terang-terangan—yah, minimal kalau merasa terganggu perempuan itu mungkin akan meletakkan dulu majalah di tangannya dan mundur pelan-pelan atau kalau terpaksa berbicara tentu akan memilih kalimat yang tidak menyakitkan. Ia hanya sedang memikirkan satu pertanyaan yang tiba-tiba mencuat: ada apa sebelum Dentuman Besar?

Kemarau menurunkan tangannya dan membuka lagi majalah ilmu pengetahuan dan teknologi di pangkuannya. Ia tidak suka membaca, tetapi kalau kau duduk berjam-jam di depan tumpukan koran dan majalah, kau mungkin akan terpaksa membaca lalu kau akan tiba di satu titik di mana kau merasa kegiatan itu, selain obat tidur paling efektif, juga media buang-buang waktu yang tidak merugikanmu.

Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.

Ia kembali menyusuri majalah itu dari halaman awal. Majalah itu tengah membahas masa depan semesta. Dikatakan bahwa satu milyar tahun dari hari ini, matahari akan menjadi amat sangat panas sehingga tak satu pun makhluk di bumi akan bertahan dan empat milyar tahun lagi matahari akan mati dan itu menandai berakhirnya tata surya kita. Kemarau mampu membayangkan semua itu dengan baik, ia hanya perlu mengambil kertas karbon dari selipan buku faktur dan menutup foto Tata Surya dengan kertas hitam itu. Itulah gambaran kematian Tata Surya. Majalah itu juga mengatakan, diduga beberapa biliun tahun dari sekarang produksi bintang di jagat raya akan berhenti dan suatu hari, bintang terakhir di semesta akan mati. Setelah itu semesta akan memasuki zaman kegelapan yang hanya dihuni oleh Lubang Hitam. Ini pun tak sulit, foto Tata Surya diganti foto gugusan-gugusan galaksi dan diperlukan kertas karbon yang lebih besar. Ia tak punya foto dan kertas karbon yang lebih besar dari ukuran buku faktur, meski begitu ia bisa membayangkannya dengan baik. Dan lama hingga seluruh Lubang Hitam lenyap, akan terjadi sesuatu yang disebut: Heat Death. Tak ada lagi yang bergerak, tak ada perubahan, dengan kata lain semesta mati. Kemarau merasa kondisi seperti itu tidak perlu dipikirkan. Kalau sudah mati ya sudah, tak ada gunanya dipikirkan. Pikirnya. Tetapi Heat Death memaksanya berpikir tentang kebalikannya, kelahiran semesta, yang dibahas pula di majalah yang tengah ia baca. Sayangnya, majalah itu tidak membicarakan kondisi sebelum semesta lahir.

Pelanggannya meletakkan majalah wanita dan mengambil komik Paman Gober. Ia bertanya harga, Kemarau menyebutkan angka, dan perempuan itu membayar dengan uang pas sebelum merobek plastik kemasan dan membacanya. Ia meminta izin untuk duduk di kursi panjang yang memang sengaja disediakan Kemarau di sana, Kemarau hanya mengangguk dan mencoba menata ulang ingatannya. Ia berharap dengan begitu barangkali ia menemukan jawaban, atau setidaknya bisa membayangkan kondisi sebelum Dentuman Besar.

Kemarau mencoba mengingat apa yang ia lakukan satu menit lalu: ia sedang membereskan dagangannya, dan selain perempuan itu ada tukang parkir langganan yang membeli buku Teka Teki Silang. Satu jam yang lalu, berarti sekitar pukul empat sore, ia sedang duduk di tempat ini dan seingatnya tak ada pembeli pada jam itu. Apa yang ia lakukan kemarin? Nampaknya sama dengan apa yang ia lakukan hari ini. Dan kemarin lusa, dan minggu lalu. Ia kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan dan sedikit meregangkan punggung. Tak ada gunanya menyusuri hidupku, pikirnya. Aku harus mengingat hal lebih besar, mungkin akan lebih menarik.

Ia ingin bertanya kepada perempuan itu apa yang terjadi dengan dunia dua tahun lalu, tetapi ia ingat dengan ponselnya dan ia punya cukup pulsa untuk berselancar di internet. Kemarau membuka mesin pencari dan mengetik angka 2013 dan muncul laman Wikipedia yang berisi peristiwa di tahun 2013. Di sana tertulis pada tanggal 20 Februari, Vania Larissa memenangi Miss Indonesia 2013. Gempa bumi berkekuatan 6,2-skala richter mengguncang Aceh lima bulan setelahnya. Di akhir tahun, tepatnya 10 Desember, Uruguay melegalkan ganja. Ia ingat soal gempa, tetapi ia lupa soal berita lain. Ia ingin tahu siapa yang meninggal dunia di tahun itu, maka ia membuka laman Daftar Tokoh yang Meninggal di Tahun 2013 dan mendapati banyak sekali nama hingga ia pusing dan malas membacanya. Ia kembali ke mesin pencari dan, iseng, ia langsung melompat ke halaman sepuluh dari hasil pencarian dan menemukan sebuah berita mengenai kematian bodyguard Hitler di usia 96 tahun. Ia tahu Hitler, ia hanya heran mengapa Hitler perlu bodyguard.

Ia semakin tertarik untuk mencari lebih jauh. Apa yang terjadi di abad 21? Soeharto sudah tumbang dan rasanya tidak banyak perbedaannya—setidaknya bagi kehidupannya, pesawat terbang menabrak menara kembar yang memicu perak Irak, dan media sosial mengambil alih kehidupan manusia. Kemarau mundur ke abad sebelumnya: Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin yang menyita nyaris seluruh abad itu, manusia pertama di Bulan, dan berakhir di kepopuleran internet. Ia menyimpulkan kalau kau jadi manusia memang sulit menghindari pilihan dungu seperti perang.

Sebuah artikel yang tengah ia baca merekomendasikannya untuk melihat apa yang terjadi di era Industrialisasi. Ia hanya perlu menekan ujung ibu jarinya di judul dan ia diantar ke laman tersebut. Menurut artikel itu, industrialisasi membawa perubahan besar bagi peradaban dan cara pandang manusia. Ia memunculkan ideologi-ideologi baru seperti Komunisme dan ia juga membuat informasi lebih mudah tersebar luas, kemudian teori Darwin mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri untuk selamanya, dan semua kemajuan itu terjadi hanya dalam beberapa ratus tahun saja.

Kemarau mundur lagi ke abad 15 di mana Colombus menemukan benua Amerika dan jatuhnya Konstantinopel menandai berakhirnya Abad Pertengahan. Ia ingat orang-orang di Abad Pertengahan sangat ahli dalam peperangan dan mereka juga membicarakan agama dan surga dan segala macam, tetapi ia baru tahu bahwa Maut Hitam jauh lebih efektif dalam soal bunuh-membunuh.

Perempuan itu kelihatannya sedikit gerah. Ia melepas sepatu dan kaus kakinya dan menjadikan sepatunya sebagai alas tumit. Sesekali ia menggoyang-goyangkan telapak kaki sambil cengar-cengir membaca komik. Sore itu memang panas, Kemarau sendiri kegerahan. Ia pergi ke warung rokok yang berada di seberang dan membeli dua botol teh dingin kemasan. Satu untuknya, dan satu untuk pelanggannya.

Sejarah peradaban manusia bermula dari Revolusi Pertanian, begitu kata artikel yang tengah ia baca. Ia sampai lupa telapak tangannya kedinginan karena terlalu lama menggenggam botol. Bercocok tanam memungkinkan manusia membangun komunitas—mereka mulai membangun desa, kota, piramida, Kekaisaran Romawi, hingga apartemen di samping kiosnya—dan mulai mendominasi planet Bumi. 200.000 tahun lalu, Homo Sapiens mulai berevolusi dan enam juta tahun lalu nenek moyang manusia mulai memisahkan diri dari simpanse modern dan mereka mulai menggunakan peralatan batu. Lalu, kapan era dinosaurus? tanyanya dalam hati. Meski dinosaurus tak pernah dibahas di pengajian, ia selalu yakin dinosaurus pernah ada. Binatang itulah yang membuat Kemarau kecil ingin sekolah, dan membuatnya suka belajar. Ia berusaha mengingat-ingat, ia yakin pernah mempelajarinya, sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mencarinya di mesin pencari. Dinosaurus punah 65 juta tahun yang lalu dari saat ini, gumamnya. Itu artinya bahkan kejayaan manusia sampai hari ini belum setengah dari era kejayaan mereka, kalau benar mereka menguasai Bumi selama lebih dari 165 juta tahun.

Kemarau ingin tahu masa sebelum dinosaurus dan ia menemukan angka 600 juta tahun yang lalu: dimulai dengan hewan-hewan laut, lalu muncul reptil dan serangga disusul kemudian munculnya mamalia. Dan artikel itu ternyata melempar Kemarau lebih jauh lagi, tiga koma enam milyar tahun lalu. Ya. Masa di mana bakteri menguasai Bumi dalam jangka waktu yang sangat lama. Kemarau sulit menerima bagaimana mungkin makhluk yang tak lebih besar dari kotoran hidungnya bisa berkembang menjadi bentuk yang lebih kompleks seperti beruk, kecoa, dirinya, dan perempuan yang sedang duduk di depannya?

“Sekarang jam berapa ya, Mas?”

Itu jawabannya, pikir Kemarau. Agak terkejut dengan pikirannya sendiri, ia terlonjak dari kursi seperti orang tidur yang dibangunkan mimpi buruk. Perempuan itu kelihatan agak kikuk, ia mungkin merasa tidak enak sudah membangunkan si Penjaga. Kemarau melihat jam di ponselnya dan memberi tahu bahwa saat ini pukul enam kurang sepuluh menit. Itu jawabannya, ulangnya. Waktu. Waktu yang amat-sangat banyak, dan Bumi memilikinya sehingga segalanya jadi mungkin.

Berpikir terlalu jauh membuatnya mengerutkan dahi. Ia mudah memahami waktu kalau sekadar menjawab pukul berapa saat ini atau apa yang ia lakukan setengah jam lalu atau pukul berapa biasanya distributor majalah tiba di kiosnya. Tetapi, segalanya jadi membingungkan setelah bertemu angka tiga koma enam milyar tahun. Barangkali akan sama pusingnya jika tiba-tiba salah satu dari mobil-mobil yang lewat petang itu melempar karung berisi tiga koma enam milyar rupiah ke kiosnya. Apa itu waktu? Dan sebelum ia mulai memikirkan pertanyaan itu, ia melihat pokok berita koran hari ini yang memaksanya mengingat berita kemarin dan kemarin lusa, dan Heat Death. Tiga koma enam milyar tahun dan bakteri-bakteri itu berkembang menjadi makhluk yang gemar membuat masalah serius di Bumi dan biliunan tahun mendatang tak ada lagi yang tersisa. Itu membuatnya sedikit merasa aneh dan pula bertanya-tanya, seperti apa bakteri pecundang yang menjadi nenek moyangnya dan membuat dirinya sepengecut ini?

Ia tahu sejak awal ia memang tak pernah bermaksud sungguh-sungguh memikirkan kondisi sebelum Dentuman Besar, hanya saja ia merasa perlu memikirkan hal rumit sebagai lawan yang sepadan dari apa yang tengah ia pikirkan saat perempuan itu datang. Dan kini perempuan itu pergi. Ia sudah berdiri di tepi jalan, bersiap menyeberang bersama puluhan orang yang berpakaian mirip-mirip. Kemarau merogoh saku celananya, berusaha mengeluarkan koin lima ratusan yang tersangkut di dasar. Ia perlu waktu untuk minum kopi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s