Kota ◻◻◻◻◻◻◻*

Seorang lelaki tiba di kota kami menjelang malam.

Hanya ada dua cara bagi manusia untuk masuk kota ini: Melalui desa di balik gunung atau jalan tol di atas bukit. Dan dari arah munculnya, hampir bisa dipastikan ia datang dari jalan tol. Temanku, Gurdiman si arwah setengah kuda–sisi kanannya kuda dan sisi kirinya manusia–menduga bus yang ditumpangi lelaki itu mogok dan dia memutuskan jalan-jalan, lalu terperosok di area landai dan tak bisa kembali lagi ke busnya. Sementara Enam Hidung berkata bahwa, dilihat dari pakaiannya yang bersih dari tanah, lelaki itu sengaja meninggalkan busnya yang mogok dan turun dengan merayapi batu-batu pondasi jalan tol. Aku lebih senang dengan teori Enam Hidung. Namun terlepas dari perbedaan di antara kami, kami sepakat lelaki itu sampai ke sini dengan menyusuri sungai.

Manusia dan sungai memang sudah bersahabat bahkan jauh sebelum era Solomon–satu-satunya keturunan Adam yang bisa melihat dan mengerti kami. Begitupula dengan orang-orang yang membangun desa ini, sebelum terjadi pembantaian massal dan mayat mereka dibuang ke sungai dan tak ada lagi yang mau tinggal di sini. Kami bukan arwah mereka. Tetapi orang yang mencoba tinggal di sini selalu yakin bahwa kami adalah arwah penasaran dari korban pembantaian yang dilakukan oleh bangsa mereka sendiri. Ini sebetulnya konyol, hanya karena manusia mendambakan keabadian lantas mereka berpikir hantu adalah wujud mereka setelah mereka mati. Lebih buruk lagi, ketakutan mereka pada kesalahan yang mereka perbuat membuat mereka berpikir kami menggentayangi mereka. Kami tidak sekurang-kerjaan itu, dan sesungguhnya kami sama sekali tidak peduli dengan manusia.

Yah, kata nenek moyangku, kami harus memaklumi Umat Adam sebab mereka memang dibikin untuk terus dimaklumi.

Dan kami harus memaklumi lelaki itu, yang lebih memilih kedinginan di depan pintu masjid daripada membuka pintunya dan tidur di dalam. Pintunya memang dikunci, tetapi ia tentu bisa mendobraknya atau menghancurkan jendela samping. Bahkan kalau mau dia bisa menginap di rumah atau warung atau kantor kepala desa, toh tak akan ada yang meneriakinya maling. Tetapi ia malah tertidur di depan masjid, dan yah, kami harus memaklumi. Mungkin ia punya alasan-alasan romantis, filosofis, relijius, atau yang merepotkan lainnya.

Selagi ia tertidur dengan kepala beralas tas, seperti biasa, kami–aku, Gurdiman, dan Enam Hidung–mengobrol di warung yang berhadap-hadapan dengan masjid. Kedatangan lelaki ini tak pelak lagi segera menjadi pusat obrolan. Gurdiman menanyakan pendapatku mengenai kehidupan lelaki itu, kukatakan bahwa lelaki itu mungkin seorang penjaga toko kaset.

“Ah, semua manusia kau bilang penjaga toko kaset,” protesnya. “Dulu orang berperut buncit, yang kocar-kacir setelah mencium aroma kentutnya sendiri, kau bilang penjaga toko kaset. Lalu pendaki gunung yang mati kelaparan kau bilang penjaga toko kaset. Bahkan orang yang jelas-jelas petani kau bilang penjaga toko kaset. Carilah profesi lain.”

Aku ingin menggantinya dengan ‘Pemilik Toko Kaset’, tetapi pasti akan diprotes lagi. Aku terbang dan mengamat-amati lelaki itu dari dekat: tubuhnya kurus, kulitnya putih seakan tak pernah bertemu matahari dengan rambut pendek dan agak ikal, dan keningnya lebar.

Aku kembali ke warung dan menyimpulkan bahwa ia mungkin pemain catur. Meski tertawa, toh kedua temanku menyuruhku lanjut bercerita.

Ia mungkin pemain catur yang bosan karena belum pernah kalah.

“Tidak masuk akal,” potong Enam Hidung. “Mana ada orang bosan karena menang terus?”

“Memangnya kau pernah merasakan bagaiamana menjadi manusia?” tanya Gurdiman dan tentu saja Enam Hidung menggeleng. “Nah, nah… kalau begitu jangan bilang ‘tak masuk akal’, dong. Ayo, lanjutkan ceritanya.”

Beberapa hari lalu ia terlibat dalam suatu pertandingan sengit di klub catur kotanya. Pertandingan sudah berjalan lebih dari satu jam saat ia memindahkan kuda yang sepanjang pertandingan melindungi menteri. Bukan keputusan yang baik, tetapi kini pertahanannya jadi jauh lebih kuat. Namun ia tahu, ia mungkin akan kalah. Karena itulah hasratnya bermain catur kembali lagi. Permainan berlanjut dan lelaki itu mendapat serangan bertubi-tubi, meski begitu ia terus mengulur kekalahan dengan langkah-langkah brilian. Ketika lelaki itu tahu ia akan di-skak mat dalam tiga atau empat langkah lagi, sebuah truk pasir menghajar klub catur itu. Ia melompat, berguling-guling, dan berhenti sejauh dua meter dari kepala truk. Naas, lawannya tewas. Karena itu ia frustrasi dan memutuskan untuk pindah kota untuk mencari seseorang yang bisa mengalahkannya.

Gurdiman bilang ceritaku jelek, dan sebelum semakin buruk dia menyuruhku berhenti dan mengajak kami berkumpul dengan yang lain di gedung bekas sekolah atau pergi ke pohon mangga. Yang terakhir disebutkan adalah tempat favorit Yom si telinga suling–dia bisa mengeluarkan suara mirip suling bambu dengan telinganya dan suaranya amat-sangat menyedihkan–‘meniup’ telinganya sepanjang malam. Menurut Gurdiman, mendengarkan suling Yom sampai pagi bisa melupakan cerita yang jelek.

Ya, sebagai gantinya kau akan meratap sepanjang siang.

*

Ia lekas bangun sewaktu matahari meninggi dan bayang-bayang kubah masjid melewati wajahnya, dan duduk sebentar, menunduk lalu mendongak, kemudian melemaskan lehernya dan menguap. Ia menyenderkan tasnya di pintu masjid dan mengeluarkan handuk kecil, setelah itu berjalan ke arah sungai. Gurdiman dan Enam Hidung berpesan agar aku mengawasi lelaki itu selagi mereka pergi, tetapi aku sedang malas ke luar. Kuputuskan untuk naik ke menara rumah dan melihatnya dari atas saja.

Ia kembali dengan hanya memgenakan celana pendek. Tangan kirinya sesekali menghanduki rambutnya yang masih basah dan tangannya yang bebas membawa sebuntal daun pisang. Setibanya di depan masjid, ia membuka buntalan itu. Ikan segar–entah jenis apa. Pada kepalanya yang terlihat amat licin terlihat bekas darah. Ia mungkin menghantam ikan itu beberapa kali ke batu setelah ditangkap. Aku menghampirinya yang sedang berjongkok. Tepat di belakang tengkuknya.

Ia mengeluarkan pisau kecil dan dengan telaten menyiangi sisik ikan. Beberapa kali ikan itu meluncur dari tangannya, dan ia seakan tak yakin bagian mana yang mesti dipotong lebih dulu. Setelah proses melelahkan itu, ia mengambil sebotol air mineral dan mengucurkannya di badan ikan. Seakan baru menyadari kesalahan fatal, ia menghentikannya. Kepalanya menyapu sekitar dan berhenti pada sebuah ember di sumur samping masjid. Karet timbanya sendiri sudah lapuk, menggunakannya untuk mengambil air sama saja dengan menyerahkan satu-satunya ember yang ia temui kepada Golgata–makhluk penghuni sumur itu. Ia mengambil batu lalu melemparkannya ke lubang sumur, sesaat kemudian terdengar bunyi ‘plung’ yang cukup nyaring. Aku tak mengerti mengapa ia kini melongokkan kepala ke lubang sumur–kau kan tidak akan menemukan hal menarik di sana–namun ia melakukannya cukup lama, mungkin hanya sekadar memuaskan rasa penasaran–bahwa benae tak ada yang menarik di dalam sana. Setelah puas memandangi dasar sumur, ia memutuskan untuk membuka ikatan pada ember dan membawanya ke sungai. Aku menunggunya di dekat ikan. Daun pisang yang menutupinya bergoyang sesekali tertiup angin.

“Kupikir dia bermaksud untuk menetap di sini sementara,” tukasku pada Gurdiman. “Dia membakar ikan dan sudah menemukan singkong-singkong liar di belakang sekolah. Ada sungai dan sumur. Kurasa itu cukup buat bertahan hidup selama setahun.”

Gurdiman manggut-manggut. “Mungkin dia pengelana atau pendaki gunung?”

Enam Hidung membantah dan berkata bahwa lelaki itu terlalu keren untuk seorang pengelana, apalagi pendaki gunung.

Gurdiman menoleh, “Benar juga, sih. Bagaimanapun dia nggak terlihat seperti ingin mendaki gunung. Kurasa dia cuma tersesat. Kita lihat saja apa yang akan dia lakukan.”

“Apa nggak membahayakan kita?” tanya Enam Hidung.

“Sejak kapan mereka membahayakan kita?” Gurdiman mengibaskan ekornya lantas mengitari kami. “Mereka kan gemar membahayakan diri mereka sendiri.”

Aku sepakat dengan Gurdiman.

Malamnya, kami menyusun lagi cerita tentang lelaki itu. Ia jelas bukan pemain catur. Tetapi ia tidak membawa benda-benda yang mengindikasikan bahwa ia pendaki gunung atau seorang petualang. Ia hanya membawa barang-barang yang lazimnya dibawa manusia saat mereka hendak menginap di rumah sahabat mereka, begitu menurut Gurdiman sebagai arwah yang paling lama tinggal di tengah umat manusia. “Kukira, dia seorang pelajar,” lanjutnya.

Aku menggeleng dan berkata ia terlalu tua untuk seorang pelajar. Usianya mungkin sudah menginjak kepala tiga. Mungkin dia seniman, kataku.

“Rambut dan gaya berpakaiannya terlalu rapi untuk seorang seniman,” sanggah Enam Hidung. “Mungkin dia cuma seorang pegawai biasa.”

“Aha, aku suka ide itu.” Gurdiman mengitari kami–ia memang tidak bisa diam. “Kenapa seorang pegawai biasa memutuskan untuk mengucilkan diri? Aku pernah tinggal di kolong meja sebuah kantor di kota, dan kelihatannya pegawai-pegawai di sana sudah cukup terkucil di kantor, tak perlu repot-repot harus mengucilkan diri lagi.”

Kukatakan pada mereka, mungkin ia bukan siapa-siapa dan langsung ditolak mentah-mentah oleh keduanya. Tidak ada manusia yang bukan siapa-siapa, begitu kata Gurdiman, mereka senang menyatakan diri dan salah satu caranya adalah dengan menjadi sesuatu.

“Mereka hidup dengan cara berbagi panggung. Seseorang menyediakan panggung bagi orang lain dan yang lain memberikan panggung baginya, begitu seterusnya sampai tak terhingga.” Gurdiman berhenti berputar dan mengangguk-anggukkan kepala. “Setidaknya begitulah menurutku.”

“Bagaimana kalau lelaki itu tidak mau melakukannya?” tanyaku.

“Maka ia tak ubahnya seperti kita.”

Lelaki itu kini berbaring di atas rumput, menatap langit dengan mata yang seakan tengah menerjemahkan sesuatu. Kudekati wajahnya, memandangi matanya dengan jarak yang sedemikian dekat, lantaa melihat ke langit dan bertanya-tanya hal menarik apa yang tengah ia saksikan. Barangkali dengan itu aku tahu apa yang sesungguhnya sedang ia pikirkan.

Karena sia-sia, maka kutinggalkan ia dan bergabung bersama tiga kawanku. Gurdiman mengajak kami pergi ke gedung sekolah, aku menolak dan memilih naik ke menara. Dari ketinggian, aku bisa lebih leluasa memandangi lelaki itu dan menduga-duga semauku tanpa dibantah oleh Gurdiman atau Enam Hidung.

Matahari sudah sembilan kali terbenam sejak lelaki itu tinggal di sini. Dan rumor tentangnya sudah merebak di kalangan arwah. Mereka mulai membuat cerita-cerita dari yang paling menakjubkan–lelaki ini sedang menunggu wahyu Tuhan–hingga yang paling tak masuk akal bahwa ia bukan dari Bumi. Menurutku ia manusia biasa yang tersesat–aku sudah ribuan kali melihat orang tersesat–yang membuatnya nampak ganjil hanyalah ia seakan menikmatinya. Dan kukira bukan hanya aku yang menangkap keganjilan ini, melainkan seluruh arwah, sehingga mereka terus menerus berupaya mengarang cerita-cerita tentangnya. Memang hanya itulah pekerjaan kami. Karena itu, kami tak mengerti mengapa keturunan Adam merasa diganggu oleh kami. Mungkin benar kata pendahulu-pendahulu kami: Mereka hanya terlalu merasa bahwa kehadiran mereka sedemikian pentingnya di muka bumi.

Lelaki itu menggoyang-goyangkan kaki kanannya. Ia bersiul kecil. Ia melipat kaki kiri lantas menaikkan kaki kanannya dan kembali menggoyang-goyangkan kaki. Aku penasaran dan mendatanginya lagi. Kalau bisa menyusup ke tubuhnya, aku ingin benar melakukannya. Namun ada sekat yang terlalu tebal dan kompleks; sejak diciptakan manusia dan arwah tidak bisa saling menguasai satu sama lain. Dan aku harus merasa cukup dengan hanya bisa menduga-duga apa yang tengah ia pikirkan.

Ia bisa merasakan angin malam merayapi kulitnya, karena itu barangkali ia menggosok-gosok kulit tanyannya. Dan nyamuk-nyamuk mengerubungi kaki dan wajahnya, aku bisa melihat satu bertengger di daun telinganya. Beberapa saat kemudian ia bangun dan membuka tasnya, mengeluarkan benda cair dan mengoleskannya ke kulit. Kemudian, dengan heran, ia membolak-balik korek gasnya sebelum membakar ranting-ranting dan dedaunan kering yang telah ia kumpulkan. Mungkin ia tengah berpikir, bebeeapa hari ke depan korek itu tak bisa lagi digunakan.

(Bersambung)

*◻◻◻◻◻◻◻: Tertulis dalam huruf yang tak dikenali umat manusia, kira-kira dalam Bahasa Indonesia artinya “Tempat yang Bersih dan Terang” (Apakah kalian familiar dengan judul ini?)

Cerita ini saya tulis selama perjalanan dari Bandung ke Jakarta tadi sore. Saya sudah berkali-kali lewat tol Cipularang, dan ide cerita ini sebetulnya sudah mengendap sekian lama, tetapi baru sore tadi saya merasa ingin menuliskannya. Tapi ternyata saya ketiduran dan waktu bangun, mobil sudah berhenti. Jadi, ya, bersambung~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s