Di Malam Berangin

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnosis adalah Omong Kosong dan Aku Suka Bermain Solitaire

Seorang penipu duduk di belakangku. Penipu amatiran, sekali lihat aku sudah bisa menebaknya. Mobil melaju dengan kecepatan sekitar 40 kilometer per jam menuju kantor polisi yang cukup legendaris, konon seorang tahanan politik pernah dihajar sampai mati di sana. Aku sendiri tidak tahu sejauh mana kebenaran cerita itu, namun selama aku bertugas setidaknya kantor polisi itu memang pernah menangkap orang-orang tak biasa–kalau kata ‘aneh’ terdengar terlalu kasar: seseorang yang mengaku nabi dan mewartakan kiamat, nekrofilia, dan tahun lalu seorang kakek yang menyodomi 17 siswi TK. Dan malam ini, lelaki berusia pertengahan 30 yang mengaku seorang hipnotis. Ia tertangkap basah pukul sepuluh tadi setelah korbannya gagal dihipnosis. Warga menghabisinya dan kalau kami tak segera datang, mungkin dia sudah disula.

Bah, hipnosis.

Sudah setengah jam berlalu dan ia terus duduk membisu. Sesekali menatap kami melalui spion tengah. Menatap serius sekali. Dikiranya dengan begitu kunci borgol akan melayang sendiri ke tangannya.

Aku baru saja mengulang permaianan solitaire untuk ketiga kalinya. Boleh dibilang inilah pekerjaanku sesungguhnya, menjadi polisi cuma kamuflase agar seolah aku tak menganggur. Sementara itu, si anak baru kelihatan cemas. Sedari tadi ia gelisah tak keruan sampai lupa menginjak kopling saat memasukkan gigi tiga. Sudah kujelaskan berkali-kali, di dunia ini tak ada yang namanya hipnosis atau semacamnya. Ia bersikukuh bahwa hipnosis ada sebab menurut pengakuannya ia pernah dihipnosis saat masih SMP. Kubilang, mungkin temanmu memasukkan acid ke dalam minumanmu. Dan dia berkilah, dia tidak minum atau makan apapun saat itu. Katanya, dia sedang menunggu angkutan di depan Tip Top di kawasan Ciputat dan seseorang menegurnya dari belakang. Ia tak ingat lagi setelah itu. Saat kesadarannya pulih, ia sudah sedang naik bom-bom car dan ranselnya raib.

Cerita yang luar biasa. Tapi aku tak percaya.

Dan sejak tahu orang di dalam mobil itu seorang hipnotis, dia jadi bertingkah seperti bocah berumur lima tahun yang kehilangan ibunya di dalam mal. Aku yakin, kalau kutinggalkan barang lima menit dia pasti sudah menangis dan mengompol. Aku mencoba menenangkannya dan menawarkan supaya aku saja yang menyetir dan dia bisa bermain solitaire, dia menolak dan dengan ketus menjawab bahwa permainan seperti itu tak ada gunanya. Harus kuakui, ia benar soal itu. Tetapi dalam pekerjaan apapun, kalau sudah terlalu lama menjalaninya tanpa variasi sama sekali, kau bisa dengan mudah menemukan kegunaan di dalam hal yang tak ada gunanya.

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnosis Bukan Omong Kosong dan Aku Tidak Suka Bermain Solitaire

Dia sudah terlalu tua untuk mengerti soal ketakutan. Bagi orang yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk buang-buang bensin dengan berkeliling tanpa menemukan kejahatan yang berarti, dunia sudah kehilangan keajaiban dan kesedihannya. Dia tidak percaya sisi lain manusia, dan tidak akan mengerti sekalipun dijelaskan dengan muka diinjak sepatu. Menyedihkan betul temanku ini, sepanjang malam dihabiskan dengan bermain solitaire dan tidur sampai sore dan main solitaire lagi dan tidur lagi. Dianggap lebih pengecut dari seekor biri-biri oleh orang seperti itu jelas sebuah penghinaan luar biasa.

Ceritaku tentang pengalaman dihipnosis dianggapnya angin lalu. Dia tidak mengerti betapa mengerikannya saat kau kehilangan kontrol atas dirimu sendiri, atas jiwamu. Dia bahkan tak percaya jiwa. Ocehanku lebih mirip dukun ketimbang polisi, katanya.

Sepasang mata menatapku dari kaca spion tengah. Sialan. Aku tak betah, tak kepengin menatap balik, tetapi aku terus-terusan curi pandang. Mata orang itu mengerikan, tak ada cahaya di sana. Pupilnya tak memantulkan sinar lampu jalan. Tak memantulkan apa-apa. Sial, sial. Aku yakin dia sedang membaca pikiranku, aku yakin dia tahu aku ketakutan dibuatnya. Aku yakin, yakin sekali, dia tahu bahwa wibawaku sebagai polisi telah raib entah ke mana.

“Heh, kenapa berhenti?” tanya temanku tanpa melepas pandangannya dari layar ponsel.

“Kencing,” jawabku.

“Bah, kenapa tak kencing saja di celana?”

Aku benci senyumnya saat dia berkata begitu. Aku benci cekikikannya. Dia sama sekali tak menyadari hal paling penting yang sedari tadi kupikirkan: Bagaimana kalau ternyata saat ini kami sedang dihipnosis? Bagaimana kalau kesadaran kami sudah diambil alih oleh hipnotis di belakang?

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnosis adalah Omong Kosong dan Aku Suka Bermain Solitaire, tetapi Aku Benci Berteman dengan Pengecut

Sudah kubilang, kan? Dia bisa saja mengompol kalau kutinggal.

Anak muda itu, tahu apa dia soal hidup? Dia belum menikah, belum punya anak, dan belum tahu betapa mengerikannya seorang anak saat dia merengek minta duit dan betapa tidak enaknya perlakuan istri jika uang menipis di tengah bulan. Hal-hal seperti itu lebih menakutkan dibanding seorang hipnotis amatiran di belakang. Dia harus menghadapi dunia nyata, dan melupakan ide dungunya tentang hal-hal mistis.

“Kupikir kau harusnya mencari pacar,” kataku saat dia kembali dan memacu mobil lagi. “Siapa tahu dengan begitu kau bisa melupakan pengalaman dihipnosismu itu.”

“Aku pernah punya pacar satu kali, dan aku belum berpikir untuk punya pacar lagi.”

“Benarkah? Biar kutebak, kalian putus karena kau mengajaknya ke tukang ramal di pasar malam,” sindirku.

Anak itu menggeleng. “Dia peramal.”

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnotis Bukan Omong Kosong dan Aku Tidak Suka Bermain Solitaire, tetapi Aku Benci Ditertawai

Temanku terbahak-bahak. Aku ingin menyumpal mulutnya dengan pistol dan meledakkan kepalanya saat ini juga.

Mantan pacarku memang seorang peramal dan bisa menghipnosis. Ia bisa membaca tarot dan ia pernah menghipnosisku satu kali. Aku tak menceritakannya kepada orang tua maniak solitaire ini, bisa-bisa dia tertawa sampai pagi.

Hari itu kami sedang berada di indekosku. Setelah bersanggama, aku ceritakan padanya aku ingin berhenti merokok karena bosan. Dia bilang dia mungkin bisa membantuku dengan hipnoterapi. Tetapi tentu saja bukan jaminan aku bisa berhenti merokok, terangnya. “Itu akan kembali lagi ke pilihanmu sendiri: apa kau ingin merokok atau tidak. Tak ada jaminan. Hipnoterapi cuma medium saja. Bukan solusi.”

Lalu aku berbaring di ranjang, menutup mata, dan ia menyuruhku bernapas. Aku tidak tidur, hanya merasa tenang. Ia lalu menyuruhku membayangkan sebuah tangga dan aku berjalan menuruninya. Aku diminta menghitung tiap anak tangga yang kupijak dan setiap hitungan kelipatan lima aku akan semakin tenang dan tenang dan tenang. Aku menurutinya dengan sukarela.

Ketika memasuki hitungan ke-45, aku melihat diriku sendiri berusia dua belas tahun sedang berusaha menyalakan mancis di belakang rumah lamaku. Saat mancisnya menyala, bukan api yang keluar melainkan domba berkaki enam. Domba itu terpental dari dalam mancis, salto sebanyak satu kali lalu terguling-guling di tanah. Aku terkejut setengah mati. Domba berkaki enam itu bicara bahasa manusia. Aku tak ingat benar apa yang diucapkan, namun kalimatnya sungguh membuatku kesal. Saat itu aku yakin dia adalah seorang manusia yang menyamar menjadi domba. Aku memaksanya membuka topeng domba itu, dia malah menyeruduk selangkanganku. Tiba-tiba berahiku meninggi. Kutarik paksa domba itu dan memasukkan penisku ke dalam anusnya.

Setelah itu mantan pacarku membangunkanku dan ia segera pergi dan aku tak pernah melihatnya lagi.

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnosis adalah Omong Kosong dan Aku Suka Bermain Solitaire, tetapi Aku Benci Berteman dengan Pengecut Ditambah Lagi Dia Masih Perjaka

“Mengaku sajalah,” seruku agak keras. “Kau belum pernah ngentot, kan?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Kalau begitu artinya iya.”

“Aku bilang itu bukan urusanmu,” katanya, agak meninggi. “Itu artinya ‘masih’ atau ‘sudah tidak perjaka’ bukan urusanmu.”

“Kenapa harus malu mengakuinya?”

“Aku tidak malu, aku bilang itu bukan urusanmu.”

“Kau tahu, di usiamu, aku sudah meniduri delapan perempuan.”

“Dan itu bukan urusanku.”

Entah mengapa jawabannya membuatku gusar. Kugebrak dashboard dan kusuruh dia meminta maaf, untungnya bocah ingusan itu tahu diri dan segera meminta maaf.

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnotis Bukan Omong Kosong dan Aku Tidak Suka Bermain Solitaire, tetapi Aku Benci Ditertawai, dan Sekarang Aku Yakin Kami Sudah Dihipnosis

Tatapan teman kerjaku ini tiba-tiba berubah, matanya tak lagi memantulkan cahaya mobil yang lewat di arah berlawanan. Persis seperti narapidana terkutuk di belakang. Dia sudah kena sirep. Ya, tak salah lagi. Jangan-jangan aku pun sudah kena.

Aku segera meminta maaf bukan karena ingin, tetapi aku masih memegang kendali atas kesadaranku dan menyadari sepenuhnya bahwa partnerku bukanlah partnerku. Jujur saja, aku mulai kesal dibuatnya tetapi aku tak bisa menyalahkannya begitu saja. Bagaimanapun itu bukan dia: saat tangannya menggebrak dashboard, itu bukan tangannya; saat matanya terbelalak, itu bukan matanya; dan saat dia menuntutku meminta maaf, itu bukan tuntutannya. Sesederhana itu.

Dia tolol. Dan yang lebih tolol lagi, dia tak menyadari ketololannya.

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnosis adalah Omong Kosong dan Aku Suka Bermain Solitaire, tetapi Aku Benci Berteman dengan Pengecut yang Masih Perjaka, dan Kini Moncong Pistolku Berada di Pelipisnya

Segera setelah dia berkata kami sudah dihipnosis, kupaksa ia menepikan mobil. Kacau sekali anak ini. Aku memakinya, menyebutnya sinting, dan memintanya untuk tidak memikirkan yang aneh-aneh.

“Kita fokus saja pada pekerjaan kita: mengantar keparat ini ke kantor dan pulang,” ujarku. “Anak istriku sudah menunggu di rumah.”

“Kalau kau pulang dan masih dalam keadaan dihipnosis kau bisa saja mencekik anak istrimu.”

“Hipnosis, hipnosis, tahi kucing!”

“Astaga, kau bahkan tidak menyadari sama sekali kalau kita sudah dihip…”

Habis sudah kesabaranku. Kuambil pistol di pinggang dan mengarahkan ke pelipisnya. “Bilang ‘hipnosis’ sekali lagi dan akan kubikin kau tak sadar selamanya.”

“Kalau begitu kau juga…”

Sesuatu menekan ulu hatiku. Moncong pistol. Anjing anak ini.

“Kau tolol,” katanya. “Dan yang lebih tolol lagi, kau tak sadar kalau kau tolol. Di otakmu cuma ada nasi dan solitaire dan nasi dan solitaire. Polisi sepertimu baiknya mati saja.”

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnosis Bukan Omong Kosong dan Aku Tidak Suka Bermain Solitaire, tetapi Aku Benci Ditertawai, dan Sekarang Aku Yakin Kami Sudah Dihipnosis dan Tugasku adalah Menyadarkannya

Kuminta narapidana di belakang untuk mengembalikan kesadaran kami dan dia diam saja. Aku memintanya baik-baik. Kujelaskan bahwa dia telah melakukan tindak kejahatan, dan sesuai undang-undang dia harus diamankan. Kami hanya menjalankan tugas, tidak bermaksud melukai siapa-siapa. Kumohon agar dia mengerti dan mengampuni kami, setidaknya sampai kami berhasil membawanya ke kantor dan kalau mau kabur nanti saja di kantor. Jangan di sini.

Temanku semakin kesal rupanya, dia menyumpahiku, bilang bahwa aku sudah lebih gila dari orang gila dan aku baru saja menurunkan kehormatan polisi. Aku jelaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, tak ada kehormatan yang perlu dibela, yang ada hanya bagaimana cara kita menyelamatkan diri.

“Heh, Goblok, kondisi seperti apa? Kau nggak sadar, hah? Kau sendiri yang membuat kondisinya makin runyam!”

Aku tak peduli, yang terpenting saat ini adalah kesadaran kami kembali. Maka aku memohon sekali lagi. Hampir menangis. Aku benar-benar putus asa.

Tiba-tiba temanku menurunkan pistolnya, dengan nada pasrah dia meminta kami berbincang di luar. Aku menurutinya. Mungkin kini dia sudah paham dan kami akan menyusun strategi untuk meminta laki-laki itu mengembalikan kesadaran kami.

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnosis adalah Omong Kosong dan Aku Suka Bermain Solitaire, tetapi Aku Benci Berteman dengan Pengecut dan Kini Pistolku Berada di Pelipisnya namun Ya, Tuhan…

Kalau bukan karena kasihan, aku bisa saja menghabisinya. Anak ini betul-betul perlu pertolongan. Menyedihkan betul saat menyadari fakta bahwa kepolisian meluluskan seorang petugas yang jelas-jelas memiliki kelainan jiwa.

“Aku kenal seorang psikiater.” Aku berkata begitu saat kami berdiri di depan mobil. Aku memutuskan untuk mengajaknya berbicara. “Handal juga. Bisa kukenalkan padamu besok. Sekarang, sebaiknya kita berhenti bicara sampai kantor dan kita lupakan kejadian memalukan ini.”

“Kukira kau sudah sadar,” jawabnya. Angin dari arah kanan menerpa rambutnya, dan membuatnya semakin terlihat menyebalkan. “Ternyata kau sudah terlalu dalam…”

“Terlalu dalam, matamu!”

Aku bergegas ke pintu penumpang, menyeret hipnotis gadungan itu dan menyuruhnya berdiri di depan kami. “Kalau kau benar-benar ahli hipnosis, coba hipnosis aku untuk menembak kepalanya.”

Hening.

“Lihat?” seruku. “Keparat ini tak lebih dari penipu kelas rebung. Aku tak mengambil pistol dari pinggangku dan… hey, ke mana pistolku?”

Terdengar suara letupan. Tiba-tiba pandanganku kabur, tetapi aku masih bisa mendengar suara letupan sekali lagi. Gravitasi menarik jatuh tubuhku. Sesuatu melesak masuk dan bersarang di perutku. Sayup kulihat wajah temanku di aspal. Anak keparat itu, mampus sajalah. Gara-gara terlalu emosi aku jadi tak menyadari penipu amatiran ini mengambil pistolku.

 

Aku adalah Orang yang Percaya bahwa Hipnosis Bukan Omong Kosong dan Aku Tidak Suka Bermain Solitaire, tetapi Aku Benci Ditertawai, dan Sekarang Aku Yakin Kami Sudah Dihipnosis dan Tugasku adalah Menyadarkannya, namun Kini Aku Kehilangan Kesadaran

Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku melihat kaki hipnotis itu gemetar. Sesuatu mengalir dan membasahi ujung celananya, lalu mengalir pula ke aspal, ke depan wajahku. Bau pesing.

Pistol jatuh, dan ia berlari. Aku tak tahu apakah ia berlari menuju kegelapan atau mataku yang sudah kian berat. Angin kemarau menggoyang-goyangkan semak-semak di tepi jalan, menyelinap juga ke dalam seragamku. Dalam kegelapan, aku menghitung anak tangga dan tiap kelipatan lima aku semakin tenang.

Aku melihat diriku sendiri berusia 20 tahun, ia berbaring di ranjang dan di sisinya duduk seorang perempuan bertangan enam dan berkepala domba yang sedang memberikan sugesti. Aku melihat diriku yang berbaring mulai meracau tak jelas, mendesah, dan mengeluarkan kata-kata jorok. Kudekati keduanya, dan kuputuskan untuk ikut berbaring di sisi diriku yang lain. Aku mulai menghitung anak tangga dan tiap kelipatan lima aku semakin tenang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s