Bertemu T Bersaudara

Potret Diri Arthur Harahap oleh Masteg
Potret Diri Arthur Harahap oleh Masteg

Saat aku sedang mengecek tanggal kadaluarsa di bokong kotak susu cahaya kuning memenuhi ruang dan sepersekian detik kemudian terdengar suara dentuman.

Kejadiannya berlangsung amat cepat, nyaris tak bisa kupastikan mana yang lebih dulu terjadi: decit logam atau bau plastik terbakar atau tertutupnya kelopak mataku. Tangan kananku seakan bergerak lebih cepat dari kesadaranku; apakah ia sedang berusaha menghalau sorot lampu atau mencoba melindungiku dari serudukan benda sinting itu? Aku tak tahu apakah ‘benda itu’ mobil, pesawat Cessna yang tak tahu perbedaan Pondok Indah dan Pondok Cabe, atau kereta api. Yang jelas ia memiliki lampu depan, dan ia dianugerahi pedal rem yang baru diinjak 0,0005 detik lalu. Sesuatu yang mestinya ia lakukan sebelum menghajar pintu mini market. Barangkali sang pengendara terlalu mengantuk atau ia sedang mabuk atau ia terlalu tolol atau ia gila atau gabungan semuanya. Aku lebih senang kalau pengendara itu ternyata gila, sebab rasanya aku bisa dengan mudah memaklumi orang gila.

Mataku terbuka dan debu dari tembok yang runtuh berkerumun di sorot lampu kuning di depanku. Lampu utama mini market sudah mati, kini lampu cadangan di dinding belakang menyala otomatis dan tak terang-terang amat–itulah mengapa ia jadi lampu cadangan. Dengan suasana remang dan berdebu, lampu kuning truk–kini aku tahu ‘benda itu’ adalah truk, ya, mobil berukuran lumayan besar yang biasanya tak pernah mampir ke mini market untuk berbelanja–dan bau sialan yang sedari tadi berseliweran membuatku serasa berada di dimensi lain. Ditambah kehadiran seseorang ber-wearpack hijau mencolok yang baru saja turun dari pintu kiri truk.

Pada pintu truk, sekilas aku melihat stiker besar berwarna hijau pula bertuliskan ‘Big Bucket T’ dengan huruf ‘T’ mirip palu Thor. Truk ini mungkin datang dari Dataran Idavoll dan kalau begitu pasti di tanah para Dewa itu ada pula warung-warung kecil yang memutar musik dangdut koplo dengan bass dan treble yang sepertinya lebih menyiksa telinga dari suara halilintarnya Thor.

“Aduh, aduh… kacau sekali.”

Makhluk Asgard itu berbicara bahasa Indonesia. Menarik juga.

“Hey kau,” serunya. Nampaknya ia menegurku. “Mati, nggak?”

Aku menjawab dengan berdeham. Semoga ia cukup pintar untuk mengerti, orang mati tidak bisa berdeham.

“Syukurlah masih bisa batuk,” katanya. Ia diam beberapa saat, memandangi sekitar. “Reseptormu masih peka dan otot-ototmu masih berfungsi. Akulah yang mestinya khawatir karena aku nggak batuk dalam keadaan seperti ini.” Ia terus mendefinisikan batuk sambil berjalan mendekatiku, tangannya membersihkan debu-debu yang menempel di wearpack-nya.

Sang supir mematikan mesin dan lampu sorot truk ikut mati juga. Kepalanya muncul dari kursi penumpang. “Wah, wah, wah… lumayan kacau, ya.”

Setelah berkata begitu, ia memasukkan kembali kepalanya dan bersusah payah membuka pintu kanan yang nampaknya terganjal meja kasir. Akhirnya, ia keluar lewat jendela pintu kanan. Kecerdasan supir ini pasti hanya bisa dikalahkan lumba-lumba. Jelas-jelas pintu kiri bisa dibuka-tutup.

Ia berjalan mendekati kami sembari mengusap wajah dengan handuk kecil, ia juga mengenakan wearpack hijau yang sama dengan asistennya.

Kini mereka berdua ada di hadapanku. Begini-begini mataku masih cukup normal, aku masih bisa membaca stiker Taman Safari di kaca truk dan huruf ‘B’ pada nomor polisi mobil itu yang jaraknya sekitar satu setengah meter dari lututku meski dalam keadaan minim cahaya. Aku tak mungkin salah lihat, kedua orang ini kembar identik: cambang bawuknya sama tebal dengan jenggot sama panjang–nyaris menyentuh dada–dan sama beruban di beberapa bagian, hidung mereka sama mancung dan tanpa kumis. Rambutnya sama-sama dikuncir kuda, menampakkan dahi licin yang sama luas.

Tak ada yang aneh dengan orang kembar. Aku hanya takzim, baru kali ini aku melihat supir truk begini mirip.

“Aku T,” kata yang di sebelah kananku, mengulurkan tangan kirinya. “Dan ini saudara kembarku, T.”

Yang di sebelah kiriku mengulurkan tangan kanannya, dan yang di kanan memberi tangan kiri.

Aku sudah sangat pusing memikirkan semua kerusakan yang mereka bikin, sangat pusing sampai-sampai tak berminat untuk menambah rasa pusing lagi. Kuputuskan untuk tak memikirkan kesamaan fisik dan nama mereka. Kuraih kedua tangan mereka lalu bangun sambil memperkenalkan diri.

Namaku Remora.

“Wah, wah, wah… kayak nama ikan saja,” komentar T yang supir. Sementara T asisten mengambil kotak susu di tanganku dan menenggaknya. Mereka bertingkah seolah tak terjadi apa-apa.

“Aduh, aduh… kau nggak jual bir, ya?”

“Ada,” jawabku.

“Mana? Cuma ada susu dan soda di lemari es ini.”

“Kami nggak memajangnya, ada di belakang. Cuma dijual kalau ada yang cari.”

“Wah, wah, wah… apa kalian jualan bom nuklir juga?”

“Ya, nggak lah.”

“Oh, kukira kalian simpan juga di belakang dan cuma dijual kalau ada yang cari.” T non-supir nyengir.

Hening. Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung. Kalau yang tadi itu semacam lelucon, aku tak melihat letak kelucuannya.

“Aduh, aduh…” T supir menggeleng. “Lain kali, kalau ingin melawak sebaiknya kau bilang dulu: ‘hei, aku mau melawak, nih, nanti ketawa ya.’ Biar bocah ini siap-siap ketawa.”

Setelah mengambil tiga botol bir di gudang belakang, kami keluar melalui celah yang sebelumnya adalah dinding kaca. Aku berhati-hati benar melewati celah itu, takut kalau-kalau ada pecahan kaca yang tersisa. Nyatanya yang kulakukan sia-sia belaka. Dinding kaca itu runtuh sempurna.

Agak kehilangan juga sebenarnya. Biasanya, jam segini aku mengelap kaca itu.

T Bersaudara–kini aku tak bisa lagi membedakan mereka–mendirikan meja dan kursi agak jauh dari toko, kira-kira lima sampai enam langkah dari tepi jalan. Mereka duduk dan mengamatiku membuka bir dengan gigi seolah aku tengah melakukan trik sulap memotong leher merpati. Kemudian, mungkin karena tak menemukan hal menarik, T Bersaudara merogoh saku celana secara bersamaan dan mengeluarkan korek dan rokok secara bersamaan pula. Lalu membakarnya, bersamaan. Bedanya, T yang duduk di kiriku mengapit rokok dengan jemari kanan sementara T di kananku sebaliknya. Nah, sekarang aku akan menyebut yang di kanan T Kidal sementara yang di kiri T Non-kidal.

Beberapa kendaraan masih lewat sesekali di Jalan Metro Pondok Indah, meski tidak seramai dua jam lalu. Mereka yang merayakan tahun baru mungkin sudah terlelap dan akan terbangun dengan kepala pusing dan hidup yang tak jauh berbeda dengan kemarin dan besok.

“Wah, wah, wah… kenapa posisi toko ini di situ, sih? Apa bosmu nggak tahu mitos ‘Rumah Tusuk Sate’?”

Aku mengangkat bahu dan membakar rokok, “Siapa pula yang peduli?”

“Aduh, aduh… kalau posisinya digeser sedikit saja tentu kami nggak perlu menabrak toko ini, kan? Rumah tusuk sate itu konon bikin sial, lho.”

Aku katakan kepada mereka bahwa aku kurang peduli dengan mitos dan segala macam dan tidak berminat menanyakan mengapa pemilik toko ini mendirikan toko persis menghadap pertigaan. sejujurnya aku malah baru kepikiran soal letak toko ini, jalan raya di depan itu membentuk ‘T’ sempurna dan toko ini berdiri tepat di ujung garis vertikal. Lebar toko ini sama dengan lebar jalan raya, dengan kata lain ia persis di tengah. Sehingga pada malam hari saat ada kendaraan dari depan maka lampu kendaraan itu akan langsung menyorot ke dalam toko.  Saat memikirkannya aku merasa posisinya kurang lazim, seperti ‘bukan seharusnya’. Toko ini mungkin seharusnya tidak ada di sini.

“Kenapa jaga sendiri?” T Kidal menoleh dan bertanya begitu setelah mengebuskan asap.

“Teman jagaku pergi jam sembilan tadi, mau tahun baruan dengan pacarnya.”

“Wah, wah, wah… kau baik banget, ya,” katanya. “Kau sendiri tidak merayakan tahun baru?”

Aku menggeleng kecil.

T Kidal sepertinya biasa menambahkan ‘wah, wah, wah…’ sebelum berbicara, sementara kembarannya ‘aduh, aduh…’ tapi kalau cuma hal sepele seperti itu, mereka bisa saja bertukar tempat: keduanya bisa bertukar kebiasaan dan dua-duanya mahir menggunakan sepasang tangannya. Orang sudah tak bisa lagi membedakan mereka. Pasangan kembar seperti ini, kalau memutuskan untuk melakukan tindak kriminal, tentu akan merepotkan polisi.

“Oh, iya. Soal truk ini, aku mohon maaf, ya. Tadi aku sedang asyik mengupil sampai-sampai lupa kalau sedang nyetir.” T Non-kidal berkata dengan santainya, aku tak menemukan penyesalan dari gaya bicaranya. Bukan curiga atau bagaimana, tetapi ia bahkan bicara begitu sambil mengorek lubang hidung. “Lagipula kita, kan, nggak mengharapkan kecelakaan seperti ini.”

Aku makin curiga dia sengaja melakukannya.

“Wah, wah, wah… kau kok diam saja? Ngomonglah. Apa saja.” T Kidal mengibaskan tangannya di atas kepalaku. “Lihat, nih. Kepalamu dikerubungi lalat. Mereka mengiramu bangkai gara-gara kau diam saja.”

T Non-kidal terpingkal-pingkal. Apanya yang lucu? Pikirku. Dan seolah mengerti lelucon saudaranya kurang lucu, T Non-kidal melempar kembarannya dengan kulit kacang. “Apa kubilang, kalau mau melucu kasih tahu dulu.”

Aku bukannya tak kepengin tertawa. Sebenarnya bisa saja aku berpura-pura, sekadar menghargai niatnya untuk melawak. Tetapi, dengan pemandangan pantat truk di depanku, rasanya aneh jika aku memutuskan untuk tertawa sekalipun hanya bersandiwara.

“Remora,” tegur T Kidal. “Namamu Remora, kan? Kau pernah tanya kenapa kau dikasih nama begitu? Kenapa bukan Hiu atau Lumba-lumba?”

“Entahlah,” jawabku. “Tapi kadang kupikir akan lebih mudah kalau namaku Abdul atau Budi. Nama Remora terdengar merepotkan.”

“Merepotkan bagaimana?” tanya T Non-kidal.

“Orang kadang bingung apakah harus memanggilku ‘Rem’ atau ‘Mora’. Dan, yah, ujung-ujungnya mereka memanggilku ‘Heh’. Rasanya lebih baik sekalian saja nggak punya nama.”

Keduanya terpingkal.

“Sudah berapa lama jadi pramuniaga?”

“Dua tahun,” kataku.

“Wah, wah, wah… lama juga, ya?”

“Dan akan lebih lama lagi kalau kalian nggak memarkir truk kalian sembarangan. Paling pagi ini aku dipecat, atau kerja gratis selama lima tahun buat mengganti semua kerusakan ini.”

T Kidal tertawa. “Kami akan mengganti semuanya, kok. Tenang saja. Ini sudah ketiga kalinya dia menabrakkan truk. Minggu lalu dia memasukkan truk ke dalam kelas di Sekolah Internasional.”

“Aduh, aduh… ngomong seenaknya. Kan kau yang menabrak sekolah itu. Jangan mentang-mentang kita kembar lalu kau melimpahkan kesalahanmu kepadaku, ya.”

“Wah, wah, wah… masih muda sudah pikun. Habis ini kita ke rumah sakit, ya. Jangan-jangan kau kena alzheimer.”

Benar, kan? Jika mereka memutuskan jadi penjahat pasti akan membingungkan polisi.

“Rumahmu dekat sini?”

Aku menggeleng. “Rumahku di Depok. Aku menyewa kamar di dekat Stasiun Pasar Minggu.”

“Aduh, aduh… jauh sekali tempat kos-mu?”

“Lebih murah,” kataku.

“Kalau ke rumah pulang seminggu sekali, ya?”

“Nggak juga.” Aku sendiri lupa kapan terakhir kali pulang, mungkin Idul Fitri tahun lalu. Mungkin juga tidak. Aku benar-benar lupa.

“Wah, wah, wah… perantau ya? Dari Depok ke sini nggak sampai 20 kilometer, lho. Ayah ibumu tinggal di sana? Kau nggak kangen atau semacamnya?”

“Ibuku sudah meninggal,” jawabku, berbohong. Aku sendiri tidak tahu ke mana ibuku. Saat itu aku masih kelas 2 SD, pagi hari dia masih sempat membuatkan sarapan dan siangnya Ibu sudah tidak ada di rumah. Aku menunggunya sambil menonton televisi di dapur. Dan hingga ayahku pulang malam harinya, Ibu masih belum ada juga. Ayah tak terlihat khawatir atau apalah, ia saat itu hanya bilang: Ibu sedang pergi. Aku tertidur dan 18 tahun terlewat, hingga suatu pagi di usiaku yang ke 25 tahun aku terbangun dan ibuku belum juga pulang. Begitulah, jadi kuputuskan untuk pergi juga. Meninggalkan Ayah dan toko ikan hiasnya. Ayahku itu sebenarnya bukan pria yang membosankan, sungguh, dia punya banyak lelucon menarik meski tak lucu-lucu amat. Hanya saja, ada sesuatu yang menyebalkan dari dirinya. Sesuatu yang membuatnya seolah tidak manusiawi. Lambat laun aku menyadarinya, dan memaklumi kenapa ibuku pergi. Tetapi malas juga menjelaskan kepada orang lain, lebih mudah menjawab Ibu sudah meninggal. Orang cenderung akan mendoakan yang bagus-bagus buat orang meninggal, dan itu mungkin berguna buat ibuku di mana pun dia sekarang.

“Wah, wah, wah… turut berduka, ya. Semoga ibumu mendapat tempat yang layak.”

Aku mengamini. Kuteguk air mineral dan kuhisap rokok dan menghembuskan asapnya perlahan, seluruh kegiatan itu kulakukan sambil memandangi bokong truk yang mencuat dari dalam toko. Tiba-tiba aku ingin tertawa, tetapi aku sadar hidupku terlalu singkat untuk menertawai truk-yang-masuk-ke-dalam-toko-kelontong, sehingga kuurungkan keinginanku. Keberadaan mobil itu terlalu ganjil. Ia tidak seharusnya berada di sana.

“Jadi di Depok kau tinggal bersama ayahmu? Apa pekerjaannya?” Pertanyaan salah satu dari mereka membuyarkan lamunanku.

“Menjaga toko ikan hiasnya dan tiap hari Minggu memancing di danau dekat rumah.”

“Aduh, aduh… enak betul! Aku sering juga membayangkan hidup seperti ayahmu.” T Non-kidal mengusap-usap jenggotnya sambil berdecak kecil. “Mungkin karena itu namamu mirip nama ikan, ya? Untunglah ayahmu hobi ikan, kalau hobi primata kau mungkin dikasih nama Beruk.”

Akhirnya dia bisa melucu juga. Kali ini aku tertawa dengan tulus. Meski begitu, aku tak bisa memastikan apakah itu karena leluconnya lucu atau hanya karena aku sudah merasa agak nyaman dengan kehadiran mereka. ‘Agak nyaman’ kedengaran tidak bertanggung jawab, mungkin sebaiknya aku menghilangkan kata ‘agak’ atau menggunakan frasa lain seperti ‘merasa terbiasa’ atau ‘sudah bisa berbaur’ atau ‘menemukan koneksi’ atau apapun yang sekiranya lebih baik. Aku memikirkan kalimat ini sambil tetap tertawa. Ini mengkhawatirkan sebab sebelumnya kukira aku sudah tertawa dengan tulus.

Setelah itu, aku membuka botol bir lagi dan lagi dan lagi dan di antara satu botol bir ke botol selanjutnya aku bercerita tentang kehidupanku sehari-hari, seperlunya. Sekadar mengisi kekosongan. T Non-kidal berpendapat bahwa pekerjaanku membosankan. Tetapi kukatakan padanya aku tak butuh pendapatnya dan lagipula aku menikmatinya. Jawaban ini mengandung 50% kebenaran. Aku memang menikmati saat menyusun bungkus biskuit yang berwarna sama, meletakkan satu pak obat pencahar di tempatnya, mengepel lantai dan membaca novel yang kusuka saat sedang tak ada pelanggan, atau menyusun daftar putar lagu di rumah sesuai hari atau kejadian yang kulihat di televisi untuk menemani orang belanja. Dan tak ada seorang pun yang merasa terganggu dengan kesenanganku ini. Setidaknya rekan-rekan kerjaku jarang sekali protes–pernah ada yang protes ia tidak mengerti lagunya, tetapi hanya begitu saja. Boleh dikatakan, aku menyukai pekerjaanku dan rasanya bisa bekerja seperti ini hingga seribu tahun ke depan. Kalau ada hal yang kubenci dari toko ini adalah suara mesin sapa otomatis yang akan menyala saat seseorang membuka pintu. Suara seorang wanita periang dan nada bicaranya seolah sedang berusaha mendefinisikan arti kata ‘bahagia’ kepada siapapun yang mendengar dan meyakinkan bahwa hidup ini sangat-amat mudah dan menyenangkan. Aku kerap membayangkan bagaimana rupa perempuan di balik suara itu, bagaimana ia menjalani hidup, dan segala kemungkinan yang bisa terjadi padanya. Tetapi, selama aku bekerja di sini dan melakukan hal itu, aku tak pernah bisa membayangkannya. Meski aku tahu suara itu rekaman orang hidup, pikiranku menolaknya mentah-mentah: tak ada orang yang sebahagia itu, tak ada manusia yang memiliki hidup semenarik nada bicaranya. Barangkali karena itu sosok pemilik suara itu tidak bisa kubayangkan; terkesan sangat tidak manusiawi.

Perbincangan terus bergulir dan kata-kata yang kuucapkan segera lenyap dari ingatan pendekku. Waktu di jam tanganku menunjukkan pukul 5 pagi saat aku mendengar suara orang bersin di jalan. Aku tak tahu apa yang sedari tadi kubicarakan.

“Omong-omong,” kataku seraya mengeluarkan ponsel. “Aku harus telepon atasanku dulu.”

“Wah, wah, wah… buat apa?”

Buat apa katanya? Yang benar saja. “Ya, buat melaporkan kejadian ini, lah.”

“Aduh, aduh… dasar Tukang Lapor.” T Non-kidal menggelengkan kepala dan berdecak. Lalu T Kidal menoleh ke arahku dan berkata: “Kau tahu jam berapa sekarang? Jam lima pagi, heh. Kurang sopan menelepon orang jam segini. Bayangkan kalau bosmu itu saat ini baru bangun tidur. Dia mengusap-usap rambut istrinya dan mereka berlanjut ke foreplay. Dan kau tiba-tiba menelepon mengabarkan kejadian ini. Wah, wah, wah… aku nggak sanggup membayangkan. Kasihan istrinya.”

“Ya, ya… kasihan istrinya,” timpal kembarannya. “Cobalah berempati sedikit. Lagipula sekarang masih terlalu pagi untuk sebuah kabar buruk.”

“Dikabarkan jam berapa pun, kabar buruk tetaplah kabar buruk. Keadaan seperti ini nggak akan menjadi lebih baik dalam beberapa jam, kan?” kataku, agak berang juga.

“Wah, wah, wah… betul juga. Menurutmu, bagaimana?”

“Aduh, aduh… sepertinya kita nggak punya pilihan lain.” T Non-kidal mengambil ponselku. “Siapa nama bosmu, biar aku yang telepon dan menjelaskan.”

“Nggak usahlah, aku saja,” sergahku.

“Memangnya kau tahu mau bicara apa?”

Dia benar, aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Maka kubiarkan T Non-kidal mengutak-atik ponselku.

Selagi saudaranya menelepon, T Kidal berjalan sambil bersiul menuju truk dan masuk ke kabinnya. Ia menyalakan mesin dengab tetap bersiul. Lampu belakang menyala. Truk itu harus segera keluar dari sana, memandanginya terlalu lama, entah bagaimana, membuat pikiranku kacau.

Terdengar suara perseneling dimasukkan, kemudian truk itu maju secara mendadak, nyaris melonjak. Tak lama, sesuatu berdebum. Aku rasa truk itu menabrak satu-satunya tiang penyangga langit-langit yang terletak tepat di tengah ruangan. Dan lebih buruk lagi, mungkin tiangnya patah. Mesin menggerung, asapnya melewati hidungku. Baunya seperti kentut sigung.

Truk itu mundur, maju lagi, mundur dengan sedikit berbelok ke kanan, dan maju lagi, mundur lagi, kali ini berbelok sedikit ke kiri, lalu maju lagi, dan terus begitu hingga truk terparkir horizontal. Saat turun, supir sialan itu masih tetap bersiul.

“Bersiul itu bagus,” katanya saat turun dari mobil, “bisa mengalihkan pikiran kita untuk tidak berpikir terlalu berat dan juga mampu mengusir kesedihan. Rasanya jadi lebih bisa menikmati hidup. Oh iya, apa kau pernah berpikir kau seharusnya tidak bekerja di sini?”

“Wah, wah, wah… aku baru ingin bertanya begitu,” kata T Non-kidal saat mengembalikan ponselku. “Sudah kusampaikan semuanya.”

Dia menghentikan kalimatnya di situ, kemudian duduk dan membuka satu botol bir lagi seolah tak ada lagi yang perlu disampaikan. Aku menunggunya, empat hisap rokok dan dia tetap tak kelihatan ingin membicarakan sesuatu. Aku bersiul, maksudku untuk mencari perhatian, dan ia tetap bersikap biasa saja. Dia mengelap meja yang basah akibat embun dari botol dingin dengan tisu, mulutnya berdecak. T Kidal membantu saudaranya mengelap meja, kemudian memaki-maki saat asap rokok yang diapit bibirnya menyerbu matanya. Setelah itu hening, keduanya sibuk melamun. Dan aku masih menunggu kabar dari atasanku.

“Jadi, bagaimana?” tanyaku. Tak tahan juga akhirnya.

“Apanya yang bagaimana?” balas keduanya, berbarengan.

“Soal toko ini.”

“Wah, wah, wah… nggak ngerti juga, ya? Semua sudah selesai.”

“Apanya yang selesai?”

“Aduh, aduh… ya, masalahmu, lah.”

“Dia nggak memecatku, kan?”

T Non-kidal menggeleng. “Tak ada yang dipecat, tak ada yang marah. Biasa saja. Semua sudah selesai. Masalah toko ini, semua barang yang kami tabrak, pintu kaca yang kami hancurkan, dan kariermu. Selesai.”

Karierku? Apanya yang ‘tak ada yang dipecat’. “Itu namanya pecatan,” seruku.

“Sudah kukatakan padanya, tadi sekitar pukul dua ada benda aneh bercahaya terang terbang di atas tokonya. Karena silau, truk kami menabrak tokonya. Lalu aku melihat satu-satunya pegawai toko melayang-layang di tengah ruangan, dan sebelum sempat aku menolongnya, dia sudah terhisap ke benda aneh itu. Dan benda itu lenyap begitu saja.” Selagi ia bercerita, aku menahan diri untuk tidak pingsan. Dan ia melanjutkan. “Singkatnya: kau diculik alien.”

“Dan bosku percaya?” tanyaku cepat.

“Ya. Malah dia cerita soal pengalamannya ‘melihat benda asing’ melayang di atas toko yang dia ceritakan kepadamu tetapi kau tidak percaya. Dan dia bilang begini: ‘Ya sudah, tidak apa-apa. Bukan salah kalian. Aku sudah memperingatkan anak itu soal U.F.O, tetapi sepertinya dia tidak percaya. Anak itu memang agak aneh tapi dia pekerja yang tekun dan tidak merepotkan. Aku senang dengan anak itu. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Mungkin memang sudah nasibnya.’ Begitu kira-kira. Setelah itu kami membahas mitos Rumah Tusuk Sate dan dia menghubung-hubungkan itu dengan kehadiran pesawat luar angkasa di tokonya, dia malah sepertinya yakin tokonya itu semacam media penghubung Bumi dan planet lain. Bos kamu itu lucu juga.”

Aku ingat, tahun lalu dia memang menceritakan pengalamannya itu. Aku bukannya tidak percaya. Hanya saja–ah, bagaimana menjelaskannya?–bosku memang suka menceritakan hal-hal tak lazim. Ia sepertinya hobi membaca cerita model begitu. Dan aku hanya mengira ceritanya saat itu adalah akibat dari hobinya itu. Saat mendengar penjelasan T Non-kidal, tungkaiku lemas. Anehnya, aku justru merasa sedikit lega. Rasanya seperti anak SMP di hari terakhir ujian, atau seperti bapak yang akhirnya boleh menyogok setelah berkali-kali gagal tes pembuatan SIM. Meski begitu, aku sama sekali tak membayangkan akan menganggur. Maksudku, apa yang harus dilakukan seorang penganggur selama ia menganggur? Aku tak pernah menganggur sebelumnya. Tiba-tiba aku merasa tolol sebab mencemaskan hal yang tidak perlu.

“Wah, wah, wah… ada yang saking gembiranya jadi seperti ayam menelan karet gelang.”

“Aduh, aduh… tak perlu repot memikirkan cara membalas jasaku, ya.”

Aku memang tak memikirkan itu.

“Pulanglah. Bapakmu sudah tua. Kalau dia mati, kasihan ikan-ikannya, kan?”

Keduanya tertawa. Aku juga, sedikit.

“Eh, kau bilang kau tinggal di Depok, kan?”

Aku mengangguk.

“Kenal Ana Mayuri?”

(Cuplikan novel Arthur Harahap yang belum diketahui judulnya. Saya menemukan sambungannya. Nanti saya coba cari lagi~)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s