Gaco del Pico

Huracan Ramirez

Dari jarak sedekat ini, dengan seragam biru muda khas Gobelmart, Etgar memang mirip lumba-lumba. Badannya melengkung seperti busur, keningnya lebar dan agak menonjol, gigi-gigi depannya tak lebih besar dari kuku kelingking dan agak maju, dan kepalanya yang botak licin memantulkan cahaya lampu neon. Dan nampaknya ia sendiri mengakui kemiripannya dengan mamalia laut itu, karena itu ia tak marah kapanpun Abate dan kroco-kroconya memanggilnya ‘Lumba-lumba’.

Pintu terbuka. Abate dan tiga kawannya, yang menamakan geng mereka Gaco del Pico, masuk dan langsung mengarahkan pistol ke arah Etgar.

“Si lumba-lumba bermain bola. Si lumba-lumba bermain api. Si lumba-lumba menghitung angka.” Abate menyanyikan lagu kanak yang sempat populer di pertengahan 90-an. Meski wajahnya ditutupi balaclava, Etgar mengenali suaranya. “Itulah dia Bang Etgar.”

Etgar mengangkat kedua tangannya.

Gembox, yang kurus dan perutnya buncit, melambaikan tangannya ke CCTV dan Cinoy menyusuri rak makanan ringan dengan membawa karung bekas tepung dan memasukkan apa saja yang bisa diraih tangannya ke dalam karung itu. Obenx, yang paling muda sekaligus paling kecil di antara komplotan lain, menunggu di depan pintu dengan tangan memegang senapan. Mereka semua menutupi wajah mereka dengan balaclava dan masing-masing memegang senjata.

Itu malam takbir. Etgar yang tak punya janji berkumpul maupun kerabat untuk dikunjungi diminta supervisor-nya untuk berjaga sampai pagi. Dan memang itulah pekerjaannya sehari-hari: masuk pukul sepuluh malam dan pulang pagi. Kawasan pinggiran Condet rawan perampokan, semua mini market tutup pukul 10 malam, kecuali Gobelmart. Pemilik Gobelmart punya empat alasan mengapa ia berani buka 24 jam. Pertama, ia kasihan dengan Etgar. Usianya masih 24 tahun, tubuhnya bungkuk dan pengangguran. Mulanya ia sering duduk di depan Gobelmart, berjaga parkir ilegal, dan membantu anak-anak SDN Mekar Jaya—yang gedungnya bersisian dengan Gobelmart—menyeberang jalan. Kedua, peluang memperkaya diri, tentu saja. Ketiga, rampok mungkin akan kasihan melihat bentuk fisik Etgar. Lagipula, sekalipun terjadi perampokan, seluruh isi Gobelmart sudah diasuransikan—kecuali Etgar—dan sekalipun Etgar mampus tak akan ada yang mencarinya. Dan terakhir, Etgar mau dibayar murah dan tak banyak menuntut.

Karung terigu Cinoy terisi penuh. Ia melemparkan karung itu ke meja kasir. Gembox mengeluarkan makanan ringan favoritnya, keripik kentang rasa keju. Cinoy dan Abate mengambil kopi dingin. Dan mi gelas pesanan Obenx.

Cinoy meletakkan siku kanannya di meja kasir, Abate tetap mengarahkan pistol ke kepala Etgar, dan Gembox bergaya bak binaragawan di depan CCTV. Bunyi khas alat pemindai barcode mengisi kesunyian Gobelmart. Tak ada yang berbicara hingga Etgar selesai menghitung empat jajanan mereka.

“19.600 rupiah,” kata Etgar.

Cinoy menggebrak meja. “Anjing, mahal amat.”

“Jangan bohong! Itu cuma 19.550, Bang Etgar,” protes Abate. “Mau kulempar ke Seaworld?”

“Tolol, Seaworld sudah tutup, Te.” Gembox mengoreksi.

“Ah, yang betul?” tanya Abate, menoleh ke kawannya.

“Makanya baca koran.”

“Memang betul Seaworld sudah tutup, Bang?” hardik Abate. “Jawab!”

Etgar mengangguk.

“Anjing,” maki Abate, lalu memukul-mukul pelan ubun-ubunnya dengan magasin pistol. Cinoy yang heran dengan tingkah kawannya bertanya kenapa. “Aku belum pernah ke Seaworld,” jawab Abate seraya merogoh sakunya, menyerahkan selembar dua puluh ribu kumal.

Etgar tersenyum kecil, ia sudah bermain peran dalam sandiwara perampokan Etgar setahun belakangan. dan setelah permainan usai, ia akan mengembalikan semua makanan di dalam karung terigu bau apak itu.

Tiba-tiba, terdengar suara berdebum di luar. Saat Gembox berlari ke pintu, pintu sudah terbuka. Dua orang dewasa mengenakan balaclava masuk. Yang masuk lebih dulu langsung mengarahkan pistol ke arah kasir, tangannya gemetar: mungkin degup jantungnya kepalang kencang atau ia terkena gejala parkinson. Abate dengan cepat mengarahkan pistolnya ke arah orang itu. Keduanya saling menatap.

Obenx menjerit minta tolong di luar, lalu terdengar suara letupan senjata api di dalam Gobelmart.

Pelipis Abate berlubang.

Abate, 13 tahun, terlahir dari keluarga kere. Bapak dan ibunya kere. Ia punya seorang adik yang diusia empat bulan sudah diadopsi saudaranya. Ibunya seorang pembantu rumah tangga dan bapaknya, Malik, pengangguran. Dulu Malik berprofesi sebagai tukang patri keliling. Pekerjaannya menggenjot sepeda kumbang sambil membawa kompor dan peralatan menambal panci di belakang. Saat itu Abate masih kelas 1 SD. Pukul enam pagi Malik sudah mengayuh sepeda, mengantar anaknya sekolah sebelum berkeliling hingga Zuhur. Ia akan kembali lagi ke sekolah, menjemput anaknya, lalu berkeliling lagi hingga pukul lima. Rutenya selalu sama: Rumah – SDN Mekar Jaya – pemukiman Pasar Minggu – rumah. Kegiatan itu bertahan hingga Abate kelas 5 di mana orang sudah tak lagi menambal panci mereka. Jasa Malik sudah tak diperlukan. Kesulitan finansial membuat Abate ingin keluar saja dari sekolah, seperti kebanyakan anak lain. Dan untuk membiayai keluarganya, Malik bekerja sebagai Pak Ogah di perempatan. Abate juga.

Besok lebaran dan hingga pukul tiga sore Malik tak punya uang sama sekali; artinya tak ada kue kering, ketupat, opor, atau apapun. Bulan puasa sudah berakhir, artinya mereka harus makan siang lagi. Ia belum pulang sejak sahur dan berniat tak pulang sampai besok. Malam takbir pastilah banyak mobil lewat, ia bermaksud untuk bekerja semalaman. Hingga Tulang datang, Tulang sahabatnya, ia baru keluar penjara bulan lalu. Tulang mengetahui sahabatnya sedang pusing. Ia mengeluarkan pistol dari balik jaketnya: “Malam ini saja. Nggak perlu ditembakkan, cuma buat mengancam. Nggak ada yang nggak takut dengan pistol, kan?”

Mulanya, Malik tentu saja menolak. Tapi besok lebaran, dan sudah menjadi kebiasaan kita untuk berbelanja sebelum lebaran. Dan kebiasaan itu sudah menjadi semacam ritual suci bagi beberapa orang, tak afdal puasamu jika kau tak berbelanja, Bung. Begitu kata Tulang. Tulang sendiri tidak puasa, tetapi ia merasa perlu berbelanja. Malik pun luluh juga, lagipula dari dulu ia kepengin memegang senjata api sungguhan. Ia mengikuti saran sahabatnya dan pergilah mereka merencanakan sesuatu.

Selepas Magrib Abate ketiban pulung. Ia baru datang ke perempatan, saat sedang membantu menyeberangkan sebuah mobil mewah, ia diupahi dua lembar seratus ribu rupiah. Ia segera berlari ke rumah, memberi ibunya seratus ribu dan setelah itu ia bergegas ke pasar. Ia ingin membeli pistol mainan baru. Sudah satu tahun pistolnya tak pernah diganti, sejak lebaran tahun lalu tepatnya. Tak tanggung-tanggung, ia membeli empat pistol mainan. Setelah melewati proses tawar-menawar yang alot, Abate berhasil mendapat harga miring. Dua puluh ribu rupiah untuk satu pistol, dari harga awal sebesar tiga puluh ribu rupiah. Sejak menonton film Huracán Ramírez di rumah majikan ibunya, ia kebelet ingin memakai topeng seperti itu. Saat sedang bermain Grand Theft Auto bersama kawan-kawannya di rental, ia sering membayangkan: ia bertopeng, menenteng senjata, dan bertingkah semaunya. Abate lalu mengumpulkan teman-teman yang dirasa memiliki persamaan—putus sekolah, bekerja sebagai Pak Ogah, dan sering tertukar saat membaca Ayat Kursi dengan doa Iftitah—mengganti nama mereka: Obenx alias Bambang, 8 tahun, ia mendapat nama ini karena telapak tangannya pernah tertusuk obeng. Gembox alias Agam, 13 tahun; kakak Obenx, ia pernah tanpa sengaja melempar gembok dan mengenai kepala seekor anak kucing hingga anak kucing itu mati dan dia harus menguburkannya—lengkap dengan kain kafan dan pembacaan surat yasin, sesuai anjuran guru ngajinya—di belakang rumahnya. Cinoy alias Tedi, 13 tahun, seorang keturunan tionghoa miskin yang tinggal di tepi Ciliwung, sewaktu muda ayahnya membuka toko servis televisi tabung dan saat usia 54 tahun menjadi tidak berguna sebab rumah-rumah sudah didominasi televisi layar datar. Dan Abate sendiri bernama Abdul Ghani Munawar, ia sendiri yang menamai dirinya Abate setelah mendengar ceramah petugas puskesmas sewaktu memberi penyuluhan bahaya demam berdarah Dengue. Abate terdengar keren, menurutnya, seperti nama bandit Meksiko yang gemar memecahkan kaca mobil orang dan melempar pengemudinya ke tengah jalan. Dan mereka sepakat menamai geng mereka Gaco del Peco—terdengar sangat kelatin-latinan, meski nama itu kepanjangan dari nama mereka: Gembok, Abate, Cinoy, Obeng Delegasi Pinggir Condet. Dari pasar, Abate kembali ke perempatan membawa plastik kresek hitam untuk menjemput Geco del Peco, setelah itu mereka berkumpul di El Lasso del Peco—sebuah ruko kecil bekas toko las listrik yang dijadikan markas mereka.

“Malam ini kita akan merampok Gobel da Marto,” kata Abate. Mereka mengganti semua nama tempat atau orang penting dengan menambahkan ‘El’, ‘De’, ‘Da’, atau ‘Del’ dan ‘o’ di belakangnya demi kepuasan pribadi. “Dengan ini,” tambahnya sambil mengeluarkan pistol mainan. “Si Lumba-lumba pasti terkejut setengah mati. Lihat, mirip pistol sungguhan, kan?”

Ketiga kawannya memekik girang, lalu bergaya bak penembak profesional: Membidik apa saja, menekan pelatuk, dan meniup moncong pistol. Abate mengelapnya dengan kaus partai yang ia dapat di Pemilu lalu.

Pukul sepuluh malam, mereka pergi ke Gobelmart.

“Aku yakin Bang Etgar dulunya lumba-lumba sungguhan,” kata Cinoy. “Mungkin ia terdampar atau semacamnya.”

Gembox menoleh dan memandangi Cinoy dengan heran. “Begini, ya. Aku tahu kau tolol, tapi aku nggak menyangka kau lebih tolol dari tolol. Mana mungkin lumba-lumba mau menyeberangi bocah-bocah SD atau jadi tukang jaga kasir? Mereka pasti akan melakukan pekerjaan terhormat seperti kebanyakan lumba-lumba, kau tahu kan? Melompati lingkaran api, atau menciumi pipi gadis-gadis.”

“Ckck…” Abate merangkul kedua sahabatnya dari tengah. “Tahu apa kalian soal hidup?”

Ia berkata begitu dengan amat yakin seperti kakek-kakek yang kelehan mencangkul seumur hidupnya dan dengan ekspresi seolah sudah mengalami empat ratus kali reinkarnasi. Dan dengan wajah begitu, siapapun ingin sekali menghajar mukanya.

“Tapi, Abate. Dia mirip sekali dengan lumba-lumba. Mirip sekali. Bahkan baunya.” Cinoy membela diri.

“Lagakmu kayak pernah mencium ketiak lumba-lumba saja,” ujar Cinoy.

“Ya belum, tapi aku yakin kalau lumba-lumba memang punya ketiak, baunya pasti seperti Bang Etgar.”

Abate menurunkan tangannya dari pundak mereka, lalu membakar rokok. “Tapi rasanya, aku lebih suka Bang Etgar jadi tukang menyeberangi jalan. Lebih ada gunanya.”

Cinoy mengangguk, “Aku ingat betul dulu dia pernah bikin macet karena menyeberangiku.”

“Heh, Anjing Pemakan Wortel. Itu kan karena kau takut sama Bang Etgar. Kau nangis setengah mampus di tengah jalan, akui sajalah, kau takut dengan Si Lumba-lumba.”

“Iya, dulu memang aku takut.” Cinoy menoleh ke arah Abate. “Sekarang juga masih takut.”

Abate nyengir. “Aku juga takut sama dia.”

“Duh, laper, nih.” Obenx menyela diskusi mereka. “Kak, aku titip mi gelas ya nanti.”

Gembox mengangguk.

Di depan pintu Gobelmart, mereka menutupi wajah mereka dengan balaclava dan mengeluarkan pistol dari selipan celana.

Dari jarak sedekat ini, dengan seragam biru muda khas Gobelmart, Etgar memang mirip lumba-lumba. Badannya melengkung seperti busur, keningnya lebar dan agak menonjol, gigi-gigi depannya tak lebih besar dari kuku kelingking dan agak maju, dan kepalanya yang botak licin memantulkan cahaya lampu neon. Dan nampaknya ia sendiri mengakui kemiripannya dengan mamalia laut itu, karena itu ia tak marah kapanpun Abate dan kroco-kroconya memanggilnya ‘Lumba-lumba’.

Pintu terbuka. Abate dan tiga kawannya, yang menamakan geng mereka Gaco del Pico, masuk dan langsung mengarahkan pistol ke arah Etgar.

“Si lumba-lumba bermain bola. Si lumba-lumba bermain api. Si lumba-lumba menghitung angka.” Abate menyanyikan lagu kanak yang sempat populer di pertengahan 90-an. Meski wajahnya ditutupi balaclava, Etgar mengenali suaranya. “Itulah dia Bang Etgar.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s