Menunggu

Dok. TEMPO/ Maman Samanhudi
Dok. TEMPO/ Maman Samanhudi

Kereta tiba di Stasiun Manggarai dan saat pintu otomatis kereta terbuka, wanita tua itu sudah berdiri di depan pintu sambil menempelkan jam tangan ke telinga kanannya. Usianya pertengahan 60-an. Ia menggaruk ujung hidungnya dengan ujung telunjuk kanan, kemudian melipat tangannya di dada. Wanita tua itu mengenakan cardigan biru muda untuk melapisi kaus putih yang ia kenakan, dan memakai rok panjang kelabu dengan noda saus di bagian paha. Noda itu terlihat masih baru, warnanya segar hingga seolah dari tempatku duduk aku bisa mencium aroma khas saus botolan.

Ia berkali-kali memutar jam di pergelangannya; terlihat tak nyaman, seolah benda itu mengeluarkan lendir tiap beberapa detik sekali atau tak ada di sana sebelumnya. Mungkin jam itu baru dan ia belum terbiasa memakainya.

Wanita tua itu tak naik kereta ini, padahal gerbong yang kunaiki—yang berada tepat di depan wajahnya—kosong. Agak aneh kupikir, sebab peron tempat dia menunggu adalah jalur khusus keberangkatan Bekasi. Ia tak mungkin bermaksud naik kereta jurusan lain kecuali ia tidak tahu bahwa kereta yang melangsir di hadapannya akan selalu menuju Bekasi. Kemungkinan lainnya: ia sedang menunggu seseorang.

Biasanya kereta akan singgah selama tiga hingga lima menit di stasiun ini. Sambil menunggu, aku membayangkan bagaimana ia bisa ada di depanku sekarang.

Lima menit yang lalu wanita tua itu berada di rumah makan cepat-saji di dekat loket. Ia memesan roti isi dan duduk sambil menunggu seseorang. Kereta yang ditumpangi orang itu akan lewat Stasiun Manggarai dan ia akan turun menemui si wanita tua. Saus di dalam roti menetes keluar, jatuh di rok kesayangannya. Sambil makan, ia sesekali menggaruk ujung hidungnya dengan ujung telunjuk. Orang yang ditunggunya belum juga datang. Ia bangkit dari kursi dan memutuskan untuk menunggu di peron. Menurutnya, dengan begitu mereka akan lebih cepat bertemu.

Sepuluh menit sebelum memesan roti isi di rumah makan cepat-saji, ia menghampiri sebuah kios jam di pasar barang antik di Jalan Surabaya, Cikini. Si penjual jam sebaya dan tampak sama lelah dengannya. Keduanya kelahiran tahun 1948—ya, kelihatannya tahun itu cocok—dan pernah sekolah bersama. Mereka baru bertemu lagi di pasar itu, dan terjadi percakapan kecil yang agak canggung.

“Sejak dulu kau cuma tertarik pada bunyi detik jam,” kata wanita tua itu. “Nggak berubah sama sekali.”

“Memang, apa yang kau harapkan?” si penjual jam tertawa kecil, tatapannya menyapu etalase. “Kurasa, jam ini cocok buatmu.”

“Kenapa?”

“Dengarkan baik-baik,” kata si penjual jam seraya menyorongkan tangan kirinya, dan wanita tua itu mendekatkan telinganya, “dengar? Detaknya mirip suara cecak yang dulu jatuh di kepalamu, kan?”

Wanita tua itu susah payah menahan tawa, sebab saat ia tertawa, kerut-kerut di pipinya akan nampak jelas dan selesai tertawa kerutan itu tak enyah begitu saja—menyisakan garis tipis yang mirip kulit kayu kering dan baru akan lenyap satu jam kemudian, kalau ia tak tertawa lagi. Ia harus menemukan topik lain, yang tidak memaksanya tertawa. “Aku nggak menyangka kita akan ketemu lagi.”

Penjual jam mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan jam tangannya ke wanita tua. “Aku juga nggak menyangka kau menikah di tahun ’73.”

“Seperti aku nggak menyangka kau nggak datang ke Megaria* sore itu,” wanita tua itu mencocokkan jam barunya dengan jam tangan si penjual jam.

“Aku datang.”

“Aku tahu kau datang, tapi kau menganggapku seolah aku tak ada di sana selama satu jam,” kata wanita tua itu. “Ini berapa?”

“Begitulah.” Si penjual jam mengembuskan napas perlahan melalui mulut, seolah berkata: ya, sudah. Tidak apa-apa. “Itu gratis.”

Aku curiga jangan-jangan si penjual jam tangan itu memang sengaja menyimpan jam itu untuk si wanita tua. Dan saat menyadari aku baru saja mencurigai buah pikiranku sendiri, aku mulai merasa tidak nyaman memikirkan wanita tua itu.

Pengeras suara mewartakan pintu akan ditutup beberapa saat lagi. Saat mendengar informasi itu, si wanita tua kembali melihat jam tangannya. Aku pun melakukannya. 15:29.

Seorang bocah berlari sambil menjerit kegirangan dari gerbong belakang menuju gerbongku. Orang tuanya berada di luar, ikut berlari kecil sambil tertawa dan menyuruh anaknya untuk segera turun. Ketika anak itu tiba di pintu tempat di mana wanita itu berdiri di depannya, pintu otomatis tertutup. Si ibu yang tadi tertawa-tawa tiba-tiba membelalakkan matanya, dan terlihat ketakutan saat perlahan kereta bergerak maju. Anak itu memukul-mukul pintu dan menjerit memanggil ibunya dan kereta melesat meninggalkan peron. Penumpang terdekat berusaha menenangkan si bocah. Beberapa saat kemudian, seorang petugas datang dan mendengarkan duduk perkara. Ia menggendong si bocah dan membawanya ke depan.

Pintu di depanku sudah tertutup. Aku kehilangan wanita tua tadi selagi mengamati si bocah. Agak lama kuperhatikan pintu, dan ketika merasa itu tak ada gunanya, kualihkan pandangan ke ujung sepatuku sendiri.

Kereta tiba di Jatinegara. Pintu itu terbuka lagi dan kali ini di muka pintu berdiri seorang gadis berambut pendek. Ia pun melipat tangan di dada, seperti wanita tua tadi. Aku melihat jam tangan dan bertanya kepada diri sendiri: Berapa banyak orang di dunia ini, saat ini, yang sedang menunggu?

Belum terjawab pertanyaan itu, pintu kereta sudah tertutup lagi. Naik kereta listrik di akhir pekan pada jam-jam begini rasanya seperti menumpangi lift yang bergerak horizontal di dalam mal yang sepi pengunjung. Saat pintu terbuka, hanya satu atau dua orang yang masuk—bahkan di beberapa stasiun tak ada yang naik sama sekali. Dan pintu di depanku semacam tirai panggung dengan metode terbalik; saat terbuka ia menampilkan pemeran yang berbeda, dan kita tak perlu repot menebak peran apa yang akan dimainkan. Mengenai aku, sebenarnya, apa yang benar-benar sedang kutunggu? Sembari berpikir, aku menepuk-nepuk saku celana dan baru menyadari bahwa kunci motorku hilang.

*Bioskop Megaria, dibangun 1932 dan sampai saat ini masih berdiri. Awalnya bioskop ini bernama Metropole, kemudian diganti menjadi Megaria oleh Soekarno.
Iklan

4 Comments Add yours

  1. Aris Rahman berkata:

    Tulisan yang sangat memikat Bang Dio. Semoga sukses. 😀

    Saya mohon izin untuk mereblog tulisan anda juga. ;D

  2. Ping-balik: Waiting – AGRARIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s