Retakan Waktu

hehe

Sebelum tukang bubur langganan kami lewat, aku dan 39 Digit sudah berada di luar pagar. Tukang bubur itu adalah patokan waktu kami di pagi hari, suara sendok dan mangkuknya yang beradu, dan lengkingan suaranya saat mengucap kata ‘bubur ayam’–suku kata ‘bu’ diucapkan amat pendek, dan huruf ‘u’ dalam suku kata ‘bur’ diucapkan sepanjang nyaris lima detik, sementara kata ‘ayam’ diucapkannya dengan malas-malasan seolah kata keterangan itu tak ada gunanya sama sekali–lebih mengganggu daripada bunyi alarm. Ia akan lewat di depan rumah kami beberapa menit sebelum azan subuh, dan akan memarkir gerobaknya di depan pelataran masjid. Menunggu azan, sambil tetap berteriak-teriak.

“Ini pertama kalinya kita naik kereta bersama, kan?” tanya 39 Digit sambil memasukkan kunci ke dalam tas, kunci itu beradu dengan uang koin dan terus bergemerincing seiring langkahnya.

Aku mengangguk.

“Kenapa, sih, kamu nggak pernah ajak aku naik kereta?”

Aku menjawab seperlunya, soal teori yang kuyakini dan seperti biasa, ia tertawa. Ia selalu menganggap teoriku hanya bualan dan aku cukup senang, tak sulit membuatnya tertawa. Aku cuma perlu mengeluarkan teori-teori seperti ‘Matahari Mengelilingi Bumi’, atau ‘Manusia Berasal dari Jamur Kuping’.

Suara konstan kunci dan koin pagi itu terdengar seperti tamborin yang dipukul tanpa niat. Agak mengerikan. Mengingatkanku pada Wudigutri, Dewa Kematian dalam mitologi Orang Janup, ia digambarkan bertubuh manusia dan berkepala sirsak yang selalu menenteng tamborin sambil menyanyikan lagu-lagu kematian Orang Janup: saat ia datang, kau bisa mendengar suara loncengnya.

Kematian kalian

kerjaan kami

Cring

Kematian kalian

kerjaan kami

Cring

Dan aku terus mengulang lirik lagu itu, mengikuti bunyi di dalam tas 39 Digit.

“Oh, iya, pintu belakang dan jendela sudah dikunci?”

“Sudah,” kataku, “dan nggak ada jemuran di luar, kalau kamu mau tanya soal itu.”

“Baguslah.”

39 Digit memang begitu, saat ia teelalu senang atau bersemangat, ingatan jangka pendeknya mulai kacau. Ia tak akan ingat apa yang baru saja ia lakukan, dan baru akan mengingatnya 24 jam kemudian. Kubayangkan di dalam kepalanya ada seekor kucing lapar yang hanya akan bangun saat 39 Digit terlalu bergembira. Kucing itu menelan apa saja yang baru masuk ke dalam kepalanya, dan butuh waktu seharian hingga ia menyadari apa yang sudah ia makan bukanlah makanan, dan ia memuntahkannya. 39 Digit tertawa saat mendengar penjelasan itu. Saat sedang senang, dia hanya lupa apa yang dia lakukan, bukan apa yang dia dengar atau ucapkan, katanya. Ya, seperti pagi ini. Dia sendiri yang menutup dan mengunci semua jendela di rumah, dan kunci rumah pun ada di dalam tasnya. Aku bahkan belum bangun saat ia sudah selesai membuat sarapan.

Dari kediaman kami ke Stasiun Cikini hanya sepuluh menit berjalan kaki. Kami akan pergi ke Bogor, 39 Digit bilang dia ingin naik kuda. Ya, naik kuda. Satu-satunya hewan yang pernah dia naiki hanya gajah, itu pun saat SD. Dia ingin naik kuda setelah percakapan tak tentu arah kami tadi malam. Aku baru saja selesai membaca sebuah novel yang di salah satu bagian mengambil tempat di Gunung Mas dan tiba-tiba aku ingat di sana terdapat tempat penyewaan kuda, lantas aku bertanya apakah dia pernah naik kuda. Iseng saja, kami memang jarang menyiapkan topik untuk dibicarakan. Obrolan mengenai kuda berhenti begitu saja dan kami membicarakan Paman Gober sebelum tidur. Di luar dugaan, dia membangunkanku pukul tiga pagi, dia bilang dia bermimpi naik kuda dan dia mengajakku pergi ke Gunung Mas. Aku tak menanggapi sungguh-sungguh dan melanjutkan tidur, sampai kira-kira setengah jam kemudian, dia membangunkanku lagi. Dia berdiri di depanku sambil berkacak pinggang. Mengucap kata ‘bangun’ dengan ‘u’ sepanjang tukang bubur langganan kami, dan itu memang mengganggu.

Dia menyalakan lampu kamar, mengambil jins dan kausku dari lemari dan meletakkannya di tepi ranjang. Aku bangun dan segera masuk ke kamar mandi. Selepas mandi aku pergi ke dapur, menyeduh teh untukku dan membuatkan susu coklat untuknya. Semacam kegiatan rutin di pagi hari, bedanya pagi tadi kami harus melakukannya sebelum pukul lima pagi.

Pukul 4:13 menit, kami sudah ada di depan gerbang.

Dan saat ini sudah 4:26 pagi. Kami duduk di peron dua, menunggu kedatangan kereta pertama jurusan Jakarta Kota – Bogor, yang baru akan berangkat dari stasiun Jakarta Kota pukul 5:40. Artinya, kereta itu baru akan tiba di Stasiun Cikini sekitar lima belas menit kemudian.

Dan sambil membunuh waktu, kami tidak melakukan apa-apa. Sesekali bicara, mirip anak belasan yang baru berkenalan dan tidak tahu dari mana harus memulai obrolan.

Kereta di peron satu menurunkan banyak sekali penumpang. Ini masih pagi, tetapi kereta di seberang sudah sangat sesak. Pengeras suara mengabarkan informasi mengenai keberangkatan kereta dan kereta yang akan tiba selanjutnya. Dan kejadian seperti itu terus berulang hingga tiga kereta selanjutnya. Kesibukan hanya terjadi di peron satu. Sementara di peron dua, hanya ada kurang dari tiga puluh orang sepanjang peron. Beberapa berdiri sambil mendekap tas mereka, sebagian duduk bercengkrama dengan orang sebelahnya, dan seorang bapak yang duduk tak jauh dari tempatku, tertidur sembari mendekap tas dan menundukkan kepala. Kukira awalnya ia sedang mengheningkan cipta.

“Kau ingat cerita tentang ikan lou han yang kumakan dan hampir bikin aku muntah?” 39 Digit membuka percakapan.

“Tentu saja,” kataku seraya menahan tawa. “Kenapa?”

Ia menggeleng dan tersenyum, “Tiba-tiba ingat saja. Eh, kenapa ya jarang orang makan ikan lou han?”

“Ya, karena ada ikan lain yang mudah dicari dan bisa dimakan.”

Ia mengangguk kecil. “Waktu kecil, aku suka mengetuk-ngetuk kaca akuarium ikan arwana di rumah Kakek. Seru sekali.”

“Seru bagaiamana?”

“Ikannya kaget, seperti ini.” Ia menoleh ke arahku, lalu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat sambil mengembungkan pipinya. Aku tertawa sampai mau mati, dan orang-orang di peron dua melihat kami.

Di kota ini, waktu bergerak terlalu cepat. Kau akan begitu mudah kehilangan suatu momen yang berpotensi untuk sulit dilupakan jika kau tak pandai-pandai memperhatikan sekitar. Atau kau terpaksa tidak mengindahkan momen itu sebab kau pikir ada hal yang lebih penting. Ya, selalu ada hal yang lebih penting. Maksudku, kita akan dengan mudah menemukan hal lain yang kita pikir lebih penting, yang sebenarnya tak penting-penting amat.

“Kenapa ketawa?”

Aku menggeleng, meredam tawa. “Aku cuma sedang membayangkan kalau kamu ketuk kaca kereta itu,” aku menunjuk kereta yang sedang berhenti di peron satu, “orang-orang di dalamnya akan bertingkah sepertimu tadi.”

Ia mengelus punggungku beberapa kali dan mendesis seperti ibu yang sedang mendiamkan anaknya, “Sudah, sudah, kita ambil hikmahnya saja.”

“Hikmah apa?!”

Kami tertawa.

Di Stasiun Cikini, jika kau akan naik kereta ke arah Bogor atau Bekasi, hanya pintu kanan yang akan dibuka sebab peron tempat menunggu kereta hanya ada di sebelah kanan.

Pukul enam kurang, kereta tiba dan kami naik bersama penumpang lain yang sudah menunggu. Meski tidak terlalu penuh, tetapi kami tidak mendapat tempat duduk. Kami berdiri tak jauh dari pintu.

“Kamu tahu nggak arti stiker itu?” tanya 39 Digit, menunjuk stiker larangan yang ditempel di pintu.

“Yang mana?”

“Itu, kedua dari kiri.”

Aku melihat sekali lagi dan menemukan stiker larangan membuang sampah sembarangan yang bergambar siluet orang sedang membuang beberapa kertas. “Dilarang membuang sampah sembarangan,” kataku.

“Bukan, Tolol.”

“Lho, memang itu artinya, kok.”

Ia menggeleng cepat, “Itu artinya: laki-laki dilarang ‘menabur benih’ sembarangan.”

Ya, baiklah.

Kereta bergerak ke arah stasiun Manggarai. Kau bisa mendengar suara keras tiap kali roda menggilas sambungan rel, suara itu akan dimulai dari gerbong depan, perlahan bergerak, dan melewati gerbongmu, lalu pergi. Mungkin akan mengingatkanmu pada sesuatu.

Tepat di depan 39 Digit seorang ibu berpakaian batik sedang duduk menahan kantuk, ia memangku plastik putih besar, yang kuduga berisi pakaian. Di sisi kanan ibu itu, seorang bapak sedang asyik dengan ponselnya, sesekali ia senyum sendiri. Di sisi kiriku berdiri seorang bapak berjaket cokelat, tangan kanannya mengepal cincin besar dan bertali kuning yang digantung di sepanjang gerbong, alat pegangan khusus bagi mereka yang tidak mendapat tempat duduk. Aku suka dengan benda itu, saat kereta kosong berdirilah tepat di tengah gerbong dan susuri benda itu sejauh kemampuan matamu melihatnya, kau akan mengerti kenapa aku menyukainya. Tetapi, biasanya, saat kereta kosong aku lebih suka duduk. Tentu saja.

Layar yang digantung di langit-langit kereta menampilkan trailer film yang sedang diputar di bioskop, dan saat trailer selesai, kereta tiba di Manggarai. Jumlah penumpang yang turun dari gerbong kami lebih sedikit ketimbang yang naik, alhasil, kami mesti menggeser posisi berdiri kami. Kini 39 Digit berada tepat di depan bapak yang bermain ponsel, dan aku di depan ibu-ibu yang memangku plastik. 39 Digit melirikku, sambil cengar-cengir ia menyuruhku melihat ke arah yang ia tunjuk dengan bola matanya. Aku mengangkat alis, tanda tak mengerti. Ia menggerakkan lehernya ke kiri, menyuruhku untuk mendekat. Aku mencoba bergeser sedikit hingga bahu kami bertemu. Dengan mulut yang dimonyongkan, ia memintaku melihat ke ponsel si bapak. Bapak itu sedang menonton film porno.

Agak sulit untuk tidak tertawa, sebenarnya. Seolah tahu, bapak itu melihat ke arah kami dan sedikit menggeser posisi ponselnya mendekati dada.

“Saat ini anda tiba di Stasiun Tebet, sebelum turun pastikan tiket serta barang bawaan anda tidak tertinggal di dalam kereta.” Seseorang entah di mana mengulang kalimat itu sebanyak dua kali melalui pengeras suara.

Pintu otomatis terbuka, kini jumlah penumpang turun lebih banyak daripada yang naik. Tetapi kami belum mendapat tempat duduk. Aku ingin bergeser sedikit ke kanan agar tidak terlalu sesak, tetapi kuurungkan. Begini lebih baik.

Saat tiba di stasiun Pasar Minggu, kereta nyaris kosong. Orang yang tersisa di gerbong kami kini semua mendapat tempat duduk. Sebelum pintu tertutup kembali, seekor ayam jantan masuk.

Ayam jantan itu berdiri di tengah gerbong, lalu berbelok kanan, melewati kami, dan melompat ke kursi di seberang kami yang memang kosong. Ia menggaruk-garuk paruhnya dengan kaki, mengepakkan sayap, lalu berkokok satu kali. Dan diam, dan sepertinya menatap kami. Posisi matanya memungkinkan ia untuk terlihat sedang memandang ke arah lain, misalnya ia memang sedang menatap kami.

“Kok ayam boleh naik, ya?” tanyaku. Dan sesaat setelahnya, ayam itu menggerakkan sedikit kepalanya, seolah tahu aku membicarakannya.

39 Digit melihat ke arahku, memandang tajam, lalu terkikik.

“Apa yang lucu?”

Ia menggeleng. “Pertanyaanmu itu aneh banget.”

Aku pikir justru komentarnya lah yang aneh.

“Siapapun boleh naik kereta,” katanya.

“Buat apa ayam naik kereta?”

“Lho, memangnya buat apa sekarang kita naik kereta?”

“Ya, buat pergi.”

“Pergi ke mana? Kita, kan, nggak pernah ke mana-mana.”

39 Digit menyandarkan kepalanya di bahu kananku, tak lama, ia tertidur. Sementara aku masih khusyuk memperhatikan hewan di depanku. Akan ke mana ia pergi? Ia terlihat seperti ayam petarung, dadanya agak membusung dan ada bekas luka di kakinya. Tetapi, kukira, ia sudah lama tidak terlibat dalam pertarungan. Bulunya terlihat sangat terawat, dan ia kelihatan lelah. Meski begitu aku masih bisa merasakan sisa-sisa kejayaannya di masa lalu, bekas luka itu, dan sorot matanya, menyiratkan semacam tanda bahwa ia pernah mengalami tahun-tahun paling membahagiakan dalam hidupnya. Jauh sebelum ia mesti naik kereta pagi dan pulang sebelum rabun senja menyerang matanya sore nanti. Ia meninggalkan hal-hal yang menyenangkan dan memilih untuk melakukan hal yang ia benci sebelumnya. Akan ke mana ia pergi?

Ayam jantan itu turun di Stasiun Depok Lama.

Aku sungguh ingin tahu bagaimana rasanya meninggalkan hal-hal yang kupikir bikin bahagia dan memulai sesuatu yang amat kubenci, meski aku sendiri tak percaya aku dan orang-orang di dalam gerbong ini bisa membenci sesuatu dengan sepenuh hati, sama seperti tak ada yang benar-benar bikin kami bahagia, sepertinya. Tapi, masalahnya, aku tak bisa menduga-duga apa yang dipikirkan seekor ayam jantan.

“Aku belum pernah lihat makanan kucing rasa tikus,” kataku. “Kamu pernah?”

“Belum,” jawabnya sambil tetap bersandar. “Kamu bertanya begitu bukan karena ingin memelihara kucing, kan?”

Aku menggeleng keras. “Buat apa pelihara kucing segala? Nanti bisa-bisa kamu lempar.”

“Ya, siapa tahu.”

“Aku cuma heran, kenapa aku belum pernah melihat makanan kucing rasa tikus,” kataku. “Yah, sekalian mau tahu kamu tidur atau nggak.”

“Kalau aku tidur, kenapa?”

“Ya, nggak apa-apa.”

“Kalau aku nggak tidur?”

“Nggak apa-apa juga. Tapi, sebaiknya jangan tidur.”

“Kenapa?”

Kereta tiba di Stasiun Depok, begitu kata sesorang di pengeras suara. Saat kereta Ekonomi masih beroperasi dan Stasiun Depok masih dipenuhi banyak pedagang. Aku suka minum kopi di warung dekat pintu keluar. Suatu hari, dua orang gadis cantik mendatangiku dan salah satu di antara mereka bertanya:

“Bagaimana kalau besok kiamat?”

Aku ingin menjawab, ‘ya, nggak gimana-gimana.’ Tetapi kuurungkan. “Mungkin aku akan memberi makan burung merpati tetanggaku,” jawabku akhirnya.

Gadis yang bertanya padaku menatap temannya, lalu menatapku lagi. Hening sesaat. Aku memantik mancis dan lalu membakar rokok.

“Kenapa memberi makan merpati tetanggamu?” tanyanya.

“Kandang mereka berhadapan dengan beranda atas kamarku. Mereka suka berkumpul di sana. Berak sembarangan, bahkan di dalam gelas kopiku. Tiap kali aku keluar kamar, aku selalu punya niat untuk menyiram bensin dan membakar kandang itu. Bulan puasa tahun lalu aku melempar petasan ke kandang mereka, petasan sebesar cangkir kopi, petasan itu masuk ke dalam kandang tapi nggak meledak. Anjing memang, kucoba lagi keesokan harinya dan juga nggak meledak.” Aku menoleh ke arah gadis yang mengajakku bicara. “Mengerti? Selama aku tinggal di sana aku selalu berniat jahat kepada mereka. Kalau memang besok kiamat, apa salahnya aku sedikit berbuat baik.”

“Sebenarnya, bukan itu maksud kami,” ujar temannya, setelah berdeham. “Maksud kami, apa kamu ingin menyelamatkan dirimu? Sebelum terlambat.”

“Menyelamatkan diri dari apa?”

“Dari kehilangan harapan.”

Saat ia berkata begitu, aku membayangkan ‘harapan’ adalah makhluk bipedal yang berlari-lari ke arahku sambil mengacung-acungkan kapak.

“Alkitab meyakinkan kita bahwa manusia bukannya tanpa harapan, meski Yehuwa juga menjanjikan kiamat. Tetapi, masa depan akan jauh lebih gemilang seandainya Mas tahu rahasianya. Di dalam Penyingkapan 21:4 Yehuwa berkata Ia ‘akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu.’ Mas hanya perlu meyakininya, Yehuwa tak pernah ingkar.”

Aku mengingat betul tiap kalimat yang gadis itu lontarkan, aku suka caranya berbicara: Asyik, lancar, nampak meyakinkan, matanya berfokus kepadaku, dan tangannya tak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda gelisah. Ia sepenuhnya meyakini bahwa apa yang ia sampaikan adalah kebenaran hakiki. Meski aku bukan pemeluk Kristen, aku sedikit terharu mendengar penjelasannya. Sebelum pergi ia memberiku majalah Menara Pengawal, dari majalah itulah aku tahu kedua gadis itu adalah jemaat Saksi Yehuwa. Pengabar Injil yang baik, yang setia mengabarkan datangnya hari akhir dengan tetap tersenyum dan bersemangat. Aku suka mereka. Saat melewati Stasiun Depok, aku selalu bertanya-tanya, ke manakah mereka sekarang? Masihkah iman mampu menghibur diri pemeluknya dari kota yang perlahan membunuh dirinya sendiri? Aku sendiri tak yakin apakah imanku akan cukup untuk melindungi diriku sendiri, faktanya aku bahkan tak yakin apakah aku beriman atau tidak. Tetapi, rasanya, aku punya cara lain untuk ‘menghibur diri’. Barangkali setiap orang, pada satu titik, akan menemukan cara efektif guna menghibur diri mereka sendiri.

39 Digit memegang tanganku. Kami sudah hampir tiba di Stasiun Bogor. Ia bangkit dan masih memegang tanganku. Aku memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya berdiri dan ia melepaskan pegangannya. Kami berdiri di pintu kiri.

Pintu terbuka.

Kami hanya diam di depan pintu, tak melakukan apa-apa.

“Ada apa ini?” tanya 39 Digit.

Aku sendiri tak yakin dengan yang kulihat. Orang-orang bergerak amat-sangat cepat, kereta hilir-mudik di belakang kami. Dan detik jam besar di stasiun berputar tak kenal ampun. Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala dan mengangkat bahu.

Kami berjalan menuju kursi terdekat. Ada orang yang duduk di sana, dan beberapa detik kemudian pergi. Matahari meninggi. Jam tanganku pun ikut berputar gila-gilaan. Kami duduk setelah seorang ibu bersama anaknya duduk dan lalu pergi lagi. 39 Digit mendesah kecil, meluruskan kaki dan menggoyang-goyangkan ujung kakinya. azan Dzuhur terdengar seperti lagu yang dipercepat delapan kali.

“Kayaknya ini salah kita,” gumamku.

“Kok salah kita?”

“Iya, tadi kita keluar lewat pintu kiri, kan?”

“Nggak ada hubungannya.”

“Lho, ini buktinya.”

39 Digit menaikkan kaki kanannya ke kaki kiri, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

Aku lalu mengikutinya, menyalakan mancis dan tiba-tiba ingat di stasiun tidak boleh merokok. Maka kuselipkan lagi mancis di saku celana. “Ini salah satu alasan kenapa aku nggak pernah mengajakmu naik kereta. Kata James Morr…”

“Siapa itu James Morr?”

“Semacam ahli metafisika,” jawabku. “Dia bikin Teori Retakan Waktu. Menurutnya, jika kita bersama seseorang yang tanggal lahirnya hanya selisih 18 hari, kita harus mengikuti beberapa aturan, salah satu di antaranya: saat naik kereta dan kita masuk dari pintu kiri, kita harus keluar dari pintu kiri juga. Masalahnya, pintu kereta commuter line kan nggak selalu sama. Kalau kita naik dari kanan, siapa tahu nanti saat turun yang terbuka hanya pintu kiri. Atau kita lupa ada aturan yang dibikin James Morr, yah, seperti sekarang.”

“Ngarang.”

“Ya, terserah kalau nggak percaya.”

“Kenapa 18?”

“Menurut kepercayaan Cina, angka 18 itu simbol peleburan ganjil dan genap. Penunjukan hal yang berpasangan tetapi berseberangan, misalnya: siang dan malam, gelap dan terang, kelahiran dan kematian… jadi sebisa mungkin, orang yang berpasangan dan memiliki selisih kelahiran 18 hari saat naik kereta, nggak melakukan hal yang berseberangan. Seperti kita tadi, masuk dari kanan keluarnya dari kiri. Jadi, ya, begini deh.  Waktu ‘kita’ retak dan massa tubuh kita dihisap ke dalamnya. Jadi, ya, seperti sekarang ini. Bagi mereka waktu bergerak seperti biasa, tapi bagi kita waktu bergerak cepat.”

“Kenapa cuma kereta?”

“Ya, mana aku tahu?”

“Aku nggak percaya.”

Seorang petugas kebersihan berseragam oranye menyapu sampah di depan kami, beberapa saat kemudian ia sudah berada di kursi yang berjarak sekitar sepuluh meter dari kami, dan terus hingga ke ujung peron lalu menyeberang rel.  Sebuah kereta masuk di peron tiga, menutupi petugas itu, dan saat kereta bergerak kembali, petugas itu sudah tidak ada.

“Kenapa, ya, bunyi saat kereta datang ‘teng nong neng nong’ begitu. Mengganggu sekali,” kata 39 Digit. Belum sempat ia menutup telinga, bunyi itu sudah selesai.

“Oh, kan penemu kereta ada 3 orang: Teng, Nong, sama Neng. Jadi diabadikan supaya dikenang masyarakat.”

39 Digit menjitak kepalaku.

Azan Magrib terdengar sayup-sayup, lalu menghilang. Jam stasiun menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Dan kami tak beranjak ke mana pun sejak kami tiba. Tak ada percakapan maupun peristiwa penting yang terjadi, dan siang berakhir begitu saja.

“Kita pulang saja,” kata 39 Digit. “Naik kudanya kapan-kapan, deh.”

*Beberapa peristiwa di atas diambil dari kejadian dan percakapan saya dengan Ulvi beberapa hari yang lalu.

Iklan

2 tanggapan untuk “Retakan Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s