Khimzir bin Cahad

–Buat almarhum Tasedjo bin Thahir

Begitulah, kalau dipikir-pikir, kau ada benarnya juga. Yah, aku pun sempat berpikir seperti itu. Hanya saja tidak terlalu dalam, pikiran seperti itu sejujurnya mengerikan. Bagaimana kalau ternyata memang cinta tidak pernah ada; bahwa kita hanya ingin memiliki sesuatu yang tidak kita punya tetapi dimiliki orang lain dan kita jadi merasa harus memiliki orang itu sekadar untuk memuaskan diri sendiri? Ah, itu mengerikan. Maaf aku mengulang kata mengerikan, sebab aku tak tahu kata apa yang paling tepat. Meski begitu, kupikir, aku sepakat. Mungkin aku hanya tidak ingin menelannya bulat-bulat. Khawatir tersedak. Itu saja. Kuharap kau tak tersinggung. Sebaiknya kita hentikan obrolan ini, dan mulai membicarakan masalahmu tadi. Sebentar, aku pesan kopi dulu. “Jul, kopi satu.”

“Oke, Mas. Panas atau dingin?”

“Terserahlah.”

“Lho, terserah, bagaimana?”

“Terserah, ya, terserah.”

Kau mau kopi? Sekali-sekali kau harus coba kopi kemasan bikinan Jul. Tak lengkap kunjunganmu ke kota ini tanpa icip kopi bikinan dia. Dia ahlinya. Kopi kemasan seharusnya di mana pun sama, tapi tidak bikinan Jul. Pahitnya pas dan agak nyelekit, begitu. Aku tak tahu apakah dia menambahkan serbuk belerang atau sarang semut ke dalamnya. Masa bodoh, yang penting nikmat. Apa yang tadi sedang kita bicarakan? Ah, soal kau mencuri di toko buku si Khimzir.

“Ini, Mas. Atasnya dingin, tapi bawahnya masih panas. Kalau mau kopi panas mending sekarang saja, pakai sedotan, sedot dari dasar gelas.”

“Oke, Jul. Terima kasih. Tapi aku lagi nggak mau minum ampas.”

Begini, aku tak keberatan kau mencuri di sana, sungguh, lagipula setahuku tak ada yang pergi lagi ke sana sejak… sejak aku mampu mengingatnya. Mungkin juga tak pernah ada orang di kota ini yang masuk ke dalam rumah baca itu. Aku sendiri heran kenapa kau yang orang asing malah rajin pergi ke sana, sebulan terakhir kulihat kau setiap hari keluar-masuk rumah baca itu. Eh, bagaimana sih dalamnya? Lucunya, kukira kau mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, atau semacamnya. Ternyata kau datang buat mencuri. Dan aku hampir mati ketawa mendengar ceritamu: Kau mencuri buku koleksi si Khimzir selama sebulan penuh dan menjualnya kepada Yesaya, si tukang loak, dan ternyata Yesaya menjual buku curianmu kepada Khimzir. Haha. Maaf aku tak bisa tak tertawa.

Soal si Khimzir ini, kata orang dia punya masalah dengan ingatannya, kadang dia suka tertidur di lapangan basket; salah masuk rumah–dia selalu menganggap rumah bercat oranye adalah rumahnya; bahkan dia suka memberikan uang kepada orang lewat sebab dia merasa punya utang. Makanya aku teekejut saat tahu ternyata dia hafal koleksi bukunya. Eh, tahu tidak? Si Khimzir ini suka sekali baca komik. Kau bisa dengan mudah menemukannya sedang duduk di kursi panjang pos satpam sekitar pukul lima sore. Kau tahu apa yang dia baca? Miiko. Astaga, dia sudah kelewat tua buat baca Miiko. Dan dia suka cengar-cengir sendiri saat membacanya. Ya, ya, tidak ada yang janggal soal itu; siapapun yang suka baca komik pastilah pernah cekikikan, tak peduli berapapun usianya. Tapi, aku tak pernah melihat pria berusia delapan puluh tahun lebih membaca komik Miiko sambil ketawa sendirian selain si Khimzir. Tidak, tidak aneh sama sekali. Yang aneh adalah apa yang bergerak di dalam kepalaku saat menyaksikannya. Kau mengerti maksudku?

Ibu Zubair, pemilik kedai kopi ini, juga suka baca. Dia baca novel-novel yang ketebalannya sanggup bikin kepala monyet geger otak, itu wajar. Maksudku, yah, bagaimana menjelaskannya? Aku tak kepengin bikin kau sakit hati, sebab nampaknya kau suka membaca. Tapi, begini, menurutku–sungguh ini menurutku, tolong jangan diambil hati–novel-novel setebal itu sepertinya memang hanya cocok untuk dibaca lansia. Dan aku bisa memakluminya, tetapi, komik? Astaga. Sudah dua kali aku mengucapkan ‘astaga’, jika setengah jam ke depan kita masih membicarakan Khimzir, barangkali aku sudah jadi pemuka agama.

Sebentar lagi jam lima sore. Bagaimana kalau kita melihat Khimzir tua di pos satpam? Bukan apa-apa, ada baiknya kau mengakuinya saja; kau sudah mencuri dan menjual buku-bukunya dan kau sudah tahu ia membeli lagi buku-buku yang kau jual–sialan, aku tak tahan pengin ketawa. Tambahkan saja alasan yang mungkin bisa bikin dia kasihan, tapi yang masuk akal, misalnya kau jual buku-buku itu buat beli nasi bungkus atau semacamnya. Kalau kau kesulitan bicara–yah, aku mengerti perasaanmu, mengakui kesalahan bukankah tak pernah mudah? Biar aku yang menyampaikan, anggap saja bantuan dari seorang teman.

“Jul, jadi berapa semua?”

“19 ribu, Mas.”

Menurutmu ada yang aneh dengan Jul? Kukira hanya aku yang berpikir begitu.

Pos satpamnya tidak terlalu jauh, kok. Kita hanya perlu belok kiri di depan, belok kanan, dan lurus saja sampai portal. Lalu belok kiri lagi, menuju bundaran. Dekat taman, kau pasti belum pernah ke sana. Tentu saja, selama di sini kau sepertinya cuma bolak balik ke rumah baca itu. Betapa membosankannya hidupmu.

Maafkan aku, tapi aku tak tahan ingin protes. Kau bilang kau hanya satu bulan di sini, tapi kau tak bilang alasan kenapa kau hanya bisa satu bulan di sini. Dan kenapa kau baru menemui aku hari ini? Kenapa tak kemarin? Minggu lalu? Kenapa tak temui aku di hari pertama kau datang ke tempat ini? Aku terkesan cerewet, terserah, tetapi ini sungguh menyebalkan. Kau tiba-tiba datang, mengaku maling, dan aku menyukaimu. Lalu kau bilang tetek-bengek soal cinta–dan terdengar mengerikan–tetapi aku masih menyukaimu. Dan sekarang aku malah berpikir aku menyukaimu hanya karena ada sesuatu yang kau punya dan tak kumiliki dan aku ingin memilikinya juga. Dengarkan aku. Tak perlu menunduk. Nah, nah, kenapa sekarang kau bersedih? Kenapa kau menanamkan pemahaman yang kau sendiri tak yakin? Kenapa tadi kita tidak diam saja, diam dan tak terlihat seolah sedang berusaha mengenal satu sama lain, jika kau tahu betul sekat yang memisahkan kita tak bisa begitu saja kita tembus? Kau tak akan mengerti aku, seperti aku tak akan sepenuhnya mengenalmu. Aku bahkan tak tahu namamu. Siapa namamu? Rahasiakan? Maksudmu, di KTP-mu tertulis: “Nama: Rahasiakan”. Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa? Aha? Ya, Aha terdengar lucu juga.

Aku betul-betul ingin tahu namamu, tetapi kalau kau lebih suka aku merahasiakannya. Ya, sudah. Tak apa. Ah, aku suka selera humormu. Apa yang perlu dirahasiakan jika kita tak tahu apa yang mesti kita rahasiakan?

Aku keberatan? Tidak sama sekali. Kau besok pergi dan aku tak perlu repot-repot memikirkanmu lagi.

Sudahlah, jangan bersedih. Kita sudah hampir sampai. Satu pengkolan lagi dan kau akan melihat Khimzir, lelaki bau tanah yang kerjanya cuma mengulur-ulur kematian untuk ketemu anaknya. Apa? Bagaimana aku tahu? Tentu saja aku tahu, mungkin kuda yang bisa berhitung sampai tiga pun tahu, tempat ini neraka dan di neraka tak ada tempat yang bagus untuk menyimpan rahasia. Termasuk namamu.

Nah, itu dia. Bisakah kau mendengar cekikikannya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s