Axolotl

Axolotl Meksiko adalah salamander yang memiliki rupa aneh dengan kepala datar dan kaki berduri, hewan yang ‘tidak biasa’ karena menghabiskan seluruh hidupnya dalam tahap larva, seperti berudu, tanpa pernah berpindah ke daratan. “Axolotl terus tumbuh dan tumbuh dalam bentuk yang sama, dan memiliki kapasitas untuk bereproduksi,” ujar ahli Biologi Armando Tovar Garza. “Kami belum tahu pasti kenapa mereka tidak berubah.” Tatapan mereka terlihat begitu memikat saat insang mereka berdenyut perlahan. Di dalam cerita pendek karangan Julio Cortázar “Axolotl,” sang narator terpaku—“Aku diam dan mengawasi mereka selama beberapa jam sebelum akhirnya pergi lekas-lekas, dan tak bisa memikirkan hal lain lagi.”—dan mengalami metamorfosisnya sendiri. (New York Times, 31 Oktober 2012)

axolotl

Axolotl
Oleh Julio Cortázar

Ada suatu masa ketika aku benar-benar memikirkan axolotl. Aku mengunjungi akuarium di Jardin des Plantes untuk melihat mereka dan berdiam diri di sana, memandangi mereka selama beberapa jam, mengamati gerak lemah mereka. Dan sekarang aku menjadi axolotl.

Aku bertemu mereka dalam suatu kebetulan di pagi musim semi saat langit Paris sedang memekarkan ekor meraknya setelah musim dingin Pra-Paskah. Aku sedang berjalan-jalan di boulevard Port-Royal, kemudian berbelok ke Saint-Marcel dan L’Hôpital dan melihat kehijauan di antara suasana kelabu, dan segera mengingatkanku pada singa. Aku sering mengunjungi singa-singa maupun macan kumbang di sana, akan tetapi belum pernah mengunjungi gedung yang gelap dan lembab seperti gedung akuarium itu. Kusandarkan sepeda di pagar dan berjalan di antara tulip. Singa-singa nampak murung dan menyedihkan, dan macan kumbangku sedang terlelap. Aku memutuskan pergi ke akuarium, melihat ikan-ikan tolol tanpa minat sedikit pun hingga, tanpa diduga, mataku terpaku pada axolotl. Aku diam dan mengawasi mereka selama beberapa jam sebelum akhirnya lekas-lekas pergi, dan tak bisa memikirkan hal lain lagi.

Di perpustakaan Sainte-Genevieve, aku memeriksa beberapa buku dan tahulah aku bahwa axolotl adalah tahap larva (yang dilengkapi insang) dari spesies salamander genus Ambystoma. Kalau soal mereka berasal dari Meksiko, aku sudah bisa menebak sejak pertama kali lihat. Wajah mereka yang merah muda macam orang-orang Aztec, dan lagipula ada plakat informasi tentang itu di atas akuarium. Beberapa dari mereka ditemukan di Afrika, mampu bertahan hidup di daerah kering selama musim kemarau dan melanjutkan hifup saat musim hujan tiba. Aku pun menemukan nama Spanyol-nya, Ajolote, dan disebutkan pula bahwa mereka bisa dikonsumsi, dan minyak mereka bisa digunakan (kini sudah tidak boleh, kata buku) seperti minyak hati ikan kod.

Aku tak berminat mengetahui tentang mereka lebih jauh lagi, tetapi keesokan harinta aku kembali mengunjungi Jardin des Plantes. Aku mulai rutin mengunjungi tempat itu setiap pagi, bahkan dua kali sehari, pagi dan sore, di beberapa kesempatan. Penjaga akuarium tersenyum heran seraya mengambil tiketku. Aku bersandar di tiang besi depan akuarium dan mulai memandangi mereka. Tak ada yang aneh dalam kegiatan ini, sebab saat pertama kali melihat mereka aku tahu kami memang terhubung; sesuatu yang tak terbatas menghilang pada suatu waktu dan jarak kemudian menarik kami lagi. Mereka sudah cukup menyita seluruh perhatianku sejak pagi pertama aku berdiri di depan selembar kaca di mana beberapa anemon bubble rose mengambil tempat terlalu banyak di dalam akuarium. Para axolotl berjubal dalam tempat yang amat sempit (aku bisa merasakan betapa sesak dan tersiksanya mereka) yang berlantai lumut dan bebatuan. Ada sekitar sembilan spesimen dan kebanyakan menekan kepala mereka kuat-kuat ke kaca, melihat dengan mata cemerlang kepada siapapun yang mendatangi mereka. Membingungkan, bahkan nyaris memalukan, aku merasa mengintip makhluk-makhluk setenang dan seindah mereka sedang berkerumun di dasar akuarium adalah perbuatan keji. Secara mental, aku merasa sedang terisolasi di dalam akuarium itu, berdiam diri di pojok kanan dan agak terpisah dari yang lain, dan mempelajari tindak-tanduk mereka agar dapat diakui dalam kelompok.

Aku melihat salah satu di antara mereka, yang paling kecil dan kemerahan, tubuhnya tembus pandang (membuatku berpikir tentang patung-patung kaca buatan Cina), ia terlihat seperti kadal kecil sepanjang enam inci, dan di ujung tubuhnya terdapat ekor yang tingkat kelembutannya nampak tidak wajar. Sirip transparan merentang sepanjang punggung yang lalu berakhir dan menyatu dengan ekor, tetapi, yang membuatku benar-benar terobsesi adalah kakinya. Kaki yang kecil pula ramping, dan jemari mungil yang di ujung-ujungnya terdapat kuku mirip kuku manusia dengan ketelitian sempurna. Lalu aku meneliti matanya, wajah tanpa ekspresi, tatapan mata yang sama sekali tak menebar ancaman, hanya berupa dua lingkaran, seperti mata kancing, dan seluruhnya diselubungi selapis emas tipis. Ia hanya memandang, tanpa terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Ia membiarkan tubuhnya ditelanjangi oleh tatapanku. Menatap makhluk itu rasanya seperti melakukan perjalanan menembus lapisan emas dan terdampar di dalam interior misterius yang senyap. Halo tipis kehitaman mengelilingi mata dan lingkaran hitam itu menempel ke daging merah muda bagian kepala yang menyerupai segitiga dengan sisi-sisi melengkung, ia terlihat benar-benar mirip patung yang terkorosi waktu. Mulutnya disamarkan bentuk wajah, ukuran sebenarnya hanya bisa diduga-duga dari raut wajahnya; sebuah retakan kecil membuat celah di bagian depan batu tak bernyawa. Di kedua sisi kepala, tempat di mana seharusnya daun telinga menempel, tumbuh tiga tangkai kecil yang semerah terumbu karang, seperti pohon dalam masa pertumbuhan mereka, kukira, itu insang. Dan sepasang insang itulah satu-satunya bagian tubuh mereka yang bergerak cepat; tiap sepuluh hingga lima belas detik sekali sepasang tangkai itu menegang kaku dan lalu mengendur lagi. Sesekali kaki mereka bergerak, kulihat kaki kecil mereka bergerak tenang di atas lumut. Mungkin sebab itulah ‘bergerak’ adalah sesuatu yang tidak kami nikmati, dan akuariumnya terlalu sempit—jika kami bergerak sedikit saja ekor atau kepala kami sudah menabrak tubuh yang lain—sulit bergerak, tidak ingin bertarung, dan kelelahan. Waktu seolah mengerut saat kami berdiam diri.

Ketenangan merekalah yang membuatku bersandar dan memandangi mereka untuk pertama kalinya. Samar-samar, tampaknya aku bisa menebak keinginan terselubung mereka: mereka ingin menghapuskan ruang dan waktu dengan meminimalisir gerak dan bersikap masa bodoh. Aku baru tahu belakangan; kontraksi insang, gerak kaki kecil mereka yang tak beraturan menyentuh bebatuan, meluncur tiba-tiba (beberapa dari mereka berenang dengan gerak undulasi sederhana dari tubuh mereka) membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melarikan diri dari kelembaman yang mereka bangun nyaris sepanjang hari. Dari semua, mata merekalah yang membuatku tergila-gila. Di dalam dua akuraium yang mengapit axolotl, spesies ikan lain menunjukkan kedunguan melalui tatapan mata mereka, kedunguan yang sangat mirip dengan mata kita sendiri. Akan tetapi mata axolotl bercerita kepadaku tentang adanya kehidupan yang lain, dan cara lain dalam memandang sesuatu. Kutempelkan wajahku ke kaca (penjaga terbatuk sesekali, batuk yang dibuat-buat), mencoba melihat lebih dekat lingakaran emas kecil, sebuah gerbang menuju dunia yang berjalan amat-sangat lambat—dunia yang mengatur perangai makhluk-makhluk kecil kemerahan ini. Tak ada gunanya menempelkan ujung jari pada kaca yang langsung berhadapan dengan wajah mereka; mereka tak bereaksi sama sekali. Mata aurum terus membakarmu dengan lembut, cahaya yang mengerikan; mereka tak henti-hentinya menatapku dari kedalaman tak terperikan, dan membuatku pusing.

Meski begitu mereka sangat dekat. Aku tahu, aku tahu itu sebelum menjadi seekor axolotl. Aku mempelajarinya di hari pertama kami bertatap muka. Fitur antropomorfis dari kera memperlihatkan kebalikan dari apa yang kebanyakan orang yakini, ada jarak yang terbentang antara kita dan kera. Ketidak-miripan antara axolotl dan manusia membuktikan bahwa pengakuanku ini sahih, dan aku tidak sedang bersandar pada analogi murahan. Hanya bentuk tangan kecil mereka saja… Akan tetapi seekor eft, kadal air biasa (newt), memiliki bentuk tangan seperti itu juga, dan kita sama sekali tidak mirip dengan mereka. Aku kira yang membedakan axolotl dengan yang lainnya adalah bentuk kepala mereka, segitiga merah muda dengan mata kecil keemasan: yang melihat dan mengetahui, yang memproklamirkan diri, bahwa mereka bukanlah hewan.

Penjelasan ini akan dengan sangat mudah jatuh ke mitologi. Aku mulai melihat di dalam diri axolotl; suatu metamorfosis yang gagal dalam usahanya menghapus misteri umat manusia. Kubayangkan mereka sadar sepenuhnya bahwa mereka terperangkap dan diperbudak oleh tubuh kecil itu; dikutuk dalam jurang keheningan, dalam meditasi yang sia-sia. Tatapan mereka, sekeping mata kancing kecil yang menyilaukan, mengirimiku sebuah pesan: “Selamatkan kami, selamatkan kami.” Tanpa kuinginkan, aku mulai menggumamkan kalimat-kalimat nasihat, mengucapkan harapan-harapan yang kekanakan. Mereka terus menatapku, tak bergerak sama sekali; dengan tangkai kemerahan di kedua sisi kepala mereka menegang dan mengendur secara berkala. Saat itu juga aku berusaha meredam rasa sakit; mungkin mereka melihatku, menarik daya hidupku untuk menembus hal-hal tentang mereka yang tak pernah tertembus manusia lain. Mereka bukan manusia, tetapi rasanya belum pernah ada hewan yang membuatku menemukan hubungan yang mendalam dengan diriku sendiri. Axolotl seperti seorang saksi dari sesuatu, dan di saat bersamaan seperti hakim yang kejam. Aku merasa hina di depan mereka; ada semacam kemurnian yang menakutkan di dalam ketransparanan mata mereka. Mereka cuma larva, tetapi larva pun bisa berarti ‘penyamaran’ dan juga ‘bayangan’. Di balik muka yang mirip orang Aztec itu, yang tanpa ekspresi namun mengguratkan kekejaman, kemiripan apa lagi yang sedang menunggu?

Mereka membuatku takut. Kupikir aku harus mulai menjalin kedekatan dengan pengunjung dan penjaga, nyaliku belum cukup besar untuk hanya berdua saja dengan mereka. “Kau mengunyah mereka hidup-hidup dengan matamu, hey,” seru penjaga, tertawa; mungkin maksudnya untuk mencairkan suasana. Yang tidak dia ketahui, kenyataannya, merekalah yang memakanku lamat-lamat dengan mata mereka. Meski kakiku melangkah menjauhi akuarium, bayangan tentang mereka tidak ikut menjauh, seolah-olah pikiranku dikendalikan dari jauh. Pemikiran seperti itu telah sampai pada tahap di mana aku merasa melihat mereka merayap di malam hari; perlahan meletakkan tangan mereka di atas mataku sebelum dengan cepat tangan yang lain menyerobot. Barangkali mata emas mereka bisa melihat dalam kegelapan, dan bagi mereka setiap hari adalah siang tanpa akhir. Mata axolotl tak berkelopak.

Kini aku tahu, tak ada yang aneh, peristiwa ini memang harus terjadi. Bersandar di depan akuarium setiap hari, keyakinan itu semakin menguat. Mereka menderita, tiap serat tubuhku berusaha menahan rasa sakit itu, rasa pegal yang menyiksa saat aku berdiam diri di dasar akuarium. Mereka berdiam diri sembari menunggu sesuatu, suatu kehancuran dari kekuasaan yang remeh, suatu masa pembebasan di mana dunia berada di bawah kaki para axolotl. Bukan sesuatu yang mustahil di balik ekspresi dingin yang mengerikan itu tersimpan lebih dari satu rasa sakit; menunggu pembuktian kalimat abadi, dari neraka yang sedang mereka jalani. Dengan putus asa, aku pun ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa kepekaankulah yang memproyeksikan kesadaran yang sebenarnya tak dimiliki axolotl. Mereka dan aku tahu. Maka tak ada yang aneh dengan ini semua. Wajahku menempel pada kaca akuarium, sekali lagi, mataku mencoba untuk menembus misteri yang berbaring di dalam mata tanpa iris, tanpa pupil itu. Aku tengah mengamati satu axolotl yang berdiam diri di dekat kaca. Merasa tak ada kemajuan dan kejutan yang berarti, kutekan wajahku ke kaca, kulihat dari atas akuarium, kulihat dari sisi lain kaca. Lalu aku menarik kembali wajahku dan aku mengerti.

Hanya ada satu hal yang janggal: caraku berpikir, caraku mengetahui. Caraku menyadari bahwa, untuk pertama kalinya, aku seperti merasakan kengerian seorang laki-laki yang dikubur hidup-hidup saat ia mencoba memperjuangkan nasibnya di dalam kubur. Di luar, wajahku kembali mendekati kaca, aku melihat mulutku, bibir yang terkatup dalam upaya kerasnya memahami axolotl. Aku adalah seekor axolotl dan kini aku segera mengerti, seluruh usahanya sia-sia belaka. Lelaki itu berada di luar akuarium, buah pikirannya adalah hasil dari pemikiran seseorang yang berada di luar akuarium. Dia menyadari keberadaannya, dia menjadi dirinya sendiri, sementara aku axolotl yang berada di duniaku sendiri. Kengerian dimulai saat aku mulai mempercayai diriku terpenjara dalam tubuh seekor axolotl, bermetamorfosis menjadi axolotl dengan tetap berpikir seperti manusia, aku dikubur hidup-hidup di dalam tubuh axolotl, bergerak secara sadar di antara makhluk-makhluk yang tak memiliki kesadaran. Tetapi pemikiran itu berhenti saat sebuah kaki menyerempet wajahku, ketika aku bergeser sedikit ke sisi lain dan melihat seekor axolotl di sebelahku yang juga sedang melihat ke arahku, dia mengerti apa yang kupikirkan, kami memang tidak saling berkomunikasi, tetapi aku tahu dia mengerti. Atau aku juga berada di dalam dirinya, atau kami semua berpikir seperti manusia, namun tak mampu mengekspresikannya sebab dikurung oleh kemegahan mata aurum kami. Dan kami hanya bisa memandangi wajah seorang lelaki yang tengah menekan wajahnya ke kaca akuarium.

Lelaki itu datang berkali-kali, tetapi belakangan semakin jarang. Satu minggu berlalu tanpa kehadirannya. Aku melihat dia kemarin, dia cukup lama menatapku dan lalu lekas-lekas pergi. Kukira dia sudah tak terlalu tertarik lagi pada kami, dan mulai mengganti kebiasaanya. Karena satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanya berpikir, aku jadi sering memikirkan lelaki itu. Kupikir sejak awal kami sudah mulai berkomunikasi, dan aku tahu dia mulai merasa harus memecahkan misteri yang mulai menggerogotinya. Namun jembatan yang menghubungkan kami sudah rusak, sebab obesesi lelaki itu kini telah menjadi axolotl, makhluk tak dikenal dalam kehidupan manusianya. Awalnya kukira aku bisa kembali menjadi lelaki itu dengan cara tertentu—ah, cara tertentu—dan menyulut hasratnya untuk terus mencari tahu tentang kami. Sekarang aku adalah seekor axolotl, dan apabila aku masih berpikir seperti manusia itu karena di dalam batok kepala kemerahan tiap axolotl memang tersimpan pikiran manusia. Aku percaya aku sudah berhasil menyampaikan sesuatu kepadanya di hari pertama, di hari ketika aku masih dia. Dan dalam kesendirian yang datang saat lelaki itu sudah tak pernah kembali lagi, aku menghibur diri dengan berpikir bahwa mungkin dia akan menulis cerita tentang kami, ya, dia akan mengarang sebuah cerita, dia akan menulis apa yang dia pikirkan tentang axolotl.

Iklan

2 tanggapan untuk “Axolotl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s