Parkir

David-and-Goliath1

“Tuhan kami belum mati,” kata Avalonia. “Dia cuma tidur, lelap sekali. Yang sedang tidur tidak bisa disalahkan, kan? Jadi, tolong jangan bawa-bawa nama Tuhan, setidaknya saat kau sedang berbicara denganku.”

(Selagi Aku Tertidur, Cobalah Berbahagia hal. 192 karya Arthur Harahap)

*

Hal yang memuakkan dari mal di akhir pekan adalah tempat parkirnya. Ya, semua yang ada di sana memang bikin mual tetapi tempat parkir menempati urutan pertama. Saat kau memasuki ruangan itu, matamu akan kelelahan melihat motor-motor berbaris tak ubahnya kuda-kuda di depan western saloon dan kuda-kuda itu berak sembarangan, kau akan menghirup aroma sialan yang merangsek masuk ke tenggorokanmu, menyungkil-nyungkil saraf hidung dan cairan telingamu sehingga otakmu kebingungan, dan satu-satunya yang bisa ia lakukan cuma mengeluh. Karena itu, otak akan memaksamu untuk bergegas menemukan kendaraanmu. Jika dalam lima menit kau belum menemukannya, ia akan memerinrahkan keringat keluar dari seluruh pori-porimu; sepuluh menit belum menemukannya lambungmu bergolak seolah baru saja turun dari wahana adrenalin; setengah jam kemudian otakmu meleleh. Ditambah rasa cemas kendaraanmu dicuri tentu memperburuk kondisi tubuhmu. Terlebih jika karcis parkir yang kau selipkan di dompet raib, bersama dompetnya. Seperti yang kualami sekarang.

Mal ini terdiri dari lima lantai, tempat parkir kendaraan, baik motor maupun mobil, berada di lower ground dan ground floor. Aku lupa di mana aku memarkir mobil. Maka aku memutuskan untuk mulai mencarinya dari lower ground.

Tepat di depanku, empat orang anak muda—tiga lelaki dan satu perempuan—sedang membicarakan kinerja presiden dan selebriti yang baru meninggal. Ingin rasanya ikut mengobrol, melupakan sebentar perkara parkir dan berbicara hal-hal yang tak terlalu kumengerti dan sekalipun kumengerti tak mengubah banyak hal dalam hidupku. Tetapi rasanya, ini bukan waktu yang tepat. Aku curiga ada semacam mesin pencetak rambut di tukang cukur langganan mereka, sebab potongan rambut ketiga laki-laki itu benar-benar sama, rambut mereka hanya tersisa di tengah-tengah macam tahi kerbau yangmenempel di atas kepala.

Mal ini dibangun di atas tanah sengketa, begitu kata koran. Pemilik gedung mengklaim kepemilikan tanah, membawa para petani ke pengadilan, lalu menggusur sawah dan membangun pagar untuk menandai kekuasaannya sebelum akhirnya ia membangun gedung. Aku tak habis pikir mengapa ia membangun mal di tengah kampung yang bahkan harga satu tas yang dijual enam kali lebih tinggi dibanding pendapatan warga. Yah, otak orang kaya memang sulit dimengerti, atau memang tak ada otak di dalam batok kepalanya sehingga tak seorang pun mengerti keputusan yang mereka ambil. Meski begitu, mereka cuma perlu menjelaskan bahwa itu strategi bisnis dan kroco-kroco mereka akan mengangguk seolah mengerti, dan habislah perkara. Yah, bagaimanapun, seseorang mungkin perlu memberi mereka pelajaran sesekali.

Aku mencari satpam yang berjaga di lower ground. Seperti tukang jagal yang sedang memeriksa sapi-sapinya sebelum disembelih, aku meneliti satu per satu motor di sana. Sebagian besar mirip, baik jenis hingga warna.

Kening dan leher dan punggungku mulai berkeringat. Kubuka tas untuk mengambil tisu. Setelah mengelap wajah hingga leher, kubuang tisu ke tempat sampah yang terletak di sudut ruangan.

Tak ada satpam di lower ground, dan mobilku pun tak nampak di sana. Aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol ground floor.

Hal pertama yang kulakukan saat keluar dari lift adalah, lagi-lagi, mencari satpam. Dalam keadaan seperti ini, satpam memang diperlukan. Alih-alih menemukan satpam, aku malah menemukan tiga perempuan paruh baya berpakaian serba-mini berdiri di depan sebuah mobil merah. Mereka sedang membicarakan seks seolah sepakat bahwa memang cuma itu satu-satunya alasan manusia hadir di muka bumi. Obrolan mereka serius dan cukup keras hingga dari tempatku berdiri mengabsen mobil-mobil yang berbaris—sekitar lima puluh meter—aku bisa mendengar semua obrolan mereka.

Aku mendekati mereka selangkah demi selangkah sambil terus mencari mobil. Seperti di parkiran motor, di sini pun didominasi mobil yang sama, baik jenis hingga warnanya. Semua nampak seperti mobilku. Ya, kau memang bisa menemukan mobilku berserak di jalan raya, mobil medioker yang cukup murah untuk menaikkan nilai tawarku di mata dunia. Satu-satunya yang kupikir membuat mobilku berbeda dengan mobil lain adalah stiker Taman Safari di kaca depan bagian atas sebelah kiri, dan ternyata, sejauh ini, aku menemukan tiga mobil yang sama dengan mobilku—baik jenis maupun warnanya—dan memiliki stiker Taman Safari di kaca depan bagian atas sebelah kiri. Tetapi, aku yakin itu bukan mobilku.

Ketiakku basah, seperti ada siput tanpa cangkang merayap di pangkal lenganku. Dan semakin dekat aku dengan mereka, asam lambungku sepertinya semakin naik. Payudara mereka besar. Penerangan parkiran yang seadanya membuat payudara mereka terlihat mengerikan. Aku menunduk, melihat payudaraku sendiri.

Kau tahu bagaimana bentuk ikan-ikan laut yang tak pernah terkena paparan sinar matahari dan hidup di tekanan air yang sangat tinggi dengan temperatur mendekati titik beku? Seperti itulah benjolan dada mereka dan di dadaku, mirip kepala anglerfish, minus antena. Dan semakin deras keringatku mengucur, semakin aneh pula bentuk payudaraku. Setiap aku melangkahkan kaki, bentuknya berubah.

Menyadari keberadaanku, mereka berhenti berdiskusi.

Aku melihat mereka, mereka melihatku. Kami saling memandang dengan alat pengelihatan yang sama, dengan bola mata dan saraf-saraf yang sama, dengan cara kerja yang sama, tetapi dengan isi kepala yang berbeda. Aku tak perlu tahu apa yang mereka pikirkan saat melihatku, dan sebaliknya. Baik aku dan mereka sama-sama diam, hanya saling memandang tanpa terlihat mencoba berbicara.

Aku ingin tersenyum, tetapi, siput di ketiakku tak bisa diajak kompromi. Setelah melewati mereka, kuambil tisu dan mengelap ketiak, lalu membuang tisu ke tempat sampah.

Tempat parkir ini seperti berada di bawah gulungan ombak, selain bunyi gema di kejauhan, tak ada suara apa-apa. Dan mobil-mobil yang terparkir adalah ikan-ikan mati. Yah, aku berada di kuburan ikan.

Sewaktu kecil, aku punya toples berisi seekor anak mujair di rumah. Bapak membawanya dari kali kecil di belakang rumah, dia bilang ikan itu tanpa sengaja masuk ke dalam capingnya. Saat itu, aku suka berdiam diri di depan toples, memandangi mujair berenang. Aku membayangkan ia kedinginan, dan ingin menyelimutinya. Saat aku bilang begitu, Bapak malah tertawa.

Sekarang, di dalam tempat parkir yang seperti kuburan ikan ini, aku bertanya-tanya. Apakah saat ikan sakaratul maut mereka kedinginan? Aneh juga, sepanjang hidup mereka berenang sambil tak henti-hentinya membuka dan menutup mulut untuk mencuri oksigen di air; saat mereka membuka mulut, air akan masuk ke dalam dan di saat bersamaan insang mereka tertutup. Saat mulut mereka tertutup, insang mereka terbuka dan mengeluarkan air yang mereka telan. Cara bernafas yang indah, dan mereka melakukannya sampai mati. Mereka sudah kedinginan seumur hidup mereka, jika saat hampir mati pun mereka kedinginan, di manakah keadilan?

Seorang satpam berdiri di depan sedan silver. Nampaknya dia tahu aku sedang kebingungan, dan bertanya kalau-kalau aku perlu bantuan. Aku menceritakan soal kehilangan dompet yang di dalamnya ada karcis parkir dan aku aku juga lupa di mana aku memarkir mobil. Dia menyuruhku untuk ikut dengannya ke pusat keamanan, dia bilang kita bisa memeriksa video mobil masuk dan keluar.

“Apa Mbak ingat nomor polisi mobilnya?”

Aku menggeleng.

“Kalau begitu susah juga,” katanya. “Kira-kira, jam berapa Mbak masuk ke tempat parkir?”

“Yah, mungkin sekitar jam tiga, Pak. Saya sendiri kurang yakin soal itu. Tapi saya pergi ke bar di atas, mungkin dompet saya tertinggal di sana,” jawabku. “Kalau boleh, saya minta tolong Bapak mencarikan dompet saya di sana, dan saya mencari mobil saya.”

Satpam itu setuju, ia mengeluarkan walkie talkie dan memanggil temannya sebelum akhirnya pergi. Aku lanjut mencari mobil.

Seorang pengendara mobil sinting nyaris menabrakku, dan ia berlalu seolah tak terjadi apa-apa. Kepalaku semakin pusing. Aku memutuskan untuk menelepon temanku dan meminta bantuan. Beberapa detik kemudian temanku ini mengangkat telepon, aku menjelaskan keadaanku. Ia tertawa dan berkelakar. Katanya, segala kesialanku terjadi karena aku pelit dan ingin menghabiskan gaji bulananku sendiri.

“Aku nggak datang ke sini untuk belanja. Aku memasang bom,” ujarku, menimpali kelakarnya.

Lalu telepon terputus, tidak ada sinyal. Duh, malang betul nasibku.

Dalam keadaan limbung, aku malah teringat nama satpam tadi. ‘Daud’, begitu tertulis di dada kanannya. Dia adalah ‘Daud’ kesembilan yang kukenal sepanjang hidupku. Tak penting, sih, mengingat saat aku keluar dari gedung ini mungkin aku bisa bertemu ‘Daud’ kesepuluh, kesebelas, dan seterusnya. ‘Daud’ bukan nama yang aneh, barangkali masuk duapuluh besar nama terbanyak di Indonesia. Tetapi aku tak bisa mengenyahkan nama ‘Daud’ begitu saja setelah ia mampir ke dalam kepalaku. Sambil mencari mobil, aku terus ditemani ‘Daud’, dan aku mulai jengah. Aku pernah membaca sebuah artikel, katanya untuk mengalihkan pikiran, kita harus mencari lawan dari pikiran itu dan mulai memikirkan lawannya dengan cepat. Aku segera memikirkan Goliath, tetapi aku tak punya ingatan apapun tentang Goliath—aku tak pernah punya teman bernama Goliath dan tidak pernah kenal dengan orang setinggi tiga meter lebih sedikit. Bicara soal Daud, dulu ada seorang pastur di desaku yang sering mengulang satu ayat Injil saat sedang berkumpul bersama warga:

“Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?”

Orang Filistin yang tak bersunat, kalimat yang menarik.

Aku mengelap lagi wajahku dengan tisu sambil memikirkan bentuk pelir yang tak disunat. Dan aku tetap tak menemukan mobilku hingga bayangan penis itu berganti tabung oksigen. Aku butuh oksigen.

Saat menyusuri baris C1, ada empat orang berjalan di depanku. Dua di antaranya berbelok ke baris C2 dan sisanya terus menyusuri baris C1. Aku mengikuti dua orang yang berjalan di baris C1. Dua orang ini sepasang kekasih, nampaknya. Si lelaki lebih pendek beberapa senti dari wanitanya meski si wanita tidak memakai sepatu berhak tinggi. Mereka berada empat langkah di depanku, aku mengikuti mereka. Karena iseng, aku mengikuti cara jalan si wanita. Saat ia melangkahkan kaki kanan, aku pun melangkahkan kaki kanan, dan seterusnya. Kami berjalan dengan alat yang sama tetapi memikirkan hal yang berbeda, tidakkah itu mengagumkan? Maksudku, mengagumkan bagaimana manusia masih tetap bisa berjalan sambil memikirkan hal lain. Seolah mereka tidak perlu pakai otak untuk bisa berjalan. Dan dengan kemampuan yang sedikit lebih mengagumkan dari monyet, kita justru sering membuat pilihan yang merugikan orang lain. Aneh juga.

Si wanita berkata kepada lelaki di sampingnya untuk melupakan kejadian tadi. Si laki-laki mengangguk kecil dan berkata bahwa ia akan melupakannya setelah berhasil membunuhnya. Saat laki-laki itu mengucap kata ‘membunuh’, wanita itu melihat ke belakang, ke arahku, setelah itu ia memperingatkan laki-laki itu agar jangan bicara macam-macam dengan nada agak keras. Padahal aku tak terlalu peduli, mengingat mobilku belum ketemu. Kalau aku sudah ada di dalam mobil—menyalakan radio; bersandar di kursi sambil menikmati pendingin udara—mungkin aku akan memikirkan lagi kata-kata lelaki tadi. Kemudian si wanita meminta pendapat soal warna tas yang ia kenakan, dan si laki-laki menjawab selama isi tas itu bukan kepala orang, warna apapun sama saja. Aku sepakat dengan laki-laki itu. Sekitar dua puluh meter kemudian, si laki-laki memencet tombol di kunci mobil, terdengar suara memekik dan lampu sein berkedip. Mereka berbelok menuju mobil yang berkedip. Aku terus berjalan.

Kumasukkan tangan ke dalam tas, mencari kotak tisu, dan ternyata sudah tak ada tisu di dalamnya. Maka kukeluarkan kotak itu dan kubuang di tempat sampah yang menempel di tiang bertuliskan “D1” dan tanda panah ke kiri yang mengarah ke pintu keluar. Aku berbelok mengikuti tanda panah itu.

Baru beberapa langkah saat terdengar pengumuman dari pelantang suara: “Kepada para pengunjung harap segera meninggalkan gedung sekarang juga, kami ulangi: tinggalkan gedung sekarang juga.”

Hanya perlu beberapa detik, orang-orang berlarian di tangga darurat di belakangku. Beberapa kendaraan berbunyi nyaris bersamaan dan pemiliknya berlari ke arah kendaraan masing-masing. Masih terheran-heran, aku berdiri mematung hingga kerumunan itu melewatiku dan mereka memekik: Ada bom! Ada Bom!

Aku ikut berlari ke arah pintu keluar tempat parkir.

Di belakang kami mobil-mobil berdesakkan, mereka berusaha saling mendahului, namun malah akhirnya saling menghalangi. Sebagian pemiliknya keluar dari mobil dan ikut berlari keluar, sisanya berusaha menabrak mobil yang menghalangi mobil mereka.

Tiba di depan pelataran mal, seorang satpam berteriak-teriak. Aku merasa ia memanggilku, maka aku berhenti berlari dan menoleh ke belakang. Benar saja, itu Daud.

“Ini dompetnya, Mbak. Ada di atas washtafel, pegawai bar menyimpannya.”

Aku mengucapkan terima kasih dan hendak mengecek isi dompetku.

“Ceknya nanti saja, Mbak. Saya belum buka sama sekali. Kalau memang ada yang hilang kita urus nanti, sekarang sebaiknya Mbak pergi sejauh mungkin dari gedung ini. Ada orang gila yang menelepon, katanya dia memasang bom. Tim Gegana sedang menuju ke sini.”

Tanpa banyak bicara, aku segera memasukkan dompet ke dalam tas dan berlari. Orang-orang memenuhi pelataran, aku berbaur bersama mereka, menuruni tangga yang menuju ke jalan raya, dan setelah berlari sepanjang tiga puluh meter aku kelelahan. Mimpi apa aku semalam? Sudah kehilangan dompet dan mobil, dan hampir mati di dalam mal di akhir pekan.

Aku berjalan pelan mendekati tukang kopi keliling yang sedang mangkal sambil berbincang dengan tukang kopi keliling lain soal bom di mal.

Aku memesan kopi. Awalnya, tukang kopi itu menatapku heran seolah tak percaya di saat genting seperti ini ada yang memesan kopi. Tetapi, mungkin karena melihat tampangku pucat dan kelelahan, ia segera membuatkanku kopi. Aku merogoh tas, mengambil dompet, dan mengambil uang. Ternyata Pak Daud memang belum membukanya, sayang sekali.

Sialan, aku tak menemukan ponselku di dalam tas, tak ada pula di saku jaket—baik di saku kanan maupun kiri. Malah ujung telunjukku merasakan sesuatu di dasar saku kanan. Kunci mobil. Tiba-tiba aku ingat dengan sepasang kekasih di parkir C1, saat si laki-laki menekan tombol alarm dan mobilnya menjerit, memanggil pemiliknya. Seharusnya aku juga melakukannya. Aduh, kenapa baru terpikir sekarang?

Kukeluarkan uang bersama kunci mobil. Setelah membayar, sambil menikmati kopi, dengan perasaan sia-sia aku menekan tombol remote alarm mobil. Terdengar suara ledakan.

Iklan

4 tanggapan untuk “Parkir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s