Novelis

Oleh Ryu Murakami

Usiaku 35 tahun, dan aku sudah menjadi pengarang novel tujuh tahun terakhir. “Electronic Guerilla,” yang kutulis saat berusia 28, terjual lebih dari enam ratus ribu eksemplar, dan tiap novel yang terbit setelahnya—“Sentimental Amorphous,” “Tokyo Computer Death Match,” and “Microwave Cosmopolitan”—memuncaki daftar penjualan terlaris. Hal ini terlepas dari kenyataan bahwa tak ada seorang pun, termasuk diriku sendiri, benar-benar memahami isi buku-buku itu. Ketika aku menulis novel pertama, aku masih bekerja di bagian Humas di Cray Research, sebuah perusahaan komputer Amerika.

Keluar dari pekerjaan itu dan menjadi pengarang membawa tiga perubahan besar dalam hidupku.

Aku terkenal.

Aku kaya raya.

Dan tubuhku membengkak.

“Halo, apa benar ini Okutegawa-sensei?”

Seseorang menelepon kantorku. Suara laki-laki, tetapi aku tak mengenalinya.

“Benar,” jawabku setelah selesai mengetik satu kalimat di papan ketik.

“Saya tahu ini kurang sopan, tapi… apakah anda familiar dengan distrik Kannai, di Yokohama?”

“Maaf, begini, saya punya aturan untuk tidak melakukan wawancara melalui telepon. Saya sudah terlalu sering disalah-kutip, mengerti?”

Jeda panjang. Rupanya dia bukan orang dari media.

“A… apa anda familiar dengan Kannai?”

“Ya, saya pernah ke sana. Bolehkah saya bertanya tentang apa ini?”

“Ya, tentu. Saya manajer sebuah kelab di Kannai yang bernama Julia.”

“Dan?”

“Apakah anda familiar dengan itu?”

“Dengan apa?”

“Dengan kelab kami.”

“Satu-satunya kelab yang saya tahu di Kannai cuma The Door.”

“The Door? Apa anda sering pergi ke sana?”

“Hanya sekali. Dan itu sudah lama.”

“Apa anda pergi ke sana minggu lalu?”

“Tidak, tidak, saya ke sana bahkan sebelum mulai menulis novel—delapan tahun yang lalu, barangkali, mungkin lebih. Saat itu saya masih pekerja biasa, seorang klien mengajak bertemu di sana. Kelab yang mahalnya minta ampun, seingat saya.”

Aku mendengar suara telapak tangan menutup telepon, dan jeda lagi. Ia sedang berbicara dengan orang lain, aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Sebentar kemudian, ia kembali.

“Sebenaranya… sebenarnya ini situasi yang memalukan, agak sulit menjelaskannya, tapi begini… selama dua bulan terakhir, seorang lelaki yang mengaku Okutegawa-sensei, penulis yang terkenal, telah… menjadi pelanggan baik kami.”

Aku menyeringai sendiri. Seorang peniru.

“Yah, orang itu bukan saya.”

“Yang sangat disayangkan adalah… saya tidak suka mengatakannya, tapi… orang itu berhutang sekitar 1.638.000 yen kepada kami.”

“Tunggu sebentar. Sepertinya itu tak ada hubungannya dengan saya.”

“Ya, ya, tentu tidak. Kami sepenuhnya menyadari, ini murni kesalahan kami.”

“Sebenarnya, agak aneh. Saya pikir siapa pun yang berpura-pura menjadi saya seharusnya mudah ketahuan.”

“Iya, tapi, begini, ini mungkin terdengar agak sombong, kelab kami biasanya dikunjungi orang-orang ‘penting’—politisi, pebisnis, selebriti. Bukan hal aneh jika perusahaan berskala besar menghabiskan dua juta yen selama satu bulan untuk menghibur-diri di Julia. Maka dari itu, kami tidak terlalu curiga jika pelang—“

“Apa orang itu mirip denganku?”

“Dia… yah… Okutegawa-sensei, apa benar belakangan ini berat badan anda sedikit bertambah?”

Sekarang aku memang empat puluh pon lebih berat dari saat debutku sebagai penulis.

“Foto di buku pertamamu, ‘Electone Guerrilla’…”

“Electronic Guerrilla.”

“Ya, itu maksudku, maaf. Putriku kursus di Yamaha Electone, dan saya—“

“Baiklah, cerita yang sangat menarik. Tetapi apa yang sedang kita bahas tadi? Ah, ada foto saya di buku itu, ya.”

“Ya, hm, saya benar-benar mohon maaf, tapi… apa anda banyak mengalami perubahan sejak foto itu diambil?”

Aku sudah banyak berubah. Memangnya, apa yang kau harapkan? Tapi jelas itu tidak berarti kau tidak dapat lagi mengenaliku.

“Okutaga-sensei—yang datang ke kelab kami—membawa beberapa bukunya, atau, lebih tepat bukumu, dan menanda-tanganinya untuk kami. Saya sendiri dapat satu, dan gadis yang—“

“Seumur hidup saya tidak pernah membawa buku-buku saya ke bar, atau melakukan hal memalukan semacam—“

“Salah satu gadis itu hamil dan dia ada di sini bersama anaknya.”

Aku tak terkejut. Seorang laki-laki bajingan yang berkeliling sambil membagikan tanda tangan—membuntingi satu atau dua hostes tentu pekerjaan rutin buat keparat model begitu.

“Nah, dia sekarang bersama saya. Dia percaya bahwa laki-laki itu adalah Okutegawa-sensei yang asli, dan nampaknya penjelasan saya sia-sia belaka. Kami ada di kedai kopi dekat kantormu. Jika anda berkenan, bisakah anda bergabung bersama kami, meski hanya beberapa menit?”

Segera setelah wanita itu melihatku, ia mengerang, “Bukan dia,” dan ia membaringkan kepalanya di atas meja dan menangis. Ia—ah, bagaimana aku menjelaskannya—ia sempurna. Ia mengenakan gaun putih dan stocking renda putih dengan sepatu berwarana electric-blue. Kakinya langsing, kulit kecoklatan, mulus, wajahnya oval, bermata besar, dan… yah, ia sempurna.

Sang manajer seorang lelaki berusia enam puluhan. Dia berusaha menghiburnya.

“Kau sudah ditipu mentah-mentah, begitulah kenyataannya,” ujar si manajer. “Ikhlaskan saja.”

Aku memberinya sapu tangan. Ia menatapku dengan matanya yang berair, lantas merentangkan tangannya yang seindah karang-karang di Laut Selatan, dan mengambil sapu tangan. Namanya Mutsumi.

Aku mengundang Mutsumi ke restoran terbaik yang sering kukunjungi. Ia memakai setelan berwarna zambrud dan kalung dari kerang. Dalam temaram cahaya lilin, ia benar-benar nampak mirip dengan aktris Italia yang sering kukhayal-khayalkan di masa SMA. Aku berkata begitu kepada pelayan yang kukenal, dan ketika ia bilang tidak ada mirip-miripnya, aku sadar betapa nelangsa diriku. Kapan pun aku jatuh cinta dengan seorang perempuan, ia mulai terlihat seperti aktris Italia itu.

Sebagai hors d’œuvre kami memesan salmon kokanee yang diasinkan.

“Mungkin kau tak ingin membicarakan soal ini, tapi apakah dia—si peniru itu mirip denganku?”

Mutsumi menatapku tajam. Ia menggigit bibirnya, seakan tengah mengenang sesuatu yang menyakitkan, sambil tetap menatapku tajam. Akhirnya, ia berkata, “Dari jarak sedekat ini, kau sama sekali tidak mirip dengannya.”

Jawabannya sedikit menggangguku. Aku cemburu. Cemburu kepada tiruanku sendiri.

Mutsumi menyantap semangkuk sup kari penyu.

“Yah, kau tahu? Ada satu kesamaan di antara kami,” Ujarku, sepenuhnya menyadari bahwa apa yang hendak kukatakan akan terdengar sangat menyedihkan. “Selera kami soal wanita.”

Mutsumi mengangkat kepalanya lekas-lekas dan memintaku untuk berhenti menggodanya. Aku nyaris putus asa menyadari ia benar-benar marah saat kurayu. Tapi, sekali lagi, perempuan di hadapanku adalah perempuan yang jatuh hati pada laki-laki yang membubuhkan tanda tangan palsu di bar. Tentu masih ada harapan.

Bagaimanapun, akulah yang asli.

“Aku tidak sedang menggodamu. Aku memang menyukaimu.”

Kami minum Fleurie dingin. Mutsumi segera mengosongkan gelasnya.

“Dia tidak pernah mengatakan hal semacam itu.”

“Hal semacam itu, bagaimana?”

“’Aku menyukaimu,’ ‘aku mencintaimu,’ yang semacam itulah.”

“Tapi kalian saling mencintai, kan?”

“Berkali-kali dia datang ke kelab dan memanggil wanita yang berbeda ke mejanya.”

“Aneh sekali.”

“Dia barangkali melakukan ‘itu’ juga ke tiga atau empat hostes lain.”

“Melakukan ‘itu’? Maksudmu…?”

Ngentot lah, apa lagi?”

Orang yang duduk di meja terdekat menoleh ke arah kami. Mutsumi sama sekali tidak peduli.

“Dia tidak melakukan ‘itu’ denganku hingga malam sebelum dia menghilang.”

“Sungguh? Hebat juga.”

“Hebat? Apanya yang hebat?”

“Maksudku, tidak melakukan ‘itu’. Pasti sangat sulit menahannya, aku berani bertaruh.”

“Dia cuma tidak kepengin.”

“Tapi akhirnya kalian melakukannya, kan?”

“Dengar, ya, apa pentingnya bagimu kami ‘melakukannya’ atau ‘tidak melakukannya’? Obrolan soal ini betul-betul menyebalkan,” ujarnya, dan memasukkan sepotong daging bebek ke mulutnya.

“Apa kau membaca salah satu bukuku?”

“Semuanya.”

“Semua?”

“Aku penggemarmu.”

“Kau penggemarku?” Aku tak bisa menahan senyum tolol. “Dengar, Mutsumi-chan, ada sesuatu yang tak kumengerti soal hubunganmu dengan laki-laki ini…”

“Panggil saja aku Mu-chan. Orang-orang di kelab biasa memanggilku begitu.”

“Mu-chan.”

“Yah, aku menyukainya, begitulah.”

“Laki-laki seperti apa dia itu?”

Mutsumi terpingkal-pingkal.

“Apa yang lucu?”

“Kau! Yang ditiru amat-sangat penasaran dengan penirunya, tidakkah ini aneh?”

“Aku bertanya seperti itu karena aku ingin tahu tipe laki-laki kesukaanmu.”

“Begini, aku pikir dia itu kau, kan?”

“Benar. Nah, jadi laki-laki seperti apapun oke asalkan dia seorang penulis?”

“Sudah kubilang tadi, aku penggemarmu.”

“Yah, kalau begitu… Sebentar, sebentar. Dengar baik-baik. Faktanya adalah, fakta yang tak bisa disangkal lagi adalah, aku yang menulis semua buku itu.”

Mutsumi tertawa lagi. “Aku tahu.”

“Nah, tidak mungkinkah kau jatuh cinta kepadaku?”

Mutsumi berhenti tertawa, menundukkan kepalanya, mengeluarkan sebatang rokok Amerika dari kotaknya, dan membakarnya. Lalu ia mengangkat dagu dan memberitahuku bahwa ini soal perasaan.

“Kupikir, aku seharusnya memang jatuh cinta kepadamu,” katanya. “Tapi bukan itu yang terjadi.”

“Apa yang akan kau lakukan dengan bayi itu?”

“Aku akan menyingkirkannya. Minggu depan.”

Aku bersedih mendengar jawabannya. Rasanya seolah itu semua kesalahanku.

Aku mendatangi kondominium Matsumi dengan membawa sebuket bunga dan novel terbaruku yang sudah kutanda-tangani, “The Ultra-LSI Club Epistles.” Mutsumi masih mengenakan piyama dan kimono dan tanpa make-up, tapi ia tetap kelihatan cantik.

Ia menyuguhkan kopi.

“Tidak apa-apa, kan, aku datang mendadak begini?”

Mungkin hanya imajinasiku, namun pipinya terlihat sedikit cekung.

“Tentu tidak apa-apa. Terima kasih sudah meneleponku setiap hari. Berbincang denganmu membuatku tidak terlalu depresi. Karena sering kau telepon, rasanya, aku mulai berpikir bahwa bayi ini bayimu.”

Ah, sungguh menyenangkan jika ia benar-benar mengandung anakku!

“Apa kau sudah memikirkannya? Soal yang kita bicarakan di telepon.”

“Kau cuma berusaha menghiburku dengan semua obrolan soal pernikahan itu, kan? Aku tak percaya.”

“Aku benar-benar serius.”

Sejak bercerai, aku menjalin hubungan dengan tiga perempuan. Masalahnya, sejak bertemu Mutsumi aku kehilangan gariah untuk meniduri mereka.

Kamar tinggal Mutsumi sekaligus studio. Di dalamnya terdapat easel dan cat-cat minyak. Dia ingin menjadi pelukis. Menurut pengakuannya, dia pikir dengan menjadi hostes dia akan memiliki banyak waktu luang untuk melukis, kenyataannya tidak seperti itu.

“Coba lihat aku,”

“Apa?”

“Apa kau menyadari ada yang berubah?”

“Ini baru ketiga kalinya kita bertemu.”

“Berat badanku berkurang satu pon dan tujuh ons.”

Mutsumi melihat sepintas “The Ultra-LSI Club Epistles,” tetapi lalu ia menutupnya dan melihatku dengan sedih. Aku sudah berhenti minum alkohol, pergi ke klub renang, dan membungkus perutku dengan Saran Wrap tiap malam sebelum tidur.

“Kau berusaha menurunkan berat badan?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Aku ingin terlihat seperti di foto yang ada di buku pertamaku.”

Aku duduk di tepi tempat tidurnya. Ia berjalan ke arahku dan meraih tanganku.

“Kenapa bukan kau yang muncul di kelab saat itu?”

“Kau tahu, aku sendiri memikirkannya. Agak rumit, tapi… bagaimana, ya, menjelaskannya? Kupikir kita ditakdirkan untuk saling jatuh cinta, tetapi ada kesalahan.”

“Kesalahan?”

“Kita terpisah.”

“Tapi kenapa kau begitu mengharapkanku?”

“Mu-chan, yang membayangi kita itu kekosongan.”

“Ah. Si Peniru, ya?”

“Semua tak akan serumit ini jika dia tidak melakukan sesuatu yang tak ada hubungannya denganku. Jika kau hanya ditinggalkan oleh seseorang yang tak ada hubungannya denganku.”

“Aku mengerti maksudmu.”

“Tentu saja kau mengerti, kau penggemar buku-bukuku! Semua tema novel itu adalah bagaimana waktu analog sangat tergantung dengan stimulus waktu digital, dan tak pernah sebaliknya.”

“Bisa coba dijelaskan?”

“Yah, contoh sederhanya, mirip cara sakit gigi mempengaruhi kepribadian seseorang.”

“Apa kau mau bilang hubungan kita seperti sakit gigi?”

“Mu-chan, bagaimana kau memanggil si peniru itu?”

“Pertama kali bertemu aku memanggilnya ‘Sensei’, tetapi rasanya terdengar aneh, jadi aku memanggilnya Okutegawa-san. Dia menyuruhku untuk memanggilnya Jun saja, akan tetapi dia adalah pengarang yang kuhormati dan nama itu terdengar pasaran, maka aku tetap memanggilnya Okutegawa-san. Memang agak sulit diucapkan, tapi aku tetap memanggilnya begitu.”

“Kau bahkan tak pernah memanggilku dengan namaku, padahal aku Jun Okutegawa yang asli.”

“Aku tahu.”

“Akulah yang dirugikan di sini. Apa saat bersama dia kau merasa nyaman melakukannya?”

“Melakukan apa?”

“Seks.”

“Pertanyaan macam apa itu?”

“Itu penting. Itulah yang merusak pernikahanku.”

“Kau tidak nyaman melakukannya dengan istrimu?”

“Pertanyaanmu tidak relevan. Apakah kalian selalu keluar bersamaan?”

“Maksudmu orgasme?”

Mutsumi malu. Pipi hingga telinganya semerah udang rebus, meski begitu aku menangkap senyum kecil di sudut mulutnya. Kenangan tentang orgasme memang tak tertahankan. Kau tak bisa menyembunyikannya.

“Berapa usiamu?”

“Dua puluh dua.”

“Di usia-usia segitu, ukuran penis memang tidak penting. Yang paling penting adalah cinta.”

“Nah, sebentar, kusiapkan telinga untuk mendengar baik-baik petuahmu.”

“Kalau kau merasakan ‘cinta’ terhadap pasanganmu, itu cukup untuk membuatmu orgasme.”

“Wah, terima kasih. Kuliah yang sangat menarik. Kata-kata itulah yang ingin didengar seorang gadis setelah dia melakukan aborsi.”

“Maaf. Tapi, dengar, kau jatuh cinta kepada lelaki yang berpura-pura manjadi aku. Apa kau tahu artinya? Itu artinya, buatmu, akulah yang penyaru.”

Mutsumi memintaku pergi. Air matanya tumpah, mengalir ke pipinya, dan mendarat di urat-urat di punggung tangannya. Selain kondisi fisiknya melemah pasca aborsi, jiwanya pun terguncang. Pada mulanya ia adalah penggemar novel-novel Jun Okutegawa, lalu dia jatuh cinta dengan si ‘Jun Okutegawa’ yang datang ke dalam hidupnya. Nama itu hanya cangkang, di tengah jalan cangkang itu terlepas dan Mutsumi menyusuri jalan terlalu jauh, menuju orgasme, yang tanpa nama.

“Apa si penyaru ini jenis laki-laki cabul?”

“Dia membuatku melakukan banyak hal,” jawab Mutsumi. Ia masih menangis. Ia sudah dua kali ditinggalkan. Pertama oleh ‘Jun Okutegawa’, yang kedua oleh lelaki anonim yang bugil di atas ranjang bersamanya.

Perempuan yang ditinggalkan—dan juga laki-laki, sebenarnya—kerap kali akan haus orgasme dan melemparkan dirinya ke orang yang mirip dengan kekasih yang meninggalkannya. Tentu saja nama dan latar belakang sang pengganti yang ia temukan akan berbeda. Tetapi dalam masalahku sekarang, yang terjadi justru sebaliknya. Nama dan latar belakangnya sama, tetapi kami tidak mirip.

Jika Mutsumi secara sadar ingin menjalin hubungan dengan seorang pengarang novel, maka tak akan serumit ini. Yang perlu ia lakukan hanya menyadari bahwa aku adalah pengarang yang asli dan ia mulai beralih kepadaku.

Atau, jika ia adalah perempuan yang tak peduli perkara jabatan atau ketenaran seseorang, jika ia jatuh cinta kepada si penyaru apa adanya, sepertinya aku masih punya harapan. Tetapi nampaknya bukan cuma di antara dua alasan itu. Mutsumi jatuh cinta kepada laki-laki itu apa adanya, sekaligus terselip semacam kebanggan telah membuat novelis favoritnya jatuh cinta kepadanya.

Jadi, apa pilihan yang tersisa bagiku sekarang? Dari sudut pandang Mutsumi, aku cuma seorang penipu, baginya akulah yang penyaru.

Aku datang ke Cray Research untuk bertemu teman lama. Temanku ini berada di urutan keempat atau kelima Teknisi Komputer terbaik se-Jepang. Dia mendengarkan usulku, menggeleng, dan berkata, “Lupakan saja.”

“Tolonglah. Coba dulu. Kalau terlalu berat buat otak manusia, apa salahnya meminta sedikit bantuan kecerdasan buatan?”

Mutsumi sudah menjawab survey yang berisi lima puluh pertanyaan. Kemudian aku memintanya untuk menjawab lima puluh pertanyaan yang sama dari perspektif si penyaru, seingatnya saja. Akhirnya, aku menjawab bagianku, yang berisi tiga set data dan lima puluh kategori. Tinggi dan berat badan, pekerjaan orangtua, penganan favorit, film kesukaan, olahraga yang digemari, wangi parfum yang disukai, tim bisbol favorit, preferensi mode, rokok, bau badan, kondisi fisik secara umum, jumlah gigi yang berlubang, minuman keras kesukaan—apakah wiski, atau bourbon atau Scotch atau Canadian atau Irish—koktail favorit, yang pertama dipesan saat mengunjungi bar sushi, olahraga yang rutin dilakukan, posisi seks favorit, area paling sensitif, rubrik pertama yang dibaca saat membaca koran, pendapat soal Marxisme, dan sebagainya. Konyol sekali, semacam kencan online dalam versi yang lebih mentereng, tetapi aku memeriksa ulang semua jawabanku. Aku terobsesi dengan masalah Mutsumi dan tak bisa mengerjakan hal lain.

“Ketololanmu itu sungguh kelewat batas, Bung. Ya, kau memang sudah nampak tolol saat kau menangis sesenggukan sambil menceritakan kepergian istrimu, tapi ini lebih tolol lagi. Aku selalu beranggapan pengarang novel itu cerdas. Atau mungkin di dunia ini cuma kau satu-satunya novelis yang keterlaluan tololnya.” Temanku mulai memasukkan data meski ia tak henti-hentinya merongseng.

“Kasihan Borges,” katanya sambil terus mengetik.

“Borges siapa?”

“Komputer-super terbaru yang dikirim ke sini bulan kemarin, yang sedang kupakai ini.”

“Kenapa kau kasihan dengan benda itu?”

“Borges dapat menghitung satu milyar enam ratus juta bilangan titik mengambang per detik, tetapi kita malah memberikannya soal goblok semacam ini. Nah, kau tahu? Jika Borges pikir soal yang diberikan kelewat goblok, dia akan mogok kerja.”

Dia menatapku dan tersenyum. “Jadi, sekarang seseorang menirumu,” katanya. “Itu membuktikan betapa tenarnya kau saat ini.”

“Kemarin aku tersenyum persis sepertimu, sampai aku bertemu perempuan itu.”

“Wah, lihat, Borges mau bekerja sama.”

“Kau memperlakukannya seolah dia manusia.”

“Oh, tentu. Dia bajingan yang menyenangkan.”

“Kau selalu berkata begitu ke mesin-mesin sebelumnya—mereka ‘menyenangkan’.”

“Jujur saja, sebagian dari mereka lebih mantap daripada manusia. Umat manusia selalu merasa harus membuktikan diri mereka, mengurusi perkara harga diri dan yang begitulah. Itu membosankan. Borges sudah dilengkapi harga diri sejak dia diciptakan, dia tak perlu membuktikan apa-apa lagi.”

“Komputer punya harga diri?”

“Tentu saja.”

“Kukira mereka tak punya emosi.”

“Harga diri itu bukan emosi. Novelis macam apa kau ini? Menyedihkan sekali. Harga diri itu pengetahuan tentang diri sendiri, kesadaran mutlak tentang batas-batas diri. Nah, aku benar atau betul?”

Sejumlah karakter dan huruf dan simbol dan angka mengisi layar komputer, baris per baris, lalu lenyap.

“Keren, kan?” Ujar temanku, ia terlihat senang sendiri.

“Apanya?”

“Maksudmu, kau tak melihat hal keren dari kejadian tadi? Dan kau menjual novel-novel yang judulnya sangat ‘high-tech’? Kau penipu. Borges sedang menyimulasi semua kombinasi yang mungkin untuk tiap satu dari lima puluh kategori yang kau jawab. Tiga set data yang tiap satu set terdiri dari lima puluh kategori—butuh seribu tahun kalau kita yang mengerjakan, Bung! Eh, bagaimana kabar mantan istrimu?”

“Baik. Anakku rutin memberi kabar. Dia bilang ibunya ikut les renang dan masuk kelas yoga dan kursus memasak dan kencan dengan pelatih basket. Bagaimana dengan mantan istrimu?”

“Dia sudah menikah lagi, seorang eksekutif perusahaan importir kopi, masih tiga-puluhan, dan bujangan. Mereka mengundangku. Rasanya mengesankan, kalau kau ingin tahu perasaanku—maksudku, aku benar-benar terkesan saat mengetahui mantan istriku bisa menjalin komitmen lagi dengan orang lain. Kalau aku, satu-satunya orang yang kupercayai cuma Borges. Ah, ini dia hasilnya. Apaan ini? Carp? Apa artinya ‘Carp’?”

“The Hiroshima Carp, tim bisbol. Peniruku dan aku sama-sama penggemar Carp. Tapi itu bukan jawaban. Kira-kira, apa yang dia coba katakan?”

“Goblok. Bung, apa otakmu berkabut? Bawalah wanita itu ke pertandingan bisbol. Bisbol kan olahraga yang lugu, sederhana, itulah bagusnya—tak ada hal-hal licik yang terjadi, cuma melempar, memukul, dan berlari. Dan si peniru juga penggemar tim itu, maka segala macam kenangan menyenangkan yang wanita itu ingat tentang si peniru akan dia alihkan kepadamu. Sempurna.”

Kami berada di Yokohama Stadium untuk menyaksikan pertandingan kedelapan musim ini antara the Whales dan the Carp. Mutsumi memekik bahagia saat aku mengajaknya menonton pertandingan bisbol. Aku menggemari the Carp sejak malam tahun baru empat tahun silam ketika aku berdiskusi dengan manajer mereka, Koba-san.

Pertandingan berubah menjadi duel antar pitcher, antara Endo dari the Whales dan Takagi dari the Carp. Di awal babak ketiga, Kato berhasil memukul bola yang dilempar Takagi, kemudian Leon Lee mengantarnya ke home. Angin dingin berhembus, tetapi birnya enak. Birnya tetap terasa enak mungkin karena aku duduk di sebelah Mutsumi, yang saat itu mengenakan celana pendek kulit yang ketat, sendal keperakan, kaus satin, dan pipinya menggembung terisi popcorn.

“Mu-chan, kenapa kau suka Carp? Kau, kan, bukan orang Hiroshima.”

“Memang bukan. Tapi banyak laki-laki ganteng di tim itu, kan? Takagi ganteng, Yoshihiko Takahashi, apa lagi. Yamane, Kobayakawa, Kawaguchi, Moriwaki… semuanya ganteng.”

“Penampilan sangat penting buatmu, ya?”

“Orang bilang ‘jangan menilai buku dari sampulnya’, tapi itu salah. Sampul menjelaskan segalanya.”

“Tapi penampilan bisa menipu.”

“Hanya jika kau membiarkan dirimu dipengaruhi penilaian orang lain. Kalau kau percaya pada perasaannmu, kau bisa menilai semua orang dari penampilan mereka dan tak akan pernah salah.”

Dengan kata lain, apakah prinsip itu juga berlaku dalam masalah peniruku dan aku? Aku membayangkan bagaimana tampang laki-laki itu. Mutsumi barangkali tak pernah menyadari bagaimana sesungguhnya sifat laki-laki itu. Aku membayangkan peniruku jauh lebih tampan daripada aku…

Home run dari Sachio Kinugasa menghalau kereta berisi wajah-wajah orang tampan yang melintas di dalam kepalaku.

Mutsumi mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melompat dari kursi, dan menjerit seperti orang gila.

Di babak ketujuh, Yoshihiko Takashi berjalan bebas ke marka satu. Takahashi sudah menjadi pemukul ketiga sejak bulan Juni, dan selanjutnya adalah Koji Yamamoto.

Orang bodoh yang duduk di belakang kami berteriak, “Lari Takahashi!”

“Ini bukan waktunya buat mencuri angka,” kataku kepada Mutsumi.

“Memangnya kenapa?”

Mutsumi sangat mengagumi Takahashi.

“Mereka harus membiarkan Koji kensentrasi memukul. Kalau Takahashi main kucing-kucingan dengan pitcher, mungkin malah mengganggunya. Koji itu batter yang cemerlang—biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya.”

“Tapi, itu Yoshihiko! Aku ingin dia lari. Aku suka melihatnya berlari.”

Takashi melakukan big lead. Endo bersiap melempar bola kedua. Yamamoto menunggu, selangkah keluar dari kotak, dan menunggu lagi. Lebih dari satu menit berlalu sebelum akhirnya Endo melempar bola, dan Yamamoto jadi tidak sabar sehingga pukulannya terlalu lemah.

“Lihat, kan? Takahashi cuma menyulitkan. Endo bermain luar biasa hari ini.”

Baik Endo dan Takagi bermain bagus hari ini, dan pertandingan berlanjut ke babak tambahan.

Pertandingan masuk ke babak sepuluh. Takahashi mendapat giliran pertama. Dia melakukan big cut di lemparan pertama, sebuah fork ball, dan gagal. Selanjutnya Kobayakawa. Dia pemain favoritku. Dia baru akan memukul saat Takahashi mulai melakukan big lead lagi.

“Lihat si goblok itu. Sekarang dia mempersulit Kobayakawa.”

Umpatan itu seperti keluar dari mulutku sendiri. Sebuah suara yang hanya beberapa desibel lebih keras dari penonton di sekitar kami.

“Lari, Takahashi!”

Suara laki-laki. Saat Mutsumi mendengarnya, wajahnya merengut. Laki-laki yang berteriak itu berdiri di atas kursinya yang hanya terpaut beberapa baris di belakang kami. Mutsumi berbalik dan melihat ke arahnya dengan ekspresi ketakutan. Lalu dia sedikit menangis dan terlihat sangat tegang.

Jika aku daging isi hamburger Denny’s, maka peniruku adalah veal filet en croûte-nya Maxim’s. Kami berdua daging yang berasal dari hewan yang sama, tapi dalam soal penampilan dan rasa sungguh tak layak dibanding-bandingkan. Mutsumi terlihat seakan tengah tidur berjalan. Ia berdiri dan berjalan menghampiri si filet.

Dia meneleponku tiga hari kemudian.

“Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin, tapi, dengar, jelas dia jatuh cinta kepadaku, dan itulah mengapa saat dia tahu aku penggemarmu dia berpura-pura menjadi dirimu, cuma buat menarik perhatianku, dan dia bilang alasan dia memanggil perempuan lain ke mejanya adalah karena dia terlalu menyukaiku dan karena itu dia malu bertemu denganku, dia tidak ingin aku tahu bahwa dia menyukaiku, dan tentu saja dia tidak pernah meniduri mereka. Setelah manajer kelab menghubungimu, tak ada lagi yang bisa dia lakukan, dan karena semua tagihan atas namamu dia jadi tidak bisa memasukkannya ke expense account, tapi sekarang dia sudah melunasi semuanya. Dan dia bilang dia sungguh-sungguh meminta maaf sudah membuat banyak masalah. Dan dia memintaku untuk mengajakmu ikut makan malam bersama kami supaya bisa meminta maaf secara langsung. Kau mau, kan?”

Judul asli ‘I Am Novelist’. Dialih-bahasakan dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris oleh Ralph McCarthy. Terbit di The New Yorker pada 3 Januari 2005
Iklan

2 tanggapan untuk “Novelis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s