Sampai akhir buku, level emosinya tetaplah datar, nyaris nol seperti petapa. Memang benar, ia telah kehilangan banyak hal. Tiga jarinya yang absen mungkin perlambang hilangnya orang tua, cinta, dan sahabat yang akan menyertai kehidupannya. Maka, menurutnya, ia tak lagi menginginkan apa-apa. “Mulutku bersekongkol dengan otak untuk melindungi diriku sendiri dari perasaan-perasaan yang mungkin muncul jika aku mengetahui lebih banyak” (hal. 185), begitu ungkapnya. Pada akhirnya, karakter “Sang Narator” tetaplah pipih: seorang “Yes-Man” yang berkubang dalam pasifisitas. Seseorang yang menerima hidup dengan pasrah dan tanpa perlu banyak tahu. Seseorang yang menganggap kehilangan seperti sesuatu yang sebanal berak. Jika saja Jean-Paul Sartre membaca buku ini, ia tentu mengenali mauvaise foi  dalam pemikiran-pemikiran “Sang Narator”.”

(Andreas Rossi D. dalam Kamu, dan Kehidupan Anak-anak Muda yang Absurd)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s