Jangan Tidur

Lalu ia di sana tidak akan mati juga tidak akan hidup. (Al-A’la ayat 13)

Saat terbangun pukul tiga dini hari, temanku menemukan dirinya yang lain berbaring di sisinya dalam keadaan tak bernyawa.

Dia anak tunggal, kedua orangtuanya wafat dalam suatu kecelakaan pesawat saat usianya menginjak 17 tahun dan sejak saat itu dia tinggal sendirian di rumah warisan orangtuanya itu. Sekali dalam sepekan, bibinya akan datang mengurusnya. Namun sejak dia lulus kuliah dan mendapat kerja, bibinya sudah mulai jarang berkunjung. Dia selalu mengunci pintu dan jendela. April Mop sudah lewat dua bulan yang lalu, dan terlalu cepat untuk Haloween. Mustahil ada yang bisa menciptakan kembaran dirinya sedemikian mirip. Kecuali Tuhan, tentu saja. Mungkin Dia bosan dan bermaksud mengerjai temanku ini dengan mengirimkan bangkai ke kamarnya. Kalau benar begitu, selera humor-Nya buruk sekali.

Temanku ini bercerita, hal pertama yang dia lakukan adalah memejamkan mata, merapal doa-doa yang mampu dia ingat sembari berharap dia tengah bermimpi–mimpi yang lumayan brutal–dan kemudian saat dia membuka mata untuk kedua kalinya tubuh itu lenyap. Ternyata tidak. Dia sudah bangun dan bangkai itu masih ada di sisinya. Kalau sudah begitu, dia harus bangun dan melakukan sesuatu. Dia menyentuh wajah ‘kembaran’nya. Dingin, khas orang mati. Lalu meletakkan telunjuknya di bawah hidung mayat itu. Tak ada napas yang dihisap maupun dihembuskan, seperti kebanyakan orang mati.

Pertama-tama, dia membungkus tubuh pucat itu dengan sprei, kemudian dia menarik dan menjatuhkannya ke lantai. Sebagai wanita berusia 18 tahun yang belum memiliki pasangan, dia tidak bisa meminta bantuan orang lain—lagipula menceritakan sesuatu yang kau sendiri tak mengerti tentu hanya bikin repot, dan coba bayangkan kekacauan yang mungkin munculdan dia tidak cukup kuat untuk menggendong mayat itu. Maka, dia menyeret mayat itu ke dapur dekat pintu halaman belakang rumahnya. Dia mencari cangkul di gudang, dan menggali semampunya. Tak terlalu dalam, namun cukup untuk melenyapkan mayat itu.

“Kabar baiknya, temanmu itu tak perlu mengukur tinggi mayat lagi, kan?” Dabsa memotong ceritaku, mengetuk-ngetuk bibirnya dengan ujung pulpen. “Sebab sudah pasti tinggi mereka sama.”

Kami tertawa.

Ini pertama kalinya kami bertemu lagi sejak lulus SMA, sewindu, barangkali. Pukul sembilan malam, aku sedang tidak ada kerjaan dan memutuskan untuk menyusuri Jalan Margonda Raya dan berbelok di sebuah kafe, ternyata Dabsa kerja di sana. Kami saling menyapa, bertanya kabar, dan basa-basi tak perlu lainnya. Dia bilang baru satu bulan bekerja, dan dia lupa kalau rumahku di sekitar sini. Dia ingat gangnya, katanya, tetapi lupa di mana persisnya rumahku. Aku cuma senyum, tanpa beralasan seperti itu pun aku bisa memakluminya. Dia memang tak pernah ke rumahku.

“Kebetulan shift-ku sudah selesai. Mau kutemani?”

Aku mengangguk dan begitulah, ia memesan kopi dan aku memesan pancake dan jus jeruk.

Aku ingat aku pernah menyukainya, seperti kebanyakan gadis-gadis di sekolah dulu. Dia anaknya lucu setengah mati, cocok jadi pelawak atau apalah. Celetukan-celetukkannya bikin ketawa satu kelas. Mungkin tepat dijadikan sahabat atau pacar. Masalahnya, dulu dia itu terlalu minder. Dia bukan penyendiri atau apalah, dia hanya minder. Dia tidak pernah tahu banyak cewek yang berharap bisa jalan dengannya. Dia selalu punya alasan untuk menolak dan segala macam. Aku yakin sebenarnya dia ingin juga jalan sesekali seperti remaja lain, tetapi dia hanya merasa tidak pantas. Akhirnya beberapa yang sakit hati menggunjingnya di kantin, meski aku tak sampai dibikin patah hati namun aku sering ikut juga dalam pergunjingan itu. Tidak hanya murid perempuan, murid laki-laki juga merasakan keanehan yang sama: Dabsa selalu menolak diajak tawuran, menolak diajak main basket, main futsal, atau nongkrong-nongkrong. Mencurigakan. Menjengkelkan. Tetapi anaknya asyik juga, mungkin karena itu meski sering dibicarakan di belakang dia tidak memiliki musuh resmi. Ya, laki-laki model begitu memang mudah sekali menjadi sasaran fitnah. Entah saat ini.

Besoknya dia menemukan mayat lagi, kataku setelah tawa kami mereda. “Dan menguburnya lagi.

“Kalau begitu repot juga.” Dabsa membetulkan posisi duduknya. “Katakanlah umur temanmu itu panjang, dia masih hidup sampai 30 tahun ke depan. Kalau satu hari satu mayat, satu tahun kira-kira tiga ratus enam puluh lima, dikalikan tiga puluh…”

Dabsa mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu, setelah itu menunjukkan layarnya ke arahku. Di sana tertera angka 10,950. “Sudah berapa lama temanmu mengalami hal itu?”

“Delapan tahun,” jawabku. “Pertama kali ya waktu usianya 18 tahun, berarti sekarang kira-kira 26 tahun.”

“Eh, apa halaman rumah temanmu itu seluas TPU Karet Bivak?”

Aku tertawa lagi dan menggeleng. “Ya, nggak lah. Setelah tiga hari berturut-turut nampaknya dia sadar dia nggak mungkin terus-menerus menggali lubang pagi-pagi. Terlalu banyak makan waktu.”

“Padahal bagus juga itu,” komentarnya.

“Bagus apanya?”

“Mencangkul pagi-pagi,” terang Dabsa. “Bisa buat mengencangkan payudara.”

Pancake yang kukunyah nyaris menyembur. Dabsa memberikan tisu dan menyuruhku untuk bersantai sedikit. Santai apanya?

“Jadi apa yang dia lakukan?” tanya Dabsa.

“Kremasi.”

Kuceritakan bagaimana temanku itu mendapat ide untuk mengkremasi mayat kembarannya.

Cuaca di hari Minggu di bulan Agustus itu bukan main panasnya, kukira kalau Malaikat Penjaga Neraka ada di Bumi siang itu barangkali dia akan ke mal atau berenang atau masuk lemari es. Temanku datang ke rumah membicarakan soal universitas yang akan dia pilih dan segala macam. Setelah diskusi ringan, kami berbaring di atas lantai seperti paus terdampar. Tak mau repot bangun, aku memutuskan untuk melepas bra sambil tiduran dan hanya memakai kutang dan kolor, temanku ini pun melakukannya. Dia bertanya apa aku punya simpanan film menarik? Aku menggeleng, tapi tiba-tiba teringat film yang baru kuunduh tadi malam. Coldfish. Judul film itu terdengar sejuk, pikir kami. Lantas kami memutarnya di komputer dan menontonnya sampai habis.

Tapi ternyata filmnya tak sejuk sama sekali.

Dabsa tertawa dan menjelaskan ia juga pernah menonton film itu dan rasanya dia belum punya keinginan untuk menonton film itu lagi.

“Temanku ini menangis,” lanjutku. “Tidak sampai berlebihan, hanya saja matanya sebecek genangan air di aspal. Aku bertanya apakah dia baik-baik saja? Tentu dia mengangguk, akan tetapi pastilah dia bohong. Aku tidak bertanya lebih jauh. Kututup pemutar video di komputer dan membuka pemutar musik, saat itu aku sedang senang mendengarkan Gemini dari The Alan Parsons Project.”

Tiba-tiba dia bertanya apakah aku percaya mitos doppelgänger dan kujawab aku tak terlalu memikirkan yang seperti itu. Tanpa kuminta, dia mulai bercerita tentang betapa muaknya dia dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan dirinya sendiri, yang tak bisa bersikap biasa saja dan mengikuti bagaimana sistem masyarakat bekerja. Dan seperti orang kesurupan dia mulai bercerita tentang pertemuannya dengan seorang pria. Waktu itu dia akan bunuh diri.

“Bunuh diri?” potong Dabsa, “temanmu ini semacam pengidap melankolia akut, ya?”

“Entahlah.”

“Lalu bagaimana dia ingin bunuh diri?”

“Dia naik ke lantai dua rumahnya dan akan terjun dari sana.” Aku mencoba mengingat. “Bagaimana, ya, aku sendiri nggak percaya ceritanya. Maksudku, dia terkesan mengada-ada. Bayangkan, dia naik ke atap rumahnya dan tepat di depannya, di rumah yang berhadapan dengan rumahnya, ada seorang laki-laki yang hendak bunuh diri juga. Luar biasa.”

“Aku pernah menyaksikan kejadian seperti itu, entah di film atau di mana.”

Aku mengangguk. “Karena itu kubilang dia terlalu mengada-ada. Dan mereka saling memberi senyum dan nggak jadi bunuh diri. Keduanya turun dan keluar rumah. Di depan gerbang, saat laki-laki itu hendak menyeberang untuk menghampirinya, laki-laki itu tewas tertabrak mobil kursus mengemudi.”

Dabsa terpingkal-pingkal. Konyol betul, komentarnya. “Tapi, bagaimana, ya. Kejadian itu bukan nggak mungkin. Hanya saja kemungkinannya 1:976.373.626. Aku nggak bermaksud menuduh temanmu itu berbohong, lho. Cuma… kurang masuk akal.”

“Aku sepakat,” kataku. “Yang lebih aneh lagi, setelah itu dia bercerita soal menemukan-kembarannya-saat-bangun-tidur-pukul-tiga-dini-hari tadi. Aku agak kaget juga, sebab dia menangis nggak karuan. Mau nggak mau saat itu aku percaya saja ceritanya. Habis nangis, dia berkata bahwa dia mendapat ide dari film Coldfish tadi. Kremasi. Dia bisa berlangganan kayu bakar di toko mebel depan kompleknya.”

“Maksudmu, dia memutilasi kembarannya dan membakarnya?”

“Dan membuang abunya di selokan depan rumahnya,” tambahku. “Setiap hari.”

“Menarik.” Dabsa membetulkan posisi duduknya, meminum kopi, lalu menatapku serius. Dia mengutarakan pendapatnya, panjang lebar. Aku mengangguk sesekali. Yang menarik dari anak ini adalah gaya rambutnya tak pernah berubah, sejak di sekolah dulu selalu jabrik tanpa perlu gel atau hairspray. Tingginya sekitar lima hingga enam sentimeter, tak pernah lebih panjang maupun lebih pendek. Bayangkan seekor landak menempel di kepalamu. Begitulah kira-kira.

“Oke, anggaplah temanmu tidak berbohong. Dia menemukan ‘tubuhnya yang lain’ secara harfiah, bukan metafora. Menurutku, tindakan paling tepat adalah menemukan penyebabnya: kenapa dia selalu bangun tepat pukul tiga pagi dan kenapa dia menemukan ‘kembarannya’ mati di sampingnya. Tapi temanmu malah mencari cara melenyapkan ‘kembarannya’. Dan kelamaan dia terbiasa melakukannya. Itu masalah serius, kukira.”

“Lho, apa masalahnya?”

Dia menekuk wajahnya, “Kalau kau sudah terbiasa artinya kau kan nggak merasa bersalah lagi melakukan itu. Aku kira nggak ada yang lebih mengerikan dari melenyapkan diri sendiri–secara harfiah–tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kau potong-potong tanganmu sendiri, mengeluarkan isi perutnya…”

Dabsa berhenti, seolah tengah membayangkan adegan yang tak sanggup ia katakan fragmen demi fragmen. Lalu menggeleng dan bergumam: “Aduh-aduh…”

“Sudahlah, nggak perlu terlalu kau pikirkan. Yang ingin kutanyakan sekarang, kalau kau jadi dia dan sudah terlanjur terbiasa melakukannya, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan berusaha mengingat-ingat kejadian yang menimpanya satu atau dua hari sebelum dia mengalami keanehan itu.”

“Aku sudah bilang begitu,” ujarku. “Tapi dia nggak bisa mengingat apa-apa.”

“Yah, sejauh ini, sih, aku menganggap tubuh-yang-lain itu semacam metafora bahwa ia ingin melenyapkan tubuhnya. Bisa saja ia merasa sangat jijik dengan tubuhnya dan mandi saja nggak cukup untuk melenyapkan kotoran itu. Kejadian mengerikan seperti diperkosa, atau apapun, yang bikin dia benci dengan tubuhnya, pasti sulit dilupakan, kan? Mustahil dia bisa lupa dengan begitu saja.” Dabsa kelihatan bersemangat sekali. “Mintalah dia mengingat. Mungkin dia pikir cara terbaik untuk memaafkan diri sendiri adalah dengab melupakan kejadian yang pernah menyakitinya. Tapi terbukti, kan? Tubuhnya menolak lupa.”

“Kau nggak lihat sendiri bagaimana dia menangis. Kalau lihat, tentu kau akan percaya bahwa dia benar-benar melihat tubuh fisik, bukan sekadar kiasan atau tipu-tipu pikiran.”

“Kalau begitu,” Dabsa memutar matanya. “Cobalah ke dukun.”

Dabsa selalu bisa bikin aku ketawa.

Setelah itu, kami membicarakan hal lain hingga tepat pukul sebelas, lampu kafe dimatikan. Hanya ada empat hingga lima pengunjung termasuk kami yang masih ada di sana. Dabsa bangkit dan meminta izin untuk mengambil tas dan segala macam di belakang dan memintaku untuk menunggunya di gerbang.

“Mengerikan,” ujar Dabsa seraya menyelempangkan tasnya.

“Apanya? Kau belum gajian?” candaku.

Dabsa mengutukku sambil tertawa. “Bukanlah. Itu temanmu tadi. Mengerikan.”

“Aku ingat luka di lututku saat belajar sepeda, aku ingat saat tangan kananku keseleo dan diurut oleh bapak-bapak berkopiah yang kelihatan senang betul melihatku meringis, aku juga ingat sensasi di bibirku waktu ciuman kita dulu…”

Aku tak ingat kami pernah berciuman. Ingin sekali aku mengatakannya, mungkin dia lupa atau apalah, mungkin itu perempuan lain. Tapi aku ragu juga, jangan-jangan aku yang lupa. Lagipula itu sudah lama sekali. Dan, yah, sanggahanku berpotensi menyakitinya. Rasanya kurang pantas mengingat dia sudah menemaniku tadi.

Dia menoleh dan memandangku. “Temanmu itu harusnya khawatir.”

“Apa yang harus dia khawatirkan?”

“Ingatan tentang sentuhan fisik rasanya memiliki sensasi lain, menurutku begitu.” Dabsa memasukkan tangannya ke saku celana. “Kalau ternyata tubuhnya saat ini bukanlah tubuhnya yang dulu, kalau tubuh aslinya sendiri sudah dia kubur, dia mungkin sudah lupa ingatan tentang sentuhan fisik yang pernah diterima tubuh sebelumnya.”

Aku bisa mendengar dia menggaruk rambutnya, kemudian tangan kirinya menyentuh siku kananku sebelum akhirnya masuk lagi ke dalam saku. “Ya, memang nggak terlalu penting, sih. Cuma kadang sensasi ingatan seperti itu cukup menghibur, kalau diingat-ingat.”

Aku tak mengomentari. Lalu Dabsa mulai menyenandungkan lagu lawas–mungkin Bob Dylan atau Koes Plus, entahlah–seraya menggeleng-gelengkan kepala. Aku suka anak itu, caranya menggelengkan kepala tak pernah berubah. Ke kanan, ke kiri, secara bergantian. Mengingatkanku pada pendulum. Dari cepat perlahan melambat, sebelum akhirnya berhenti berbarengan dengan berakhirnya lagu yang disiulkan.

“Seperti misalnya aku nggak pernah lupa gang rumahmu,” dia berhenti tepat di depan gang rumahku. “Aku ingat di sinilah kita ciuman pertama kali.”

Dia terkekeh. Aku tetap tak ingat pernah berciuman dengannya, dan bagaimana ia tahu gang rumahku sementara, seingatku, dia belum pernah mengantarku?

“Oh iya, soal temanmu tadi,” kata Dabsa cepat, seakan malu dengan apa yang baru saja dia ucapkan dan berniat mengganti topik. “Aku kepikiran begini: suruh saja dia jangan tidur, coba saja, siapa tahu dia akan tahu siapa yang iseng meletakkan kembarannya di sisinya. Mungkin itu solusi tercepat.”

“Dia pernah berpikir begitu juga, tapi, yah, kau tahulah, ujung-ujungnya dia ketiduran dan tetap saja terbangun jam tiga pagi. Aku khawatir, dia justru menikmati rutinitasnya mengkremasi mayatnya sendiri. Karena sudah terbiasa, seperti katamu tadi.”

“Kalau begitu, temanilah dia begadang. Biasanya kalau ada teman kita bisa ngobrol sepanjang malam atau main kartu remi atau monopoli. Lagipula besok tanggal merah, kan?”

Aku merasa pipiku memerah tanpa alasan jelas. Aku tak berani menatap wajahnya, sambil menunduk aku memikirkan sesuatu. Aku ingin meminta Dabsa menemaniku malam ini, aku ingin bilang aku tak kepengin tidur. Alih-alih berkata begitu aku malah mengucapkan terima kasih dan memastikan bahwa aku akan menyampaikan sarannya kepada temanku.

Kami berpisah. Sambil berjalan pulang, aku mengulang-ulang adegan saat tangan kiri Dabsa menyentuh siku kananku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s