Eddie

Aku kira

Beginilah nanti jadinya:

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

[…]

-Tak Sepadan, Chairil Anwar (Februari 1943)

 

Ketika Eddie 29, kau masih 12 tahun. Kata orang, Eddie pembohong kelas berat. Tapi, kau tak percaya. Sekalipun kelak kau tahu Eddie pernah membohongimu saat dia bercerita Shannon Hoon* dulu tinggal di sebelah rumahmu, dan pindah karena tak seorang pun mengerti musiknya. Kau percaya saja, meski tak tahu siapa itu Shannon Hoon. Karena Eddie panutanmu.

Sehabis adzan Ashar, hampiri Eddie yang tengah duduk di depan pagar rumahnya, dan duduklah di samping Eddie. Seperti kemarin, hari ini dia akan mengajarimu bermain gitar.

Biarkan dia membetulkan posisi jemari kirimu yang kurang sempurna membentuk akor B minor. “Telunjukmu harus menekan semua senar kuat-kuat,” katanya. “Dan jangan petik senar enam.”

Hingga saat itu kau sudah hafal tiga akor gitar, yang menurut Eddie, penting: akor C, F, dan G mayor. Dari tiga akor itu, kau sudah bisa menyanyikan beberapa lagu bahkan menggubah lagumu sendiri. Tapi itu tak cukup, kata Eddie, akor B minor sama pentingnya. Dan mulailah ia menuntun jemarimu. Sebelumnya, kaukira, tak ada kord yang lebih sulit dari F mayor. Sambil menahan nyeri di ujung-ujung jari kirimu, kau mulai memetik senar satu per satu.

“Kubilang, kan, tekan kuat-kuat.” Ia memetik senar satu. “Ini nggak bunyi, nih.”

“Begini, Ed?” tanyamu, dan Eddie mengangguk. Meski usia kalian terpaut lebih dari lima belas tahun, Eddie tak ingin dipanggil ‘Bang’ atau ‘Mas’ atau ‘Kak’, ia ingin dipanggil namanya saja. Lebih bagus, katanya.

Dari semua orang di komplek ini, menurutmu, hanya ayahmu dan Eddie yang layak dijadikan panutan. Keduanya sama-sama bisa bermain gitar. Kau yakin siapapun yang bisa bermain gitar, layak menjadi panutan. Rambutnya gondrong sebahu, agak bergelombang di ujung-ujungnya. Ia mengenakan kalung karet ketat berwarna hitam yang menurut pengakuannya bahkan tak pernah dilepas sejak dibelikan pacarnya tiga tahun lalu. Dengan kalung itu ia seakan tengah berusaha membunuh dirinya sendiri sepanjang waktu, anehnya, ia selalu terlihat senang. Itu sebenarnya yang paling penting bagimu: ia bahkan terlihat lebih senang dari guru ngajimu. Dan penampilannya mengingatkanmu pada Slash, salah satu jagoan gitar kesayangan ayahmu—meski kau curiga ayahmu hanya tahu satu lagu Guns ‘n Roses karena ia melulu menyanyikan lagu Don’t Cry, biasanya ditambah satu lagu Bon Jovi dan Nazareth sebagai penutup—dan kau berpikir begitulah seorang rock star seharusnya.

Eddie selalu duduk di depan pagar rumahnya setiap sore, bermain gitar sambil bernyanyi lagu-lagu berbahasa Inggris. Kadang setengah berteriak, kadang bergumam, tak jarang melengking dan membuka mulutnya lebar-lebar dan kalau sudah begitu, siapapun yang lewat akan menoleh ke arahnya; memandangnya agak lama dengan tatapan seolah ingin memasukkan durian ke dalam mulutnya. Nampaknya, tak ada yang menyukai Eddie. Saat menemani ibumu belanja sayuran, mereka membicarakan hal-hal buruk tentang gaya hidup Eddie. Saat kau menemani kakakmu bermain karambol bersama kawan-kawannya, mereka mencibir Eddie. Tapi Eddie tak pernah membicarakan mereka, ia malah membicarakan orang-orang yang namanya sulit diucapkan—apalagi diingat—sesulit membayangkan rupa pemilik nama-nama itu. Dan seperti orang-orang yang lewat, kau tidak tahu lagu apa yang ia nyanyikan, meski begitu ia nampak keren.

Ia membuka kaus hijau pudarnya, menyeruaklah bau-bau aneh dari tubuhnya. Kau ingin menutup hidung, tetapi jemarimu seolah terpatri di gitar: saat memegangnya, kau tak ingin melepasnya—sensasi ini bertahan hingga bertahun-tahun kemudian. Kau menoleh ke arahnya, bertanya apa boleh jari tengahnya dilepas saja. Eddie menggeleng, “Justru jari itu yang bikin B mayor jadi minor.”

Kau mengangguk sembari meringis.

“Tato baru, Ed?” tanyamu saat melihat tato bertuliskan ‘TONS OF HOME’* di bagian dadanya. Berwarna hijau tua, dengan sedikit gradasi merah. Melihat tulisan itu membuatmu teringat pelajaran ‘Menulis Indah’ di sekolah. Dan kebanyakan gaya tulisan tato yang kau lihat selalu seperti itu, membuatmu menduga-duga bahwa pelajaran ‘Menulis Indah’ itu berguna untuk kelak membuatmu menjadi tukang tato.

Eddie tertawa girang. Ia mengangguk lambat, mendengus bangga. “Judul lagu nih,” katanya.

Kau bertanya siapa penyanyinya dan apa isi lagunya.

“Blind Melon,” jawabnya. “Favorit aing*, liriknya keren!”

Cuma begitu saja. Alih-alih menjawab pertanyaanmu soal ‘isi lagu’ ia malah mengambil gitar dari tanganmu dan mulai bernyanyi dengan mata terpejam dan urat leher menonjol.

Ya, memang keren, karena Eddie yang bernyanyi. Eddie bernyanyi entah untuk siapa. Tetapi kau senang, kau merasa Eddie bernyanyi untukmu. Dan semakin mempertebal keyakinanmu: Kalau sudah besar kau ingin menjadi seperti Eddie.

Eddie seorang vokalis dari band bernama Dry Sugar Cube, band kampung yang bubar setelah drummer-nya menghamili anak Lurah.

Semua personel Dry Sugar Cube kini sudah menjadi suami yang baik; mereka pergi ke tukang cukur saban akhir bulan, ke panti pijat tiap pekan, dan mengantar anak-anak mereka ke sekolah setiap pagi, dan mereka, sepertinya, bahagia. Kecuali Eddie. Sebab Eddie sudah di rumah, dan ia bahagia.

Saat usiamu 29, Eddie tetap 30 tahun. Duduklah di depan layar komputer, hisap sekali lagi rokokmu dengan sedikit terpejam sebelum akhirnya kaumatikan di asbak. Video klip Change dari Blind Melon baru saja berakhir, dan sebelum beralih ke video klip Blind Melon selanjutnya, youtube menampilkan iklan singkat dari website jual-beli. Sambil menunggu iklan-yang-tak-bisa-dilewati selesai, sandarkan punggungmu ke sandaran kursi.

Lagu itu dimulai, lagu yang judulnya dirajah di tangan Eddie, tertulis di sana sampai mati. Kau tersenyum tawar mengingat Dry Sugar Cube, Eddie, dan tatonya. Kau menyesal pernah terpingkal-pingkal saat mengenang tatonya.

 

*Shannon Hoon : Vokalis Blind Melon

*Aing : Saya (Bahasa Sunda kasar)

*Dry Sugar Cube = Nama lain sabu-sabu di sekitar perumahan Telaga Kahuripan, Parung, Bogor sekitar tahun 2001

*Tons of Home : Seharusnya ‘Tones of Home

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s